
Durant menggelengkan kepala saat melihat Bara berjalan dengan tergesa-gesa dari dalam mobilnya. Setelah hampir membuat seisi kantor serangan jantung, Bara dengan cueknya meninggalkan orang-orang itu tanpa balas kasih, yang keluar dari mulutnya hanya satu kalimat. "Setelah acara selesai, kalian akan saya beri libur satu hari." Tentu saja ini khusus untuk para karyawan yang ikut mengerjakan persiapan.
Tangan Bara mencoba untuk memencet bel, dia menunggu sang empunya membuka pintu tetapi pintu itu tak kunjung terbuka. Hingga, pada percobaan ke 3, barulah muncul seseorang dari arah dalam.
"Nabila di mana?" tanya Bara pada perawat Ezra.
"Nyonya, dia ...!"
Bara mengerutkan kening, laki-laki itu langsung menerobos masuk untuk mencari keberadaan wanitanya. "Nabila! Ezra!" teriak Bara, dia berjalan menuju kamar Nabila, tetapi saat ingin membuka pintu kamar itu, dia mengurungkan niat, Bara hanya bisa mengetuk pintu itu beberapa kali. "Ezra!"
"Papa!" gumam Ezra saat melihat laki-laki jangkung di depannya. Bara berjongkok, dia memegang kedua bahu Ezra kemudian tersenyum.
"Mama mana?" tanya Bara.
"Mama sakit, Pa. Dia tadi pingsan!"
"What? Bagaimana bisa? Bukankah tadi masih baik-baik saja? Bolehkah Papa masuk?"
Ezra mengangguk. Tumben sekali papanya ini meminta ijin. Biasanya juga langsung ngeloyor tanpa mengucapakan apa pun.
"Nabila!" gumam Bara saat melihat wanita itu berbaring dengan mata terpejam. Bara duduk di tepian ranjang, tetapi Nabila malah memunggunginya. "Nabila, kau kenapa?" tanya Bara lagi. "Kalau kau sakit, kita ke rumah sakit sekarang!"
"Tidak usah, saya baik-baik saja!" jawab Nabila ketus.
Bara mengepalkan kedua tangannya. Dalam kondisi seperti ini Nabila masih bersikap keras kepala. Jika Bara tidak ingat pada niat awalnya, mungkin saat ini dia benar-benar akan membuat perhitungan dengan wanita di depannya.
"Durant!" panggil Bara pada asistennya. "Panggilkan dokter wanita!"
"Baik, Bos!"
Bara kembali menghampiri Ezra dan berjongkok di depan bocah itu. "Ezra, Mama sudah makan belum?"
__ADS_1
Ezra menggelengkan kepala. "Mama bilang mama gak nafsu makan, Pa!"
Bara mengangguk mengerti. "Mbak, tolong siapkan bahan - bahan untuk membuat bubur. Nanti biar saya saja yang buat!"
Baik Ezra, Durant dan juga perawat Ezra melongo. Apa mungkin pria menyeramkan ini bisa memasak, kenapa dia tiba-tiba ingin membuat bubur. Karena penasaran, mereka terus memperhatikan Bara yang sedang berkutat di dapur, laki-laki itu sudah melepas jas, juga dasinya. Lengan kemejanya dia gulung sampai ke siku. Sambil melihat resep yang ada di tab-nya, Bara pun mulai memasak bubur itu.
"Apa Papa benal-benal bisa masak, Om?" tanya Ezra pada Durant. Laki-laki itu menggelengkan kepala.
"Om tidak tahu. Mungkin bisa, mungkin juga enggak."
"Eishhhhhhh ... Om itu bagaimana. Om kan temannya Papa. Masa enggak tahu!"
"Aku tidak melahirkannya, Ezra!"
"Ezla ndak bilang kayak gitu. Ezla tahu, yang bisa melahilkan itu, Mama, bukan Papa. Om itu lada oon," kata Ezra membuat Durant menahan napas dengan wajah melongo. Sementara perawat Ezra, dia sudah hampir menyemburkan air liurnya karena sudah tidak kuat menahan tawa.
Suara bel terdengar, Bara buru-buru meminta Durant untuk membuka pintu dan Marlina untuk membantunya menjaga bubur yang sedang dia buat. Durant menunggu Bara di luar pintu kamar calon majikannya. Sementara Bara dan Ezra mengikuti dokter wanita yang masuk ke kamar Nabila.
"Jadi bagaimana, Dok?" tanya Bara kepada dokter itu dengan suara tegasnya. Sang dokter bukannya menjawab malah terlihat takut.
"Jangan malah-malah, Pah. Bu doktelnya takut."
Ahhh, Bara mengangguk, dia sudah terbiasa berbicara dengan nada seperti itu. Mungkin memang hanya dia yang terbiasa. "Maaf, Dok. Bagaimana keadaan Nabila?" tanya Bara lagi dengan suara yang lebih bersahabat.
Dokter itu tersenyum. "Bu Nabila tidak apa-apa. Beliau hanya kecapean. Seperti apa yang Bu Nabila terbangkan, gula darahnya rendah karena beliau tidak makan tepat waktu. Jika Bu Nabila mau, saya akan memberikan infus vitamin."
Nabila menggelengkan kepala. Dia tidak nafsu makan bukan karena apa-apa. Mungkin ini hanya efek dari kemarahannya yang sulit untuk hilang.
"Jika seperti itu, sebaiknya Ibu minum sesuatu yang manis dulu, setelahnya baru makan. Insyaallah, Ibu baik-baik saja!"
"Saya sudah minum teh manis, Dok."
__ADS_1
Bara bernapas lega saat mendengar penuturan dari dokter. "Ezra, Sayang! Bisa antar Bu Dokter keluar, Nak?" pinta Bara kepada bocah kecil itu.
"Siap, Bos! Jangan buat Mama malah lagi, ya!"
Bara mengangguk. Sementara Ezra, bocah itu menarik tangan sang dokter keluar dari kamar ibunya. "Ayok Bu Dokter cantik. Bialkan meleka bicala dulu!"
Dokter itu tersenyum, anak kecil ini benar-benar sangat lucu. Bahkan meskipun dia masih belum fasih dalam mengucapakan huruf R, bukannya mengganggu, itu malah membuatnya terdengar semakin menggemaskan.
"Nabila! ...." Bara kembali duduk di pinggiran ranjang. "Saya tahu kamu marah, saya minta maaf. Saya gak bermaksud untuk melecehkan mu. Saat itu, saya hanya terbawa suasana. Saya janji, saya tidak akan menyentuh mu lagi. Saya tidak akan meminta mu melakukan hal-hal yang membuatmu tidak nyaman. Mulai sekarang, saya akan mengurus diri saya sendiri, memakai dasi saya sendiri, juga tidak akan memintamu untuk memulihkan setelan."
Nabila menahan senyum mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut laki-laki itu. Ini adalah kalimat terpanjang yang pernah Nabila dengar.
"Nabila, saya sedang memasak bubur, saya akan mengambilnya. Kau tunggu sebentar!"
Tangan Nabila melayang di udara saat hendak melarang Bara, tetapi laki-laki itu sudah hilang di balik pintu. Wanita itu mengembuskan napas kasar, dia tidak sakit, Bara seharusnya tidak melakukan hal-hal seperti ini.
Beberapa menit kemudian, laki-laki itu kembali dengan nampan di tangannya. Beruntung, dia hanya membuat bubur sedikit, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu bubur itu matang.
"Duduklah!" kata Bara. Nabila hanya menurut, dia ingin menolak, tetapi dia sungkan, laki-laki ini adalah bosnya. Apakah wajar seorang bos melakukan hal seperti ini pada pekerjanya? Nabila memperhatikan Bara dengan seksama. Cara orang itu meniup bubur, bahkan alis yang tertaut pun membuat Nabila kagum.
"Jangan di tiup!" ingat Nabila.
"Kenapa?" tanya Bara yang memang tidak tahu.
Nabila hanya menggelengkan kepalanya. "Ada kipas portabel di dalam laci, pakailah itu!"
Bara mengangguk mengerti, dia melakukan kegiatan itu sampai dirasanya bubur yang dia pegang sudah cukup hangat. "Aaa, buka mulutmu!" titah Bara seraya menyodorkan sendok di depan bibir Nabila.
Tentu saja Nabila membuka mulutnya. Namun, saat sendok kedua muncul, Nabila menahan sendok itu. "Pak, saya tidak tahu, Bapak bersikap baik seperti ini kepada saya karena apa. Saya mohon, jangan membuat saya bingung. Jangan melakukan sesuatu yang bisa membuat saya salah paham. Saya tidak ingin membuka buku yang sama dua kali."
"Yah ... meleka belantem ya, Om, Mbak?" tanya Ezra setelah menutup pintu kamar ibunya.
__ADS_1
Durant dan Marlina menggelengkan kepala dengan kedua bahu yang mereka turunkan. Lesu, tentu saja, tadi mereka sudah berpikir akan ada bibit-bibit cinta yang muncul antara Nabila dan Bara. Ternyata mereka salah. Nabila malah meminta Bara untuk menjauh.
"Wes, angel ini mah!" kata Marlina seraya menggelengkan kepalanya pelan.