
dan pada akhirnya ratih yang tak pantang mundur terus mendesak jeje yang super cuek dan acuh untuk segera mengatakan sejujurnya tawaran itu padanya , yang membuat jeje pun yang tak ambil pusing akhirnya dia pun membuka mulutnya hanya satu kali ucapan saja, dan alangkah kaget dan shoknya ratih mendengar itu
"apa! tuan dika ingin menikah denganmu? " triak Ratih dengan wajah terkejutnya
"bukan seperti itu " protes jeje yang sudah terdiam menahan rasa kesalnya
"jadi! jadi seperti apa? " tanya Ratna yang semakin kesal dibuatnya
"semuanya sudah berlalu.. " saut jeje dengan suara cetusnya yang membuat Ratih pun semakin murka
"apanya yang berlalu? keadaan rumah kita sekarang sudah jadi begini, kau berkata semuanya telah berlalu? lihat anak macam apa kau, kau tidak tahu bagaimana kondisi kita sekarang hah! ayahmu juga seperti ini, kau malah berkata semuanya sudah berlalu! apa? yang telah dikatakan tuan dika padamu? " triak Ratih dengan suara kerasnya yang membuat suaminya itu pun mengeluarkan suaranya dari komanya
EHh... ehh.. ehh...
yang membuat mereka pun terkejut mendengar suara itu dari budi yang sudah mendengar berdebatan mereka sembari mengeluarkan air matanya begitu saja yang membuat Ratih pun dengan terpaksa berhenti dengan rasa kesal dan marahnya pada anak tirinya itu yang sangat amat geregetan dari tangannya yang sudah tertahankan
pagi pun tiba..
yang masih dikediaman keluarga grup CY yang saat ini jeje pun sudah rapih sembari turun membawa koper besar dengan hati-hati menuruni anak tangga yang membuat lalisa pun yang sudah duduk diruangan tamu memperhatikan kaka tirinya itu dengan wajah herannya
"mau kemana membawa koper? " tanya lalisa dengan wajah penasarannya namun jeje tak menjawab apa yang lalisa tanyakan itu
"hei! aku tanya kau mau kemana? " triak lalisa dengan wajah kesalnya yang langsung beranjak bangun dari duduknya menyusul kakak tirinya itu berjalan keluar sembari menyeret kopernya
"aku bertanya padamu, apa kau tuli? "triak lalisa dengan suara nyolotnya yang membuat jeje pun menghelang nafas beratnya
"uhu~~lain kali kita bicarakan! " saut jeje singkat
"tidak bisakah kau bicara dulu baru pergi? " pinta lalisa dengan wajah penasarannya yang sudah berdiri dibelakangnya
"kerumah teman " saut jeje cuek
__ADS_1
"apa! rumah teman? tapi melihat kopermu ini, sepertinya akan tinggal lama sekali? " tanya lalisa dengan wajah herannya
"iya, kau benar aku akan lama. . " saut jeje sembari membuka pintu depan rumahnya yang ingin beranjak keluar
"kau kan tahu sendiri,sekarang kita bahkan dalam kesulitan di rumah ini, tapi ,masih bisa kerumah teman? " protes lalisa yang sudah berkacak pinggang dengan wajah kesalnya yang membuat jeje pun langsung menoleh dengan tatapan dinginya
"lagi pula kita juga akan pindah dari rumah ini, aku tidak ingin menjadi beban, jadi aku memutuskan meminta bantuan teman !
"jika begitu kau akan pindah dan keluar selamanya? "tanya lalisa dengan wajah kesalnya
"bukankah seharusnya memang begitu! sudahlah sampai jumpa lagi. . " saut jeje yang sudah merasa pegal dan bosen yang ingin cepat-cepat pergi dari adik tirinya itu yang masih banyak bertanya
"tunggu! apakah kau sudah bilang sama mama dengan keputusanmu itu ? "tanya lalisa yang masih berdiri menatap kakak tirinya itu
"aku akan meneleponya nanti! "saut jeje yang sudah berjalan keluar pintu dengan rasa kesalnya
"minggu depan ayah akan keluar dari rumah sakit " triak lalisa yang masih mengikuti jeje dari belakangnya
"aku tahu!" saut jeje yang terus perjalan menghiraukan lalisa yang masih mengikutinya
"ada apa lagi? " saut jeje yang sudah menatapnya mAlas
"aku ingin pergi kerumah sakit! ayo pergilah bersamaku! sungguh tidak ada orang lagi yang bisa aku harapkan? "ujar lalisa dengan wajah memohonya
"telephone saja nanti! " saut jeje dengan wajah datarnya yang membuat lalisa pun sedikit kecewa
"apa kau tidak bersedia? dan ..apa kau mau membantuku mencarikan rumah bersalin yang jauh dari tempat ini? tanya lalisa yang sedikit ragu-ragu menatap jeje dengan diamnya
"itu lakukan saja sendiri! aku tidak ingin mencari tahu! " saut jeje dengan juteknya
"baiklah,tapi, apa kau akan pergi bersamaku , bukan ? " tanya lalisa dengan wajah berharapnya memastikanya kakak tirinya itu
__ADS_1
"baiklah! " saut jeje dengan wajah datarnya yang membuat lalisa pun merasa lega dan tenang yang sudah berjalan masuk kedalam rumahnya dan jeje pun langsung menghelang nafas beratnya
"uhu~~
dan jeje pun berjalan keluar gerbang sembari menggeret kopernya , tak disangka sudah ada mobil berwarna hitam yang sudah menunggunya termasuk supirnya yang sudah berdiri menatap dirinya yang sedikit ragu-ragu
"maaf anda siapa? dan kenapa anda ada disini? " tanya jeje dengan wajah penasarannya
"berikan kopernya padaku nona? " saut supir itu dengan wajah ramahnya sembari membantu jeje untuk membawa kopernya namun dengan sontak jeje pun langsung menahannya dengan tangannya
" tunggu! apa anda di suruh tuan dika untuk kemari?"tanya jeje dengan suara tegasnya
"benar nona, saya ditugaskan untuk membantu dan mengantarkan nona jeje ke tempat kerjanya.. " saut supir itu dengan ramahnya
"tidak perlu aku bisa sendiri! " tolak jeje dengan wajah datarnya
"tuan dika menyuruhku untuk mengantar anda sampai tujuan? " saut supir itu dengan wajah bingungnya
"tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri!" tolak jeje yang masih kukuh dengan pendirianya yang membuat supir itu pun sedikit serba salah menghadapi wanita itu yang keras kepala
"tapi nona . .." saut supir itu ragu-ragu
"tidak apa-apa anda pergilah, aku akan mengatakannya kepada tuan dika.. " pinta jeje dengan suara khasnya
"jika begitu.. biarkan aku membawa koper nona kerumah!? " saran supir itu dengan wajah berharapnya yang membuat jeje pun sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan supir itu barusan
"ah..?? anda bilang tadi apa? rumah? apa anda serious? " tanya jeje dengan wajah penasarannya
"iya ,ini sandi rumahnya " saut supir itu sembari mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya
"dimana rumahnya? " tanya jeje yang sudah menatap seriusnya
__ADS_1
"aku akan antar nona kekantor dulu..!"pujuk supir itu dengan wajah berharapnya
"tidak perlu, aku pergi sendiri saja, anda hanya perlu katakan saja dimana rumahnya. . " saut jeje dengan suara tegasnya yang masih ngotot dengan pendirianya yang membuat supir pun tidak bisa berkata apa-apa lagi menghadapi wanita yang ada di depannya yang begitu keras kepala dan dingin