
"Dasar guru menyebalkan, keras kepala, egois dan..." batin mayra.
Tanpa banyak bicara, mayra melepas cardigan rajutnya, ia turun ke dalam kolam, mengenakan celana leging hitam dan kaos lengan pendek hitam. Ia turun dan berjalan perlahan ke titik adi, meskipun dirinya merasa dingin disapa air kolam.
Tibanya di titik adi, mayra menenggelamkan diri, ia menarik adi bangun dan muncul kepermukaan.
SSUUAAARRRRR...
Keduanya muncul bersamaan. Adi masih terdiam, menatap sosok mayra di depannya, ia tak menyangka jika mayra akan pergi kesana untuk menemuinya. Wajah adi sudah pucat, bibirnyapun berkedut kedinginan, dan kulitnyapun sudah berkerut akibat terlalu lama berendam.
Mayra menghela nafas lega, ia bersyukur adi mau mengikutinya naik kepermukaan. Dan masih memegang kedua lengan adi, lalu mayra mencoba merangkul tubuhnya, meskipun dirinya tak sekuat itu untuk memapah adi dari dalam kolam.
Tapi adi masih enggan untuk melangkah pergi dari sana, ia masih belum puas untuk menghukum dirinya, atas semua luka yang ia berikan pada mayra. Membuat mayra merasa kesal jadinya.
"Huufffff, mas..kamu itu sudah dewasa, tapi kenapa kamu selalu menyusahkan aku? Membuat aku pusing dan bingung, seperti anak kecil saja. Sekarang naik bersamaku atau aku akan pergi dari sini, dan aku berjanji, tidak akan membiarkanmu melihatku lagi." jelas mayra mengancam.
"Tidak mayra, aku tidak akan membiarkan itu, aku akan mati tanpamu." jelas adi gagap memeluk mayra.
Mayra terdiam dalam pelukannya, ia tak menyangka jika adi akan selemah ini tanpanya, membuatnya merasa bersalah atas semuanya. Tak banyak bicara lagi, mayra lalu mengajak adi naik dari kolam, ia tak mau terjadi sesuatu pada adi jika mereka semakin lama di sana.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Bik jum sudah menunggu, ia membawa handuk untuk adi dan mayra, tersenyum melihat bukti ucapan mayra.
"Non trimakasih, semuanya sudah bibik siapkan di kamar den adi." jelas bik jum tersenyum.
"Ya bik, dan jangan lupa telfon dokter untuk memeriksa mas adi lagi." pinta mayra.
Lalu mayra masuk, memapah adi menuju kamarnya dengan basah kuyup. Tibanya di kamar, mayra langsung membawa adi kedalam kamar mandi, ia membantu adi untuk mandi. Perlahan, mayra membantu adi mandi dengan air hangat, membuat. Namun setelah itu mayra bingung, melihat adi yang kedinginan membuatnya tak tega untuk meminta adi berganti sendiri. Dan memikirkan bagaimana caranya untuk membantu adi melepas boxernya. Hingga akhirnya mayra menemukan sebuah cara. Mayra melilitkan handuk di pinggang adi, lalu ia memejamkan mata sambil berjongkok, dengan perlahan dan hati-hati ia melepas boxer milik adi, membuat pengalaman yang mengerikan pikirnya.
"Oh tuhan, ampuni dosaku setelah ini. Sejujurnya aku belum siap dengan hal ini." batinnya memejamkan mata.
Adi sudah tidak perduli dengan apapun, kepalanya sudah terasa pusing berkunang-kunang, membuatnya tidak bisa melepas boxernya sendiri. Beberapa saat, mayra telah selesai membantu adi, ia meminta adi untuk duduk di atas kloset, karna kondisi adi tidak memungkinkan dirinya bisa berjalan sendiri ke ranjang, di tambah mayra yang masih basah kuyup.
Dan tanpa banyak berpikir, akhirnya mayra melepas bajunya di depan adi, dengan cara membelakanginya. Ia tidak perduli apapun, yang jelas untuk mempercepat semuanya. Mayra melepas bajunya, menyisakan bra hitam yang kontras dengan kulitnya. Masih terlihat jelas oleh adi, lekuk tubuh mayra saat itu, meskipun hanya separuh badan. Namun dirinya hanya diam, menahan rasa pusing di kepalanya.
Dan jangan tanya jika adi sedang sehat di kala itu, pastinya mayra sudah tidak baik-baik saja.(") 🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Setelah itu, mayra melilitkan handuk di tubuhnya, barulah ia melepas branya, kemudian celananya. Beberapa saat keduanya selesai, mayra segera memapah adi masuk menuju kamarnya. Dan siapapun yang melihat mereka berdua keluar dari kamar mandi, akan mengira mereka sepasang suami istri.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Perlahan mayra merebahkan adi di ranjangnya yang empuk, lalu ia memberi beberapa bantal untuk sandarannya, mempermudah posisi adi untuk makan dan minum obat. Mayra sarkas menyambar sepiring makanan yang sudah bik jum siapkan, ia menyuapi adi dengan penuh perhatian.
"Ayo mas makan, jangan menyiksa dirimu begini." ucap mayra memulai suapannya.
Bukannya membuka mulut, adi justru memalingkan wajahnya, dan hal itu membuat mayra menghela nafasnya.
"Huuufff..ya sudah kalau begitu mas. Jika ini mau mu, aku akan pergi, percuma juga ada aku disini, kau masih keras kepala." jelas mayra berakting.
Tanpa banyak bicara, adi segera menyambar sesendok nasi di depan mulutnya, suapan penuh perhatian dari mayra. Hati adi bergetar menerima semua perhatian mayra, membuatnya semakin tidak rela untuk melepaskannya. Bahkan adi rela melakukan apapun, asal mayra bersama dengannya.
Beberapa menit kemudian, mayra telah selesai menyuapi adi. Ia segera mengambil pakaian adi, membantunya memakai baju namun tanpa tidak dengan celananya. Mayra tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya, jika dirinya sampai melihat sesuatu yang akan menodai matanya.
"Jangan sampai tuhan, cukup baju saja. Lagipula, mas adi sudah memakai handuk dan selimut." pikirnya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Tap tap tap..
"Sayang!" panggil ardi.
Mayra menoleh, dan ia terkejut melihat kedatangan ardi disana, yang tanpa ia sadari melihat penampilannya.
Jangan tanya bagaimana ekspresi ardi. Raut wajahnya langsung berubah, terbakar api cemburu melihat mayra seperti itu. Ia sarkas menghampiri mayra, melepas jaketnya dan memakaikannya pada mayra.
"Pakai ini sayang! Aku tidak suka melihat ini." jelas ardi posesif.
Setelah itu, ia sarkas menarik mayra ke sisinya, merangkul pinggangnnya posesif didepan adi. Menunjukkan kepemilikannya atas mayra. Mayra memejamkan matanya, ia berdecih dalam hati tak menyadari kondisinya sendiri.
"Cchhh....Pantas saja mas ardi seperti ini." batinnya.
Benar saja, setelah mendapat pesan dari mayra, ardi bergegas pergi, ia tak mau mayra datang sendiri ke rumah adi. Mengingat semua yang pernah terjadi, tak ingin membiarkan adi mendapatkan kesempatan untuk merebut mayra kembali.
"Aku tidak akan pernah membiarkan takdir memberimu sedetik kesempatan merembut mayra dariku." batin ardi.
__ADS_1
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Beberapa menit kemudian, kedatangan ardi disusul oleh kedatangan dokter bersama bik jum. Melihat dokter yang ingin memeriksa adi, ardi segera membawa mayra menjauh dari adi. Bukan cuma itu, ia juga menghalangi tubuh mayra di sampingnya, tak ingin ada orang lain yang melihat keindahan tubuh mayra.
"Diam dan jangan banyak bergerak sayang." jelas ardi berbisik.
Mayra menurut saja, ia tak ingin membuat keributan disana. Mereka sama-sama menyimak penjelasan dokter setelah memeriksa adi.
"Aku sudah menyuntikkan obat pada mas adi. Dia harus makan teratur, istirahat yang cukup, minum obat teratur dan yang terpenting tidak boleh banyak pikiran. Dan sebaiknya, harus ada yang menjaga mas adi disini. Untuk memantau keadaannya, pastikan mas adi harus merasa hangat." jelas dokter secara seksama.
Setelah itu, dokter pergi diantar oleh bik jum, sedang mayra masih disana bersama ardi. Mayra menatap adi yang rupanya sudah terlelap saat dokter memeriksanya, membuat hatinya merasa hawatir dengan kondisinya. Dan ardi juga menyadari itu semua.
"Aku ingin menemanimu mas, tapi bagaimana?" batin mayra.
"Aku tau mayra, rasa itu masih ada, tapi tidak untuk selamanya." batin ardi.
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱
Hingga akhirnya beberapa saat bik jum kembali. Mayra meminta bik jum untuk menemani adi, karna dirinya tidak bisa tinggal disana, mengingat ia belum pamit pada orang tuanya, di tambah ibu mayra yang jelas tak akan suka pikirnya.
"Bik jum tolong jaga mas adi, kalau ada apa-apa, kabari aku ya bik, jangan lupa obatnya. Besok aku akan kemari lagi untuk menjenguk mas adi." jelas mayra.
Ardi menghela nafas mendengar ucapan mayra, ia ingin melarangnya tapi tidak semudah itu. Ardi tetap ingin menjaga perasaan mayra, tak ingin melukainya, memberinya beban berada di posisinya. Setelah itu mayra pamit untuk pulang, ia tak mau orang tuanya hawatir mencarinya, apalagi mayra keluar tanpa pamit pada mereka.
Namun sebelum pulang, bik jum meminta mayra untuk mengganti pakaiannya. Kekamar khusus yang adi sediakan untuk mayra.
"Sebaiknya non ganti baju dulu! Aneh rasanya pulang seperti itu, lagipula semuanya sudah ada." jelas bik jum sopan.
Mayra mengangguk, ia baru ingat akan hal itu, lalu pergi kekamar itu untuk berganti baju. Ia juga mengajak ardi, tak ingin meninggalkannya di kamar adi, mengingat semua yang terjadi. Ardi mengekori mayra ke kamar itu, merasa penasaran dengan kamar yang mereka maksut.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Alhamdulillah bisa up..
mohon maaf jika ada salah kata..
Jangan lupa like, love dan komen...
__ADS_1
Harap bersabar dan semoga terus suka dengan karya mom.