
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
Fera merasa sangat senang karna mayra bisa ikut mengantarnya dan orang tuanya ke bandara, dia berharap mayra akan terus bersama adi dalam keadaaan apapun, menjadi pendamping adi yang menerima dia apa adanya, mendengar permintaan fera, mayra tersenyum, ia tahu bahwa semuanya tidaklah mudah, tapi ia akan berusaha, karna mayra hanya manusia biasa yang bisa saja berbuat salah dan dosa.
Setelah mengantar fera pulang, adi berniat ingin mengajak mayra jalan-jalan setelah mereka benar-benar resmi menjadi sepasang kekasih, tapi mayra ingin menolak, dirinya masih gelisah sebelum mendengar kabar tentang ardi, sehingga dia terpaksa berbohong mengatakan bahwa dirinya merasa lelah dan ingin istirahat.
"Apa kau sakit sayang? atau lebih baik kita ke dokter, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." ucap adi hawatir.
Mayra menggeleng, ia mengatakan bahwa dirinya hanya butuh istirahat, adi tidak perlu hawatir.
😌😌😌😌😌😌😌😌😌😌😌😌😌😌😌
Setelah berhasil meyakinkan adi, akhirnya adi benar-benar mengantar mayra pulang, ia tak ingin mayra kelelahan dan akan membuatnya sakit, selama perjalanan pulangpun mayra memang terlihat murung, ia tidak bicara, hal itu membuat adi tak tega dan memilih mengantar mayra agar bisa istirahat, sementara mayra merasa sesak dengan hatinya, ia juga merasa bersalah telah membohongi adi.
30 menit kemudian keduanya telah tiba, adi segera mengantar mayra masuk, kemudian pulang tak ingin mengganggu waktu istirahat mayra.
Bu sinta yang melihat kedatangan putrinya terkejut, karna ia tak melihat adi, mayra mengatakan bahwa adi segera kembali karna ada beberapa urusan, setelah mengatakan hal itu, mayra meminta ijin untuk pergi kerumah sakit untuk menjenguk ardi, dan bu sinta mengijinkan mayra.
"Hati-hati ya nak, nanti kabari ibu jika kamu sudah sampai di sana, jangan lupa titip salam buat bu anita dan pak wijaya." ucap sang ibu.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Selama perjalanan mayra terdiam, hatinya gelisah memikirkan ardi, mayra terus berdoa berharap keadaan ardi baik-baik saja, ia tak mau jika terjadi hal buruk pada ardi, hingga beberapa menit kemudian mobil yang ia tumpangi tiba di rumah sakit, ia segera turun, membayar ongkosnya dan masuk kedalam.
Mayra berjalan menuju ruangan ardi, tepat di depan ruangan ardi, ternyata ada bu anita yang menyambut kedatangannya, namun raut wajahnya berbeda dari biasanya, hal itu membuat mayra merasa semakin gelisah, dan benar saja, kedatangannya di sana tidak di harapkan, bu anita kesal dan menumpahkan semua amarahnya pada mayra, sementara sang empunya hanya terdiam di tempat, menerima semua amarah yang di tunjukkan untuk dirinya, tanpa perduli banyak mata yang menatap ke arahnya saat melewati keduanya.
"Aku pikir kamu gadis yang baik, ternyata kamu gadis yang salah, kamu tidak pernah memikirkan perasaan putraku, mematahkan hatinya sampai ia mengalami hal ini." jelas bu anita emosi.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Perlahan, hati mayra tergores dengan setiap kata yang bu anita lontarkan, isaknya dalam diam, mencairkan sesak yang menyeruak memenuhi hatinya, mayra terus mencoba menahannya, meski begitu..buliran bening itu kian mengalir deras membasahi pipinya.
__ADS_1
Di dalam sana ada ardi yang ditemani pak wijaya, sayup-sayup terdengar suara sang istri yang sedang marah, membuatnya memutuskan untuk memeriksa keluar, ardi juga mendengar hal itu, namun sayangnya dia sudah lupa dengan sosok mayra, pak wijaya keluar dan meminta ardi untuk istirahat.
Tibanya di luar ruangan, pak wijaya terkejut melihat sosok mayra yang tengah menangis dalam diamnya, menerima amarag sang istri yang ia lampiaskan pada dirinya, ia tak tega melihat hal itu, karna pak wijaya yakin bahwa mayra adalah gadia yang baik, ia mencoba menenangkan sang istri tak ingin kata-katanya semakin melukai hati mayra.
"Sudahlah ma..kasian mayra, ini bukan salahnya, sudah takdir ma." jelasnya lembut.
Bu anita tetap tidak terima, ia terus menyalahkan mayra atas semua yang terjadi, sementara mayra tetap diam menerima semuanya, akan lebih baik jika bu anita melampiaskan semua kemarahannya, barulah ia akan pergi dari sana.
"Ingat...kau memang pantas untuk ardi lupakan, bahkan tak pernah hadir dalam hidupnya, jangan pernah temui ardi lagi, atau muncul di hadapannya." hardik bu anita penuh penekanan.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Mayra mengangguk lemah, ia terima semua kemarahan itu, ia anggap itu adalah hukuman baginya, namun sebelum ia pergi mayra masih mengatakan beberapa hal, meski suaranya tertahan karna isaknya dalam diam.
"Maafkan saya tante, om, saya tidak bermaksut untuk menyakiti hati siapapun, apalagi sampai membuat mas ardi mengalami hal ini, saya yang salah tapi bukan maksut saya untuk membohongi siapapun, mas ardi sudah mengetahui semuanya terutama kebenaran tentang pertunangan saya, kita sudah membicarakan semuanya dan ini di luar dugaan, saya hanya bisa meminta maaf atas semuanya, entah itu kesalahan yang saya sadari ataupun tidak, tapi saya mohon..jangan beritahu masalah ini pada kedua orang tua saya, tante dan om boleh menghukum saya, tapi jangan orang tua saya, mereka tidak tau apapun masalah ini, saya mohon!" jelas mayra lemah.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Pulanglah nak mayra, om janji..tidak akan ada masalah dengan kedua orang tuamu, om percaya dan kita sudah menganggap ini semua memang sudah takdir dari yang maha kuasa." bijaknya.
Bu anita yang masih kesal memilih pergi meninggalkan mayra dan suaminya, ia masuk kedalam ruangan ardi, membuat ardi merasa curiga dengan apa yang terjadi di luar ruangannya.
"Tidak ada masalah apapun sayang, itu hal yang tidak penting dan pantas di lupakan." tegasnya.
Di rasa cukup untuk semuanya, mayra memilih pergi dari sana, ia sudah cukup lega setelah mengatakan kebenaran yang ada, ia juga merasa lega setelah mengetahui ardi sudah sadar dan baik-baik saja, meski dirinya harus terhapus dari ingatan ardi, ia berpikir akan lebih baik jika ardi melupakan dirinya.
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Di sisi lain, ada rangga yang ternyata sudah ada di rumah mayra, ia datang untuk memastikan keadaan mayra, namun sayangnya, ia tidak menemukan seseorangpun di rumah mayra, karna kebetulan saat itu ibu mayra sedang keluar untuk berbelanja, sehingga terpaksa rangga harus kembali dengan rasa kecewa.
Sedangkan jeni dan nana masih ada di taman sekolah, keduanya hanya sedang berpikir dengan apa yang terjadi pada mayra sehingga dia tidak masuk selama beberapa hari, bahkan tak membalas pesan dari keduanya.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan mayra pindah sekolah ya." celetuk nana berpikir.
"Huss..gak mungkinlah, ngapain juga mayra pindah sekolah, bentar lagi udah mau lulus." sahut menggeleng.
Yah..keduanya sibuk menerka-nerka apa yang sedang mayra alami, hingga akhirnya keduanya memutuskan akan menjenguk mayra nanti malam untuk memastikan keadaan sahabatnya.
😌😌😌😌😌😌😌😌😌😌😌😌😌😌😌
Mayra pulang dari rumah sakit, namun ia masih mampir di alun-alun kota, ia pergi duduk di taman, menghirup udara segar untuk mengurangi sesaknya, untungnya saja mayra sudah mencuci wajahnya tadi di rumah sakit sebelum pulang, ia tak ingin ada yang melihatnya menangis, cukup ia yang tahu tentang apa yang dia alami.
Hembusan angin menerpa tubuhnya, membuat juntai rambutnya berterbangan, mengisyaratkan sesak yang harus di lepasnya pergi, menyesali yang terjadi sudah terlambat, cukup jangan ulangi apalagi kembali, karna ia tau..terkadang tidak pernah ada kesempatan kedua setelah kita melakukan kesalahan.
ia sadar betul, bahwa perasaannya masih sangat labil, ia masih bisa goyah di terpa angin yang membawa banyak kejutan, termasuk perasaan yang mulai muncul saat rasa nyaman yang ardi berikan, rasa yang tidak pernah ia pikirkan setelah mengenal adi, selain perasaannya pada adi, karna cukup adi yang akan ada di hatinya pikir mayra.
Namun ternyata semuanya salah dan di luar dugaan, takdir membawanya kebanyak persimpangan, dimana ia di tuntut memilih, dan bertanggung jawab atas apapun resiko pilihannya sendiri, meski hatinya tak ingin menyakiti siapapun, tapi takdir tetap membawanya, membuatnya semakin dewasa, memberi keyakinan dengan pilihannya, membuktikan bahwa takdir tidak pernah ingkar pada pemiliknya.
💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛
Sementara ardi kini tengah terdiam, ia menerawang langit-langit, mencoba mengingat semua yang pernah terjadi, ia merasa seperti ada beberapa hal yang hilang, mengingat ucapan dokter yang menyatakan bahwa dirinya bisa saja mengalami lupa ingatan, tapi percuma saja, ardi tidak bisa mengingat apapun itu, ia benar-benar lupa akan mayra, meski di alam bawah sadarnya ia mengingatnya.
Ardi kembali teringat dengan kejadian beberapa jam lalu, ia merasa aneh dengan sikap sang mama, ardi merasa ada yang di sembunyikan darinya, ia juga merasa heran, tak mungkin sang mama marah tanpa alasan, apalagi pada orang yang tidak di kenal.
😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔
Alhamdulillah..
Bisa up.lagi..
Jangan lupa like, fav dan komen sebanyaknya..
mohon maaf apabila ada kesalahan kata..
__ADS_1
Trimakasih.🙏🙏🙏🙏