
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Keduanya duduk menonton tv bersama, adi merasa senang bisa menikmati waktu bersama mayra, menonton tv di temani apel segar yang sudah mayra kupas, nyaman sekali pikirnya.
"Seandainya ini tidak cepat berlalu." batin adi.
Waktu semakin sore, adi tak sadar akan hal itu, dia tak ingat kalau sedang berada di rumah mayra, suasana rumah yang sepi membuatnya merasa rumah milik berdua.
Mayra yang menyadari waktu sudah semakin sore meminta adi untuk pulang, agar dia bisa istirahat di rumahnya, karna mayra tau adi belum pulang sama sekali ke rumahnya, terbukti dari seragam dinas yang ia kenakan.
Adi masih enggan untuk pulang, dia masih ingin duduk berdua bersama mayra, namun sayangnya orang tua mayra tak kunjung keluar, jika saja adi bertemu dengan mereka, dia akan meminta ijin untuk mengajak mayra ke rumahnya.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Mayra pergi mengantar adi kedepan pintu, adi tak memperbolehkan mayra mengantarnya ke teras luar dengan keadaan seperti itu, cukup adi saja yang boleh melihat mayra seperti itu.
Namun belum sempat adi masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depan rumah mayra, adi memicingkan matanya, seolah tak asing dengan mobil itu.
"Bukankah itu mobil ardi?" gumamnya.
Dan benar saja, sosok ardi keluar dari dalam mobil itu, masih dengan setelan jas kerjanya, ardi turun menghampiri mayra, yah..mayra masih berada di depan pintu, mematung kaget melihat ardi datang di saat yang tidak tepat.
Melihat ardi berjalan menghampiri mayra, adi lebih dulu kembali menghampiri mayra, berdiri di hadapan mayra agar menghalangi ardi mendekatinya.
โช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธโช๏ธ
Mayra merasa gugup, dirinya takut terjadi hal yang tidak di inginkan, dirinya tak tau harus bagaimana, namun jika mayra membiarkan ardi di luar saja tanpa mengajaknya masuk itu tidak akan sopan.
Belum sempat mayra bicara, adi sudah menginstruksi mayra lebih dulu, membuat ardi merasa kesal.
"Masuk mayra, ganti bajumu sekarang!! tegas adi penuh penekanan.
Mayra menggelengkan kepalanya, dirinya segera pergi menuruti ucapan adi, tak ingin ada perdebatan yang akan membuat semuanya menjadi kacau, mayra segera pergi secepat mungkin.
Melihat mayra yang sudah pergi sesuai instruksinya adi merasa lega, kemudian adi beralih menatap tajam ardi yang ada di depannya.
"Ada urusan apa kamu kemari?" tanya adi tak suka.
Ardi menyunggingkan senyuman mengejek, dirinya berkata bahwa apapun urusannya kesana tak ada hubungannya dengan adi, dan hal itu membuat adi semakin kesal.
"Jelas ada hubungannya jika menyangkut mayra, karna dia calon istriku." jelas adi penuh penekanan.
โกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโกโก
Ucapan adi tak ardi hiraukan, apapun yang adi katakan tak akan membuat ardi mundur, karna ardi ingin mendengar semuanya dari mayra, apapun urusan ardi kesana, adi tak perlu ikut campur.
"Bangga sekali kamu bung, yang harus kamu ingat, sebuah bunga masih bisa gugur diterpa angin, kamu masih bakal calon, seperti bunga yang masih bakal buah." jelas ardi mengejek.
Mendengar ucapan ardi, adi semakin terpancing emosi, belum sempat adi menjawab ucapan ardi, mayra segera datang, menghentikan cekcok yang akan membuat semuanya semakin kacau.
Adi melayangkan tatapan tajam pada mayra, bukannya mengganti baju, mayra hanya masuk mengambil switer rajut selutut untuk menutupi pakaian minimnya, dan hal itu membuat adi semakin emosi.
"Apa kau dengar aku mayra, ganti bajumu bukan seperti itu!" tegas adi.
Mayra mengehela nafas kesal, dirinya tak menyangka bahwa adi akan seposesif itu dengan masalah sepele menurutnya, tak ingin berdebat, mayra hendak masuk kembali untuk mengganti baju, namun ardi yang merasa kesal dengan sikap adi justru meraih tangan mayra untuk menghentikannya pergi.
"Cukup mayra, kamu tak perlu mengganti apapun, aku kemari hanya ingin menemuimu, tak ada yang salah dari pakaianmu, yang salah hanyalah saat kamu mengikat sesuatu terlalu keras, bisa saja yang di ikat akan rusak atau tali tersebut akan patah karna ikatannya sendiri, kamu pahami itu mayra." jelas ardi menatap tajam adi.
__ADS_1
Tumpul tapi berbahaya, ucapan ardi benar-benar mengenai sasaran, adi yang mengerti maksut ucapan ardi semakin emosi, di tambah matanya yang dengan jelas melihat ardi yang berani memegang tangan mayra, dengan kasar adi menepis tangan ardi agar melepas tangan mayra, sementara mayra hanya diam dalam ketakutan, mendengar keduanya saling menerkam.
"Lebih baik kita masuk ke dalam, mas ardi ayo masuk, mas adi ayo..!" ajak mayra pada keduanya.
Keduanya saling melempar pandangan tak suka, sementara mayra hanya bisa menggeleng kepala berada di situasi seperti itu.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Tiba-tiba saja, pak seto muncul menghampiri ketiga, dia kaget melihat kedatangan adi dan ardi secara bersamaan, di tambah pak seto yang melihat raut wajah adi yang berbeda, sementara ardi masih stay cool dengan sikapnya yang tenang, tak banyak bicara, pak seto mengajak kedua laki-laki itu masuk, lebih baik bicara di dalam menurutnya.
pak seto masuk lebih dulu di susul mayra, kemudian ardi berjalan di belakang mayra, adi mengepal tangannya kuat, melihat sikap ardi yang membuatnya muak, baru saja ingin ikut masuk kedalam, ponsel adi berdering, ternyata pamannyalah yang sedang menghubunginya.
"Shhiitt.."batin adi kesal.
Adi terpaksa tidak bisa ikut masuk kedalam, dirinya mendapat telfon dari pamannya, yang telah tiba di bandara untuk ikut menghadiri acara pertunangannya nanti dengan mayra.
Sebelum pergi, adi pamit pulang pada pak seto dan juga mayra, adi dengan sengaja mengatakan bahwa dirinya akan menjemput paman dan bibiknya di bandara, mereka datang hanya untuk menghadiri acara pertunangannya dengan mayra, ardi yang mengerti maksut adi tetap terlihat tenang, berusaha setenang mungkin tidak terpancing dengan ucapan adi, sementara mayra merasa kaget mendengar kabar itu, pasalnya adi belum memberitahu bahwa pertunangan mereka akan segera terlaksana.
"Kenapa mas tidak memberitahuku dulu?" batin mayra.
Selepas kepergian adi, ardi berbincang bersama pak seto, sementara mayra pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk ardi, saat itu juga bu sinta sedang berada di dapur, mayra memberitahu sang ibu tentang kedatangan ardi, sembari membuat minuman untuknya.
Mayra juga menceritakan bahwa adi juga datang kesana sejak tadi, bahkan adilah yang menemaninya menonton tv, dan baru saja pergi untuk menjemput paman dan bibiknya di bandara, mayra juga bertanya pada sang ibu perihal acara pertunangannya, pasalnya adi belum memberitahu bahwa pertunangan mereka akan segera di laksanakan, mendengar pertanyaan mayra, bu sinta balik bertanya pada putrinya apa adi belum memberitahunya.
Bu sinta mengatakan bahwa adi sudah berbicara dengan ayah mayra tentang acara pertunangannya, pada saat mengantar mayra pulang, bahkan adi mengutarakan niat baiknya bahwa dirinya juga ingin menikahi mayra secepat mungkin, ayahnya hanya meminta agar adi memberitahu mayra terlebih dulu, karna apapun itu mayralah yang harus mengambil keputusan.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Mayra terdiam mendengar cerita sang ibu, dirinya mengerti keputusan yang adi buat semata-mata karna dia takut kehilangan mayra, puas bicara dengan sang ibu, mayra pergi mengantar minuman untuk ardi dan ayahnya.
Mayra meletakkan nampan berisi 2 cangkir teh di meja, kemudian menyuguhkannya pada ardi dan sang ayah, ardi tersenyum menerima segelas teh yang mayra suguhkan.
Setelah selesai mengantar minuman, mayra hendak pergi dari sana, karna dia berpikir ardi datang untuk menemui sang ayah pikirnya.
Namun ardi menghentikan langkahnya, dia meminta ijin pada pak seto untuk mengajak mayra pergi keluar, ada yang ingin ardi bicarakan bersama mayra, dan pak seto mengijinkannya dan hal itu membuat ardi tersenyum senang, sebelum pergi Mayra berniat untuk mengganti bajunya terlebih dulu, namun ardi tak mengijinkan mayra, karna ardi hanya ingin mengajaknya bicara.
__ADS_1
"Lagipula, apapun yang kamu pakai, kamu tetap terlihat cantik mayra." batinnya.
Mobil ardi sudah melaju, membawa keduanya menerobos jalanan, hari sudah semakin sore, mentari sudah mulai tenggelam di peraduan, angin semakin kencang, dingin sudah mulai menyambut sang malam.
Entah kemana ardi mengajak mayra pergi, hanya ardi yang tau, mayra duduk diam membisu, suasa saat itu terasa berbeda, ada rasa canggung yang melanda keduanya, bahkan ardi juga terdiam, hanya sesekali dia mencuri pandangan.
Beberapa saat mobil ardi berhenti, mayra yang sedari tadi terdiam menatap keluar, rupanya ardi mengajaknya pergi ke taman, ardi tak mengajak mayra turun, dirinya masih duduk di kursi kemudi.
Ardi menghela nafas, kemudian menatap mayra yang duduk di sampingnya, sementara yang ditatap masih tak merasa, karna sejak tadi mayra memalingkan wajahnya keluar cendela.
Suasa terasa canggung, ardipun bisa merasakan hal itu, begitu juga mayra yang tengah meremas jemarinya, dengan lembut ardi memanggil mayra, membuat sang empunya menoleh ke arahnya.
Ardi tersenyum menatap lekat mayra, tanpa sadar tangan ardi mulai membelai rambutnya, bahkan ardi membelai lembut pipi mayra, membuat sang empunya merona.
Ardi mulai bicara, dia meminta maaf pada mayra atas semua kesalah pahaman yang terjedi diantara mereka, ardi juga mengatakan bahwa semuanya benar-benar terjadi secara tidak sengaja berikut juga perasaannya pada mayra.
"Yang aku tau mayra, tidak ada yang salah tentang sebuah rasa, hanya saja waktunyalah yang tidak tepat, semuanya adalah takdir, aku juga tidak bisa memaksamu untuk menerima perasaanku, cukup kamu tau itu sudah cukup, tapi kumohon mayra, setelah aku mengatakan semua ini, jangan pernah berubah atau menjauh, karna rasa tidak akan hilang dengan cara menjauh, justru akan ada rasa sakit akibat itu semua, jalani saja seperti semula, aku yakin takdir tidak akan pernah ingkar pada pemiliknya." jelas ardi lembut.
Mayra terkejut mendengar penyataan ardi, dia tak menyangka bahwa ardi juga jatuh hati padanya, entah apa yang membuat banyak laki-laki menyukai dirinya pikir mayra.
Mayra tersenyum, semua yang ardi katakan memanglah benar, tak ada yang bisa di salahkan jika menyangkut perasaan.
Perlahan meskipun merasa canggung, mayra meraih tangan ardi yang berada di pipinya, menyadarakan ardi atas sikapnya.
"Maaf mayra, jika sikapku membuatmu tidak nyaman." jelas ardi.
Mayra menggeleng tersenyum pada ardi, dirinya tau kalau ardi tidak sengaja melakukan hal itu, dan ardi bukan laki-laki yang suka bersikap tidak sopan pada wanita.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Alhamdulillah yah..
Mom bersyukur bisa up lagi, mom berharap kalian suka sama cerita mom, maaf juga jika ada kesalahan dalam pengetikan dll..
Mom cuma minta tolong jangan lupa tinggalkan like, fav dan komen sebanyaknya biar mom makin semangat up, rasanya happy bisa berinteraksi dengan readers setia mom, tapi mohon maaf jika komentar belum mom balas lebih tepatnya tidak bisa di balas, mungkin hp atau aplikasinya yang eror, jadi ada beberapa komentar yang tidak terbalas..
Biasakan like setelah membaca ya readers tersayang..
__ADS_1
Trimakasih..๐๐๐๐