Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
50. Maaf


__ADS_3

Bara terus bergerak gelisah ketika duduk di samping Eileria yang saat itu ada di sebuah ruangan private yang ada di klub malam ternama di kota itu Dia terus melirik arloji pada pergelangan tangannya. Bara yang berniat ingin menemani Eileria malah membuat wanita itu tidak nyaman. Hingga ... ketika Eileria ingin berbicara, suaranya tertahan karena Bara sudah lebih dulu mengangkat telpon dari seseorang.


"Kenapa Durant? Apa dia baik-baik saja?" tanya Bara gugup. Tadi dia sempat melihat Nabila keluar dari restoran tempatnya makan siang. Namun, saat dia ingin mencoba untuk menghubungi istrinya, Eil selalu mencegahnya dengan 1000 alasan yang wanita itu buat. "What?" kaget Bara seraya beranjak dari duduknya. "Panggil semua dokter terbaik di kota ini Durant, jika rumah sakit itu tidak bisa menangani Ezra, kita awa dia ke rumah sakit lain!"


Bara melangkahkan kakinya, hendak keluar dari ruangan akan tetapi kembali ditahan oleh Eileria. Bara sudah akan melepaskan genggaman tangan itu. Namun, Eileria menggelengkan kepalanya. "Aku ikut, Kak!"


Tanpa memberikan jawaban, Bara kembali melangkahkan kakinya, dia memang bodoh karena membiarkan Eileria menahannya terlalu lama. Sekarang, apa yang akan terjadi. Bagaimana jika istrinya marah dan tidak mau lagi bertemu dengannya.


"Kak ... tenang, semuanya akan baik-baik saja!" ucap Eil menengkan Bara seraya mengusap lengan laki-laki itu.


....

__ADS_1


"Sayang!" panggil Bara. Dia ingin memeluk Nabila, akan tetapi ditahan oleh wanita itu.


"Jangan menyentuhku, Mas! Kenapa kau ke sini, hmmm? Bukankah seharusnya kau masih bersama dengan wanita itu? Kenapa masih mengurus kami?"


Bara tidak langsung menjawab apa yang Nabila katakan. Dia memberikan isyarat kepada para dokter untuk membawa Ezra ke ruang pemeriksaan. Entah dari mana dia mendapatkan dokter-dokter itu. "Saya minta maaf, Honey! Saya akan menjelaskan semuanya!"


"Apa? Apa yang ingin Mas Bara jelaskan? Mas mau bilang kalau Mas masih mencintai wanita itu? Mas mau bilang kalau ucapan Mas kemarin itu hanya sebuah kesalahan. Sudahlah! Tinggalkan kami, Mas Bara. Sudah cukup kau mempermainkan kami seperti ini. Saya akan berusaha untuk membayar semua hutang saya. Tapi saya mohon," ucap Nabila menyatukan kedua tangan di depan Bara. "Ceraikan saya!"


"Tidak bisa. Saya tidak akan menceraikanmu. Sampai kapan pun, kamu akan menjadi istri saya. Saya tidak mau berpisah darimu. Ini hanya salah paham. Saya akan menjelaskan semuanya, Nabila. Please, dengarkan saya dulu!" Bara menyentuh kedua lengan istrinya, meremas lengan itu seolah lupa jika Nabila bisa saja kesakitan.


"Terserah Mas Bara saja!" ketus Nabila seraya mengusap bulir bening dari sudut matanya. Wanita cantik itu ingin keluar dari ruangan masih dengan kondisi yang memprihatinkan. Dia menyeret kakinya membuat Bara menyadari jika istrinya itu tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Sayang!" panggil Bara menarik lengan Nabila. Dia merengkuh tubuh itu. Mengabaikan Nabila yang meronta meminta untuk dilepaskan. Sungguh, bukan ini yang dia inginkan. Bara tidak bermaksud menyakiti Nabila. "Maafkan saya!"


Nabila tidak mengindahkan apa yang Bara katakan. Hatinya terlanjur sakit, dia tidak bisa menerima permintaan maaf Bara begitu saja. Bukan karena dia egois, tetapi karena dia hanya manusia biasa yang sudah sangat wajar jika sulit memafkan orang yang telah menyakiti perasaannya.


"Mas udah menghancurkan kepercayaan saya," ucap Nabila seraya memukul lengan suaminya. "Cukup Mas buat saya bingung, jika Mas Bara masih mencintai wanita itu, kenapa Mas masih menoleh ke arah saya. Tinggalkan saya. Saya tidak suka dikasihani dengan cara seperti ini. Jika Mas Bara menyesal menikahi wanita biasa seperti saya, lebih baik Mas mundur sekarang. Mungkin, akan mudah bagi saya untuk bersaing dengan wanita yang mencintai Mas Bara, tetapi, saya akan kalah dengan wanita yang Mas cintai. Itu sudah hukum alam," ungkap Nabila dengan tangis tertahan. Pukulan demi pukulan itu masih tidak berhenti. Dia lelah, sungguh! Memiliki pemikiran buruk juga kecurigaan adalah hal yang sangat mengganggu.


"Kita pisah aja, Mas!"


"No, no. Jangan katakan itu lagi. Saya mencintaimu, Nabila. Saya sudah mengatakan kalau saya mencintaimu. Jangan meminta berpisah dari saya. Saya janji, kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Saya benar-benar minta maaf."


Nabila tergelak cukup keras. Dia mendorong tubuh suaminya membuat pelukan mereka terlepas. Wajah cantik itu tersenyum. Dia membungkuk ke arah Bara yang mana itu membuat Bara mengerutkan keningnya bingung. "Terima kasih, Mas! Tapi saya tidak bisa menerima laki-laki yang mencintai dua wanita sekaligus! Kecuali, jika itu Ibu Anda!" ucap Nabila melirik ke arah Eileria yang sekarang sedang tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Nabila ... kamu!" gumam Bara tertahan.


__ADS_2