Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
39. Kegilaan Bara


__ADS_3

Nabila memejamkan mata dalam gendongan suaminya. Jujur, dia teramat sangat malu, bahkan rasa sakit yang dia rasakan tidak terlalu berefek apa-apa dibandingkan dengan rasa malu yang dia hadapi saat ini. Sebisa mungkin Nabila menyembunyikan wajahnya di leher sang suami. Dia terus beristighfar untuk menetralkan gejolak amarah yang ada di hatinya.


Belasan dokter dan juga perawat memenuhi IGD rumah sakit tersebut. Salah satu dokter mulai memeriksa Nabila sedangkan yang lain ikut meninjau hasil pemeriksaan dokter sebelumnya. Bahkan pemeriksaan dalam sudah Nabila lakukan demi melihat kondisi lambungnya saat ini.


"Jadi bagaimana, Dok?" tanya Bara pada orang-orang ber jas putih di depannya.


Para dokter itu membungkuk lalu meminta ijin untuk membacakan hasil pemeriksaan. "Sebenarnya mungkin karena penanganan sebelumnya kurang baik, asam lambung istri Anda menjadi lebih mudah kambuh, kami akan berunding untuk memastikan obat apa yang harus kami gunakan. Tuan tidak perlu khawatir, istri Anda akan baik-baik saja. Ini bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Untuk sekarang, sebaiknya istri Anda dirawat beberapa hari di rumah sakit ini. Saya sudah memberikan obat untuk meredakan nyeri. Namun, takutnya bisa kambuh sewaktu-waktu."


Bara mengangguk mengiyakannya. Para perawat mendorong hospital bed yang Nabila pakai, sedangkan Bara, Durant dan para dokter mengikutinya dari belakang seraya membincangkan apa yang memang harus mereka bahas untuk menjaga kesehatan Nabila.


"Astaghfirullah! Orang-orang ini benar-benar sudah gila!" gumam Nabila. Wanita itu tidak berani untuk membuka mata karena dia terlalu malu. Dia bukan sakit parah, kenapa Bara harus seheboh ini. Bahkan, saat dia membuka matanya sedikit, dia bisa melihat jika saat ini hampir semua penghuni rumah sakit itu sedang memperhatikannya. Apa yang Durant dan Bara lakukan sampai semua orang tunduk padanya. Rumah sakit ini bukan rumah sakit biasa, rumah sakit terbaik dengan pelayanan dan juga biaya yang tidak murah.


"Kau sudah boleh membuka matamu!" titah Bara menatap Nabila seraya berpangku tangan. Wanita itu bukannya takut malah menatap Bara dengan tatapan tajamnya. Nabila hendak bergerak untuk duduk, akan tetapi rasa sakit itu kembali muncul, hingga Bara ikut Andil untuk membuat Nabila berada dalam posisi setengah duduk. "Jangan tunjukkan wajah garangmu! Saya tahu kalau kamu marah. Ini demi kebaikanmu bukan untuk orang lain."


Nabila mendengus. "Mas ... kenapa harus berlebihan seperti ini? Aku tidak apa-apa. Sebenarnya cukup bawa aku ke rumah sakit umum, dan aku hanya butuh obat dari mereka. Kenapa kau melakukan ini semua?"


"Karena kau istri saya!" tegas Bara. Singkat, nan padat. "Durant akan membawa makanan ke sini! Dan satu hal, saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi!"


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" sahut Bara. Dia beranjak dari pinggiran ranjang kemudian membuka jas yang dia kenakan, kancing yang ada di lengan kemejanya dia lepas dan menarik tangan kemeja itu sampai di bawah siku. Dua kancing teratas yang dia buka juga membuat tampilannya benar-benar sangat arghhhhhh ... belum lagi rambut tipis di dadanya itu, ya salam ... ini namanya adalah sugar daddy yang tersembunyi. "Kenapa?" tanya Bara kepada Nabila yang sedang menatapnya tanpa berkedip. "Kau masih sakit, Sayang! Saya janji, saya akan memberikan hak mu setelah kau sembuh!"

__ADS_1


Glek! Nabila menelan ludah susah payah. Bisikan yang suaminya lakukan mampu membuat Nabila melupakan apa yang sedang dia rasakan. Bisakah jika Bara tidak usah terlalu tampan seperti ini, kenapa Nabila merasa jika Bara selalu berlagak keren di depannya. Yang salah dia atau memang suaminya? Apa karena penyakit lambung yang dia derita mangkanya dia bisa memiliki gangguan pada mata.


"Bos!" panggil Durant! Nabila dan Bara menoleh. Laki-laki itu tersenyum, sedang Nabila, lagi-lagi dia dibuat melongo akan tingkah para lelaki gila ini. Durant membawa seorang pelayan, dan hebatnya, pelayan itu mendorong sebuah meja yang di atasnya sudah terdapat berbagai macam makanan; lauk pauk, buah-buahan, dan masih banyak yang lainnya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Nabila dengan wajah terkejutnya.


"Saya tidak tahu kamu suka apa. Jadi saya suruh Durant untuk meminta list makanan apa saja yang boleh kau makan sekarang. Namun, karena saya tidak tahu kamu sukanya apa, saya minta Durant menyiapkan semua ini. Kau mau makan apa?" tanya Bara dengan entengnya.


Nabila memijat pelipisnya yang terasa sakit dan berdenyut. Untuk beberapa saat Nabila hanya diam dengan mata terpejam. Dia lupa, bahwa saat ini, yang dia hadapi adalah seorang crazy rich yang otaknya juga ikut crazy ....


"Panggil Dokter, Durant!" titah Bara. Nabila langsung melotot saat mendengar suara itu.


"Siapa yang sakit?" tanya Nabila kebingungan.


"Astaghfirullah, Mas Bara ... saya tidak kenapa-napa. Saya hanya pusing melihat kalian yang seperti ini."


"Panggil dokter, Durant!"


"Satu langkah keluar dari pintu itu, maka aku tidak akan segan-segan untuk mematahkan kakimu, Durian!"


"Durant, Nyonya Bos!" jawab Durant membenarkan.

__ADS_1


Eissshhhhhh ... Nabila benar-benar dibuat dongkol saat ini. Dia sudah berusaha untuk tidak terpengaruh. Namun, jika setiap hari yang dia temui adalah Bara dan Durant, dia yakin, lambat laun, dia yang akan terkontaminasi.


"Mas!" panggil Nabila dengan suara lembutnya. Dia mencoba untuk berkomunikasi dengan cara yang halus agar suaminya ini bisa mengerti dan menerima apa yang dia katakan.


"Kenapa? Apa ada yang sakit lagi?" tanya Bara.


Nabila menggelengkan kepalanya. "Aku tahu Mas Bara itu orang yang sangat kaya. Uang Mas Bara banyak, akan tetapi, melakukan hal-hal seperti ini terlalu berlebihan, Mas tahu ... segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik," ucap Nabila. Bara, Durant, dan juga pelayan yang sedang berdiri itu hanya bisa menunduk. Mendengarkan apa yang Nabila katakan.


"Sekarang Mas lihat! Dari semua makanan ini, paling hanya beberapa yang bisa kita makan. Terus yang lainnya mau dikemanakan? Kalau Mas ikhlas makanan itu dibagikan ke orang-orang yang ada di sini, apa Mas ikhlas?"


"Lalu kamu bagaimana? Ini semua saya siapkan untuk kamu, Bila!"


Nabila tersenyum kecil. Dia menarik tangan suaminya, mengusap punggung tangan itu dengan usapan yang sangat lembut. "Tidak apa-apa. Kita ambil beberapa untuk kita makan, sisanya biar untuk orang lain saja. Bagaimana?"


Binar pada wajah Nabila membuat Bara tidak kuasa untuk menolak apa yang istrinya itu minta. Sebenarnya dia bisa melakukan lebih dari ini. Bara sudah cukup menahan diri, akan tetapi, masih terlihat berlebihan di mata istrinya.


"Terima kasih, Mas!" ujar Nabila. Wanita itu tersenyum saat melihat suaminya tidak berkutik. "Bagaimana caranya kalian bisa mendatangkan dokter sebanyak itu? Kenapa mereka sangat menurut?" Nabila benar-benar akan sangat penasaran jika dia tidak mendapatkan jawaban.


"Itu karena kekuasaan Bos Bara. Dia mengatakan jika dia akan mengakuisisi rumah sakit ini dan tidak akan menerima dokter dari Indonesia jika mereka semua tidak menurut!" ungkap Durant.


"What?" pekik Nabila dengan wajah cengonya.

__ADS_1


"Bos juga sudah memberikan pelajaran kepada orang tua murid yang sudah membuat Bos Kecil sedih!"


__ADS_2