
beberapa jam kemudian..
akhirnya mereka pun sampai di Sonatarium dan berjalan cepat bergandengan lanyaknya seperti sepasang kekasih pada umumnya yang begitu romantic yang ingin menjenguk ibu sekaligus mertuanya itu
tak... tak... tak...
"tunggu! " pinta dika yang langsung berhenti melangkah yang membuat jeje pun langsung menoleh melihat suaminya itu dengan wajah herannya
"ada apa lagi? "tanya jeje dengan wajah sedikit penasarannya
" ini!.. "saut dika dengan cepat langsung menyodorkan kontak cincin berwarna merah pada istrinya itu yang membuat jeje pun langsung mengangkat halisnya dengan wajah sedikit penasarannya
" apa ini? "tanya jeje dengan suara khasnya menatap suaminya itu
"pakai saja untuk hari ini! " pinta dika dengan suara khasnya menatap istrinya itu , yang membuat jeje pun dengan cepat langsung memakai cincin yang samaan dengan suaminya itu
"kan aku udah bilang jangan beli itu?itu tak ada guna buat ibuku!?" saran jeje yang sudah berjalan cepat menuju ruang ibunya dirawat bersama suaminya itu
tak... tak... tak..
"memang bukan, ini untuk perawat disini, sebagai pengunjung yang sering datang ke rumah sakit , bagaimana bisa kau tidak tahu adat seperti itu!? " sindir dika dengan sengajanya melirik istrinya itu yang langsung terdiam dengan wajah bengongnya melihat suaminya itu yang mengingat perkataan tadi didepan pintu rumah sakit yang penuh drama
***
flesbeck..
"cincin? " tanya jeje dengan wajah bengongnya menatap suaminya itu
"ya! .. ini cincin bukan kalung! " saut dika ledek
"aku tahu, lalu kenapa kau membawa cincin itu? " cetus jeje dengan wajah juteknya menatap suaminya itu yang sudah menyodorkan kontak cincin kepadanya
"lalu bagaimana kau akan memperkenalkan aku kepada ibu mertuaku? " tanya dika dengan seriusnya menatap istrinya itu
"kau hanya...
"pekenalkan aku sebagai kekasihmu adalah cara paling mudah, jadi, kau tidak perlu banyak menjelaskan pada ibumu, oleh karena itu cepat pakai saja? " saran dika yang sudah memotong kalimat istrinya itu dengan wajah berharapnya , yang membuat jeje pun langsung mengkerutkan matanya menatap suaminya itu
"aku tidak perlu memakai cincin, walaupun aku memberitahu ibuku kau kekasihku! " saran jeje yang sudah menatap suaminya itu yang sedikit meremehkannya, yang membuat dika dengan rasa geregetanya langsung meraih dan memegang tangan istrinya itu
__ADS_1
"berhenti! berdebat! pakai sekarang! " pinta dika dengan suara tegasnya sembari memakaikan cincin dijemari istrinya itu dengan cepat
"tapi cincin ini tidak berguna? " saut jeje sembari memadang cincin yang sudah menempel dijarinya itu
"kenapa memangnya? " tanya dika yang sudah menaikan halisnya menatap istrinya itu dengan wajah herannya
"ibuku hampir buta karena diabetes, dia tidak bisa melihat cincin ,kau ataupun aku? "saut jeje yang sudah memberitahukan kondisi ibunya sebelumnya pada suaminya itu
"tidak masalah, meskipun begitu, kau harus memakainya untuk menyakinkannya! " ujar dika yang masih kukuh dengan keputusannya
"baiklah, tapi ini terlalu ketat? " saut jeje yang mencoba seribu alasan ingin melepaskan cincin nya itu
"aihss.... ternyata jarimu lebih tebal dari yang aku kira? ledek dika dengan sengajanya melirik istrinya itu
"aku juga punya tangan yang cukup tebal, apa kau tidak tahu? "cetus jeje dengan rasa kesalnya menatap suaminya itu
"lihatlah, cincinmu sama dengaku yang aku pakai ? " ujar dika yang sudah memberitahu sembari memperlihatkan jemarinya kearah istrinya itu yang membuat jeje pun sedikit terkejut dengan wajah bengongnya
"apa?..
"aku perlu membuktikan hubungan kita dengan cara yang sempurna? " ujar dika yang sudah bicara gaya cool nya didepan istrinya itu yang sudah tersenyum kecil menatap istrinya itu , yang membuat jeje pun langsung mengkerutkan matanya menatap suaminya itu yang sok kegantengan itu
flesceck
***
tak... tak... tak...
" hei! kenapa malah bengong ?ayo cepat kita masuk ? "ujar dika yang sudah memegang tangan istrinya itu berjalan masuk keruang mertuanya , yang membuat jeje pun langsung tersadar dari lamunanya
" ah!..
klikkk... (suara pintu)
tak... tak... tak...
"ah, lihatlah siapa yang datang ? putrimu sudah ada disini? " ujar bibi pengasuh itu dengan wajah senangnya memberitahu kan pada pasienya yang dia rawat selama ini , yang membuat ibunya jeje pun sangat terkejut dan senang mendengarnya yang langsung memanggil anaknya itu
"putriku?
__ADS_1
"ibu.. " saut jeje dengan cepat melepaskan gegaman tanganya dan berjalan cepat berlari kearah ibunya itu yang sudah duduk diatas ranjang pasienya
"ibu, kenapa ibu sakit lagi, aku sangat cemas dan khawatir? " tanya jeje dengan suara lembut memeluk ibunya itu yang penuh kerinduannya yang begitu dalam , Sama hal nya dengan ibunya yang sudah memeluk anaknya yang begitu erat sembari menciuminya yang penuh kasih sayangnya
"apa sekarang ibu merasa lebih baik sekarang? " tanya jeje dengan lembutnya sembari mengelus punggung ibunya beberapa kali dengan matanya yang sudah berkaca-kaca yang ingin menangis dalam dekapan ibunya yang dia tahankan saat ini
"ya, ibu baik-baik saja saat ini nak? " saut ibunya jeje yang bernama nur Melanie itu dengan suara seraknya sembari mengelus punggung anaknya itu beberapa kali, yang membuat nur pun tersadar ada sosok laki-laki yang sudah berdiri di belakang anaknya itu yang sudah tersenyum melihat mertuanya itu
"hum?siapa dia nak? " tanya nur pada anaknya itu yang sudah melihat sosok laki-laki yang samar-samar sembari melepaskan pelukannya , yang membuat jeje pun langsung menoleh menatap suaminya itu
"dia...
"halo, nyonya nama saya dika nasution Abrams , saya kekasihnya jeje ? " ujar dika yang sudah memotong kalimat istrinya itu sembari memperkenalkan dirinya dengan sopannya menatap mertuanya itu , yang membuat nur pun sangat terkejut mendengar itu
"apa! kekasih? " saut nur dengan wajah kagetnya
"benar nyonya?..
"ah, ina cepat bawa kacamataku? "pinta nur pada perawatannya itu sembari menganyunkan tanganya kearah lain
" baik, ini!.. "saut ina yang sudah menyodorkan kaca matanya pada pasienya itu, yang membuat nur pun langsung memakai kaca matanya dengan perlahan
"biar kulihat dia dengan jelas dulu! "ujar nur yang sudah melihat kekasih anaknya itu dari kaca matanya yang masih kabur tak jelas , yang membuat nur pun dengan penasarannya langsung menyuruh laki-laki itu datang menghampirinya
"ayo kesini! pinta nur yang sudah melambaikan tanganya kearah laki-laki itu beberapa kali
"nyonya, anda tidak perlu sungkan padaku? " ujar dika yang sudah melangkah cepat menghampiri mertuanya itu yang sudah memegang kedua tanganya yang begitu erat
"tidak, aku harus begitu, ah, aku sangat menyesal membuat mu harus datang ke tempat seperti ini? "ujar nur dengan suara seraknya melihat laki-laki itu yang samar-samar
"tidak masalah, tentu saja aku harus mengunjungi anda nyonya? " saut dika dengan sopannya memegang tangan ibu mertuanya itu dengan lembut
"haha.. dia sangat tampan dan tinggi, lihatlah dari sosok penampilanya ! dia bisa menjadi aktor , jeje juga sangat cantik dengan kekasihnya yang begitu tampan , mereka sangat serasi bukan hahah... " ujar ina yang sudah tersenyum senang memuji kedua sepasang kekasih itu didepan pasienya, yang membuat nur pun sangat terkejut mendengarnya
"pasangan serasi? . .
" benar dia sangat tampan! saya juga berpikir jeje mirip siapa?karena dia terlihat sangat cantik,sekarang aku baru tahu jawabanya haha.."saut ina yang sudah memberitahukan pada pasienya itu dengan suara senangnya
"iya benar, jeje sangat mirip dengan anda nyonya? " saut dika dengan suara khasnya menatap mertuanya itu
__ADS_1