
5 hari kemudian..
di malam hari di keluarga Grup CY yang saat ini jeje pun sedang terdiam duduk di atas balkon sembari melihat dan menikmati pemandangan dibawah sana dengan angin sepoy-sepoy di malam hari ,namun dengan tiba-tiba ponsel pun berbunyi di atas meja yang tak jauh darinya
kring.. kring.. kring...
"halo..
"pindahlah besok ! supir akan menjemputmu disaat pulang kerja .. "pinta dika di sebrang sana
" baiklah , aku mengerti.. "saut jeje dengan suara malesnya
"dan sampai jumpa di rumah besok .. " pamit dika di sebrang sana dengan wajah tak sabarannya yang sudah tersenyum sembari menggigit bibirnya yang membuat jeje pun tak banyak basa basi lagi langsung menutup ponselnya sembari menghelang nafas beratnya
"uhu~~~
dengan rasa berat hati dan malasnya jeje pun beranjak bangun dari duduknya dan pergi ke dalam kamarnya, dan tak berselang lama jeje pun yang sedang sibuk merapihkan baju dan barang-barangnya dengan tiba-tiba seseorang pun datang kemarnya
tok.. tok.. tok.
" masuk..
yang membuat jeje pun terkejut melihat adik tirinya itu berjalan masuk dengan wajah murungnya dengan penampilan yang kusut tak teurus yang sudah duduk diatas ranjang
"ada apa ? " tanya jeje pada lalisa
"tidak apa-apa. . " saut lalisa yang sudah menampakan wajah murungnya
"apakah kau tidak enak badan? apa ada yang sakit? " tanya jeje lagi yang masih penasaran dengan adik tirinya itu yang tak biasanya
"aku takut , sungguh aku takut sekali.. " saut lalisa dengan rasa gelisahnya sembari mengangkat kedua kakinya dan memeluknya dengan kedua tangannya yang begitu erat
"apa kau baik-baik saja? " tanya jeje yang semakin cemas melihat lalisa yang seperti orang depresi
"apa kau tak lihat aku tidak baik sama sekali.. " saut lalisa dengan suara cetusnya
"sudah beberapa lama?" tanya jeje sembari beranjak bangun dari duduknya
"tidak tahu, aku belom pernah ke rumah sakit sekalipun.. hikssss.... hikssss... ihkssss.. "saut lalisa yang sudah tertundukkan wajahnya dengan tangisannya yang membuat jeje pun merasa sedikit iba
__ADS_1
"tidak bisakah! kau datang ke rumah sakit , untuk memeriksanya ? " pinta jeje sembari mengambil pakaiannya di dalam lemarinya
"bagaimana mungkin! akun pergi sendirian? " saut lalisa yang sudah mengadahkan wajahnya dengan rasa kesalnya
"dan tidak mungkin juga! kalau kau tidak pergi! "saran jeje sembari memasukan bajunya kedalam kopernya , yang membuat lalisa pun merasa sedih dan putus asa dengan tangisannya yang sudah menundukan wajahnya lagi
"hikssss... hikssss.. aku ingin pergi keluar negeri.. hikssss... hikssss...
"lebih baik kembalilah ke kamarmu dan istirahat. . "pinta jeje yang masih sibuk dengan barang-barangnya yang belom tersusun rapih itu
"tunggu sebentar! " pinta lalisa yang sudah mengadahkan wajahnya menatap jeje dengan wajah kesalnya yang membuat jeje pun langsung menoleh kearah adik tirinya itu
''apa?
"bisakah kau pergi kerumah sakit bersamaku ? .. " ajak lalisa menatap jeje dengan wajah seriusnya yang membuat jeje pun sedikit terkejut
"aku? " saut jeje yang sudah menujuk dirinya sendiri dengan wajah bengongnya
"kau tahu sendiri, semenjak kebangkrutan ayah dan masuk ke rumah sakit ibu jarang sekali menemani ku ? " saut lalisa yang sudah menatap kesalnya yang membuat jeje pun sedikit keberatan
"sebaiknya kau pinta saja temanmu untuk pergi bersamamu ! " tolak jeje dengan wajah datarnya
"uhu~~~kapan kau akan pergi? " tanya jeje yang sudah menatap adik tirinya dengan seriusnya
"hikssss... jika bisa, kita pergi besok.. " saut lalisa yang sudah menghapus air matanya dengan tangannya , yang membuat jeje pun dengan berat hatinya
"baiklah, akan aku pikirkan lagi. . " ujar jeje dengan wajah pasrahnya yang membuat lalisa pun sedikit tenang dan lega dengan segera beranjak turun dari ranjangnya dan berjalan pergi keluar kamar kakak tirinya itu
beberapa jam kemudian..
dirumah sakit yang saat ini Ratih sedang menunggu suaminya itu yang masih tergeletak lemas di atas ranjangnya namun dengan tiba-tiba jeje pun masuk dengan wajah diamnya
brakk... (suara pintu)
"kenapa kau datang sudah selarut ini? apa adimu baik-baik saja dirumah? " tanya Ratih dengan suara juteknya sembari duduk dengan wajah sedikit kesalnya
"dia baik-baik saja, aku kesini hanya ingin melihat ayahku!.."saut jeje yang sudah menatap lurus kearah ayahnya dengan raut sedihnya
"bagaimana dengan rumah? apakah sudah ada informasi hasil lelang? hari ini adalah hari lelang ke tiga kalinya! .. " ujar Ratih yang sudah melipat kedua tangannya didadanya menatap anak tirinya itu yang masih berdiri tidak jauh darinya
__ADS_1
"apakah dino tidak memberitahumu ? " tanya jeje yang sudah melirik ibu tirinya itu dengan wajah herannya
"dia tidak menghubungiku beberapa hari ini.. " saut Ratih dengan suara juteknya
"dengar-dengar rumah itu sudah diberi orang.. " ujar jeje yang sudah memberitahukan kepada ibu tirinya yang sangat terkejut dengan mata melototnya yang langsung beranjak bangun dari duduknya menatap anak tirinya itu
"benarkah? lalu bagaimana? " tanya Ratih dengan wajah cemas dan paniknya mendengar kabar itu barusan
"ya , pembelinya meminta kita untuk segera pindah dari rumah itu ! "saut jeje yang sudah menampakan wajah datarnya yang membuat Ratih pun yang mendengar itu kala kabut dengan cemasnya
"pindah keluar? ya ampun bagaimana aku dan ayahmu bisa hidup tanpa rumah!? " triak Ratih dengan wajah marah dan kesalnya yang langsung duduk dengan lemasnya sembari mengeluarkan air matanya
hikssss.. hikssss... kemana lagi kita akan pergi? .. hikssss... hikssss... "ujar Ratih dengan keputus'asaan menundukan wajahnya sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya , yang membuat jeje pun tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa melihatnya dengan rasa sedihnya didalam hatinya
"dino, apakah dino tidak pulang kerumah? " tanya Ratih yang sudah mengadahkan wajahnya menatap anak tirinya itu sembari mengelap air matanya dengan telapak tangannya
"dia belom pulang beberapa hari ini" saut jeje yang menjawab apa adanya
"dia juga beberapa hari ini tidak kerumah sakit, setiap hari selalu pulang larut malam , dia tidak bisa menyelesaikan apapun, dia itu bukan anak melainkan penagih hutang, ayahmu sudah mau keluar dari rumah sakit, bagaimana dengan biayanya? rumah juga sudah dijual, dimana kita akan tinggal, siapa sangka nasibku akan seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa jatuh miskin begini?hikssss...bagaimana ini? Benar-benar jatuh ke titik terendah ,hikssss..tidak sanggup mengangkat kepala lagi di saat keluar nanti, jika kita diusir keluar, bagaimana menjalani hidup?hikssss...ihksss..lebih baik mati saja, tidak ada gunanya hidup lagi!.. " ujar Ratih yang masih belom Terima dengan keadaannya yang benar-benar jatuh miskin dengan tangisannya seperti orang stres sembari menepuk-nepuk dadanya begitu keras beberapa kali , namun dengan tersadar Ratih pun mengingat dika dengan tawarannya kepada jeje yang sudah mengadahkan wajahnya dan menatapnya sembari menghapus air matanya dengan tangannya
"jeje..
" ya..
"sebelumnya, bukankah tuan dika ingin bertemu denganmu? apa kalian sudah bertemu? "tanya Ratih menatap jeje dengan wajah penasarannya
"sudah.. " saut jeje singkat
"lalu apa yang dia katakan? " tanya Ratih lagi kepada anak tirinya yang super cuek itu dengan wajah berharapnya
"tidak ada sesuatu yang sepesial . . " saut jeje dengan wajah datarnya
"jangan bohongi aku! aku sudah mendengar hal yang kau dan ayahmu bicarakan diruang kerjanya malam itu, apa yang tuan dika itu tawarkan? katakanlah, sebenarnya penawaran seperti apa? " pinta Ratih yang masih kukuh yang ingin mengetahuinya dengan rasa kesal dan penasarannya
"tidak perduli apa yang dia tawarkan, aku telah menolaknya! " saut jeje dengan suara cetusnya yang membuat Ratih pun semakin penasaran tingkat dewa
"apa! menolak? penawaran apa? sehingga kau menolaknya? "tanya Ratih yang sudah menatap anak tirinya itu yang sudah amat geregetanya
"Aku tidak ingin mengatakannya dan tak ingin membahas masalah itu lagi " pinta jeje dengan juteknya langsung berjalan menghampiri ayahnya yang sudah duduk di sampingnya
__ADS_1