
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Jangan mas, ini di rumah." jelas mayra menutup mulut ardi dengan tangannya.
Ardi tersenyum, ia menanggapi ucapan mayra dengan pikirannya sendiri.
"Baiklah, jika begitu besok kamu harus menggantinya." bisik ardi.
Setelah itu ardi pergi dari sana, mayra mengantarnya pulang ke teras depan, melihat kepergian ardi dari rumahnya, menatap bayangannya yang mulai hilang dari pandangannya. Baru setelah itu mayra masuk ke rumahnya.
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱
Mayra masih terdiam, berpikir apakah ibunya yang sudah mengambil paketnya dari lemarinya, atau tidak. Dan di saat yang bersamaan ibu mayra keluar, ia pergi kedapur untuk mengambil minum, sarkas mayra segera menghampirinya. Mayra memeluk ibunya dari belakang, berterimakasih untuk hadiah baju barunya, dan hal itu membuat bu sinta senang.
Setelah itu mayra melepas pelukannya, lalu dengan hati-hati mayra mencoba bertanya tentang paketnya.
"Buk, apa tadi ibuk liat paketku di lemari?" tanya mayra perlahan.
Dan yah, bu sinta menatap mayra. Ia mencoba tersenyum pada putrinya, mengingat rasa sakit yang harus putrinya terima.
"Iya mayra, ibuk sudah membuangnya jauh darimu, agar tidak lagi ada yang bisa mengingatkanmu tentang luka itu. Dan berjanjilah, jika kamu tidak akan pernah menutupi semuanya dari ibu." ungkapnya membelai lembut wajah mayra.
Tak sadar sambil berkata seperti itu, air matanya turun membasahi pipinya, membuat mayra merasa bersalah pada ibunya, karna sudah menutupi segalanya.
"Maaf buk." ucap mayra sesak.
Keduanya kembali berpelukan, membuat mayra merasa sesak di dadanya, mengingat semua yang terjadi padanya. Apalagi hal itu di ketahui oleh ibunya, walaupun sebenarnya ia tidak ingin ada orang lain yang tau tentang lukanya, cukup dirinya saja pikir mayra.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Hari sudah malam, adi masih enggan untuk makan dan minum obat, membuat bik jum merasa hawatir dengannya.
"Bagaimana ini? Apa aku harus minta tolong pada non mayra ya?" batinnya berpikir.
Sejak kedatangan ibu mayra, adi semakin tidak tenang, ia benar-benar merasa emosi pada eva dan tak akan mengampuninya kali itu, mengingat beberapa kesempatan yang adi beri sudah eva sia-siakan. Adi meminta edo untuk benar-benar memberi pelajaran padanya, setelah semua kekacauan yang ia buat dalam hidupnya.
Akhirnya bik jum memutuskan untuk menghubungi mayra, ia memberitahu jika adi tidak makan dan tidak minum obat, ia merasa hawatir dan takut terjadi sesuatu pada adi.
"Bibik minta tolong non, kalau harus menunggu besok pagi, bibik hawatir kondisi den adi memburuk." jelas bik jum di telelpon.
Mayra merasa bingung harus menjawab apa, mengingat apa yang terjadi diantara mereka, di tambah sang ibu yang tidak ingin jika dirinya berhubungan dengan adi lagi. Masih diam dan berpikir, mempertimbangkan apa yang harus ia lakukan. Tak ingin apa yang ia lakukan akan menyakiti semua orang.
__ADS_1
"Akan aku usahakan bik, tapi aku tidak bisa berjanji." jelas mayra.
Dan setelah itu, mayra segera menutup telfonnya dengan bik jum, ia segera menghubungi adi untuk memastikan agar dia mau makan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
📞📞📞📞📞Calling mas adi..
Beberapa menit mayra menunggu, tapi tak ada jawaban dari adi, bahkan mayra terus mencoba menghubunginya beberapa kali.
"Kemana mas adi? Kenapa dia tidak mengangkat telfonku? Apa dia sakit?" batin mayra gelisah.
Di sisi lain, adi masih terdiam menatap ponselnya, layarnya yang terus menyala karna beberapa panggilan dari mayra. Bahkan bukan cuma sekali, beberapa panggilan dari mayra adi biarkan begitu saja. Bukan karna tak ingin, tapi tak mampu untuk bicara dengannya, mengingat semua kesalahan atas kebodohan yang ia lakukan, dan menghancurkan segalanya.
"Aku akan menghukum diriku sendiri mayra." gumam adi menyesal.
Sementara mayra semakin gelisah, ia merasa hawatir karna adi tak kunjung mengangkat telfonnya, membuatnya ingin pergi kerumahnya, tapi mayra bingung harus bagaimana.
"Bagaimana ini? tidak mungkin aku kesana sekarang." batinnya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Yang mendapat tugas segera pergi, bik jum segera memeriksa ke kamar adi, tapi hasilnya zonk. Pintunya tertutup terkunci, tak ada sahutan meskipun bik jum memanggil berkali-kali. Bik jum semakin hawatir, ia takut jika adi pingsan di dalam.
"Semoga den adi baik-baik saja." batinnya berdoa.
Di dalam kamar, adi tengah frustasi. Lalu ia membuka baju dan celananya, menyisakan boxer di tubuhnya, berpikir untuk berendam mandi, agar bisa menghilangkan setres di pikirannya, walaupun tubuhnya sedang tidak fit.
Bukan berendam di bak kamar mandi, adi justru pergi ke kolam renang untuk menenangkan diri. Ia melompat ke kolam, merendam panas pikirannya dengan dinginnya air kolam. Jangan tanya bagaimana, dinginnya air kolam berselimut kenangan, membuat adi terbayang dengan mayra seorang.
Ia berendam disana, berharap akan bisa menenangkan hatinya. Bahkan bukan cuma tubuhnya, beberapa kali adi menenggelamkan dirinya selama beberapa menit. Dan tanpa adi ketahui, ada bik jum yang dari kejauhan memandangi dirinya.
Sudah satu jam lebih adi berendam, hari semakin malam, dan dinginnya semakin merasuk menusuk, tapi adi belum juga selesai. Bik jum yang merasa hawatir dengan kesehatan adi akhirnya memutuskan untuk meminta adi naik dari kolam, tapi tak adi hiraukan.
"Den...ini sudah malam, sebaiknya aden masuk. Sudah satu jam lebih aden berendam di kolam, ini tidak baik den. Apalagi aden belum pulih, aden juga beluk makan, naik den." pinta bik jum memohon.
😌😌😌😌😌😌😌😌
Bukannya naik, adi justru menenggelamkan dirinya lagi, bahkan dengan waktu yang lebih lama, membuat bik jum hawatir. Beberapa menit kemudian, bik jum merasa panik, melihat adi yang tak kunjung muncul kepermukaan. Lalu bik jum berlari masuk ke dalam untuk mengambil ponselnya. Ia segera menghubungi mayra dan memintanya kesana.
"Non..cepat kemari, bibik mohon! Den adi menenggelamkan dirinya sangat lama di kolam." jelas bik jum panik di telefon.
__ADS_1
Deg deg...
Hati mayra semakin tak tenang, membuat ia memutuskan untuk pergi kesana. Walaupun sudah tidak ada lagi hubungan diantara mereka, mayra masih memiliki perasaan yang sama, dan ia tak mau menyesal jika terjadi sesuatu pada adi nantinya.
Lalu mayra segera bersiap untuk pergi, ia memeriksa orang tuanya, ingin memberitahu mereka jika dirinya akan pergi ke rumah adi. Namun sayang, orang tua mayra rupanya sudah tidur, membuatnya bingung dan akhirnya pergi tanpa memberitahu mereka.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Sementara itu, di tepi kolam, bik jum terus memanggil adi, ia benar-benar hawatir jika terjadi sesuatu padanya.
"Den sudah den, ayo aden naik, nanti aden sakit." panggil bik jum memohon.
Suuaarrrrr...
Adi muncul kepermukaan, namun beberapa saat, ia kembali menenggelamkan dirinya, mencoba melupakan semua kenangannya bersama mayra.
Disisi lain, ada mayra yang tengah duduk cemas di kursi penumpang, untungnya saja masih ada taxi online yang bisa ia pesan. Mayra bingung, ia tidak tau harus bagaimana lagi untuk mencegah kekonyolan adi. Karna ia tau, bagaimana keras kepala adi yang tidak bisa di kendalikan oleh siapapun selain dirinya. Ia juga merasa hawatir, jika keputusan yang ia buat saat itu akan merusak hubungannya denga ardi, sehingga mayra memutuskan untuk memberitahu ardi jika dirinya pergi ke rumah adi.
✉️✉️✉️✉️ send to mas ardi.
"Mas..maaf, aku harus pergi ke rumah mas adi."
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Beberapa menit kemudian, mayra tiba di rumah adi. Ia sarkas masuk melihat pintu yang tidak di kunci, berlari ke kolam renang untuk menemui adi. Tibanya di sana, ada bik jum yang tengah cemas menunggu adi. Namun setelah melihat kedatangan mayra, bik jum tersenyum lega seketika. Setelah itu, mayra meminta bik jum untuk pergi, agar ia menyiapkan baju, makanan dan teh hangat untuk adi.
"Bibik pergilah, aku yang akan mengurus mas adi." jelas mayra.
Bik jum mengangguk, ia yakin jika mayra bisa menanganinya, ditambah melihat mayra yang tersenyum menenangkannya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Alhamdulillah..
bisa up lagi..
maaf jika ada salah kata..
jangan lupa, like, love dan komen..
trimakasih...
__ADS_1