
πππππππππππ
"Adi...!" panggil ibu mayra.
Sontak, mendengar suara itu membuat sang empunya menoleh ke asal suara, dan menyadari siapa yang datang.
"Ibuk!" ucap adi perlahan.
Melihat ibu mayra, adi sarkas bangkit dan pergi menemuinya, ia memberitahu ibu mayra tentang maksut kedatangannya.
"Maaf buk! Saya masuk tanpa permisi. Saya tidak tau jika mayra sedang tidur. Melihat pintu terbuka membuat saya ingin memeriksa kedalam, dan rupanya mayra sedang tidur disofa." jelas adi perlahan.
Ibu mayra mengangguk mendengar penjelasan adi, bahkan ia tersenyum.
"Tidak apa-apa adi! Ibu tau, kamu tidak akan melakukan hal buruk apapun kepada rumah ini, apalagi mayra. Jadi, jangan hawatir dan tidak perlu menjelaskan apapun. Rumah ini terbuka untukmu, hubungan apapun bisa rusak, tapi tidak dengan keluarga. Kamu adalah bagian dari keluarga ini!" jelas bu mayra tersenyum.
Mendengar hal itu membuat adi bahagia, ia tidak menyangka akan mendengar hal itu dari ibu mayra, mengingat hubungannya dan mayra yang sangat rumit. Dan tidak ada yang tau. Terkadang, doa baik yang di ucapkan tanpa sengaja, bisa tuhan kabulkan untuk hambanya.
Setelah bicara dengan adi, ibu mayra memutuskan untuk masuk ke kamarnya dan beristirahat. Ia meminta adi untuk duduk di sofa sembari menunggu mayra jika tidak ingin pulang.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Setelah itu, adi kembali menghampiri mayra. Ia duduk di single sofa di samping mayra, menatap gadis cantik pujaan hatinya. Matanya tak lepas menatap wajah yang tenang dalam tidurnya.
"Jangankan untuk menunggumu tertidur mayra, bahkan, aku rela menunggu cintamu untuk diriku!" batin adi.
Satu jam kemudian,
"Mmmzzz....!"leguh mayra menggeliat.
Mayra terbangun, ia tak sadar jika dirinya sudah terlelap disana.
"Sudah berapa lama aku tertidur?" gumam mayra setengah sadar.
"Satu jam lebih!" sahut adi tersenyum. Ia duduk dan masih menatap lekat mayra.
Mendengar suara adi, membuat mayra terkejut. Sarkas ia duduk dan melihat sosok adi yang tengah menatapnya dengan senyuman.
"Entah sejak kapan mas adi mengikutiku?" ucap mayra heran.
Adi tersenyum mendengar ucapan mayra, gadis cantik yang membuatnya menunggu.
"Sejak saat kita bertemu mayra!" jawab adi mengedikkan alisnya.
Jawaban adi membuat mayra menghela nafas, ia tak menyangka adi akan datang ke sana untuk menemui dirinya. Namun, bukannya menyambut kedatangan adi dengan senyuman, mayra justru menunjukkan wajah kesalnya melihat adi disana.
__ADS_1
"Mas ngapain kesini?" tanya mayra.
Melihat mayra yang terlihat kesal setelah melihat dirinya membuat adi semakin ingin dekat dengannya. Lalu adi berinisiatif bangkit dan duduk sangat dekat dengan mayra, dan menghimpitnya tanpa segan.
"Aku tidak perlu memiliki alasan apapun untuk berada dekat denganmu mayra, karna kamu adalah alasanku untuk semuanya." ucap adi mendekatkan wajahnya.
"Glukkk...!" mayra menelan salivanya susah.
Awalnya mayra tak merasa takut untuk bicara dengan adi, karna ia pikir itu adalah rumahnya, jadi adi bisa mengontrol dirinya. Tapi, ternyata dugaannya salah, adi justru tak segan berada sangat dekat dengan mayra. Bahkan ia duduk sembari menatap mayra seakan ingin memakannya.
Tak ingin menunjukkan ketakutannya pada adi, mayra mencoba menunjukkan sikap kesalnya pada adi.
"Ishhh...mas jangan deket-deket, aku gerah!" ucap mayra mendorong adi menjauh.
Adi t3rsenyum, ia mengerti maksut mayra, ia tau jika mayra sedang menyembunyikan rasa takutnya. Hal itu membuat adi semakin ingin mengerjai mayra.
"Benarkah? Kalau begitu, aku akan membuka ruang untukmu bernafas?" jelas adi menggeser duduknya.
Namun bukannya terhindar dari adi, hal itu justru membuat mayra semakin ketakutan, tak kala adi yang justru menatapnya sangat intens, membuat sang empunya bergidik ngeri.
"Bukannya terhindar dari kucing lapar, aku justru melompat kemulut buaya." batin mayra cemas.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Di sisi lain, ada ardi yang rupanya baru tiba di rumah mayra. Ia segera pergi setelah urusan di kantornya selesai, mengingat pesan yang mayra kirim, memintanya untuk menemuinya. Dan saat tiba disana, ardi merasa kesal ketika melihat mobil adi sudah terparkir. Tanpa banyak berpikir, ardi bergegas masuk tak ingin membuang-buang waktu, membiarkan adi terlalu lama bersama kekasihnya.
Tap tap tap..
dentuman langkah ardi terdengar memasuki rumah, membuat mayra dan adi menoleh ke asal suara. Dan yah, sosok ardilah yang muncul mengagetkan mayra. Pasalnya, adi tak kaget melihat ardi yang datang kesana, ia sudah menduga siapa yang akan datang kesana selain dirinya.
"Dia lagi!" decih adi.
Sementara mayra sarkas berdiri melihat ardi yang melangkah menghampiri dirinya, ia tak menyangka jika keduanya akan datang di waktu yang sama.
"Bagaimana ini?" batinnya bingung.
Namun perhatian adi teralihkan, ketika dirinya melihat mayra saat itu, apalagi kalau bukan melihat mayra hanya mengenakan tangtop hitam dan hot pans denim. Ia tak suka jika ada orang lain yang melihat mayra dalam keadaan seperti itu selain dirinya. Hingga sarkas adi menarik tangan mayra, mencegahnya mendekati ardi. Membuat sang empunya heran dan tertahan.
Mayra menatap adi, tak memahami apa yang adi lakukan. Sedang adi menatap tajam ke arah ardi yang justru semakin mendekat ke arah mayra.
"Ganti bajumu mayra! karna aku tidak suka!" tegas adi melapas tangan mayra.
Sontak yang mendengar instruksi tersadar, mayra hendak pergi untuk mengganti bajunya. Namun, lagi-lagi langkah mayra terhenti, tak kala ardi meraih tangannya.
"Tidak perlu pergi kemanapun mayra! Aku tidak keberatan dengan pakaianmu. Hanya saja, aku keberatan dengan beberapa orang yang memandangmu terlalu dalam." tegas ardi memegang tangan mayra.
__ADS_1
Mayra semakin bingung, apalagi ia berdiri diantara keduanya, laki-laki dengan ego yang sama, yang sering membuat otaknya tidak bekerja. Mendengar ucapan ardi, adi tersulut emosi, tangannya mengepal kuat menahan emosinya. Di tambah, ardi yang semakin memancing emosinya, dengan cara membawa mayra kearahnya, bahkan tak segan untuk merangkul pinggangnya di depan adi.
"Aku akan selalu menerimamu mayra! Menerima segalanya, karna menerima ada diatas mencintai." ucap ardi seraya tersenyum pada mayra.
Deg deg...
Kata-kata yang ardi ucapkan membuat mayra terdiam. Ia menyadari apa yang ardi katakan adalah kebenaran, karna sejatinya mencintai belum tentu menerima. Tapi, menerima sudah pasti mencintai.
Adi sadar dengan apa yang ardi katakan, dan itu adalah benar. Namun, ardi tak bisa menyalahkan cintanya, karna adi berpikir, jika tak ada yang salah dari apa yang ia lakukan. Apalagi meragukan sikap dan tindakannya, karna setiap hubungan memiliki sebuah kerumitan, yang nantinya akan menjadi pelajaran untuk keduanya, agar saling menguatkan untuk menjadi satu, bukan saling menjatuhkan.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Hawa rumah terasa panas oleh mayra, melihat keduanya saling menatap dengan tatapan tajam yang seakan ingin menerkam. Ingin mengakhiri hal itu, lalu mayra mengajak keduanya untuk duduk, ia ingin membicarakan tentang kepergiannya bersama adi kepada ardi, tak ingin terjadi kesalah pahaman di kemudian hari.
"Mas..aku ingin memberitahumu sesuatu! Aku ingin meminta ijin, agar aku bisa pergi menemui paman mas adi untuk yang terakhir kalinya." ucap mayra perlahan.
Ardi terkejut, ia menatap mayra kemudian. Bukan tanpa alasan, akan tetapi, karna dirinya punya banyak kehawatiran. Mengerti tatapan ardi, mayra kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku kesana bersama mas adi bukan tanpa alasan mas, dan aku yakin kamu mengerti! Hubunganku dengan mas adi bukan tentang kita berdua, tapi juga dengan 2 keluarga, dan aku ingin menjelaskan pada mereka semua, bahwa hubungan ini sudah berakhir. Dan aku ingin, hubungan ini di mulai dan diakhiri dengan cara baik-baik, aku yakin kamu akan mengerti." jelas mayra lembut.
"Hanya kita berdua!" timpal adi memperjelas.
Ardi diam menyimak apa yang mayra katakan, tanpa memperdulikan ucapan adi. Keduanya tak saling bicara. Tapi saling memandang, mencari kebenaran tentang keyakinan hubungan mereka. Mata mereka sudah saling bicara satu sama lain, hingga akhirnya ardi memutuskan, mengijinkan mayra pergi bersama adi. Ardi yakin dengan kebenaran yang mayra ucapkan, tapi tidak dengan kegundahan yang ia takutkan. Ada ketakutan tentang kehilangan mayra, ia ingin mencegah mayra pergi, bahkan ingin ikut pergi bersama mereka, tapi itu tidak bisa. Ardi yakin, adi tidak akan setuju jika dirinya ikut dengan mereka.
"Aku takut mayra! Aku takut kehilanganmu untuk kedua kalinya." batin ardi hawatir.
"Aku janji mas!" batin mayra menatap ardi.
Lalu ardi beralih menatap adi, membuatnya ragu untuk melepas mayra pergi bersama dirinya. Adi tau, jika ardi cemas membiarkan mayra pergi dengan dirinya, tapi ia tidak perduli. Karna yang terpenting adalah mayra, egoisnya.
"lihat saja ardi! Aku yakin, takdir akan membawa milikku kembali padaku!"batinnya tersenyum menatap ardi.
πππππππππ
Ardi menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, kemudian memeluk mayra erat, dengan keberatan hati untuk merelakan ia pergi. Sebelum akhirnya ia memberikan jawaban dari permohonan mayra. Sedang adi menatap keduanya tajam, ada rasa sesak yang menyeruak melihat keduanya berpelukan. Dengan tangan mengepal akibat emosi yang tertahan.
Dan kali itu, ardi kembali gagal mempertahankan egonya, ia memutuskan untuk membiarkan mayra pergi bersama adi, meskipun awalnya ia tak menginginkan hal itu.
πππππππππππππ
Alhamdulillah bisa up lagi...
mohon maaf sebanyak-banyaknya..
minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.
__ADS_1
jangan lupa like, love dan komen..
trimakasih untuk kesetiaannya..