Di Kejar Cinta Pak Guru

Di Kejar Cinta Pak Guru
"WHATTTT???"


__ADS_3

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


"Whaatttt??" kaget mayra.


Ia membelalakkan matanya kaget mendengar ucapan santai ardi, yang membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Bagaimana tidak, ardi dengan santainya mengajaknya untuk mengganti baju di rumahnya pikir mayra.


"Apa yang akan orang-orang pikirkan jika aku kesana dengan kondisi seperti ini, apalagi tante anita." batin mayra memikirkan kondisinya.


Sedang ardi tak perduli, ia hanya fokus menyetir menuju rumahnya, dengan rasa bahagia di hatinya, bisa membawa mayra kembali menjadi menantu mamanya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Di sisi lain, ada adi yang tengah menunggu mayra di sekolah, ia berharap mayra akan datang dan menemuinya, mengingat nilai tugas yang harus ia setor padanya, selaku wali kelasnya. Bahkan adi juga sudah berpesan pada nana dan jeni agar mayra segera menemuinya, namun sampai saat itu juga mayra masih belum datang juga.


Beberapa kali adi pergi memeriksa keluar, ia melihat ke arah gerbang sekolah, berharap mayra datang. Nana dan jeni juga merasa heran, kemana perginya mayra, ia tak kunjung membalas pesan yang mereka kirim padanya.


"Kemana ya mayra? Apa mereka jalan-jalan ya?" pikir keduanya.


Adi sudah gusar menunggu mayra, hanya nilai mayralah yang belum lengkap, dan itu adalah peluang untuknya agar bisa bertemu dengan mayra, mau tidak mau. Meskipun adi tau, jika dirinya masih memiliki banyak kesempatan untuk bertemu mayra jika bukan hari itu, ia yakin dirinya bisa menjelaskan semua kesalah pahaman diantara keduanya, meskipun belum tentu bisa mengembalikan segalanya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Di sisi lain, ardi dan mayra rupanya sudah tiba di rumah ardi, namun keduanya masih belum turun, ardi masih menunggu mayra, di tambah mayra yang masih enggan turun, melihat kondisinya yang seperti itu.


"Bagaimana mungkin aku turun seperti ini mas? Bisa-bisa mama salah paham lagi." kesal mayra.


Hingga tanpa sengaja ia menyebut mama anita dengan sebutan mama, kali pertama setelah sekian lamanya, dan hal itu membuat ardi bahagia. Bukan karena apa, melainkan karna mayra yang sudah terlihat memikirkan perasaan sang mama.


"Aku senang jika kau sudah memikirkan perasaan mamaku mayra." batinnya.


Lalu tanpa banyak bicara dan berpikir, ardi turun dari mobil, ia sarkas membuka pintu dan menggendong mayra ala bridestyle masuk ke dalam rumahnya, tak perduli dengan penolakan mayra, meskipun sang empunya sudah meronta-ronta.


"Turunkan aku mas, aku tidak mau masuk, aku malu!" keluh mayra.


"Diam sayang! Atau aku akan menurunkanmu disini, dan semua orang akan menatapmu!" bisik ardi.


Mayra mendadak diam mendengar ucapan ardi, ia tak mau hal itu terjadi, berpikir jika apa yang ardi katakan memanglah benar. Lalu mayra memilih menenggelamkan wajahnya di dada bidang ardi, menutupi rasa malunya yang tiada tara.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Dan benar saja, rupanya kedatangan ardi di sambut oleh sang mama dan bik tutik pastinya. Namun keduanya terkaget melihat ardi yang datang dengan menggendong mayra, membuat mereka merasa hawatir jadinya. Mama anita hendak menghampiri ardi yang sedang menggendong mayra, namun ardi memberi kode agar sang mama tidak merasa hawatir dan menunggunya. Lalu ardi berlalu ke kamarnya di atas, ia masuk membawa mayra.


Tibanya di kamar, ardi menurunkan mayra perlahan, ia merebahkannya di ranjangnya yang empuk, dan tersenyum pada mayra.

__ADS_1


"Tunggu di sini sayang, aku akan mengambil bajumu." lembutnya.


Kemudian ardi turun untuk mengambil baju mayra, ia meninggalkannya sendirian. Ia turun kebawah dan rupanya sang mama sudah menunggunya, ia ingin mendengar penjelasan dari putranya, dan merasa aneh melihat ardi yang kembali turun sendiri.


"Kemana mayra ardi? Dia kenapa?" cecar mama anita cemas.


"Dia baik-baik saja ma, sebentar lagi mayra akan turun setelah ganti baju." jelas ardi kemudian berlalu.


Mama anita semakin tidak mengerti, bahkan bik tutik juga sama, mereka kembali mengingat pakaian mayra tadi, dan yah, mama anita melihat mayra mengenakan kemeja hitam milik ardi.


"Ohhhh...pantas saja." gumamnya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Ardi sarkas kembali ke kamarnya dengan membawa beberapa paper bag di tangannya. Tibanya di atas, rupanya mayra tengah duduk menunggu ardi. Sarkas ia menyambar paper bag itu dan masuk ke kamar mandi untuk ganti baju.


Ardi tersenyum melihat tingkah mayra, ia tau jika kekasihnya itu sedang hawatir dengan pendapat sang mama, mengingat itu adalah kali pertama ia kesana sebagai seorang menantu.


Beberapa menit kemudian, mayra keluar dari kamar mandi, ia siap dengan dress pink model sabrina selutut. Rambutnya ia ikat sembarang menyisakan beberapa juntai di pipinya, membuat kesan anggun meski terlihat sederhana. Dan ardi akui itu, meski tanpa polesan make up, kekasihnya tetap terlihat sangat anggun.


"Ayo mas kita turun." ajak mayra.


Ardi bangkit, ia tersenyum menatap mayra, tapi bukan untuk segera mengajaknya turun kebawah, ia justru menyerang mayra. Ia mendaratkan bibirnya di bibir mayra, merengkuh tengkuk mayra, memperdalam ciumannya. ******* bibir manis itu, menghilangkan dahaga syahdu.


"Ihh...mas tu gak tau malu! Ini di rumah kamu, nanti kalau mama liat." keluh mayra kesal, ia menyeka bibirnya yang basah akibat ulah ardi.


Sementara ardi tersenyum melihat kekasih cantiknya yang sedang kesal. Di tambah bibirnya yang semakin memerah akibat ulahnya, meski tanpa sapuan lipstik.


"Ya sudah ayo turun, sebelum aku tidak tahan lagi." jelas ardi mengukurkan tangannya.


Dengan segera mayra menautkan tangannya, sebelum ardi melakukan hal lain karna mereka terlalu lama di sana. Kemudian mereka keluar berjalan bergandengan tangan. Seperti sepesang kekasih, keduanya turun menuruni tangga, membuat para pemirsa menatap bahagia, siapa lagi kalau bukan mama anita dan bik tutik pastinya.


"Sangat serasi." celetuk bik tutik bahagia.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Melihat mama anita yang sudah menunggu kedatangan mereka, mayra segera melepas tautan tangan mereka, tapi ardi menolaknya, membuat mayra bingung jadinya.


"Bagaimana aku mau memeluk mama kalau begini." batinnya.


Ardi masih menggandeng mayra didepan sang mama, terlihat posesif sebagai kekasihnya. Hal itu membuat sang mama tersenyum bahagia dalam hatinya. Namun tiba-tiba saja mama anita menjewer telinganya, membuat sang empunya mengeluh kesakitan.


"Aduhh maa...sakit." keluh ardi memegang telinganya.

__ADS_1


"Makanya, lepas tangan mayra ardi! Dia tidak akan lari dari sini." jelas sang mama gemas.


Mayra tersenyum melihat ardi, begitu juga mama anita dan bik tutik, sedangkan sang empunya kesal, menjadi bahan tertawaan bagi mereka.


"Mama ini, aku ini seorang di pimpinan perusahaan." keaal ardi.


"Tapi kamu tetap putraku di rumah, iya kan mayra?" sahut mama anita tersenyum.


Lalu mama anita beralih memeluk mayra, menyambutnya hangat sebagai menantunya. Ardi senang bisa melihat itu diantara mereka, berharap kedepannya akan jadi lebih baik nantinya.


"Mama harap, kamu bisa memaklumi sikap nakal ardi mayra." bisik mama anita.


Mayra mengangguk tersenyum dalam pelukan mama anita, ia merasa lega setelah mendapat sambutan hangat dari mertuanya. Tapi hal itu juga mengingatkan dirinya pada adi, dimana ia hanya tinggal sendiri, tanpa kasih sayang dari orang tuanya. Mayra tau jika adi juga merasakan kesepian dalam hidupnya, di tambah denga luka yang ia beri untuknya, dan mayra sangat menyesali semuanya.


"Maafkan aku mas adi." batinnya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Setelah itu mereka sarapan bersama, dan seperti biasa, mayra membantu melayani ardi, bukan hanya seperti seorang menantu, tapi resmi jadi menantu rumah itu.


Mayra duduk di samping ardi, bahkan meski berdampingan ardi masih sesekali menatapnya, seolah tak ingin jauh dari mayra. Begitu juga mama anita, beberapa kali ia menatap keduanya, dan selalu saja ia menangkap ardi sedang menatap kekasihnya.


"Ardi ardi, anak nakal ini sangat tidak sabar rupanya." batin mama anita.


Sementara itu, di sekolah, ada adi yang rupanya tengah gusar menunggu mayra yang tak kunjung datang, di tambah wajahnya yang terlihat sedikit pucat karena ia sudah tidak makan sejak malam. Adi memutuskan untuk makan jika dirinya bisa bertemu dan bicara dengan mayra. Mengingat hanya mayralah yang belum menemuinya untuk menyetor nilai.


"Aku akan menunggumu mayra." batinnya.


Sedangkan nana dan jeni memutuskan untuk pulang lebih dulu, mereka berpikir jika mayra tidak akan datang, mereka hanya mengirim pesan pada mayra jika dirinya sudah di tunggu oleh adi.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Alhamdulillah bisa up.


Sekali lagi mohon maaf untuk waktunya..


Maaf juga jika ada salah kata..


Semoga tetap suka dan mohon dukungannya...


Jangan lupa like, love and komen swbanyaknya..


trimakasih..

__ADS_1


__ADS_2