
π±π±π±π±π±π±π±π±
Sejak semalam hati adi merasa dongkol gara gara mayra..
dirinya tak nyenyak memikirkan kemana perginya sang kekasih yang tak menghubungi sama sekali, adi berniat untuk memberi hukuman pada mayra karna hal itu.
ππππππππ
Tak satupun notif pesan atau panggilan yang masuk ke ponselnya, hal itu semakin membuat adi mesal.
"Kemana saja kamu mayra, lihat saja nanti..kamu harus membayar semua beban hati ini." gumam adi kesal.
π€«π€«π€«π€«π€«π€«π€«π€«π€«π€«π€«π€«π€«π€«
Mayra baru saja tiba di sekolah di antar oleh sang ayah, dirinya segera masuk ke dalam kelas, kemudian mengambil ponselnya di dalam tas, dirinya terkejut tak kala mendapati notif pesan dan panggilan masuk yang sangat banyak dari adi sejak tadi malam, wajar saja..semalam mayra tak membawa ponselnya karna lowbet dan baru ia periksa saat tiba di sekolah.
"Ya ampun..sebanyak ini mas adi mencoba menghubungiku, aku yakin dia akan marah besar." batin mayra.
Mayra sedang bingung harus bagaimana, membalas pesan adi saat itupun percuma, karna dirinya tau kalau adi akan tetap marah padanya, kecuali dia menjelaskannya secara langsung, tapi mayra juga ragu kalau adi tidak akan marah jika dirinya bercerita soal makan malam bersama ardi.
"Oh tuhan..bagaimana ini." gumam mayra.
Tiba-tiba saja kedua temannya datang mengagetkan mayra.
"Dorr...pagi-pagi udah ngelamun, ngelamunin apaan sih?" kompak keduanya.
Mayra terdiam, dirinya tak mengubris ocehan kedua sahabatnya, berpikir bagaimana cara untuk menjelaskan semuanya pada adi, dan cara untuk membujuk adi agar tidak menghukumnya jika dia marah nantinya.
Nana dan jeni saling melempar pandangan melihat mayra yang tak menggubris ocehan keduanya, hingga ahirnya bel jam pelajaran pertama di mulai.
ππππππππππ
Di ruang guru, adi sedang menyiapkan beberapa laporan untuk rapat bersama dewan guru, dirinya berusaha fokus meski sebenarnya ingin segera bertemu dengan mayra.
"Kau dalam bahaya sayang, hukumanmu bukan berakhir tapi tertunda saja, lihat saja saat jam pelajaranku dimulai." batinnya.
Beberapa jam kemudian, setelah jam istirahat tibalah jam pelajaran bahasa indonesia di kelas mayra, yah...adi benar-benar menghukum semua murid kelas 12 IPA 1 akibat kesalahan mayra.
Adi masuk kedalam kelas tanpa senyuman seperti biasanya, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi, suaranya terdengar lebih tegas dan berat seolah menahan sebuah gejolak amarah, semua murid merasa hawatir, suasana kelas berubah menjadi senyap tidak seperti biasanya, tanpa banyak basa-basi adi membuka sebuah buku catatan nilai kelas itu, kemudian memberi pengumuman tentang ulangan harian mendadak hari itu juga.
"Siapkan selembar kertas, tulis jawaban dari pertanyaan yang saya buat, setiap pertanyaan mempunyai 20 poin, ada 5 pertanyaan dan nilai minimun 80, bagi nilai mereka yang kurang akan menemui saya sepulang sekolah di perpustakaan." jelas adi.
Beberapa siswa mengeluh tentang ulangan harian mendadak tersebut, tapi adi tak menghiraukan hal itu, sekilas matanya menatap tajam ke arah mayra yang sedang menunduk di mejanya, melayangkan tatapan tajam dengan kilatan kemarahan yang terpendam.
__ADS_1
" Saya akan mulai soalnya, bagi yang siap kerjakan bagi yang tidak siap, boleh keluar sekarang." tegas adi.
mendengar aba-aba dari adi semua siswa kembali riuh dengan kesiapan mereka mendapat ulangan harian, tiba-tiba saja semua siswa berdiri dan keluar dari kelas tersebut, menyatakan ketidaksiapan mereka mendapat ulangan harian dadakan, terkecuali mayra yang tidak fokus sejak awal kedatangan adi ke kelasnya, hingga tanpa sadar hanya dia sendirian yang berada di dalam kelas untuk mengikuti ulangan dadakan tersebut.
"Ya ampun, kemana semua mereka, kenapa aku sendiri? oh tuhan..mati aku, gara-gara melamun aku terjebak sendirian di sini." keluh mayra gugup.
Adi tersenyum singkat, bagai mendapat sebuah kesempatan untuk menghukum mayra saat itu juga, dia tak menghiraukan murid-murid lain yang keluar meninggalkan kelasnya.
Adi mulai membacakan pertanyaannya, dirinya sengaja memberikan soal-soal yang belum mereka pelajari, dengan dalih ingin tau seberapa aktif mereka membaca untuk mempelajari materi selanjutnya sebelum adi mengintruksi mereka, dan benar saja..soal-soal yang adi berikan memang sulit karna mayrapun belum sempat membaca materi terserbut, begitupun menurut siswa yang lainnya yang juga ikut mendengarkan pertanyaan apa saja yang adi berikan.
"Untung saja kita keluar, materi itu belum kita baca."
"Sulit sekali.."
"Kasihan mayra, seandainya dia keluar pasti tidak begitu."
"Tumben sekali pak adi, ada apa ya?"
"Jangan-jangan pak adi lagi ada masalah sama ayangnya itu."
"Huss..hoax bahaya lo.."
"Untung aja kompak.."
Suasana riuh terdengar di luar kelas, dengan berbagai desas desus diantara para siswa, jeni dan nana menatap ke dalam kelas, melihat mayra yang sedang terlihat gugup dan bingung, sementara mereka hanya bisa merasa kasihan tanpa bisa membantunya, di kelas mayra sedang berpikir untuk mencari jawaban dari soal yang adi berikan, adi tertawa puas dalam hati melihat raut wajah cantik itu berubah pucat akibat bingung mencari jawaban dari soal yang bahkan materinya belum sempat ia baca.
Adi tak memberi banyak waktu untuk mayra, meski hanya terdiri dari 5 pertanyaan, mayra hanya bisa menjawab satu pertanyaan saja, mayra menelan salivanya kasar, saat melihat ke arah adi yang memintanya untuk mengumpulkan lembaran ulangannya.
"Kumpulkan sekarang.." Seru adi datar.
Mayra melangkah perlahan dengan gugup, dirinya tak berani menatap ke arah adi, kakinya terasa berat setiap melangkahkan kakinya, hingga ahirnya tiba di hadapan adi, kemudian meletakkan lembaran itu di hadapannya.
Tak perlu waktu lama, adi dengan mudahnya mencoret semua lembaran mayra dengan bolpen merah dan memberi nilai 10 untuk hasil ujiannya, mayra semakin gugup melihat lembarannya, keringat dingin mulai bercucuran membasahi wajah cantiknya itu.
Adi beranjak dari duduknya menatap tajam ke arah mayra yang tengah menunduk gugup di hadapannya kemudian berkata " Remidi hari ini juga, tunggu saya di perpustakaan, jangan pulang sebelum saya datang!" tegas adi kemudian pergi meninggalkannya di ruangan itu sendiri.
π€π€π€π€π€π€π€π€π€
Selepas kepergian adi, berahir pula jam pelajaran adi di kelas itu, semua siswa kembali berhamburan masuk untuk jam pelajaran berikutnya terkecuali mayra yang terpaksa harus ijin di mata pelajaran berikutnya karna remidi di perpustakaan.
Jeni dan nana menghela nafas kasar, melihat sahabatnya harus pergi remidi sendirian di mata pelajaran adi.
"Kasihan sekali mayra ya jen." seru nana.
__ADS_1
"Iya na..tapi kenapa ya mayra, pasti ada yang salah, sejak tadi diara kita ajak ngomong gak fokus gitu." keluh jeni bingung.
Dengan langkahnya yang terasa berat, mau tidak mau mayra pergi ke perpustakaan untuk melakukan remidi, dirinya mengetuk-ngetuk kepalanya yang tak fokus hingga menyebabkan dirinya terjebak di ulangan harian dadakan adi.
"Kenapa aku tidak fokus tadi, seandainya aku fokus pasti tidak akan seperti ini jadinya." keluh mayra kesal.
Sementara adi tengah menunggu di mayra diperpustakaan dengan 10 novel yang ia siapkan untuk mayra.
Beberapa saat kemudian mayra tiba di perpustakaan, dirinya menelan salivanya susah ketika melihat adi yang tengah duduk menunggunya dengan setumpukan novel di mejanya.
Dan benar saja, setumpukan novel itu sengaja adi siapkan untuk mayra sebagai hukuman remidinya hari itu, tapi itu hanyalah sebagaian dari perantara hukuman untuk mayra.
" Tulis semua sinopsis dari semua novel-novel ini, lengkap dengan nama tokoh dan wataknya, jangan pergi sebelum semuanya selesai dan sebelum saya kembali kemari, ingat itu mayra." tegas adi kemudian berlalu.
Mayra menganga mendapat hukuman yang tidak masuk akal baginya, tapi mau tidak mau dirinya harus melakukan hal itu sebelum adi kembali dan menambah hukumannya lagi.
ππππππππππ
Beberapa saat kemudian saat mayra sedang membaca salah satu novel, tiba-tiba saja roy masuk ke dalam perpustakaan, roy tak sengaja melihat mayra sendirian di dalam perpus hingga akhirnya dia memutuskan untuk menemui mayra, roy bertanya apa yang sedang mayra lakukan di perpus saat itu, dan setelah mengetahui apa yang mayra lakukan dengan senang hati roy membantunya meski mayra menolak, kebetulan saja ada beberapa novel yang pernah roy baca, karna dia lumayan suka membaca novel.
1 jam kemudian, roy berhasil membantu mayra menyelesaikan beberapa sinopsis novel lengkap dengan nama tokohnya, keduanya duduk bersebelahan, sambil berbincang di selingi guyonan ringan agar tidak merasa bosan, kebetulan juga saat itu roy sedang kedapatan jam koss di kelasnya sampai jam pelajaran terakhir.
Adi telah selesai dengan rapatnya kemudian dirinya berniat ke perpus untuk menemui mayra dan melihat hasil kerjanya, tapi langkahnya terhenti saat tak sengaja melihat kedekatan mayra dan roy di dalam perpus, ditambah jarak duduk keduanya yang sangat dekat semakin membuat adi emosi, tanpa menunggu lama adi segera masuk ke perpus mengagetkan keduanya, matanya memerah melihat hal itu, roy sarkas berdiri kemudian keluar dari sana, namun belum sempat keluar dari pintu perpus adi mencegahnya.
"Lain kali jangan ikut campur dengan urusan orang lain!" tegas adi.
Roy yang merasa sungkan hanya mengangguk malu, dirinya tak menyangka bahwa adi akan melihatnya membantu mayra, dirinya tak tau kalau adi bukan hanya marah karna dia membantu mayra tapi karna dia cemburu melihat kedekatannya dengan kekasihnya, kemudian roy pergi meninggalkan keduanya di sana tanpa bicara.
πππππππππ
Adi beralih menatap mayra tajam, kemudian menggebrak meja mayra, emosinya kian memuncak saat mayra semakin membisu tak memberi penjelasan tentang yang terjadi saat itu.
"Kenapa diam? sekarang coba kamu jelaskan semua ini mayra? apa maksutmu berdekatan dengan roy tadi? apa kamu tidak punya malu berpacaran di dalam perpus hah? dengan alasan mengerjakan semua ini? bukankah sudah kukatan bahwa aku tidak suka melihat hal seperti itu?" bentak adi emosi.
Mayra tercengang mendengar ucapan adi, buliran bening mengalir sendirinya dari pelupuk matanya, entah kenapa mendengar tuduhan adi membuat hatinya merasakan ngilu, mayra berdiri beranjak dari duduknya, menatap ke arah adi dan menghapus air matanya.
"Pak adi yang terhormat, asal bapak tau saya tidak berpacaran di perpus, roy hanya membantu saya mengerjakan tugas bapak, saya tau harusnya saya menolak bantuan itu, tapi karna roy tidak tega jadi dia tetap memaksa, tapi hal yang bapak tuduhkan tadi itu salah besar, permisi." jelas mayra sesak kemudian pergi begitu saja.
Adi semakin kesal saat mayra tetap pergi meski dia memanggilnya, pikirnya ternyata salah, hukuman yang harusnya untuk mayra justru berbalik menghukum dirinya.
"Ahhh...sial, kenapa begini jadinya." umpat adi kesal.
π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°
__ADS_1
Alhamdulillah bisa up, maaf semua ya karna mom lama gak up, trimakasih buat yang udah sabar menunggu, mohon dukungannya selalu buat 2 novel mom, like, fav dan komen sebanyaknya di novel mom ya biar makin semangat up nya, karna emang sibuk jadi juga jarang up meski di novel satunya..
trimakasihπππππ