Dicintai Ceo Berhati Iicik

Dicintai Ceo Berhati Iicik
penolakan doctor pada lalisa


__ADS_3

"tidak hanya sekali? sepertinya kalian sudah lama berpacaran diam-diam, dan kemana zaki? apa kau tahu? " tanya jeje pada adik tirinya itu yang sudah menampakan wajah diamnya


"aku juga tidak tahu, dan tidak ingin tahu, lagi pula belom lama , baru 8 bulan !


"apa!! 8 bulan itu pendek? " ujar jeje dengan wajah bengongnya


"ckk... jangan menyudutkanku lagi? aku hampir gila! " cetus lalisa dengan rasa kesalnya yang membuat jeje pun langsung terdiam dengan wajah dinginya, tak berselang lama akhirnya lalisa pun di panggil keruangannya dan memulai pemeriksaan, yang saat ini jeje pun sedang duduk menunggunya dengan sabar


beberapa menit kemudian..


"apa? kau mengatakan aku tidak bisa aborsi? " triak lalisa di ruangan Sana yang membuat jeje pun yang mendengar itu sangat terkejut


brakkk... (suara pintu)


tap.... tap... tap...


yang membuat lalisa pun dengan rasa kesal dan sedihnya berjalan keluar menghampiri kakak tirinya itu


"kenapa ? apa ada masalah? atau ada yang tidak normal? " tanya jeje yang sudah beranjak bangun berdiri didepan adik tirinya itu yang sudah menangis terisak-isak


"ihkss... huhuuhu... ihkss... mereka tidak Mau melakukan arborsi padaku . . ihkss... " saut lalisa yang sudah duduk dengan tangisan yang sudah mengalir dipelupuk matanya begitu saja


"kenapa? "tanya jeje yang masih menatap lalisa dengan wajah penasarannya, yang membuat doctor pun langsung berjalan keluar dengan wajah kesalnya


tap... tap... tap..


"apa kau saudara dari wanita muda ini ? " tanya doctor itu dengan wajah sedikit kesalnya


"iya..


"apakah kau tidak tahu kalau aborsi sudah lama dilarang? ditambah lagi, janinnya sudah menginjak 5bulan lebih, bagaimana bisa dilakukan aborsi? kaki dan tangannya sudah berbentuk menyerupai manusia, bagaimana bisa kau berpikir untuk mengugurkannya? "ujar doctor itu memperjelaskan pada wanita itu dengan wajah marahnya , yang membuat jeje pun yang mendengar itu sangat terkejut dengan wajah bengongnya


"apa? sudah.. lima bulan?


"iya, apa kau tidak tahu? " ujar doctor itu dengan wajah datarnya, dengan reflek jeje pun langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali

__ADS_1


"aku tidak tahu..


"sepertinya dia tidak memberitahumu , janin sudah mulai bermain didalam rahim, bentuknya juga sangat bagus, teganya dia Mau aborsi! " cetus doctor itu dengan wajah kesalnya sembari menatap lalisa yang masih tertunduk malu, tapi untungnya disaat ini ruangan tunggu tidak terlalu ramai


"apa bayinya sehat?" tanya jeje pada doctor itu dengan wajah seriusnya


"sehat, ke rumah sakit mana pun juga tidak akan ada yang melakukan aborsi! seperti yang aku katakan tadi, pemerintah sudah melarangnya , kecuali kondisi janin atau ibu dalam bahaya, tidak ada lagi doctor yang Mau melakukanya aborsi,apa lagi sudah 5bulan , jadi janganlah berpikir yang lain lagi, sebaiknya ibunya merawat janin dengan baik, meskipun sudah terlambat , tetapi memeriksaan rubella dan membentukan janin harus dilakukan, karena kau sudah datang , jadi suruh dia lakukan pengambilan darah dulu sebelom pergi! "pinta doctor itu dengan wajah dinginnya yang sudah berjalan masuk keruang kerjanya, yang membuat jeje pun dengan berat hatinya memujuk lalisa untuk mau pemeriksaan dirinya hingan selesai, meski harus beradu mulut lagi denganya yang beberapa kali menolaknya, tapi jeje tak pantang menyerah begitu saja disaat akan membokar rahasia nya didepan media dengan geretakanya itu yang membuat lalisa pun dengan rasa kesalnya mau tidak mau akhirnya menurutinya


1 jam kemudian..


akhirnya pemeriksaan pun selesai juga, yang saat ini jeje pun sedang mengantar adik tirinya sampai didepan rumah sakit yang sudah memesan taksi sebelomnya untuk mengantarkan dia pulang


"jagalah badanmu dengan baik, cepat masuk dan pulang segera.. " pinta jeje pada lalisa dengan suara tegasnya sembari membukakan pintu mobil taksinya untuk segera masuk, yang membuat lalisa pun dengan wajah murungnya bergegas masuk dengan diamnya


brakkk... (suara pintu mobil)


akhirnya lalisa pun pergi dengan mobil taksinya meski hatinya saat ini sedang kacau balau tidak karuan, dan jeje pun masih berdiri melihat mobil itu jauh dari pandangannya sembari menghelang nafas beratnya


"uhu~~~


menujukan pukul 5:30 sore yang saat ini jeje pun sudah sampai tujuan di tempat apartment yang begitu besar menjulang tinggi , yang sedang berjalan masuk ke pintu utama


tap... tap... tap...


"maaf nona anda mau ke apartment mana? " tanya resepsionis itu dengan ramahnya, yang membuat jeje pun langsung mengambil selembar kertas didalam tasnya dan di berikan pada resepsionis itu


"yang ini..


"ah, baik, harap tunggu sebentar nona , dan satu lagi tunjukan kartu indentitas anda? " pinta resepsionis itu sembari memeriksanya lewat komputernya


"ini.. " saut jeje sembari memberikan kartu indentitasnya


"ah, nona sudah boleh masuk sekarang, liftnya ada disebelah sini? " ujar resepsionis itu dengan ramahnya langsung menujukan letak lift tidak jaun darinya


"terimakasih..

__ADS_1


"owh iya, satu hal lagi, saat nanti naik, anda perlu melalui proses scan jari, karena kami sekarang belom memiliki sidik jari anda, tolong input sidik jari anda dulu disini? "pinta resepsionis itu sembari menujukan alat tombol disebelah kiri, dan tak butuh lama proses pun selesai dan jeje pun bisa naik dengan lancar


ting~~(suara lift)


beberapa menit kemudian..


akhirnya jeje pun masuk kedalam kamar yang begitu besar dan mewah dengan wajah bengongnya, berjalan perlahan melihat sekeliling sudut yang begitu apik, sembari melepaskan tasnya diatas sofa dan berjalan menuju jendela kaca yang sudah disuguhkan pemandangan sunset 🌆diluar Sana


"sungguh neraka yang indah, kenapa harus begitu besar ? " gumam jeje dengan wajah sedikit kecewanya namun dengan tiba-tiba seseorang pun datang


brakkk... (suara pintu)


"selamat malam! " sapa dika sembari melepaskan jasnya dan menaruhnya diatas sofanya dan dirinya pun langsung duduk dengan wajah sedikit lelahnya


"tadi aku tidak melihat mu di tempat kerja? "tanya dika yang sudah duduk dengan nyamannya


" aku keluar! "saut jeje dengan wajah diamnya


"pergi bertemu dengan siapa? " tanya dika dengan wajah penasarannya


"lalisa.. "saut jeje singkat


" kenapa lagi dia? "tanya dika yang sudah melipat kedua tangannya di dadanya


"ada sedikit masalah .. " saut jeje dengan wajah datarnya


"apa kau tahu? aku meninggalkan pesan untukmu , kenapa kau tidak meneleponku? " ujar dika dengan suara tegasnya


" maaf, tadi aku sudah terlalu sore disaat aku kembali ke kantorku? "saut jeje dengan wajah malasnya


"aku menunggu telephone darimu! "ujar dika yang sudah menatap berharapnya yang membuat jeje pun sedikit bingung dengan wajah melototnya


"mengapa? kau menampakan wajah ekspresi macam itu? " tanya dika dengan wajah herannya yang membuat jeje pun sedikit kesal di buatnya


"ckkk.. orang ini.. dasar tuan rumah iblis !(batin jeje) yang sudah menahan rasa geretakanya di tangannya

__ADS_1


__ADS_2