
"ada seseorang memesan sebuah buket bunga mawar merah untuk anda nona, silahkan tandatangan disini? " ujar kurir itu dengan ramahnya semabari menyodorkan selembar kertas kearah jeje yang sudah menampakan wajah bengongnya sembari mendata tangani kertas itu dengan cepat
"terimaskasih mas!..
" sama-sama!.. "saut kurir itu yang sudah beranjak pergi, yang membuat jeje pun masih berdiri dengan diamnya menantap bunga yang sudah ada ditanganya
"siapa yang memesannya? aneh sekali! " gumam jeje dengan suara pelannya sembari melirik suaminya itu yang sudah duduk dengan wajah diamnya
"apa mungkin dia yang memesannya? apakah ini lelucon yang bagus apa ?? .. (batin jeje) yang sudah prasangka buruk menatap suaminya itu yang sudah menampakan wajah dinginnya yang membuat jeje pun semakin bingung dengan sikapnya itu , yang membuat beberapa karyawan yang lainnya ikut kepoin temannya itu yang sudah mendapatkan hadiah bunga mawar merah ditanganya
"wow! bunga ini indah sekali! pasti Mahal! " ujar Sisi teman rekan jeje yang paling akrab di kantornya yang sudah tersenyum senang melihat sahabatnya itu
"wih! bau mawarnya saja sangat enak! siapa yang mengirimmu bunga jeje, semakin penasaran aja? "ujar tata yang paling kepo kepada teman satu rekannya yang sudah melihat selembar kertas yang terselip dan mengambilnya dengan cepat
"untuk gadis impianku ,NN jeje,dikirim oleh Joshua Raheem , bukankah Joshua Raheem itu adalah sepupuh dari menejer kita yah? " tanya tata dengan suara sedikit kerasnya menatap sahabatnya itu yang sudah menampakan wajah terkejutnya yang tidak percaya, yang membuat jeje pun langsung merebut kertas itu dan langsung menyembunyikannya dari saku celananya
"bukan, kau salah baca, Joshua Raheem itu adalah orang asing bukan sepupuh dari menejer kita ! " protes jeje dengan wajah paniknya sembari melirik suaminya itu yang sudah menampakan wajah marahnya yang terpendam tertahankan mendengar beberapa karyawan lainnya menyembut nama laki-laki dihadapanya
"jeje, selamat yah! hehe... "ujar tata yang sudah tersenyum ledeknya, yang membuat jeje pun semakin kesal pada teman rekannya itu
" sudah kubilang bukan! "cetus jeje dengan juteknya yang membuat dika pun langsung beranjak bangun dari duduknya melangkah menghampiri istrinya itu dengan tatapan dinginnya sembari melipat kedua tangannya didadanya
"apakah itu dikirim oleh kekasihmu nona jeje? " tanya dika yang sudah menahan rasa marahnya pada istrinya itu
"bukan! " saut jeje yang sudah menatap suaminya itu , yang membuat dika pun ingin melangkah melewati istrinya itu dengan tatapan galaknya..
__ADS_1
"jika dia bukan kekasihmu, pasti dia sangat tertarik padamu bukan? " sindir dika yang sudah berjalan pergi keluar dengan tatapan suramnya, yang membuat jeje pun hanya bisa terdiam melihat tingkah suaminya itu yang tak bisa berkata apa-apa lagi
beberapa menit kemudian..
brumm... brummm... (suara mobil)
akhirnya dika pun pergi dengan mobilnya yang sudah berpamitan dengan menejernya sebelomnya yang masih berdiri di depan halaman kantornya melihat mobil klainnya itu yang sudah pergi dari pandangannya dan yudi pun bergegas masuk kedalam kantornya, tidak termasuk jeje yang masih berdiri dengan wajah diamnya , namun dengan tiba-tiba ponselnya pun berbunyi di kantung celananya
kring.... kring.... kring...
"halo..
" siapa dia? "tanya dika dengan suara tegasnya disebrang Sana
" apa? "saut jeje yang masih berdiri dengan wajah bingungnya dengan apa yang dimaksudkan suaminya itu
"aku tidak tahu! "saut jeje yang dengan suara khasnya
"kau tidak tahu? apa maksudmu kau tidak tahu! " bentak dika disebrang Sana
"aku juga tidak mengenal dia! Sama sekali hanya mendengar nama dan statusnya saja! " protes jeje disebrang Sana dengan juteknya, yang membuat dika pun semakin marah tak karuan
"aku bertanya sekali lagi ! siapa pria itu? " bentak dika pada istrinya itu yang sudah mengeluarkan tanduknya dikepalannya yang amat marah dan kesal
"sepupuh dari menejer kantorku, aku sudah memberitahumu sebelomnya, kan? " cetus jeje yang sudah amat kesal disebrang Sana
__ADS_1
"bukankah kau bilang sudah menolaknya? " triak dika dengan mata melototnya yang berapi-api yang membuat supirpun semakin ketakutan melihat tuannya itu dari kaca sepionnya
"memang benar , tapi aku tidak tahu kalau dia berinsiatif mengirimkan aku bunga! " protes jeje yang membela dirinya dengan cetus nya
"kau melangar aturan dalam konkrak , iya kan? " cibir dika dengan suara menekannya pada istrinya itu
"aku hanya menerima bunga dari dia! bukan berarti aku kencan dengannya! " saut jeje dengan tegasnya disebrang Sana
"buang bunganya! " triak dika disebrang Sana yang sudah mengempalkan tangannya yang amat geregetan itu
"aku tahu! " saut jeje yang sudah memijat keningnya itu
"sekarang juga! " bentak dika yang belom puas mendengar ucapan dari istrinya itu disebrang Sana yang amat kesal
"aku tahu! aku hapam! aku akan buang sekarang juga! " triak jeje yang tak mau kalah kesalnya dengan sikap suaminya itu
yang membuat mereka pun terdiam sejenak sembari menghelang nafas beratnya yang bersamaan..
"hMmh.. kau tidak, suka menemui aku, iya kan? aku memberimu kejutan dengan tiba-tiba muncul di perusahaanmu, aku sengaja pergi ke perusahaan mu karena aku merindukanmu beberapa hari ini tidak bertemu! " ujar dika dengan suara pelannya memberitahukan perasaannya dan tujuanya pada istrinya itu
"seharuanya kau memberitahuku sebelomnya, jika kau melakukannya , setidaknya aku bisa berpura-pura baik-baik saja! " saut jeje yang sudah menampakan wajah bersalahnya disebrang Sana
"tapi ku lihat kau tidak Sama sekali canggung? " tanya dika yang sudah mengkerutkan halisnya disebrang Sana
"aku Panik! " saut jeje singkat dari kenyataannya
__ADS_1
"sudahlah, oh iya, apa kau ingin ikut menonton pertandingan hockey malam ini? " ajak dika kepada jeje dengan suara khasnya yang sudah menampakan wajah berharapanya disebrang Sana
"apa! hocky ?