
beberapa menit kemudian..
dika pun dengan perlahan melepaskan ciumannya dengan tatapan dalam , namun dalam sekejap dika pun langsung membalikkan wajahnya dengan hati kecewanya
"berikan aku teh? " pinta dika dengan wajah dinginya yang langsung beranjak pergi meninggalkan jeje yang masih terdiam membisu seperti patung dengan pikirannya
"seharusnya hatiku berdebar-debar??.. dan seharusnya ciuman pertama dan keduaku dengannya begitu.... indah? tapi kenapa... sungguh begitu rumit, ya Tuhan... (batin jeje) yang tanpa sadar dirinya pun meneteskan air matanya dipelupuk bola matanya yang sudah merasakan sakit dan kecewa di dalam hatinya
beberapa menit kemudian..
jeje pun yang sudah menghempaskan kesedihannya itu, dengan cepat berjalan menuju ruang makan sembari membawa segelas cangkir teh yang masih hangat dari tangannya
"apa kau tidak minum? " tanya dika dengan wajah dinginya yang sudah melipat kedua tangannya didadanya
"aku tidak ingin minum.. " saut jeje sembari menaruh tehnya di depan kekasih +suami kontraknya itu dengan wajah datarnya , yang membuat dika pun semakin kesal dibuatnya
"kau benar-benar wanita yang sangat membosankan! "cetus dika dengan wajah juteknya
"aku lagi tidak ingin minum teh, aku hanya ingin minum soda , bukankah sudah aku katakan , aku sedang sakit disaat menstruasi , jadi aku tidak selera? " cetus jeje dengan wajah kesalnya , sembari mengambil sampah diatas mejanya yang tersisa sehabis makan tadi , yang membuat dika pun semakin kesal tak mendengar apa yang dia katakan dari tadi
"bukankah sudah kubilang letakan dan jangan dibersihkan!? "protes dika dengan suara tegasnya, namun jeje pun tak menghiraukannya ataupun mendengarnya disaat dika membentak padanya dengan wajah marahnya
"besok saat kau pergi kerja, pelayan rumah akan datang untuk membersihkannya! jadi ku pinta jangan mengerjakan yang bukan tugasmu! "bentak dika dengan tatapan tajamnya yang membuat jeje pun yang mendengar itu langsung berhenti menatap dika dengan wajah kesalnya
__ADS_1
"kan ,sudah aku katakan sebelomnya? aku tidak butuh pelayan dirumah ini!" protes jeje dengan tatapan juteknya
"dia akan datang disaat kau tidak ada? "saut dika yang tak mau kalah debat
"tapi, aku tidak mau! " tolak jeje yang masih kukuh dengan pendiriannya, yang membuat dika pun langsung beranjak bangun dari duduknya sembari mengambil jasnya dengan wajah kesalnya yang ingin beranjak pergi
"dengarkan aku! aku ingin tinggal sendirian disini! " protes jeje dengan wajah kesalnya berjalan menghampiri dika yang sedang memakai jasnya yang terburu-buru
"aku males berdebat denganmu! sebaiknya kau turuti apa yang aku katakan tanpa syarat. .! " saut dika dengan wajah datarnya
"tuan dika! tunggu!.. " pinta jeje dengan wajah memohonnya, yang membuat dika pun semakin kesal dibuatnya yang mendengar namanya itu
"aku sudah bilang jangan memanggilku tuan dika! bukankah kau yang bilang ? tidak ingin menjadi simpananku, jadi harus terlihat seperti pasangan yang saling mencintai , seperti orang-orang diluar sana! " bentak dika dengan wajah marahnya, yang membuat jeje pun terdiam dengan wajah serba salahnya
"kau yang berkata harus terlihat seperti pasangan normal seperti yang lainnya? tapi. disaat aku menciummu, kau hanya berdiri seperti patung! " cibir dika dengan wajah kecewanya, yang membuat jeje pun merasa tersinggung dengan perkataannya barusan
"apapun itu, yang aku lakukan harus ada waktu menyesuaikan diri! tolong beri aku waktu untuk beradaptasi ? siapa tahu saja ? beberapa hari kemudian aku bisa beradaptasi dengan baik, dan suatu saat nanti akan membuat tuan dika lebih muak padaku!" sindir jeje dengan wajah datarnya yang membuat dika pun lagi-lagi amat kesal tak tertahankan
"bukankah sudah aku bilang jangan panggil aku tuan dika! " bentak dika dengan mata melotonya , yang membuat jeje pun semakin bingung dengan apa yang dia katakan
"jadi.. aku harus memangilmu apa? "tanya jeje dengan pikiran polosnya..
"apakah kau tidak tahu nama depanku? "tanya dika dengan wajah amat kesalnya yang tidak mengerti maksud perkataannya , yang membuat jeje pun terdiam sejenak dengan sorot matanya yang sedikit ragu-ragu
__ADS_1
"apa!! tapi, akan terdengar aneh di saat memanggilmu nanti!? " protes jeje dengan wajah dinginya, yang membuat dika pun tak bisa berkata apa-apa lagi hanya bisa menghelang nafas beratnya sembari membuang muka kearah lain dengan sabarnya
"uhu~~~~
"apakah kau akan pergi? " tanya jeje dengan suara kerasnya melihat dika yang sudah melangkah berjalan menuju pintu keluar dengan wajah kecewanya
"bukumu akan ku pindahkan akhir pekan " saut dika yang terus melangkah tanpa melihat lagi kebelakang
"sebaiknya sebelum akhir pekan saja buku-buku itu dipindahkan? jika terlambat, mungkin saja sudah di buang oleh orang rumah, jadi harus cepat dipindahkan? "saran jeje sembari melihat punggung dika yang sudah berhenti sejenak yang sedang memakai sepatunya itu
"jika begitu, aku akan menyuruh supir untuk pergi kesana! " saut dika sembari fokus memakai sepatunya itu
"bagus , kalau begitu.. "ujar jeje yang sedikit leganya
"oh.. iya satu lagi ini.. " ujar dika yang sudah berdiri tegak sembari membalikan tubuhnya mengeluarkan sebuah amplop di saku jasnya kearah jeje yang sudah berjalan menghampirinya dengan wajah penasarannya
"apa itu?
"surat kontrak, apakah perlu aku dilegalisasi? " saut dika dengan wajah datarnya , yang membuat jeje pun sedikit terkejut sembari menaikan halisnya
"aku tidak akan menghianatimu ! " ujar jeje dengan suara khasnya sembari mengambil amplop itu dari tangannya yang membuat dika pun tak banyak bicara lagi langsung pergi dengan rasa kesal dan kecewanya
brakkk... (suara pintu)
__ADS_1
"Hati-hati dijalan.. " triak jeje dengan wajah datarnya yang sudah terdiam berdiri menatap pintu apartementnya yang sudah tertutup kembali