
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Sesuai janji adi kemarin, hari itu sepulang sekolah mereka akan pergi membeli cincin pertunangan, mayra sudah menunggu adi agar bisa pulang bersama, namun saat mayra masuk ke dalam mobil adi, tiba-tiba saja ada yang memanggil mayra dari belakang, siapa lagi kalau bukan rangga, mayra kaget dan takut jika rangga tau soal hubungannya dengan adi.
Namun berbeda dengan adi yang terlihat santai saja, bahkan dirinya berharap agar rangga segera tau tentang hubungannya, dia tak ingin melihat rangga yang terus saja berusaha mendekati mayra.
"Mayra, pak adi.." sapa rangga.
"Ehh..pak rangga, hehee.." sahut mayra.
"Maaf rangga, jika tidak ada yang penting untuk di bicarakan, saya pergi dulu, karna kami buru-buru." sela adi sebelum rangga melanjutkan obrolannya dengan mayra.
"Baik pak, silahkan." pasrah rangga.
Rangga tak bisa mencegah, dia juga tak bertanya karna tak memiliki hak untuk itu, meski dirinya ingin tau kenapa mayra bisa pulang bersama adi, ada rasa ngilu melihat hal itu, namun apa daya.
Sedangkan adi tersenyum puas, karna dirinya bisa melihat guratan kecewa dari wajah rangga, dirinya tak perduli tentang rasa takut mayra, justru dirinya ingin sekali rangga tau semuanya.
ββββββββββ
Melihat hal itu mayra heran, dia merasa adi sangat aneh, seolah dia tak ingin menutupi hubungan dengan dirinya. Di tengah perjalanan, mayra bicara pada adi mengingat sikapnya.
"Kenapa bapak tidak mencari alasan kita bisa pulang bersama, saya takut pak rangga curiga." ucap mayra, dengan sedikit keberanian mayra bertanya menatap ke arah adi yang fokus menyetir, namun tiba-tiba adi mengerem mendadak.
Chittttt....
Suara gesekan ban dan aspal terdengar ngilu, adi menginjak pedal remnya mendadak, untungnya saja mayra memakai sabuk pengaman, sehingga dirinya tak terbentur dashbord mobil.
Adi melayangkan tatapan tajam ke arah mayra, membuat mayra bergidik ngeri melihat hal itu, bahkan saking takutnya, mayra memegang dadanya yang terasa berdebar lebih cepat, di tambah adi yang mendekatkan wajahnya ke wajah mayra.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
"Kau panggil aku apa sayang? Lalu apa masalahnya jika dia tau, bukankah itu lebih baik? atau kau memang suka kalau dia tak tau?" tanya adi penuh selidik, dia tak suka mendengar ucapan mayra tadi yang seolah ingin menutupi hubungannya.
"Bukan begitu pak..ehh mas maksutku, aku cuma tidak mau ada yang tau sebelum aku lulus, bukan nya mas juga ingin begitu." gugup mayra, dirinya gugup tak tau harus menjawab apa, melihat raut wajah adi yang membuatnya bergidik ngeri.
"Bukan mau ku sayang, ini karna keadaan yang mendesak, aku ingin semua orang tau, lebih cepat lebih baik, jika saja kau sudah ujian, aku pastikan hari itu aku bisa menikahimu." jelas adi, hal itu membuat bulu kuduk mayra berdiri, deru nafas adi yang sangat dekat menyapu wajahnya.
"Ya sudah mas, maaf." ucap mayra, tau dirinya sedang terpojok dan tidak bisa melakukan apapun dan jika bisa itu hanya percuma saja, karna adi bisa melakukan hal yang lainnya.
πππππππππππ
Setelah sedikit berdebat, adi kembali melajukan mobilnya menuju toko perhiasan langganannya.
setelah perjalanan sekitar 30 menit, keduanya tiba di toko perhiasan itu, adi keluar lebih dulu untuk membukakan pintu mayra, di gandengnya tangan mayra, memperlihatkan sifat posesif adi, namun yang di gandeng malah malu, menjadi pusat perhatian saat keduanya masuk, adi benar-benar di sambut ramah langsung oleh sang pemilik toko.
Tatapan aneh tentu saja dapat mayra rasakan, bagaimana tidak mayra ke sana masih menggunakan seragam sekolah, dan datang bersama adi untuk membeli cincin, hal itu mengundang rasa kepo sang pemilik toko dan bertanya pada adi.
ββββββββ
Seorang laki-laki seumuran adi keluar, namun dia bukan laki-laki tulen, ia berjalan dengan langkah lemah gemulainya dan menggunakan sedikir polesan make up yang terlihat jelas dari lipgloss yang ia poleakan di bibirnya, dia akrab di sapa mey.
"Apa nona ini calon anda tuan adi?" sopannya sambil memperlihatkan koleksi cincin limited edition.
__ADS_1
"Tentu mey, tunjukkan yang paling bagus." ucap adi.
"Tentu tuan, kepuasan anda kebahagian kami, dan selamat untukmu tuan, calon anda sangat cantik dan muda." jelas mey dengan sopan, kemudian tersenyum ke arah mayra.
Mayra pura-pura tak mendengar, ia malu tak tau harus melakukan apa, dan berpura-pura memilih cincin keinginanya.
Adi yang tau akan hal itu tersenyum, kemudian meraih tangan mayra dan mencobakan satu cincin pilihannya di jari manis mayra.
π±π±π±π±π±π±π±
"Apa kau suka sayang? bagaimana menurutmu?" lembut adi memandang jemari mayra.
"Iya mas, aku suka." sahut mayra lembut.
"Pilihan tuan adi memang yang terbaik nona." puji mey, adi salah satu pelanggan vip di toko mey, jadi mey sudah lama mengenal adi.
Melihat hal itu mey tersenyum, ia suka adegan malu-malu mayra pada adi. Rasa kepo mey dan karyawannya kini terjawab, setelah sekian lama adi menduda kini ia kembali membawa gadis cantik untuk menjadi pendamping hidupnya.
"Tuan, apa ada lagi yang ingin kau pilih." tawar mey.
"Apa kau ingin sesuatu sayang?" lembut adi.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Mayra menggeleng karna dia tak mengiginkan apapun lagi, namun adi masih berpikir dan melihat beberapa koleksi perhiasan terbaru yang di pajang, matanya tertuju pada sebuah kalung mas putih dengan liontin berbentuk kunci dengan sebuah berlian di tengahnya.
Tanpa banyak bicara, mey segera mengambilkannya, mey bisa mengerti dari arti tatapan adi, bahkan mayra terpesona saat melihat kalung yang mey bawa di hadapannya.
Tanpa aba-aba adi segera memakaikan kalung itu di leher mayra, mayra pasrah tak menolak hal itu, tak bisa di pungkiri kalau mayra juga suka dengan kalung pilihan adi.
"Kalung ini yang terlihat indah jika dia yang memakainya." jelas adi setelah memakaikan kalung itu.
Mendengar ucapan adi membuat wajah mayra bersemu merah, dia malu saat adi memujinya.
πππππππππ
"Kau benar tuan, kalung ini yang beruntung, dan ya tuan, apa kau ingin menulis namamu di cincin nona?" tanya mey.
"Tentu mey, aku ingin semua orang tau kalau mayraku ini hanyalah milikku." tegas adi, di rangkulnya pinggang mayra membuatnya menempel dengan tubuhnya.
"Baik tuan." sahut mey.
Setelah selesai memilih cincin untuk pertunangan mereka, adi mengajak mayra makan siang, karna setelah itu adi masih akan mengajak mayra membeli baju dan beberapa barang.
Keduanya makan di sebuah restoran, mayralah yang adi minta untuk memesan makanan kesukaan mayra, di pesannya beberapa makanan sesuai selera mayra, setelah memesan makanan mayra meminta ijin ke toilet sebentar pada adi, mayra meminta adi menunggunya di meja, meski adi sudah menawarkan diri untuk mengantar dirinya.
βββββββββ
Bruukkk...
Saat hendak masuk ke toilet dirinya tak sengaja menabrak seorang wanita, lebih tepatnya mayralah yang di tabrak, karna wanita itu terburu-buru, namun tetap saja dengan sikap angkuhnya wanita itu malah menyalahkan mayra.
"Heey...kalau jalan lihat pakai mata, dasar gadis ceroboh." hardiknya.
__ADS_1
Mayra tak ingin memperpanjang masalah, hingga akhirnya dirinyalah yang meminta maaf pada wanita itu, namun tetap saja wanita itu memaki mayra atas kecerobohannya sendiri dan pergi begitu saja setelah puas memaki mayra.
Tak mau di ambil pusing mayra segera masuk ke toilet, dia tak mau membuat adi menunggu lama.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Di sisi lain, wanita itu keluar dengan jengkel setelah kejadian di toilet, namun wajahnya berubah senang saat melihat sosok laki-laki yang dia kenal, siapa lagi kalau bukan adi mantan suaminya, yaps..wanita itu ada eva mantan istri adi, yang meninggalkan adi karna berselingkuh dengan laki-laki lain yang tak lain adalah teman kerjanya.
Dengan penuh percaya diri Eva menghampiri adi di mejanya yang duduk sendiri, Setelah beberapa tahun tak bertemu keduanya kembali di pertemukan namun dengan rasa yang berbeda, Yakni benci dan jijik yang adi rasakan saat melihat wajah eva muncul di hadapannya.
Meski eva muncul dengan beribu senyuman termanisnya adi tetap merasa jijik melihat hal itu, rasa benci dan menyesal termat mendalam kembali terbayang jelas di ingatanya, bayangan masalalu yang membuat hidupnya hancur, namun hal itu tak mengoyahkan dirinya saat ini, setelah semua yang terjadi eva tak berarti apapun bagi adi meski dulu ia pernah mencintai dirinya.
π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±
"Hai mas adi, senang bertemu dengan mu, setelah sekian lama kita berpisah, rupanya kau masih sama, dan aku yakin kau masih sendiri." ucapnya tersemyum.
Eva duduk di samping adi, dengan senyuman termanisnya yang mengembang indah di wajahnya.
Namun adi tak merespon hal itu, dia justru memutar mata malas melhat wanita menjijikkan itu.
Eva tak menyerah begitu saja, bahkan dia berani menyentuh bahu adi.
"Sudahlah mas..jangan sedingin itu padaku, apa kau tak ingat dulu, kalau kita pernah sehangat kopi." bisik eva.
Adi berdecih, dia menyingkirkan tangan eva di bahunya tak sudi di sentuh tangan kotornya.
"Kau salah eva, bukan sehangat kopi, tapi sepahit kopi yang sudah dingin tanpa gula, hanya kepahitan tanpa kehangatan, kau ingat itu." jelas adi setengah berbisik.
ππππππππππ
Eva terkejut mendengar jawaban adi, dirinya memilih pergi tak ingin membuat adi marah, karna jika hal itu terjadi bukan hanya adi yang akan malu tapi dirinyalah yang akan lebih malu jika semua orang tau tentang masalalunya.
Tanpa mereka sadari mayra yang tadinya sudah keluar dari toilet melihat adi dan eva yang sedang duduk berdua dan bicara, meski mayra tak tau apa yang mereka bicarakan, namun mayra tau kalau wanita itu adakah orang yang menabraknya tadi.
Setelah kepergian eva barulah mayra kembali kemejanya menyusul adi, ada banyak pertanyaan di hatinya namun mayra tepis karna tak ingin memikirkan hal yang tak penting.
Dia berpura-pura tak mengetahui hal itu.
βββββββββ
Namum siapa sangka adi sudah tau kalau mayra melihat semuanya, adi tau kalau mayra sudah lama keluar dari toilet namun masih menunggu eva pergi untuk kembali ke mejanya.
Adi tersenyum melihat sikap mayra, setanang itu mayra melihat adi bertemu wanita lain, adi pikir mayra akan marah dan menghujani dirinya dengan banyak pertanyaan.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Hy semua...maaf ya baru bisa up..
Jangan lupa ya πβ€π― dan vote buat karya'" mom ya..
Biar semangat upnya..
Trimalasih.
__ADS_1