Di Kejar Cinta Pak Guru

Di Kejar Cinta Pak Guru
PUCAT...


__ADS_3

πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Jam sudah menunjukkan pukul 9, tapi mayra tak kunjung datang, dan hal itu membuat adi semakin gusar. Adi berniat untuk pergi ke rumah mayra jika ia tidak datang ke sekolah. Namun sebelum itu, adi meminta bantuan pak seto agar bisa bertemu mayra.


Sementara mayra masih duduk santai di sofa bersama mertuanya, ia teringat jika dirinya harus pergi kesekolah, tapi mayra merasa tidak enak jika harus pergi dari sana. Bahkan ardi juga tidak pergi ke kantor hari itu, ia ingin menemani mayra di rumahnya, meskipun mayra sudah memintanya untuk pergi ke kantor.


Melihat putranya yang sangat lengket dengan tunangannya, membuat mama anita berpikir.


"Bagaimana jika kalian segera menikah saja? Lagipula mayra kan sudah lulus, tidak ada yang perlu di tunda." tawarnya tersenyum.


Bukannya tersenyum, mayra justru terlihat pucat mendengar tawaran dari sang mama mertua, ia tidak tau harus bilang apa, membuatnya hanya bisa tersenyum paksa. Sedang ardi merasa senang, ia justru sangat setuju, tapi tetap harus dengan persetujuan mayra.


"Aku setuju saja ma, bahkan hari ini aku siap. Tapi semua terserah mayra." jelas ardi.


Mayra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, melihat semua mata tertuju padanya, apalagi dengan pertanyaan horor pastinya. Tapi untungnya saja, ia terselamatkan dari situasi itu ketika ponsel ardi kembali berdering, siapa lagi kalau bukan dari ayah mayra.


Sebelum mengangkatnya, ardi memberitahu jika ayah mayra yang menelfonnya. Barulah ardi mengangkat telfonnya.


πŸ“žπŸ“žπŸ“žπŸ“ž..


"Hallo pak, ada apa?" tanya ardi sopan.


"Begini nak ardi..."


Pak seto menjelaskan bahwa mayra sudah di tunggu oleh teman-temannya untuk mengumpulkan nilai tugas bersama, pak seto meminta ardi untuk mengantar mayra ke sekolah jika mereka tidak ada acara. Sarkas ardi mengiyakan hal itu, ia merasa tidak enak, karna tadinya ardi juga sudah menyanggupinya, apalagi itu demi kepentingan mayra.


Setelah telfonnya berakhir, ardi memberitahu sang mama jika mayra harus pergi ke sekolah untuk menyelesaikan tugas sekolahnya, ia berjanji akan membawa mayra lain kali untuk bicara dengan sang mama. Mama anita mengangguk setuju, walaupun nyatanya dia masih ingin bicara dengan mayra.


"Masih banyak waktu ma untuk bicara dengan menantumu." jelas ardi tersenyum.


Lalu mayra berpamitan untuk pulang dengan sang mertua, keduanya berpelukan hangat memberi kedamaian untuk semua orang.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Dan tanpa mereka ketahui, nyatanya pak seto sengaja menghubungi mayra bukan karena pesan yang dikirim oleh teman-temannya, melainkan atas permintaan adi padanya. Pak seto merasa tidak enak pada adi yang sudah berjuang untuk bertemu putrinya, ada rasa bersalah mengingat semua yang terjadi. Ia berharap mayra dan adi bisa duduk bersama dan bicara dengan baik, karena bagaimanapun adi adalah laki-laki yang baik.


Sebelum pergi kesekolah, ardi mengantar mayra pulang lebih dulu, karena ada beberapa buku yang harus mayra bawa, sekaligus untuk berganti seragam. Setelah semuanya selesai, ardi berlanjut mengantar mayra ke sekolah, hingga beberapa saat mereka tiba di sana.


"Mas pulang saja, aku akan naik taxi nanti." ucap mayra.


"Baiklah, tapi jika mas bisa, mas akan menjemputmu sayang. Telfon mas jika kamu sudah selesai." jelas ardi.

__ADS_1


Setelah itu mayra sarkas turun, dengan terburu-buru ia pergi ke ruang guru, mengingat semua temannya sudah pulang karna telah selesai, hanya tinggal dirinya saja yang belum. Meskipun sejatinya sekolah masih sangat ramai, karna sebagian murit kelas sepuluh dan sebelas masih belum pulang.


Ardi juga pergi setelah menatap bayangan mayra yang hilang dari pandangannya, ia menuju kantor untuk memeriksa beberapa berkas yang lina kirimkan padanya.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Tibanya di ruang guru, mayra segera menemui guru BK, ia memeriksa nilai apa saja yang belum ia selesaikan. Dan ada beberapa nilai yang masih kosong.


"Jadi saya harus minta nilainya sama siapa bu." tanya mayra sopan.


"Coba temui wali kelasmu, siapa tau nilaimu sudah di setor ke wali kelasmu, jika belum temui ibu lagi. Wali kelasmu ada di perpus." jelas guru BK.


Mayra mengangguk, ia berbalik pergi meninggalkan ruang guru, melangkahkan kakinya dengan ragu. Dirinya merasa bingung, haruskah ia pergi ke perpus untuk menemui adi, mengingat semua yang terjadi. Hingga akhirnya, mayra memutuskan untuk tetap menemui adi, karna dia harus tetap profesional sebagai seorang murit.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Beberapa saat kemudian, mayra tiba di depan pintu perpus. Kakinya terasa berat untuk masuk ke sana, bahkan tangan terasa kaku untuk mengetuk pintu. Namun mau tidak mau itu harus ia lakukan. Mayra menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, kemudian ia mengetuk pintu dan masuk kedalam.


Mendengar ketukan di pintu, dan sosok mayra yang datang membuat adi merasa senang, mengembangkan senyum indah di wajah tampannya. Bahkan ia sarkas bangkit dari duduknya menyambut kedatangan mayra.


"Mayra..akhirnya kau datang juga." jelas adi tersenyum.


Mayra berusaha mengeraskan hatinya, dengan berani ia mencoba menatap wajah adi, membuatnya melihat senyum di wajah tampan itu yang terlihat pucat, dan hal itu membuat mayra terkejut.


Langkah mayra terhenti, saat dirinya tiba di depan meja adi, dengan sekat meja diantara keduanya.


"Saya ingin melihat nilai saya pak, agar bisa melengkapi semuanya." jelas mayra datar.


πŸ€Ketahuilah, mulut bisa berbohong dan bicara sangat datar, seolah tanpa rasa, namun ada banyak getaran yang harus tertahan, menjadi sebuah derita.πŸ€


Adi menatap mayra dalam-dalam, ada rasa rindu yang terselip syahdu, memandang wajah cantik itu. Bahkan adi sangat ingin memeluknya. Aroma manis yang kian menyeruak mengobrak-abrik hati bertepi rindu, menyayat lembut menusuk kalbu. Dan derita itu juga di rasakan oleh mayra, dengan rasa sesak yang tertahan menyimpan lara.


"Mayra...bisakah kita bicara sebentar?" tanya adi perlahan.


Hal itu lolos dari mulut adi, dengan guratan harapan di dalam hati. Membuat mayra kembali menatap adi, berpikir ulang ribuan kali.


"Bukannya kita sudah bicara pak, soal nilai saya." jelas mayra.


"Ku mohon mayra, dengarkan semua penjelasanku, aku sangat mencintaimu." jelas adi memohon.


Tanpa mayra tau, kepala adi terasa pusing, perutnya juga terasa nyeri, akibat ia tak makan sejak kemarin.

__ADS_1


Mayra menatap adi, lalu memutar mata malas, menutupi rasa hatinya dengan kekerasan pikirannya. Tak ingin mendengar apapun dari adi, mayra memilih pergi. Tapi adi tak membiarkan itu terjadi, ia sarkas mengejar mayra dan meraih tangannya, menghentikan langkahnya untuk pergi dari sana.


"Dengarkan aku mayra, sekali saja! Tahan adi memegang tangannya.


Mayra terkejut, merasakan panas dari tangan adi, membuat hatinya lemah saat mengetahui keadaan adi, memberi kejelasan tentang kesehatannya.


"Mas adi benar-benar sakit, dia panas, jangan-jangan dia belum makan." pikir mayra.


Namun mayra segera menepis tangan adi, melepaskan tangannya, menghindar dari jangkauannya, bersikap acuh dan keras kepala, seolah tidak pernah memiliki rasa.


"Apa lagi yang mau di bicarakan pak adi? Ini area sekolah, saya rasa, tidak ada yang penting selain pembahasan seputar pendidikan." jelas mayra datar.


Mayra pergi meninggalkan adi sendiri, ia tak mau berdebat lagi, tak perduli apa penjelasan adi. Namun seseaat kemudian, mayra merasa hawatir mengingat keadaan adi. Ia merasa bersalah dengan semua yang terjadi. Lalu mayra memutuskan untuk pulang, tak ingin bertemu dengan adi lagi.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Adi membiarkan mayra pergi, ia sadar dengan apa yang terjadi, di tambah mereka sedang berada di sekolah, bukan tempat yang tepat baginya untuk menjelaskan semuanya di sana pikir adi. Adi berpikir untuk mengejar mayra, ia yakin mayra akan pulang, dan itu adalah kesempatan untuknya.


Dan benar saja prediksi adi, mayra memang bergegas pulang, ia melihat mayra yang sedang berjalan ke luar dari gerbang sekolah. Adi bergegas melajukan mobilnya untuk mengejar mayra. Membuat mayra terkejut melihat mobil adi yang sudah melaju perlahan di sampingnya.


"Mas adi keras kepala! Kenapa dia mengejarku." batin mayra.


Lalu adi menurunkan kaca mobilnya, berusaha bicara dengan mayra, memintanya untuk berhenti dan ikut dengannya.


"Mayra...berhenti dan ikut denganku." panggil adi.


Tapi mayra terus berjalan, ia tidak menghiraukan panggilan adi, tak perduli adi yang terus mengikutinya. Membuat adi kehilangan kesabarannya hingga membentak mayra.


"Mayra, cepat masuk, atau aku akan memaksa!" bentak adi bernada tinggi.


Mayra menghentikan langkahnya, ia merasa takut mendengar bentakan adi, apalagi adi yang terus mengikutinya dengan mobil, membuat beberapa orang menatapnya. Hingga akhirnya mayra memutuskan untuk masuk kedalam mobil adi.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Alhamdulillah bisa up lagi...


Semoga tetap suka, jangan lupa like, love dan komen guys..


Mohon maaf jika ada salah kata...


Harap sabar dan bijak setelah membaca...

__ADS_1


Trimakasih banyak...


__ADS_2