
Nabila masih terus berusaha untuk menahan tawa. Bisa-bisanya Bara mengira dirinya sedang bernyanyi. Apa mungkin, laki-laki ini memang belum pernah mendengar orang membaca Al-Qur'an. Atau, ini hanya akal-akalan dia saja. Namun, setelah memikirkannya, Bara sepertinya sangat tulus saat dia mengatakan jika dia menyukai apa yang Nabila lantunkan.
"Papa!" panggil Ezra pada Bara yang sedang berusaha untuk membuka cangkang udang.
Nabila tidak tinggal diam, dia mengambil sarung tangan plastik dan membukakan cangkang udang untuk kedua laki-laki yang ada di depannya.
Senyum di bibir Bara tersungging, jujur saja. Setelah sekian lama, baru kali ini Bara merasakan seperti kembali ke rumah. Jika dulu ada Eileria dan Nathan juga bocah kecil Alard, sekarang hanya ada Nabila, dia dan juga Ezra.
"Papa!" panggil Ezra lagi.
"What?" tanya Bara sedikit terkejut karena lamunannya terganggu.
"Papa, Ezla mau sekolah. Minggu depan, Ezla sudah akan belajal. Tapi ... Ezla mau Papa ikut antel Ezla juga. Boleh tidak?"
Bara kembali tersenyum, dia mengulurkan tangan, mengacak rambut Ezra seraya mengangguk. "Kau harus ingatkan papa, biar papa gak lupa!"
"Yes, Sil!" jawab Ezra seraya memberikan hormat kepada Bara.
"Jangan terlalu memanjakannya, Pak. Hubungan kita hanya hubungan kontrak," kata Nabila dalam bahasa Prancis. "Jangan memberikan harapan palsu untuk Ezra. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti segalanya. Saya mohon, jangan bebani dia dengan hal seperti ini!"
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Bara. Dia sama sekali tidak berniat untuk mempermainkan Ezra. Bara hanya ingin lebih dekat dengan anak laki-laki itu. Jika Nabila berpikir kalau dirinya hanya bermain-main, terserah saja.
"Saya sudah meminta ijin kepada suamimu!" kata Bara.
Uhukkk!
Ezra dengan sangat cekatan menyodorkan segelas air untuk ibunya. Sementara Bara, tangannya masih terambang di udara karena dia kalah satu langkah dari Ezra.
__ADS_1
"Bapak bilang apa?" tanya Nabila lagi.
"Saya sudah minta ijin kepada suami kamu. Jika tidak percaya, kau boleh melihatnya di ponsel saya. Password-nya adalah hari ulang tahun, saya."
Nabila memutar bola mata seraya menggeleng pelan. Siapa yang tahu tanggal kelahiran orang ini. Bara terlalu menyebalkan. "Kenapa Bapak mau menemui almarhum suami saya? Poin pertama sudah jelas. Meskipun Bapak melakukan 98 poin yang lainnya, percuma saja."
Suara kursi yang berderit terdengar saat Nabila beranjak dari duduknya. Dia ingin meninggalkan meja makan, tetapi Bara menahan pergelangan tangannya.
"Apa yang kau rencanakan? Saya sudah bilang saya akan memenuhi poin yang pertama. Kau yang mempersulit ini, Nabila. Saya sudah banyak mengalah tapi kamu selalu membuat semuanya sulit."
Nabila tergelak. Wanita itu menepis tangan Bara. Harus dengan cara apa Nabila menjelaskan semuanya. Nabila tidak berniat untuk mempersulit Bara, hanya saja, laki-laki ini tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan. "Sekarang, keluar dari rumah saya!" kata Nabila.
"Saya tidak mau," jawab Bara yakin.
"Kalau Bapak tidak mau keluar, biar saya yang keluar!"
"Ezra!" panggil Nabila seraya membesarkan matanya.
"Yes, Mam!" jawab Ezra santai.
"Kita pergi sekarang, Nak!" kata Nabila mengulurkan tangan meminta Ezra untuk meraih tangannya.
"Ezla lagi makan, Mama. Ezla juga gak mau pelgi sama Mama. Ezla gak mau ketemu sama Tante Beti. Udah, Mama aja yang pelgi. Ezla mau sama Papa aja."
Nabila melongo. Wanita itu melirik ke arah Bara yang sedang tersenyum. Oh sungguh, kali ini Bara sudah berhasil membuat Nabila mati kutu. 5 tahun yang dia habiskan untuk merawat Ezra kalah dengan beberapa Minggu yang Bara berikan.
"Baiklah, kalau Ezra gak mau pergi sama Mama, biar Mama aja yang pergi."
__ADS_1
Wanita itu melirik Ezra dengan ekor matanya, berharap jika sang anak berubah pikiran, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Ketika Nabila sampai di depan pintu pun Ezra sama sekali tidak terganggu. Ini benar-benar penghinaan.
"Ezraaaaaaa!" teriak Nabila. Wanita itu menghentakkan kakinya merasa kesal karena diabaikan. Dia langsung berlari ke arah kamar dan membanting pintu kamar itu kasar. "Mama merajuk, Ezra!" teriak Nabila dari dalam kamarnya.
"Bialkan saja, Pa. Mama memang seperlti itu. Wanita sangat melepotkan!" Kata Ezra membuat Bara tertawa cukup keras. Ezra benar-benar sangat lucu. Bara tidak salah karena menjadikan bocah ini sekutunya.
"Ezra!" panggil Bara.
"Yes, Papa!"
"Bagaimana caranya agar papa bisa menikah sama Mama kamu? Mama Nabila tidak mau menikahi papa karena papa tidak memiliki Tuhan. Apa papa harus mencari Tuhan dulu? Bagaimana caranya agar papa bisa bertemu dengan Tuhan kalian?"
Ezra menggelengkan kepala. Dia mengambil ponsel Bara kemudian meminta Bara untuk membuka ponsel itu. Meski agak kebingungan, Bara memberikan ponselnya pada anak kecil itu. Dengan jemari mungilnya, Ezra mengetikan sesuatu pada ponsel Bara kemudian memperlihatkan sesuatu yang ada di sana.
"Ezla gak tahu maksud Papa apa. Tapi, Pak Ustadz bisa bantu, Papa. Ezla seling dengel Pak Ustadz celamah. Papa tanya sama Ustadz ini ya ....!" tunjuk Ezra pada salah satu ustadz yang sering dia lihat di tv. Mamanya juga sering mendengarkan ustadz ini berceloteh.
Bara memperhatikan orang yang ada di layar ponselnya dengan seksama. Sesekali dia mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Papa tahu, terima kasih!" ucap Bara sembari mengusap kepala Ezra lembut.
....
Malam semakin larut, selarut perasaan Bara yang entah mau dibawa ke mana. Haruskah dia melakukan semua ini demi meniduri wanita itu? Bara menjadi sangat ragu. Mungkin awalnya dia memang hanya ingin memberi perhitungan kepada Nabila. Namun, saat melihat ketulusan wanita itu, Bara ragu. Banyak hal yang ingin dia tahu tentang Nabila. Bukan hanya sekedar data, tapi benar-benar tahu karena dia yang melihat semuanya sendiri.
Bara bangkit dari pembaringannya. Dia mulai membuka laptop dan mengetikan sesuatu di sana. Kalimat pertama yang Bara ketik di laptopnya adalah ... entah kenapa jantungnya berdegup kencang setelah melihat artikel yang ada di laptopnya tersebut. Untuk pertama kalinya Bara mencari sesuatu seperti ini. Slide ke dua membuat bibir itu tersenyum. Bara membaca setiap penjelasan yang ada dengan seksama. Detik, menit, dan jam sudah berlalu. Namun, Bara masih enggan untuk beranjak. Bahkan saat jam di atas meja sudah menunjukkan pukul 3 pagi, laki-laki itu masih enggan untuk beranjak. Rasa penasaran dan juga ketertarikannya pada apa yang dia baca membuatnya tidak ingin menutup laptop itu.
"Tujuannya berbuah, Nabila!" gumam Bara. Kalimat yang sangat ambigu ini keluar dari mulut seorang Bara. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Matanya terpejam, tangan besarnya terulur memijat pelipisnya.
Entah kemana arah tujuan laki-laki itu. Akankah dia berhenti meminta satu malam dari Nabila atau ... dia akan terus melanjutkan misinya?
__ADS_1