
πππππππππππ
Setiap kejadian, memiliki hikmah di baliknya...
Seperti pelangi yang muncul setelah hujan...
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Namun adi kembali berpikir, jika semua yang terjadi memang sudah suratan takdir, ia tidak perlu menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi, mengingat mayra yang telah menghianatinya. Namun berbeda dengan edo, yang justru memberi saran pada bossnya untuk meluruskan segalanya.
"Jika aku boleh memberi saran padamu boss, sebaiknya nona mayra tau tentang siapa eva yang sebenarnya, meskipun apa yang terjadi diantara kalian tidak melibatkan eva, aku yakin nona mayra sudah salah paham." jelas edo.
Adi menatap edo tajam seakan ingin memakannya, lalu melemparnya dengan sebuah kertas yang ia remas, memintanya untuk keluar dari ruangannya. Dan tanpa basa-basi edo segera pergi dari sana, ia tak ingin mencari masalah dengan bossnya.
Sedangkan adi masih berpikir, ia mengakui jika yang edo katakan memanglah benar, tapi dirinya masih enggan, mengingat mayra masih belum membuktikan ucapannya.
"Aku berharap, jika apa yang kau katakan itu benar mayra, semua yang terjadi hanyalah salah paham." batinnya.
ββββββββ
Sementara itu, di sebuah butik, ada mayra yang tengah mencoba beberapa gaun untuk ia pakai di acaranya nanti malam, ia bingung melihat 3 gaun yang sama-sama cantiknya, namun tiba-tiba saja mama anita datang ke butik itu, mengagetkan ardi dan juga mayra, mereka tak menyangka akan bertemu disana.
"Mama..." panggil ardi.
Mama anita menoleh ke arah putranya, tanpa ia ketahui, sang mama memang sengaja pergi kesana, ia ingin tau apa dress pilihan mayra, ia tak ingin ada yang kurang di acara putranya. Mayra juga terkejut, ia merasa sungkan melihat kedatangan mama anita, yang sebentar lagi akan menjadi mama mertuanya.
"Tante, maaf.." ucap mayra menunduk.
Mama anita menatap mayra tajam, ia mendengar kata maaf darinya, lalu mengangguk, dan tanpa banyak bicara meminta mayra mencoba gaun berwarna soft blue yang menjuntai indah sampai ke kakinya, dengan bagian dada yang bergelombang bertaburan swaroski.
"Coba ini saja, ini akan cantik untukmu." jelasnya.
Mayra menurut, ia masuk ke kamar pass di bantu karyawan butik. Sementara ardi tersenyum, melihat sang mama yang membantu mayra, ia tau jika mama nya adalah ibu yang baik, ia sangat menyayanginya, dan ia juga setuju dengan pertunangan mereka, meskipun ia enggan untuk mengakuinya.
Dan beberapa saat, mayra keluar, gaun itu benar-benar cocok dengan mayra, membuatnya terlihat sangat cantik, meskipun tanpa polesan make up, sehingga pilihan mereka jatuh pada gaun soft blue itu.
π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°
__ADS_1
Setelah memilih gaun, mama anita pergi, ia masih memiliki beberapa urusan, dan ardi yakin itu tentang persiapan acaranya nanti malam.
" Hati-hati ma." ucap ardi menatap kepergian sang mama.
Sementara mayra berdiri menggandeng ardi, ia merasa senang setelah kedatangan mama anita ke sana, ia tidak menyangka jika mama anita akan membantunya memilih gaun, itu adalah kali pertama ia mendapat perhatian seorang calon ibu mertua, mengingat adi memang tidak memiliki orang tua, setelah itu ardi mengantar mayra pergi ke salon langganan mamanya.
Di sisi lain, ada adi yang baru saja pulang dari kantor, kepalanya terasa penat, dan badannya terasa pegal, tambah masalah yang ia hadapi. Ketika tiba dirumah, rupanya eva sudah menyambutnya, ia tersenyum anggun seperti seorang istri yang menunggu kepulangan suaminya, bahkan ia mencoba membantu adi untuk membawakan tasnya, tapi adi tepis.
Namun eva tak berhenti di situ, ia justru pergi menyusul adi ke kamarnya, dengan membawakan segelas teh untuknya.
"Mas...aku bawakan teh untukmu, agar penatmu berkurang." jelasnya lembut, ia meletakkan tehnya di nakas.
πππππππππππ
Adi merasa kesal, ia muak dengan sikap eva, dirinya harus menahan semuanya di depan difa, hanya demi difa adi melakukan semuanya. Ia menoleh ke arahnya, berniat ingin mengusirnya keluar dari kamarnya, ia tak mau dengan teh yang ia bawa, namun saat menatap eva matanya menangkap sesuatu, sesuatu yang tak asing, apa lagi kalau bukan kalung mayra, adi juga melihat cincin mayra di jemarinya.
Sontak hal itu membuat adi marah, ia tidak suka jika ada barang mayra yang ia sentuh, apalagi ia pakai tanpa ijinnya. Adi sarkas menghampiri eva, lalu menarik kalung itu dari lehernya, adi juga meraih tangannya, ia melepas cincin mayra dari jemarinya. Matanya memerah, ia menunjukkan kalung dan cincin mayra di wajah eva, ia mengatakan bahwa eva tidak pantas dan tidak berhak atas semuanya.
"Kau tidak pantas untuk semua ini!" hardik adi jijik.
"Aku tidak pantas katamu mas? Hahahhaa...bukannya gadis itu sama saja denganku, bahkan dia jauh lebih buruk dariku." ejek eva menghina mayra.
PLAAAAKKKK...
Satu tamparan berhasil mendarat sempurna di pipi eva, adi benar-benar tak terima jika mendengar hinaan untuk mayra, karna bagaimanapun mayra, di hati kecilnya, mayra tetap ada di sana.
"Jangan sekali-kali kamu mengatakan itu eva, apalagi menyamakan mayra dengan wanita menjijikkan sepertimu!" tegas adi.
Tanpa banyak basa-basi, adi menarik eva pergi, ia menghempasnya keluar sampai eva tersungkur ke lantai, lalu menutup pintunya dengan kasar.
BRAAKKKKK...
Eva masih tersungkur di depan pintu kamar adi, ia tidak menyangka jika adi masih akan membela mayra seperti itu, mengingat mayra sudah terbukti hamil, lalu ia pergi dari sana.
"Aarrrrrgghhhh..."
Di dalam kamar, ada adi yang mengerang fruatasi mengingat mayra, ia menatap kalung dan cincin yang ada ditangannya, simbol cintanya pada mayra, membuat hatinya terluka. Ia tidak menyangka mayra akan mengembalikannya secepat itu, apalagi tanpa bertemu dengannya, lalu adi berniat untuk menyimpannya di laci, tapi sebelum itu, ia melihat sebuah kertas hasil lab bernama mayra, namun adi enggan untuk melihatnya.
__ADS_1
"Siapa yang meletakkan ini disini? Apa mayra kemari?" gumamnya berpikir.
Adi pergi tak menghiraukan kertas itu, ia merasa tidak ada gunanya kertas itu saat itu, karna mayra sudah terbukti bersalah, adi pikir itu adalah hasil pemeriksaan lab mayra yang lama.
πππππππππππ
Sedangkan di sisi lain, ada jeni dan nana yang tersenyum mendapat pesan dari mayra, apalagi kalau bukan undangan acara pertunangannya, mayra mengirimkan alamat tempat acara mereka berlangsung, mengingat ardilah yang telah mempersiapkan semuanya, mayra juga tidak tau dimana tempatnya, dan tanpa menunda waktu, keduanya segera bersiap, mereka tidak sabar untuk segera menghadiri acara pertunangan mayra.
Mayra juga tengah bersiap bersama ardi, dengan penuh kesabaran ardi menunggu mayra, sama seperti saat dirinya harus bersabar menunggu cinta mayra.
Satu jam kemudian, mayra sudah selesai dengan persiapannya, begitu juga ardi, keduanya memang berada di satu tempat yang sama untuk bersiap, namun di kamar yang berbeda, dan hal itu membuat keduanya saling terpesona.
Bagaimana tidak, keduanya saling memandang saat kembali di pertemukan, mata ardi tak berkedip, melihat sosok mayra yang sangat cantik, di balut gaun soft blue pilihan sang mama, membuatnya semakin jatuh cinta. Begitu juga sebaliknya, mayra juga terpesona dengan ketampanan ardi saat itu, balutan jas navy membuatnya terlihat semakin gagah dan berwibawa, dengan senyuman indah di wajah tampannya.
"Sungguh mayra, nikmat tuhan mana yang engkau dustakan?" batinnya.
Namun, kali itu mayra kembali merona, ketika ardi mendekat ke arahnya, lalu berbisik di telinganya.
"Kau sangat cantik sayang, dan kau terlihat seperti istriku." lembutnya.
Blushhh...
Rona merah bersemu di wajah cantik mayra, bahkan karna malu, mayra berbalik memblakangi ardi, menyembunyikan wajahnya, memegang dadanya, mencoba menetralkan semuanya.
"Mayra..jangan panik, itu hanya gombalan para buaya." batinnya.
Ardi tersenyum, ia tau jika mayra malu mendengar ucapannya, ia juga yakin jika pipinya sedang memerah, tapi ardi suka hal itu. Setelah itu, ardi segera mengajak mayra pergi ke tempat acara, ia menggandeng tangan mayra dengan penuh mesra, membuat orang yang melihat terlena.
π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±
Alhamdulillah bisa up lagi..
Mohon maaf jika ada salah kata, dan keterlambatan up untuk para pembaca setia..
Semoga tetap suka, jangan lupa, like, love dan komen..
Trimakasih banyak..
__ADS_1