
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Terkadang, tidaklah salah membuka banyak tempat di hati untuk beberapa orang, karna tidak semua orang bisa masuk dan mendapatkannya, bukan siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling tepat.
Ini bukan tentang kesetiaan, tapi tentang sudut pandang.
Ttd ,Mommy mimin๐
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di kantor adi, dan hal itu adalah kali pertama mayra datang kesana. Meski mereka sudah bertunangan, mayra tak pernah ingin tau tentang dunia adi terlalu dalam, yang mayra tau adi adalah seorang guru, selebihnya tidak, ia berpikir bahwa keterbukaan itu datang bukan karna paksaan, melainkan ada rasa diantara satu sama lain tentang bagaimana cara saling berbagi, menerima dan melengkapi, dan jika terlalu keras ia ingin mencaritahu semuanya, ia takut akan ada penyesalan yang berujung rasa sakit, akibat rasa ingin taunya, karna semua kebenaran akan datang dengan sendirinya.
Mayra turun dari mobil bersama ardi, awalnya mayra meminta ardi untuk menunggunya di mobil, tak ingin terjadi masalah nantinya jika adi tau dia datang bersama ardi, namun ardi menolak, ia yakin mayra tidak akan diijinkan untuk menemui adi begitu saja, apalagi itu adalah kali pertamanya, tidak ada seorangpun yang tau siapa mayra.
Ardi masuk menggandeng mayra, dan benar saja, keduanya hampir di cegah oleh resepsionis, apalagi jika mayra datang sendiri, tapi saat melihat sosok ardi, tidak ada yang berani mencegahnya.
"Kami sudah membuat janji, dia sudah menunggu kami." tegas ardi berlalu.
Mayra terpesona melihat sikap ardi saat itu, ia hanya diam mengekori ardi kemana ia membawanya pergi, seperti gadis pintar yang penurut idaman laki-laki. Lalu keduanya masuk ke lift menuju ruangan adi, ardi merangkul mayra, memberi ketenangan untuk gadisnya, ia tak ingin mayra merasa cemas apalagi saat bersama dirinya.
"Aku bisa saja egois, tapi tidak untuk menyakitimu." batin ardi menatap mayra.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Tinggg...
Pintu lift terbuka, ardi menunjuk di mana ruangan adi, ia meminta mayra untuk pergi sendiri, tak ingin membuat keributan seperti yang mayra takutkan. Ia akan menunggu mayra di luar, dan jika mayra sudah masuk ardi akan pergi dari sana, dan mayra setuju.
Dengan tersenyum, mayra melangkah menuju ruangan adi, sebelum masuk, mayra menarik nafas untuk memberanikan diri, sesaat sebelum ia masuk, ada hal yang membuat langkahnya terhenti, kebetulan saat itu, pintu ruangan adi tidak tertutup rapat, membuat mayra bisa melihat siapa saja yang ada di dalam sana.
DEG DEG...
Bahkan jantungnya berdetak lebih kencang, melihat situasi di dalam ruangan adi. Ada yang menghantam hatinya, menapar pipinya dan menyadarkannya melihat apa yang terjadi, cukup tau dan mayra pergi dari situ.
__ADS_1
Ardi terkejut, tak kala melihat mayra yang menghentikan langkahnya, bahkan beberapa saat ia kembali padanya, terlihat jelas raut wajah mayra yang berbeda, dan ada embun bening di matanya.
"Kenapa mayra? Kenapa kamu tidak masuk?" cemas ardi.
Mayra menggeleng, ia tak bicara, lalu menarik tangan ardi pergi dan masuk ke lift. Di dalam liftpun sama, mayra tak mau bicara, ia mencoba menutupi isi hatinya, menyimpan semuanya agar terlihat baik-baik saja.
Sampai akhirnya mereka keluar dari kantor adi mayra masih enggan bicara. Ardi tak tega melihat mayra seperti saat itu, namun apa dayanya, ia juga memilih diam demi menjaga perasaan mayra, karna yang terpenting saat itu adalah bagaimana cara menenangkan mayra, meski di hatinya ada rasa marah pada adi yang telah membuat mayra terluka.
"Aku tidak tau apa yang kau lakukan adi, tapi ini tidak baik untukmu." batinnya.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Sedang mayra hanya terdiam, ia memilih menatap keluar cendela, melihat sepanjang jalan dengan lalu lalang kendaraan, mengingat apa yang baru saja ia lihat. Sesekali ardi menatap mayra, ia tau jika mayra mencoba menutupi lukanya, bahkan sesekali menyeka air matanya, yang meski tak deras namun bergiliran turun dari matanya.
Ardi memilih mengantar mayra pulang, rasanya tidak tepat untuk mengajak mayra pergi kemanapun, ia merasa bahwa rumah adalah tempatnya untuk menenangkan dirinya. Hingga beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah mayra.
Melihat ada sang ibu yang tengah membersihkan taman, membuat mayra tersadar, ia menarik nafasnya dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, lalu menyunggingkan senyumnya seolah dia baik-baik saja, kemudian hendak turun. Namun sebelum turun dari mobil, ardi mencegah mayra.
Mayra tersenyum, lalu ia turun menghampiri ibunya, lalu menatap kepergian mobil ardi, ia juga memberitahu pada ibunya bahwa ardi yang mengantarnya pulang, namun ia tak bisa mampir karna ada urusan, barulah setelah itu mayra masuk kedalam.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Mayra mengunci pintu kamarnya, kemudian menghempaskan tubuhnya ke kasur, seketika air matanyapun mengalir begitu deras, menghempas sesak yang sejak tadi ia tahan, masih teringat jelas apa yang ia lihat tadi, meski ia tak tau apa kebenaran yang sesungguhnya. Namun satu hal yang mayra sadari, bahwa dirinya tak pantas untuk adi, dan mungkin selama ini dirinya tak menyadari akan hal itu. Ia juga kembali teringat pada paket yang ia terima, dan kata-kata wanita yang ia temui di moll beberapa waktu lalu.
Sarkas mayra bangkit mengambil foto itu, ia mencoba mencocokkan gambar dengan apa yang ia lihat, berharap semua yang terjadi hanyalah salah paham, tapi tidak, mayra yakin bahwa mereka memanglah orang yang sama di foto itu Ia juga mengingat tentang kotak musik itu, lalu kembali terisak dalam sesaknya.
"Harusnya, aku sudah sadar sejak lama, dan tidak maju sejauh ini." batinnya.
Hingga akhirnya mayra terlelap dalam isaknya, bahkan ia tak mendengar ketukan pintu oleh ibunya. Tak mendapati putrinya, bu sinta kembali, ia yakin bahwa putrinya sedang tidur.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Hingga malampun tiba, jam sudah menunjukkan pukul 6 malam, mayra baru saja terbangun dari tidurnya, badannya terasa sedikit sakit akibat posisi tidurnya yang tidak teratur. Ia masih duduk untuk mengumpulkan kesadarannya, bahkan bukan cuma itu, ia kembali teringat dengan semuanya, namun mayra segera bangkit, dan menyimpan semuanya kembali di lemarinya, ia tak mau orangtuanya tau tentang hal itu, sebelum dirinya bisa memastikan semua kebenarannya, setelah itu, mayra pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Sementara di ruang tengah, pak seto tengah duduk bersama istrinya, keduanya asik menonton film di temani teh hangat dan sepiring cemilan. Tak melihat putrinya, pak seto bertanya pada sang istri.
"Mayra mana buk?" tanya pak seto.
"Mungkin dia ketiduran yah, nanti kalau sudah bangun, mayra pasti keluar, ibu juga udah siapin makan malemnya." tutur istrinya.
Tak berselang lama, mayra keluar dari kamarnya, ia melihat kedua orang tuanya tengah bersandar nyaman disana, membuat dirinya teringat akan masalahnya. Namun mayra tak berani menyapa keduanya, ia tak ingin memperlihatkan matanya yang sedikit sembab akibat menangis, tak ingin membuat mereka hawatir, lalu ia segera mengambil makan malam dan masuk ke kamarnya.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Di sisi lain, ada adi yang baru saja pulang mengantar tamunya, ia melonggarkan sedikit dasinya, memberi sela untuk sesak yang mencekik lehernya, lalu ia menghela nafas menatap langit dan teringat akan mayra. Namun ia kembali teringat bahwa ponselnya sudah tidak ada, karna ia sudah melemparnya, dan ia memutuskan untuk menghubungi mayra besok karna ia sudah merasa lelah.
Namun siapa yang tau, di sisi lain, ada orang yang tengah tertawa bahagia, setelah berhasil melakukan rencananya.
"Aku bisa melakukan semua di luar dugaanmu." batinnya senang.
Sementara ardi tengah bersiap untuk pergi menemui mayra, seperti biasa, ia mengatakan bahwa dirinya akan tidur di apartement pada kedua orang tuanya, dan mereka percaya itu. Apalagi kali ini ardi sengaja berangkat lebih awal, ia merasa hawatir mengingat mayra, ia yakin bahwa mayra sangat membutuhkan sandaran saat itu, ia juga berjanji akan memberi pelajaran untuk adi atas luka yang ia beri nantinya.
โ๏ธโ๏ธโ๏ธโ๏ธโ๏ธโ๏ธโ๏ธโ๏ธโ๏ธ
Di kamar, mayra tengah makan di pinggir cendela kamarnya, makan malam di temani bulan dan bintang, ia juga membuka cendela kamarnya mengingat ardi yang akan datang menemuinya. Makannya tak terasa enak, bukan karna lidahnya tapi karna perasaannya.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Alhamdulillah, bisa up lagi
Semoga selalu berkenan di hati...
Mohon maaf jika ada salah kata..
Jangan lupa like, love dan komen sebanyaknya..
Trimakasih...
__ADS_1