
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Sejatinya obat tidak bisa menyembuhkan sebuah luka..
Hanya bisa meringankan sedikit sakitnya..
Karna sejatinya, luka akan mengering seiring dengan berjalannya waktu..
Dan kecepatan penyembuhan luka itu sendiri, hanya bisa di tentukan oleh keadaan diri sendiri.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Adi meraih ponsel di sakunya, lalu ia mengirim pesan agar edo menebus obatnya. Mayra juga masih duduk di sampingnya, sedang ardi berdiri disampingnya.
Suasana terasa hening, saat ketiganya sama-sama diam membisu, bergulat recok dengan pikirannya masing-masing. Terutama mayra, ia merasa bingung di hadapkan dengan posisinya saat itu. Ia menyadari jika apa yang keputusannya sudah menyakiti banyak orang, terutama adi. Apalagi saat ia harus merubah kembali keputusannya, akan banyak orang yang merasa tersakiti.
Di tengah keheningan mereka, tiba-tiba saja terdengar langkah kaki menuju masuk kekamar itu, dan saat menoleh mengetahui siapa yang datang membuat mayra terkejut, melihat sosok yang melangkah masuk menghampiri mereka, siapa lagi kalau bukan eva.
"Dia...!!" batin mayra.
Adi merasa kaget melihat kedatangan eva, emosinya kian memuncak ketika melihat eva menghampiri dirinya, apalagi saat mayra ada disana.
"Ular ini! Aku muak dengan dramanya." batinn adi.
Mayra sarkas bangkit, saat eva mendekat ke arah adi, menatapnya sinis seolah memintanya pergi. Mayra memilih berdiri di samping ardi, berdiri tegak dengan kelapangan hati.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Eva mulai membual, beraksi seperti ulat bulu yang gatal. Duduk manis di samping adi, menautkan tangannya di bahunya, membuat sang empunya kesal tak suka.
"Sayang..kamu sakit? Maaf ya, aku tidak tau. Tapi tenang saja, aku akan menemanimu sekarang sampai kamu sembuh, dan aku yakin, gadis itu yang membuatmu seperti ini." sindirnya menatap mayra sinis.
Adi semakin muak, ia meminta eva pergi dari sana, tak sudi jika ada dia di sampingnya.
"Pergi sebelum aku mengusirmu!!" hardik adi menepis tangannya.
Mayra terdiam, ada rasa nyeri yang merasuk ke dalam hatinya, namun ia tepis. Karna bagaimanapun, perasaannya juga masih ada pada adi, tidak mudah untuk bisa melupakannya, karna semuanya bukan hanya tentang melupakan, tapi juga mengikhlaskan. Dengan kenyataan keduanya sudah tidak mungkin bersama lagi.
Ardi menatap mayra, ia mengerti apa yang mayra rasakan. Tiba-tiba saja, ardi merangkul pinggang mayra posesif, membuat adi semakin frustasi, terlihat jelas dari tatapan tajam adi pada dirinya.
"Shitttt...laki-laki keparat itu, beraninya dia merangkul mayra dihadapanku." batin adi.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
"Sayang, sebaiknya kita pulang! Sudah ada yang menemaninya di sini." ajak ardi.
__ADS_1
Mayra menatap ardi, ia tau jika ardi mungkin sudah merasa bosan ada di sana, mengingat dirinya memang sudah terlalu lama di rumah adi.
"Baiklah mas, ayo!" sahut mayra mengangguk.
Namun tiba-tiba saja adi bangkit, ia terduduk menatap mayra, melarangnya pergi dari sana.
"Mayra, kumohon jangan pergi." cegah adi memohon.
Dan bukannya mendengar jawaban dari mayra, adi justru mendapat jawaban dari ardi.
"Ingat tuan adi, mayra adalah calon istriku, dan kamu tidak memiliki hak sedikitpun untuk melarangnya pergi bersamaku. Dan sebaiknya kau istirahat, agar bisa beraktifitas kembali. " jelas ardi.
Adi mengepal tangannya kuat, ingin sekali ia menghadiahi ardi dengan pukulannya, tapi ia tahan. Sementara eva semakin merasa kesal, mendengar perdebatan dua laki-laki yang memperbutkan mayra, tanpa menghiraukannya disana.
"Sial..gadis ini punya apa sehingga adi bisa seperti ini." batinnya kesal.
Tap tap tap..
Lalu terdengar suara langkah kaki menuju kamar adi, membuat yang ada di kamar menoleh penasaran. Dan ternyata yang datang adalah sosok edo, yang membawa obat adi yang ia tebus. Ia melangkah menghampiri mayra, lalu menyodorkan obat yang ia bawa.
"Nona mayra, ini obat tuan adi." jelasnya tersenyum.
Mayra merasa bingung menatap edo, berpikir bagaimana mungkin edo bisa mengenalinya, mengingat itu adalah kali pertama keduanya bertemu, lalu ia menerima obat yang edo sodorkan.
"Mas sebentar ya." jelas mayra menatap ardi.
Sarkas edo menarik tangan eva pergi dari sana, memberinya pelajaran yang kali itu akan benar-benar membuatnya jera dan tidak lagi bermain-main dengan bossnya.
"Kali ini kamu akan ada diambang kehancuran nona eva." jelas edo menarik tangannya.
Eva terus memberontak, ia tak mau pergi dari sana, apalagi edo menariknya paksa.
"Lepaskan aku edo, kau hanya pembantu disini, dan jangan kurang ajar!" cecar eva tak terima.
Sedang mayra hanya menghela nafas melihat semuanya, ia semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi. Dan setelah meminumkan obat pada adi, mayra bangkit dari duduknya.
"Mas..aku harus pulang karna ini sudah siang. Ada bik jum yang akan mengurusmu, semoga lekas sembuh." jelas mayra.
Sarkas mayra berbalik badan dan pergi dari sana. Bahkan ia tak mau menghiraukan panggilan adi, tak ingin terlalu lama berada di sana, membuat hatinya semakin kacau menahan luka. Sedang ardi masih terdiam di tempat, ia membiarkan mayra pergi lebih dulu, lalu mencegah adi yang ingin mengejar mayra kembali.
"Stop adi, sudah terlambat untuk mengejar mayra kembali. Sudah saatnya kamu belajar untuk melupakannya, karna sekarang dia adalah milikku sepenuhnya, tanpa terkecuali. Bahkan, jika kau ingin dengar satu hal lagi, aku bisa memberitahumu." jelas ardi mengedikkan alisnya.
"Sebenarnya waktu itu aku berharap mayra benar-benar hamil anakku, agar tidak ada kesempatan sedikitpun untuk kamu berpikir mayra bisa kembali." lanjut ardi berbisik.
Lalu ardi tersenyum sambil menepuk bahu adi, kemudian pergi meninggalkannya sendiri.
__ADS_1
"Lihat saja adi, apa yang sudah kamu buang, tidak akan pernah kembali." batin ardi.
ππππππππππ
Di bawah, tepatnya di dapur, mayra masih bicara dengan bik jum. Ia meminta bik jum untuk selalu menjaga adi, dan teratur untuk memberikannya obat, karna dirinya sudah tidak bisa menjaga adi lagi. Mayra juga berpesan untuk memberinya kabar perkembangan kesehatan adi.
"Bik jum jangan ragu untuk menghubungiku jika ada apa-apa sewaktu-waktu." jelas mayra tersenyum.
Bik jum mengangguk, meskipun ia tidak yakin bisa menjaga adi dengan baik, mengingat adi hanya mau mendengar ucapan mayra saja, tapi dirinya akan berusaha.
"Baik non." angguk bik jum.
Beberapa saat ardi turun, melihat itu mayra mengakhiri obrolannya dengan bik jum, lalu ia pergi untuk pulang bersama ardi. Sementara di kamar, adi sedang mengerang frustasi, mengingat kata-kata ardi, ia tidak menyangka jika ardi bisa selicik itu.
"Arrggghhhhhhh...Mayra..." erang adi frustasi.
βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ
Selama di perjalanan pulang mayra terus terdiam, menatap jalan raya dengan lalu lalang kendaraan. Ada kerumitan dalam pikirannya, membuat hatinya kacau. Diamnya tidak selalu tenang, tapi menyimpan banyak kerumitan.
Sesekali ardi mencuri pandang ke arah mayra, mengamati keadaan kekasihnya, berharap ia bisa menghadapi segalanya.
"Aku yakin kamu bisa sayaang." batin ardi.
Di sisi lain, edo membawa eva pergi ke suatu tempat, ia mengikat kedua tangannya, dan melakban mulutnya.
"Wanita sepertimu sudah harus musnah dari dunia ini." bisik edo mengancam.
Eva terus memberontak meskipun dirinya sudah dibekap, ia tidak terima dengan apa yang edo lakukan pada dirinya. Dalam hatinya terselip ketakutan melihat edo yang tidak seperti biasanya, ia berharap adi tidak memintanya untuk melakukan hal buruk padanya.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Di sisi lain, ada bu sinta yang baru saja datang berbelanja, ia pergi berbelanja kebutuhan rumah sekaligus mampir ke butik langganan mereka. Ia membeli beberapa baju baru untuk mayra, karna sudah lama ia tidak pernah membelikan mayra baju baru, mengingat mayra sudah besar, dan bisa membeli apa yang ia suka. Tapi di mata bu sinta mayra tetap putri kecil yang sangat mereka sayangi. Kebetulan saja bu sinta melihat beberapa baju yang cantik untuk mayra, dan seperti kebiasaan lama, bu sinta akan menyimpannya di lemari mayra dan memberinya kejutan.
πππππππππππ
Alhamdulillah bisa up lagi..
Maaf sudah membuat menunggu lama..
Karna upnya emng lambat ya..
Mohon maaf jika ada salah kata..
Jangan lupa like, love and komen
__ADS_1
Trimakasih...