Di Kejar Cinta Pak Guru

Di Kejar Cinta Pak Guru
MURAHAN


__ADS_3

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Percayalah, setiap hubungan selalu memiliki ujian..


Setiap ujiannya tidaklah mudah..


Untuk menaikkan level dari cinta mereka...


Memperkuat tali diantara keduanya...


☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘


"ARRGGGHHHHH...."


Adi mengerang frustasi, mengingat hasil lab mayra, ia tidak percaya jika mayra akan menghianatinya, bahkan sampai hamil, ia pikir lukanya tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Adi memecahkan barang-barang yang ada di kamarnya, hal itu terdengar sampai ke bawah, membuat bik jum merasa takut dan sedih mendengar kemarahan adi.


"Ya tuhan, kenapa dengan den adi, tolong jangan sakiti dia lagi." batinnya cemas.


Bik jum tak berani ke atas, ia hanya mendengarkan suara-suara barang yang jatuh dan pecah dari bawah, karna disaat seperti itu, adi tidak ingin bertemu siapapun, dan setelah sekian lama, kemarahan adi kembali terdengar, bik jum hawatir jika nantinya adi akan berubah kembali.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Di rumah mayra, di ruang tengah mereka masih berkumpul, pak seto masih merasa sesak, bukan tentang kehamilan mayra, melainkan tentang hubungannya dengan adi, ia tidak tau harus meminta maaf kepada adi, karna hubungan mereka bukan tentang adi saja, melainkan dengan keluarga besar adi.


Mayra meminta ardi untuk mengantarnya ke rumah adi, ia ingin bicara pada adi, tapi ardi menolak hal itu, ia menjelaskan bahwa adi tidak akan mau mendengarkan penjelasannya saat itu juga.


"Kau boleh menjelaskan semuanya mayra, tapi tidak hari ini, biarkan adi menenangkan dirinya lebih dulu, besok aku berjanji akan mengantarmu pergi kesana. Setiap masalah memiliki waktu dan proses untuk memecahkannya mayra, percayalah, semuanya akan baik-baik saja." jelas ardi.


Pak seto setuju dengan ucapan ardi, kemudian ia meminta mayra untuk istirahat, ia tau jika putrinya sedang sakit, bukan hanya raga tapi juga jiwanya, semua yang terjadi juga menyakiti hatinya dan istrinya, tapi pak seto berusaha tabah, ia percaya jika keluarganya bisa menghadapi semuanya.


Percaya atau tidak, sebagai seorang ayah, di lubuk hatinya yang terdalam, ia percaya jika putrinya tidak mungkin melakukan hal di luar batasan, meskipun kenyataan hasil lab itu menunjukkan sebaliknya.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


Ardi pamit pulang, ia ingin mayra dan orang tuanya beristirahat, tapi ardi tak langsung pulang, ia justru menelfon seseorang, ia memintanya untuk menyelidiki kebenaran hasil lab mayra.


"Aku yakin, hasilnya pasti salah atau tertukar, segera selesaikan dan laporkan padaku." jelas ardi mengakhiri telfonnya.


Selama perjalanan ardi terus berpikir, entah dirinya harus sedih atau senang dengan hal yang menimpa mayra, yang kenyataannya membuka peluang baginya untuk mendapatkan mayra seutuhnya. Tapi ardi merasa ngilu, tak kala melihat tangis di wajah cantik mayra, ia memang mencintai mayra, tapi cinta yang ingin ia dapat bukan dengan cara yang menyakiti mayra pikirnya.


Ardi juga berpikir, jika nantinya ia akan membawa mayra ke rumahnya, ia akan meminta ijin untuk menikah dengan mayra, setuju ataupun tidak, ardi tetap akan menikahi mayra, mengingat sang mama yang tidak suka pada mayra.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Ke esokan harinya, pak seto memutuskan untuk mengajak istrinya dan mayra untuk pergi ke rumah adi, sebagai seorang ayah, ia ingin meminta maaaf untuk kesalahan yang putrinya lakukan, ia ingin menjelaskan kejadian yang terjadi diantara ardi dan mayra waktu itu.


Tibanya di rumah adi, kedatangan mereka di sambut oleh bik jum yang tengah membersihkan halaman, namun raut wajah bik jum berbeda dari sebelumnya, ia terlihat cemas dan takut. Mayra memohon pada bik jum agar diijinkan masuk dan bicara dengan adi, tapi bik jum tak lekas menjawab, hingga akhirnya bik jum mempersilahkan mereka masuk, tapi bik jum tidak berjanji bisa mempertemukan mereka dengan adi, mengingat kemarahan adi, di tambah adi tak turun sejak kemarin, ia meminta mayra untuk menemui adi sendiri.


"Non mayra naik saja ke atas, temui den adi sendiri, bibik tidak berani, sejak kemarin den adi tidak turun ataupun makan." jelas bik jum.


Mayra mengangguk paham, ia meminta orang tuanya untuk menunggunya di ruang tamu, sementara dirinya pergi ke atas untuk menemui adi, meskipun hatinya bergetar mengingat semua yang terjadi.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Bahkan siapa sangka, adi juga mengetahui kedatangan mayra, ia juga menyambut mayra, namun bukan dengan hangat, tapi dengan datar dan dingin seolah orang asing. Adi masih berdiri di balkon, menatap langit tak ingin menatap wajah mayra.


"Selamat datang mayra, apa yang ingin kamu katakan? ini terlalu pagi untuk berdiskusi, harusnya kamu pergi ke sekolah pagi ini?" datar adi.


Mayra terdiam, ia menatap punggung adi, sosok yang dulunya sangat mencintainya, sosok yang tidak pernah bicara dingin padanya, tak pernah berhenti memandangnya, dan kini ia bicara dengan membelakangi dirinya. Mayra menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, ia menahan gejolak di hatinya, menyimpan sesak dan mengumpulkan keyakinannya.


"Aku ingin kamu mendengarkan penjelasanku mas, hasil itu pasti salah, aku tidak mungkin hamil, karna aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun. Aku ingin tes ulang, untuk membuktikan bahwa aku tidak hamil, percayalah mas, berikan aku kesempatan satu kali saja." jelas mayra memohon.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Adi masih diam, ia tak ingin bicara, hatinya merasa sakit ketika mengingat kembali hasil tes mayra, ada rasa sesak dan emosi yang memenuhi hatinya, ia tak ingin jika nantinya dirinya justru bicara hal yang akan menyakiti mayra, karna kenyataannya, dirinya masih sangat mencintai mayra.


Mayra semakin merasa sesak, menerima sikap adi, apalagi adi yang tak mau bicara pada dirinya, tapi itu sudah menjadi resiko baginya. Mayra terus bicara, ia juga menceritakan kejadian waktu lalu di mana dirinya tidur bersama ardi, tapi mayra terus memastikan bahwa tidak ada yang terjadi diantara mereka.

__ADS_1


Namun sayang, adi semakin tidak percaya, hatinya semakin sakit mendengar semuanya, bahkan adi tersulut emosi, ia tak menyangka hal itu bisa mayra tutupi darinya. Adi tertawa mendengar ucapan mayra, juga kata maaf darinya.


"Untuk apa kau minta maaf? Bukankah harusnya kamu senang, jika aku pergi dari sisimu, itu akan mempermudah segalanya, kamu tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi tidur dengannya seperti wanita murahan." jelas adi.


JEDAARRRR...


Bagai tersambar petir, mayra tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari mulut adi, ia tidak percaya jika adi akan bicara buruk tentangnya, dan hal itu berhasil membuat mayra menangis, merasa sesak akibat ucapan adi.


"Aku minta maaf mas, yang jelas semua ini memang salahku, tapi aku akan membuktikan bahwa aku tidak bersalah, kau boleh menghinaku semaumu, tapi aku tidak seburuk apa yang kamu katakan. Aku tau aku salah, tidak menceritakan semuanya lebih awal padamu, dan itu memang salahku, maaf dan trimakasih." jelas mayra.


Mayra berbalik pergi sambil terisak, ia turun pergi menemui orang tuanya, mengajaknya pergi dari sana, tak ingin jika nantinya mereka bertemu adi, apalagi harus mendengar kata-kata yang akan melukai hati mereka, cukup dirinya yang menanggung semua luka. Bik jum ikut menangis melihat mayra, ia merasa sedih melihat hubungan keduanya, harus berakhir seperti itu, lalu mereka pamit pulang.


"Trimakasih bik sudah mengijinkan aku masuk bertemuas adi, aku minta maaf jika aku sudah memberi luka untuknya, membuat kekacauan di rumah ini, tolong bibik jaga mas adi, jangan sampai dia sakit, aku yakin bik jum bisa merawat mas adi." jelas mayra berlinang air mata.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Mereka pergi dari sana, pak seto merasa sakit melihat tangis diwajah putrinya, ia tau jika mayra sedang terluka, tapi dirinya tidak bisa melakukan apa-apa. Sementara bu sinta masih merasa hawatir, melihat putrinya menangis, apalagi adi yang tak mau menemui mereka.


"Apa adi mengatakan sesuatu mayra, katakan pada ibuk? Apa kau sudah minta maaf padanya? Apa dia menghinamu mayra?" cecar bu sinta hawatir.


Mayra menggeleng, ia tak ingin orang tuanya tau, cukup dirinya saja, lukanya tak harus ia bagi, mengingat semua memang salah dirinya, ia juga rela dihina, asalkan bukan orangtuanya.


"Sudah buk, ibuk jangan hawatir, mas adi sudah memaafkan aku, ayah dan ibuk tenang saja, dia tidak mengatakan apapun padaku, dan nanti, aku yang akan minta maaf pada keluarga mas adi." jelas mayra.


Mayra menyeka air matanya yang terus berlinang, ia berusaha tegar di depan orang tuanya, meski nyatanya hatinya sakit mengingat kata-kata adi.


"Seperti wanita murahan" kata-kata itu yang terus terngiang di hati dan telinganya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Alhamdulillah bisa up lagi..


Mohon maaf bila ada salah kata..

__ADS_1


Jangan lupa like, love dan komen..


Harap bersabar, dan trimakasih untuk kesetiannya...


__ADS_2