
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Waktu terus berjalan, dan semenjak kejadian itu, ardi benar-benar tidak pernah menemui mayra, ia hanya bisa menatap mayra dari kejauhan dengan rindu yang menggunung, ia mencoba memahami perasaan mayra dan juga orang tuanya, menghargai setiap keputusan yang mayra buat, apalagi mayra sedang melaksanakan ujian akhir sekolahnya, ia tidak ingin mengganggu mayra.
Keduanyapun masih sering berkabar melalui telfon dan via sosmed lainnya, meskipun tak begitu intens, karna sebelumnya mayra sudah memberitahu ardi jika ia ingin menjaga semua hubungannya, tak ingin terjadi masalah diantara mereka dan adi.
Yah..adi masih belum mengetahui apa yang terjadi diantara ardi dan mayra, pak seto dan bu sinta memilih untuk diam, selama tak ada apapun yang terjadi pada mayra, mereka percaya jika tidak terjadi apapun diantara ardi dan mayra malam itu.
Bu sinta juga sudah memaafkan mayra, setelah mayra meminta maaf dan berjanji tidak akan pernah menemui ardi lagi, begitu juga dengan ardi yang berjanji tidak akan pernah menemui mayra lagi, dan mereka memilih diam tak memberitahu adi, tak ingin terjadi masalah didalam hubungan putrinya.
Selama ujian, adi selalu berangkat bersama mayra, ia tak ingin mayra terlambat, meskipun nantinya mayra harus turun di luar sekolah, agar tak ada yang melihatnya dengan adi.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Jam 12 siang, mayra menghela nafas setelah menyelesaikan ujian terkahirnya, ia pulang bersama teman-teman sekelasnya, tapi bukan nana dan jeni, karna mereka mendapat ujian dengan sesi yang berbeda.
Tibanya di rumah, mayra segera berganti baju lalu tidur siang, entah kenapa siang itu, badannya terasa tidak enak, kepalanya terasa pusing, ia berpikir untuk istirahat agar sakitnya menghilang.
Namun siapa sangka, mayra justru tidak bisa tidur nyenyak, kepalanya semakin terasa pusing, panasnya semakin tinggi, di tambah mayra juga mual-mual, mengetahui hal itu, bu sinta segera membawa mayra ke rumah sakit, ia hendak memesan taxi, tapi rupanya adi datang di waktu yang tepat, ia segera menggendong mayra ke mobilnya, untuk membawanya pergi ke dokter, bu sinta juga ikut bersama mereka.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit, mayra masuk ke ruang dokter bersama sang ibu, sementara adi menunggu di luar. Pasalnya adi memang sengaja pergi ke rumah mayra, karna ia ingin mengajak mayra pergi jalan-jalan, setelah hampir 1 minggu mayra ujian, ia ingin mayra merifresh otaknya, tapi rencananya gagal mengetahui mayra yang sakit.
Di dalam ruang dokter, mayra melakukan pengambilan darah, untuk cek darah, agar bisa memastikan apa penyebab mayra pusing, panas dan mual-mual, mengingat sangat rawan musim penyakit DBD, akibat pergantian cuaca yang tidak menentu.
ππππππππππππ
Setelah melakukan pemeriksaan, mayra duduk di lobi menunggu bersama sang ibu, sementara adi pergi ke lab untuk mengambil hasil pemeriksaan mayra. Hingga beberapa menit kemudian, adi datang membawa hasil lab mayra, ia membaca hasilnya.
Dannn...JEDARRR..
Bagai tersambar petir di siang hari, mata adi kaget membaca hasil lab mayra, bahkan ia menjatuhkan kertasnya, tak percaya dengan apa yang ia baca. Melihat reaksi adi yang aneh, bu sinta segera mengambil kertas itu, ia juga terdiam tak percaya membaca hasil laporan mayra.
"Tidak mungkin!!" gumamnya.
__ADS_1
Mayra semakin bingung, melihat ekspresi keduanya, ia bertanya pada sang ibu tapi tak ada jawaban, justru bu sinta menangis meneteskan air mata, ia tidak bisa berkata apa-apa. Jangan tanya bagaimana perasaan adi saat itu, hatinya terasa hancur setelah mengetahui hasil laporan mayra, ia tidak percaya semua itu bisa terjadi, karna dirinya tidak merasa melakukan apapun.
"Ini tidak mungkin." batinnya kecewa.
Tak ingin bingung dengan semuanya, mayra bangkit dan meraih kertas di tangan ibunya, ia membaca sendiri hasil laporan dirinya.
" POSITIF HAMIL"
DEG DEG DEG.....
Mayra terduduk, ia tidak percaya jika dirinya hamil, bahkan seketika mayra merasa kecewa dengan dirinya, kemudian bangkit menghampiri adi, ia mencoba meyakinkan adi bahwa laporan itu salah, dirinya tidak mungkin hamil.
"Mass...percaya padaku, ini tidak benar, aku tidak mungkin hamil, aku tidak hamil mas, percaya padaku." jelasnya tersedu-sedu.
Mayra terus berusaha meyakinkan adi jika laporan tentangnya itu salah, tapi adi hanya diam, ia tak menggubris ucapan mayra, hatinya hancur dan kecewa, mengetahui kebenaran yang ia dapat saat itu juga, tak ada rasa iba melihat tangis mayra. Bahkan saking kalutnya mayra, ia sampai bicara pada perawat bahwa hasil pemeriksaannya itu salah.
"Tapi ini benar nona, anda hamil, dan ini hasil tes anda!" jelas perawat.
" Tidak mungkin, ini pasti salah!" kekeh mayra tersedu-sedu.
Bu sinta terus menangis, ia tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya masih duduk menyesali apa yang telah terjadi pada putrinya. Sementara mayra masih terus bicara pada adi, meyakinkan adi bahwa semuanya tidak benar.
Adi bingung, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan mayra dan ibunya disana, ia tak ingin dirinya berbuat hal yang nantinya akan menyakiti mayra, mengingat kekecewaannya, hatinya hancur mengetahui segalanya. Ada luka yang kembali harus ia rasakan, luka yang sama, dari sebuah cinta yang ia berikan, dengan sebuah penghianatan sebagai balasannya, dan mayra juga melakukan itu pada dirinya.
Adi menyetir dengan kecepatan tinggi, ia mengerang frustasi, mengingat hasil laporan mayra, mengingat setiap moment yang mereka lewati berdua, mengingat cinta mereka, semua yang berhubungan dengan mayra.
"Aarrrghhhghhh....sial" keluh adi emosi.
πππππππππππ
Sementara itu, di rumah sakit bu sinta masih menangis tersedu-sedu, dengan mayra yang meringkuk meminta maaf di kakinya. Hati ibu mana yang tak sakit, menerima kenyataan pahit tentang putrinya, apalagi melihat adi yang pergi begitu saja. Tak ingin membahas masalah mereka di sana, bu sinta segera menelfon suaminya, ia memintanya untuk menjemputnya di sana, tak lupa bu sinta juga meminta pak seto untuk mengajak mayra ke rumahnya.
Mendengar suara sang istri yang tersedu-sedu membuat pak seto merasa hawatir, ia segera pergi menemui ardi di ruangannya, meminta ijin pulang sekaligus mengajak ardi pergi ke rumah sakit. Keduanya segera bergegas, begitu juga ardi, ia merasa hawatir mengingat mayra yang sedang sakit.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Keduanya tiba di rumah sakit, pak seto terkejut tak kala mengedarkan pandangannya dan menemukan mayra dan bu sinta duduk di lobi sembari menangis tersedu-sedu, Ia segera memapah bu sinta ke mobil, dan mayra di papah oleh ardi.
Selama di perjalanan tidak ada yang bicara, mobil terasa sunyi, meskipun bu sinta dan mayra sama-sama terisak dalam diamnya, hanya desiran semilir angin yang terdengar menerpa mobil mereka selama di perjalanan pulang.
π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah, mereka masuk dan duduk bersama di ruang tengah, bu sinta masih menangis di samping suaminya, sedangkan mayra duduk di samping ardi. Lalu pak seto bertanya apa yang terjadi pada mayra, tapi mayra tidak menjawab ayahnya.
Hal itu membuat bu sinta akhirnya bicara, ia menyodorkan kertas hasil lab yang menyatakan jika mayra positif hamil, dan adi sudah mengetahuinya, ia juga memberitahu pak seto, jika adi pergi meninggalkan mereka di rumah sakit. Mendengar hal itu, pak seto terkejut, begitu juga dengan ardi, ia tidak percaya dengan hasil tes mayra.
"Itu tidak mungkin, karna kami tidak pernah melakukan apapun!" tegas ardi.
Sontak mayra menatap ardi, mayra juga terus menjelaskan bahwa dirinya tidak mungkin hamil, ardipun juga menegaskan hal itu, ia yakin jika hasil lab mayra salah. Tapi kenyataannya berbeda, pak seto tidak bisa berkata apa-apa setelah membaca hasil labnya, meskipun hatinya tidak yakin dengan hal itu.
Lalu ardi menatap mayra, ada rasa sakit melihat setiap tangisnya, dan akhirnya ardi memutuskan untuk bertanggung jawab atas semuanya.
"Saya akan menikahi mayra pak!" tegasnya.
Mendengar ucapan ardi, bu sinta menatap dirinya, begitu juga pak seto, mereka terkejut jika ardi bersedia bertanggung jawab dengan putrinya, sedangkan mayra juga terkejut, ia menatap ardi dalam-dalam, ia tak menyangka ardi akan bertanggung jawab dengan hal yang tidak pernah mereka lakukan.
"Apa yang kau katakan mas?" tanya mayra.
Ardi tersenyum menatap mayra, bahkan ia menyeka air mata yang membasahi pipinya, memberikan kejelasan tentang semua keputusannya.
"Tidak penting hasil lab itu benar atau salah mayra, yang jelas aku sangat mencintaimu, tidak perlu menjelaskan apapun lagi, yang tau kebenarannya hanya kita, dan aku siap menikahimu, bukan karna rasa kasihan, melainkan karna aku memang mencintaimu." jelas ardi penuh keyakinan.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Alhamdulillah bisa up..
mohon maaf jika ada salah kata..
jangan lupa, like, love dan komen...
__ADS_1
Harap sabar menunggu...
Trimakasih..