
Selesai melaksanakan shalat subuh dan membaca Al-Qur'an. Nabila bergegas untuk membangunkan anak semata wayangnya. Dia sengaja membangunkan Ezra lebih lambat karena dia tidak ingin anaknya itu bangun terlalu pagi dan kembali tidur setelah shalat subuh.
"Bangun, Nak! Sudah mau pagi, Sayang. Udah jam 5 lebih ini! Ezra!"
Anak kecil itu bangun meski dengan mata terpejam. Nabila tersenyum, dia mengantar anak bungsunya ke kamar mandi kemudian membiarkan Ezra shalat sendiri. Sedangkan dia, berjalan menuju pantry untuk membuat sarapan. Setahu Nabila kulkas sudah terisi penuh, dan semua kebutuhannya juga sudah disiapkan.
"Kalau kayak gini dosa gak sih, aku bukan siapa-siapanya Pak Bara, kenapa Pak Bara sampai ngelakuin ini semua?" Nabila bermonolog sambil mengoleskan selai di atas roti yang akan dia panggang.
"Mama!" panggil Ezra dari arah kamar.
"Kenapa, Sayang?" tanya Nabila mendekati anaknya.
"Ezla mau sarapan sama, Papa. Kita makan di lumah Papa aja. Boleh 'kan? Ezla akan kembali ke sini kalau sustel Ezla sudah datang. Ezla janji, Ma."
Nabila menautkan alis. Dia melirik roti yang sudah masuk ke pemanggangan. Tidak mungkin dia meninggalkan itu sekarang. "Ya sudah, kita pergi ke rumah Om Bara seteleh rotinya mateng ya!"
Anak kecil itu mengangguk antusias. Dia mengecup pipi Nabila berkali-kali dan setelah itu, Nabila mendengar anak kelincinya bersenandung. "Dasar bocah!" gumam Nabila sembari menggelengkan kepala.
Setelah beberapa menit, Nabila dan Ezra sudah berada di luar apartemen mereka. Hembusan napas kembali terdengar. Sudah puluhan kali Nabila memencet bel, tetapi, orang yang berada di dalam belum memberikan jawaban.
"Mama!" panggil Ezra kepada ibunya. "Telpon Om Dulian. Om Dulian pasti bisa bantu, Mama!"
Nabila ber oh ria, dia mengambil ponselnya kemudian menempelkan ponsel itu ke telinga. Syukurlah, dia sempat berurusan dengan laki-laki itu beberapa kali. Jadi dia sempat menyimpan nomor Durant.
"Akh ... baiklah. Oke, terima kasih."
__ADS_1
Tut!
Nabila menyerahkan kotak makan berisi roti kepada Ezra kemudian berlari ke arah pintu apartemennya. Dia masuk sebentar kemudian keluar lagi. "Kenapa gak bilang kalau nyimpen kunci di rumah. Bikin spaneng aja," celoteh Nabila. Dia menempelkan kartu aksesnya pada gagang pintu, dan pintu itupun terbuka.
"Assalamu'alaikum," ucap Nabila. Dia bukan tidak menghargai pemilik rumah, tetapi, saat itu Nabila berucap dengan suara berbisik. "Astaghfirullah!" Nabila menggelengkan kepala saat melihat apartemen Bara yang sangat berantakan. Botol alkohol. Majalah, baju kotor, semuanya berserakan. Apa setiap hari dia selalu melakukan ini.
"Ezra!" panggil Nabila.
"Yes, Ma!"
"Kamu makan dulu rotinya. Mama mau beres-beres dulu, oke!"
"Siap, Bos!" jawab Ezra sembari memberikan hormat kepada ibunya. Nabila tersenyum, dia mengusap kepala Ezra kemudian mulai mengerjakan tugasnya.
Karena bosan hanya melihat sang ibu bekerja, Ezra menaruh rotinya dibatas meja. Dia berjalan mencari sesuatu. Membuka setiap pintu yang bisa dia buka.
Sementara di luar, Nabila sedang sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan. Hal yang selalu membuatnya lupa bumi alam adalah kompor dan wajan. Jika sudah dihadapkan dengan berbagai lauk mentah dan sayur, Nabila menjadi sangat antusias dan ingin memasak banyak makanan.
"Sup ayam makaroni enak kali ya. Ada ikan salmon juga, tempe juga ada. Wuahhh ... si Durant udah kayak emak-emak +62 ini. Udah jago belanja."
Sambil berceloteh, tangan Nabila benar-benar sangat cekatan saat memegang pisau. Wanita cantik itu semakin cantik jika sedang dalam mode serius seperti ini. Wajahnya berseri. Matanya juga bersinar sangat indah.
Di sisi lain, Ezra masih asyik menelisik bagian-bagian dari wajah Bara. Menyentuh hidung mancungnya, juga meraba bulu mata yang lumayan panjang. Melihat Bara terusik sama sekali tidak membuat Ezra takut, anak itu malah berbaring di atas lengan bara sembari memeluk dada laki-laki itu. Namun, tangan mungilnya masih tidak tinggal diam. Ezra menyentuh area ketiak Bara, dan ....!"
"Akhhhh!"
__ADS_1
Suara teriakan Bara membuat Nabila terlonjak. Dia langsung mematikan kompor dan berlari ke arah sumber suara. Bodohnya dia, di ruang TV Ezra sudah tidak ada. Pasti anak kancilnya itu yang mengganggu si Harimau gila.
"Ada ap ....!"
Teriakan Nabila menggantung saat melihat penampilan Bara yang luar biasa panas. Laki-laki itu hanya menggunakan boxer. Oh ayolah, Nabila bisa melihat semuanya. Wanita itu buru-buru berbalik dan membanting pintu dengan kasar. Jantungnya berdegup sangat kencang. Tangannya bergetar, dan bibirnya masih terkatup rapat. Olahraga jantung macam apa ini. Kenapa Nabila malah terlihat seperti menikmatinya. "Astaghfirullah ... gak sengaja," lirih Nabila. Dia langsung menoleh ke arah pintu dan menendang pintu itu kasar. "Apa yang kalian lakukan?" teriak Nabila kesal. Wanita itu berdecak pinggang di depan pintu kamar menunggu kedua orang di dalam kamar keluar.
Ezra malah cengengesan. Anak itu hendak bersuara. Namun, Bara malah membekap mulutnya dan mendudukkan dia di tepian ranjang. "Dengar Ezra. Kau masih mau jadi anak Papa bukan?" tanya Bara menatap Ezra masih dengan tampilan awalnya. Bocah itu mengangguk antusias. "Kalau begitu, apapun yang terjadi di antara kita, jangan katakan semua itu sama Mama, oke!"
Lagi-lagi Ezra hanya mengangguk. Dia tersenyum lalu mengecup pipi Bara sekilas. "Maaf, Pa. Abis bulu ketek Papa lucu!"
Bara termangu, dia tidak bisa berkata-kata. Antara kesal dan ingin tertawa, entah mana yang harus dia dahulukan. Bocah itu mengatakan jika bulu ketiaknya lucu, tapi malah menarikannya dengan tidak beradab? Apa yang sebetulnya Ezra ingin sampaikan.
Kini, dua laki-laki itu berdiri di depan Nabila dengan kepala tertunduk. Bara sedang menahan senyum karena melihat semburat merah di pipi Nabila, dia menarik kerah piyama yang dia kenakan, sedikit mengintipnya untuk memuji apa yang ada di dalam sana, karena mereka telah berhasil membuat Nabila tersipu malu.
"Maaf, Tuan Bara. Mulai besok, kunci pintu kamar Anda. Saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali. Anda itu sudah melakukan pelecahan. Tidak baik melakukan hal seperti itu. Apalagi ini di depan anak kecil.
"Jangan panggil Ezla anak kecil, Mama!"
Anak itu kembali menunduk saat Nabila memelototinya.
"Saya juga mau mengatakan kalau mulai hari ini saya resmi menjadi asisten rumah tangga, Bapak."
Bara hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Dia berjalan mendekati meja makan, sudah banyak hidangan yang tersaji di sana.
"Kau memasak semua ini, Nabila?" tanya Bara masih tidak mengalihkan perhatiannya dari makanan-makanan itu.
__ADS_1
"Bapak, nanyaaakkk?"