
πΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Mayra melangkah masuk dengan terpaksa, setelah mendapat instruksi dari ardi. Membawa mayra terduduk di tepian ranjang dengan hati gemetar, sedangkan ardi tersenyum senang menatap mayra. Lalu ia pergi mengambil sebuah buket bunga mawar yang sudah ia siapkan di meja rias. Ia memgambilnya untuk diberikan pada mayra, gadis yang ia cintai sepenuh jiwa.
"Ini untukmu sayang, bunga mawar untuk gadis cantik yang aku cinta." jelas ardi tersenyum memberikan buket bunga.
Mayra tersenyum menatap ardi, ia lalu menerima buket mawar itu. Namun ada hal yang menghantam hatinya lagi, membuatnya teringat akan adi. Dimana adi pernah melakukan hal yang sama untuknya, dan hal itu membuat mayra teringat kembali.
"Harusnya aku tidak mengingat itu lagi." batin mayra.
Lalu ardi memeluk mayra, membawanya masuk kedalam hangatnya pelukannya. Mayra merasa senang, bisa mendapat kan laki-laki yang baik dan mencintainya seperti ardi, meskipun dengan banyak kekurangan di dalam dirinya. Setelah itu, ardi melepas pelukannya, ia duduk di samping mayra, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan mayra. Menatap lekat wajah mayra, membuat sang empunya merona.
"Ishhh...mas ardi ini." batin mayra kemudian memalingkan wajahnya.
Belum sedetik, ardi tak membiarkan mayra memalingkan wajahnya. Ia meraih wajah mayra, membelainya lembut sambil menatap matanya.
"Biarkan aku masuk dan mengisi seluruh hatimu mayra! Jangan mencoba lari atau mengusirku dari sana." jelas ardi lembut.
πππππππππ
Mayra terdiam, matanya memang saling menatap ardi, tapi didalam sana, ada kekosongan dengan kebingungan hati. Ia menyadari semua yang terjadi adalah takdir, dan seseorang tidak bisa lari dari takdir, cukup bisa berusaha untuk menjalani segalanya dengan sepenuh jiwa dan sebaik mungkin, meskipun kita tidak tau akan seperti apa hasilnya.
Masih terdiam bergelut dengan pikirannya, ardi justru menekan tengkuk mayra agar lebih dekat dengan wajahnya, dan jangan tanya kenapa? Karna para pemirsa sudah tau jawabannya. Namun hal itu membuat mayra terkejut, ia spontan berdiri tak menyadari keinginan ardi, sampai-sampai membuat kepala ardi jatuh dari pangkuannya.
"Kenapa sayang?" tanya ardi cemas.
"Maaf-maaf mas, aku tidak sengaja." jelas mayra panik.
Bagaimana tidak panik, mayra baru tersadar jika ada ardi di pangkuannya, setelah sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri. Bahkan hampir saja membuat ardi terjatuh ke lantai, jika ardi tidak sigap saat itu.
Ardi menggeleng tersenyum, ia tau jika mayra tidak sengaja, ia juga tak ingin melihat wajah cantik mayra berubah panik karna dirinya. Ardi juga tidak bisa marah pada mayra, ia justru hawatir jika dirinya menyakiti hati mayra tanpa sengaja. Tapi setelah menatap mata mayra yang terlihat bingung dan panik, ardi menyadari jika ada sesuatu yang sedang mayra pikirkan saat itu. Membuat ardi berpikir jika itu berhubungan dengan adi pikirnya.
π±π±π±π±π±π±π±π±π±
Setelah itu ardi membelai wajah mayra lembut, ia meminta mayra untuk mengatakan apa yang mengganggu pikirannya.
__ADS_1
"Katakan padaku sayang, apa yang sedang mengganggu pikiranmu?" lembut ardi.
Mayra menatap mata ardi, ada rasa takut dan ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi mayra percaya, jika ardi bisa mengerti segalanya.
"Maafkan aku mas, aku sedang berpikir tentang mas adi. Aku hawatir dengan kesehatannya, aku tau dia orang yang sangat keras kepala. Aku hawatir jika dia akan menungguku sesuai janji bik jum padanya. Aku tau, harusnya aku tidak mengatakan hal ini padamu mas. Tapi, aku tidak mau berbohong padamu, karna kamu tau, kebohongan tidak akan membawa hal baik dalam sebuah hubungan. Aku tidak ingin hubungan diantara kita hancur karna sebuah kebohongan. Aku tau bik jum salah karna sudah berbohong. Tapi, aku tidak bisa mengabaikan permintaan bik jum mas." jelas mayra.
Deg deg..
Hati ardi bergetar, merasa ngilu mendengar rasa hawatir mayra pada adi. Lalu ia mencoba tersenyum menutupi rasa cemburu di hatinya, ia mencoba menekan rasa itu, tak ingin merusak moment mereka.
"Baiklah, jika itu yang menjadi bebanmu, aku akan mengijinkan kamu menemuinya, dan aku akan menemanimu pergi kesana sayang." jelas ardi.
"Makasih mas." ucap mayra tersenyum.
Mendengar jawaban ardi membuat mayra merasa lega dan senang, ia percaya jika ardi bisa memahami segalanya, begitu juga dengan perasaannya. Meskipun tanpa mayra sadari, ada hati ardi yang merasa terluka, melihat senyum bahagia mayra setelah mendengar jawabannya. Membuat di hatinya timbul banyak pertanyaan tentang perasaan mayra pada dirinya.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Tak ingin berlarut-larut dengan perasaan itu, ardi menarik mayra kedalam pelukannya. Lalu membawanya berguling hingga berbaring di ranjang, bermalas-malasan dengan kerinduan yang menjadi selimutnya. Dan mayra tak menolak hal itu, ia tak ingin membuat ardi merasa kesal, setelah permintaan yang ia berikan.
"Aku membiarkanmu pergi mayra, tapi tidak untuk kembali." batin ardi.
πππππππππ
Di rumah, ada bu sinta yang sedang berkebun di halamannya. Ia menanam beberapa bibit bunga baru dan memindahkan beberapa bunga yang semakin subur berkembang. Tiba-tiba saja, terdengar suara deru mobil berhenti di halaman rumahnya, membuat sang empunya menoleh, dan ternyata benar, ada mobil yang berhenti disana.
"Mobil siapa itu?" pikir bu sinta seolah tak asing.
"Permisi bu sinta.." sapa bu anita ramah.
Dan sosok bu anitalah yang keluar dari mobil itu, ia turun dengan senyuman indah yang ia tunjukkan ketika melihat bu sinta besannya. Melihat kedatangan bu anita, bu sinta segera mencuci tangannya, lalu menyambut hangat kedatangan besannya, yang setelah sekian lama, dan akhirnya bisa berkunjung lagi kesana.
Keduanya saling memeluk. Setelah itu bu sinta mengajak bu anita masuk untuk bicara di dalam. Semua yang pernah terjadu diantara dua keluarga sudah bu anita lupakan, mengingat kebahagian putranya, dan kini ia berharap jika putranya akan selalu bahagia bersama mayra.
βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ
__ADS_1
Disisi lain ada adi yang tengah berdiri di balkon luar kamarnya. Ia kembali menatap langit, membayangkan mayra. Ada rasa sakit yang ternyata sudah merusak hidupnya, membuatnya jauh dari orang yang ia cintai. Sesal kian mengunung, menyisakan nestapa yang merusak hati.
Adi berpikir untuk membawa eva nantinya, ia ingin menjelaskan semua tentang masalalunya, menjelaskan semua kesalahpaham diantara mereka, dan berharap semuanya akan kembali seperti sedia kala.
ππππππππ
Hari kian sore, dan mayra masih belum datang, hal itu membuat bik jum merasa tak tenang. Ia hawatir jika mayra tidak datang ke sana, dan membuat adi kecewa. Bik jum menunggu mayra di halaman sembari menyiram tanaman.
"Semoga saja non mayra datang." doanya cemas.
Dan beberapa saat kemudian, mayra datang bersama ardi. Keduanya segera turun yang rupanya sudah disambut oleh bik jum, menerbitkan senyum lega diwajah wanita paruh baya itu. Keduanya dipersilahkan masuk oleh bik jum, namun ia meminta ardi untuk menunggu mayra di bawah nantinya, saat mayra pergi menemui ardi.
"Bibik minta maaf ya den, sebaiknya non mayra keatas sendiri saja, bibik mohon." jelas bik jum.
Ardi menatap mayra, ada rasa tak rela untuk membiarkan mayra pergi menemui adi sendiri. Namun dengan terpaksa, ia akhirnya harus melepas mayra pergi sendiri, setelah mendengar permohonan bik jum.
Mayra pergi setelah ardi mengijinkannya menemui adi. Ia melangkah menyusuri tangga menuju kamar adi, dengan perasaan yang bercampur menjadi satu. Hingga beberapa saat kemudian, ia tiba dikamar adi, ia masuk dengan perlahan, melangkah seolah banyak pertimbangan.
Mata mayra menelisik keseluruh ruangan, dan ia melihat sosok adi di balkon luar, dengan segera mayra menghampirinya. Langkah mayra memang perlahan, tapi adi bisa merasakan kedatangan dirinya, membuat adi tersenyum bahagia.
"Aku yakin, kamu akan datang padaku mayra." batin adi.
Beberapa saat mayra tiba di samping adi, ia berdiri menatap dirinya. Ada rasa lega melihat sosok adi yang tengah berdiri di hadapannya, membuatnya tak perlu cemas dengan kesehatan adi saat itu juga.
"Syukurlah mas kamu baik-baik saja." batinnya.
Adi berbalik menatap mayra, dengan kardigan mayra yang masih ada digenggamannya. Keduanya masih enggan untuk bicara, masih sibuk bergelut dengan batinnya.
βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ
Alhamdulillah...
Mohon maaf sebesar-besarnya..
Karna sudah membuat para readers menunggu lama..
__ADS_1