
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Mayra berusaha memahami perasaan adi, karna ia tau, apa yang terjadi diantara mereka bukan hanya sulit untuk adi, tapi juga untuk dirinya.
Adi menatap wajah mayra, lalu ia meraih tangannya, menggenggamnya erat seolah tak ingin kehilangan dirinya.
"Kenapa mayra? Kenapa harus aku yang mundur dalam hubungan ini?" tanya adi dengan tatapan kecewanya.
Deg deg...
Mayra tersadar, jika apa yang adi katakan itu benar. Tapi mayra tidak memiliki jawaban atas pertanyaan yang adi ajukan, bibirmya kelu saat ingin menjawab semua itu.
"Ada banyak hal yang tidak semuanya harus kamu ketahui mas." batin mayra.
"Tidak perlu kamu tau mas! Ada banyak hal yang bertolak belakang diantara kita berdua, dan aku yang selalu mengecewakanmu. Aku tidak layak untukmu, apalagi hanya luka yang aku berikan untukmu mas! Setelah hubungan ini berakhir, aku berharap tidak ada lagi luka yang aku torehkan di hatimu." jelas mayra lembut.
Dengan berat hati mayra mengatakan hal itu, ia tidak mau ada pertanyaan yang akan mengganjal di hati adi, dan semakin membuatnya sakit.
"Itu tidak benar mayra!" bentak adi.
Mayra tercekat mendengar adi yang membentaknya, ia tau jika adi masih belum bisa menerima kenyataan itu. Lalu tanpa aba-aba, mayra memeluk adi, membawanya kedalam ketenangan, meredam semua rasa yang tengah bergejolak dihatinya.
"Mas..maaf!" bisik mayra mengelus-ngelus punggung adi.
Beberapa saat kemudian, mayra ingin melepas pelukannya, namun adi justru menahannya. Ia justru semakin memeluk mayra erat, tak rela melepas ketenangan yang ia damba dari mayra.
"Kumohon mayra, diamlah! Kali ini saja." jelas adi berbisik.
Hal itu membuat mayra menghela nafas, ia tau jika bukan adi saja yang merasa nyaman di posisi itu, tapi juga dirinya. Lalu mayra mengeratkan pelukannya, ia menautkan kedua tangannya membalas pelukan adi. Dan hal itu berhasil meredam perasaan adi.
"Aku sangat mencintaimu mayra!" bisik adi perlahan.
"Aku juga mas. Tapi, kita tidak mungkin untuk kembali." batin mayra.
Mayra tau, jika dirinya bisa saja kembali kepelukan adi. Tapi, dirinya tidak ingin mengingkari janjinya pada ibu ardi. Ia tidak mau melukai perasaan lebih banyak orang, setelah kesalahan yang ia lakukan. Yang akhirnya, membuat mayra mengambil keputusan yang salah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Beberapa saat kemudian, mayra melepas perlahan pelukan adi, ia merasa adi sudah lebih tenang. Dan itu berhasil. Lalu mayra mengajak adi untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju sekolah.
"Mas! Sebaiknya kita berangkat ke sekolah dulu. Ini sudah siang, kamu juga harus mengurus sesuatu pastinya kan?" tanya mayra lembut.
"Iya mayra! Tapi, jangan lupa temui aku di perpustakaan nanti. Aku akan menunggumu! Kita akan pulang bersama!" jelas adi menatap mayra.
Namun tatapan itu tak berahir disitu, adi mendaratkan bibirnya yang dingin itu di bibir mayra, membungkamnya lembut mengalirkan gelayar aneh diantara keduanya. Mayra terpaku, ia bingung harus bagaimana, merasakan ******* lembut di bibirnya.
Merasa tak ada perlawanan dari mayra, adi melanjutkan aksinya. Ia menarik tengkuk mayra agar memperdalam lumatannya, bibir mayra yang terasa manis, seakan candu baginya.
Tapi, hal itu tak berlangsung lama. Ketika mayra justru mendorong adi melepas pagutannya.
"Mas..jangan! Kita harus segera pergi mas! Maaf, aku tidak bisa melanjutkan ini." jelas mayra memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Maafkan aku mayra." batin adi menatap mayra nanar.
Adi tak bicara apapun, ia diam dengan perasaan yang tidak karuan, ditambah melihat mayra yang tertekan dihadapannya.
Hati mayra kembali bergetar, matanya seakan mengandung bawang, membuatnya berkaca-kaca merasakan goresan di hatinya. Melihat mayra seperti itu, adi mengerti. Ia tak ingin memaksa mayra lagi, lalu ia kembali menyalakan mobilnya, melanjutkan perjalanannya menuju sekolah.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di sisi lain, rupanya ardi menjemput mayra ke rumahnya. Tapi sayang, dirinya sudah terlambat, karna mayra sudah berangkat.
"Tadi mayra berangkat bersama adi nak!" jelas bu sinta pada ardi.
Deg...
mendengar hal itu membuat hati ardi meradang. Ia merasa cemburu mengetahui mayra yang berangkat bersama adi, dan mayra yang juga tidak memberitahunya.
"Baiklah buk! Saya pergi dulu!" jelas ardi.
Ardi segera melajukan mobil lagi. Ia bergegas menyusul mayra ke sekolah, mengetahui adi yang sedang bersama mayra, ada rasa cemburu membayangkan keduanya.
"Sial! Aku tidak menyangka adi akan melakukan ini!" batinnya.
Disisi lain, adi dan mayra rupanya sudah tiba di sekolah. Mayra segera turun dari mobil adi, tak mau ada yang melihatnya. Apalagi adi menurunkan dirinya di parkiran sekolah. Mayra turun tanpa bicara, lalu ia segera pergi menuju kelasnya.
Awalnya adi ingin mencegah mayra, namun hal itu terlambat. Mayra sudah lebih dulu pergi tanpa bicara. Adi mengerti dengan perasaan mayra, ia tidak ingin terlalu memaksanya. Setelah itu, adi turun dan pergi menuju ruangannya.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
"Lama banget sih nyonya ardi?" tanya nana menaik turunkan alisnya.
"Iyah nih! Sesibuk apa sih?" timpal jeni tersenyum aneh.
Mayra sarkas duduk di kursinya, ia mencoba menutupi semua masalah yang ia hadapi dari keduanya.
"Tidak ada! Aku hanya kesiangan tadi!" jelas rima berbohong.
"Mmm...begitu!" seru keduanya kompak.
Lalu mereka memberikan lembaran nilai tugas mayra. Keduanya sengaja mengambilkannya, agar setelah mayra datang, mereka bisa pergi bersama untuk menyerahkannya pada wali kelas mereka, yakni adi.
"Nih. Nilai punyamu! Udah kita ambilin. Kitakan sayang kamu!" jelas nana mengerlingkan matanya.
"Yupss..!" timpal jeni.
"Makasih ya!" jelas mayra tersenyum.
Mayra merasa beruntung memiliki teman seperti keduanya. Ia berharap hubungan pertemanan mereka akan terjalin selamanya. Meskipun dirinya tidak bisa membagi semua masalahnya dengan mereka.
"Maafkan aku teman-teman!"batin mayra merasa bersalah.
Mayra tau, jika kedua sahabatnya itu, tidak akan pernah meninggalkannya sendirian di saat ia menghadapi masalah. Tapi, dirinya yang tidak ingin merepotkan mereka dengan masalah yang menimpa dirinya.
__ADS_1
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱
Setelah itu, mereka pergi menemui adi diruangannya. Ketiganya pergi bersama, melangkah bersama menumui orang yang sama. Tapi sayangnya, adi tidak ada di ruangannya. Lalu jeni bertanya dimana adi pada salah seorang guru.
"Bu, boleh tanya! Pak adi dimana ya?" tanya jeni sopan.
"Pak adi ada di perpus!" jelas bu emi memberitahu.
"Makasih bu." ucap ketiganya.
Mengetahui adi di perpus, ketiganya segera pergi kesana untuk memyerahkan nilainya. Ketiganya saling berbincang menuju perpus. Mayra terlihat baik-baik saja, sampai-sampai, keduanya tak merasa aneh sedikitpun dengan sikap mayra.
Dan tanpa mayra ketahui, rupanya ardi sudah tiba di sekolah mayra. Ardi meletakkan mobilmya di parkiran sekolah. Ia memang sengaja tidak menghubungi mayra sebelum dirinya tiba disana.
"Sedang apa kamu sayang?" batin ardi berpikir.
Ardi meraih ponsel di sakunya, lalu ia segera menghubungi mayra. Sembari bersandar di cup depan mobilnya.
📞📞📞📞📞📞 calling sayang..
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Tring tring..
Tiba-tiba saja ponsel mayra berdering, membuat sang empunya terkejut. Bagaimana tidak, saat itu ia tengah menghadap adi bersama dengan nana dan jeni. Lantas notif panggilan itu membuat mereka menatap mayra, terutama adi.
"Angkat aja may! Keluar gih, bentar!" bisik nana.
"Iya sana! Ayang tuh nelfon!" timpal jeni berbisik.
Meski keduanya berbisik. Namun hal itu masih bisa di dengar oleh adi, karna jarak mereka memang sangat dekat. Tapi mayra masih mengabaikannya, ia merasa tidak enak mengangkat telfon di depan adi selaku gurunya. Mayra juga sempat merijek telfon dari ardi, ia juga mengaktifkan mode getar ponselnya, tak ingin notif ponselnya mengganggu mereka. Ditambah, tatapan adi yang seakan tak suka, mendengar ucapan kedua teman mayra.
Tapi sayang. Ponsel mayra terus bergetar, menandakan panggilan ardi yang terus masuk ke ponselnya. Hingga akhirnya, mayra memutuskan untuk meminta ijin pada adi untuk mengangkat telfonnya.
"Pak! Bisa saya permisi sebentar?" tanya mayra sopan.
Bukan jawaban yang mayra terima, justru tatapan tajam dari adi yang ia dapatkan. Bahkan jeni dan nana bisa melihat itu juga.
Gluk...
Kedua teman mayra menelan salivanya susah, mereka tak menyangka adi akan menatap mayra seperti itu. Karna sebelumnya, mereka tidak pernah melihat adi yang melayangkan tatapan seperti itu sebelumnya.
Berbeda dengan mayra, yang mengetahui apa arti dari tatapan tajam adi. Tapi, mayra masih tetap meminta ijin untuk pergi mengangkat ponselnya.
"Pak! Saya permisi dulu ya, sebentar!" jelas mayra kemudian pergi dari sana.
Melihat mayra yang tetap pergi tanpa jawaban apapun dari adi, membuat nana dan jeni merasa heran. Apalagi mereka yang melihat wajah adi yang tidak memungkinkan, membuat mereka merasa hawatir, jika nantinya mayra akan mendapatkan masalah.
😌😌😌😌😌😌😌
Alhamdulillah bisa up lagi..
__ADS_1
mohon maaf jika ada salah kata dan membuat menunggu lama..salam sayang momin..