
Marlina terisak di dalam sebuah kamar yang ukurannya tidak lah besar, hanya muat untuk satu kasur single dengan ranjang yang dibawahnya terdapat laci-laci untuk menaruh pakaiannya. Wanita itu membenamkan wajahnya di bawah kasur. Sungguh, ini bukan hal yang mudah baginya. Kenapa ibunya harus meminta dia untuk menikah dengan laki-laki seperti itu. Apa salahnya hingga dia selalu diperlakukan tidak adil. Dia sudah cukup putus asa karena tidak pernah dihargai. Dan sekarang, ibunya malah meminta dia untuk menikah dengan laki-laki tua Bangka yang sudah pernah menikah 7 kali dan sudah memiliki 11 anak. Istri yang masih bertahan hanya 3 orang karena yang lainnya banyak yang tidak sanggup melihat kegilaan Juragan Sukamat.
"Ibu ... Marlina mungkin hanya anak buangan bagi, Ibu. Tapi Marlina sayang sama Ibu. Jangan meminta hal seperti ini, Bu! Marlina tidak sanggup!" lirihnya dengan air mata yang tidak bisa dia bendung. Dia masih terus menangis, sampai pada akhirnya dia terlelap karena terlalu lelah mengeluarkan air mata tetapi, tidak bisa mengeluarkan semua beban hatinya.
....
"Mas!" gumam Nabila saat sepasang tangan melingkar di atas perutnya yang rata. Dia merasa sangat geli karena ulah suaminya itu. Brewok dan kumis suaminya mengenai lehernya. Tentu saja Nabila tidak tahan. "Mas, stop! Geli ikh!"
Bukannya berhenti, Bara malah semakin gencar mengendus leher jenjang sang istri. Ya, Nabila ini cukup tinggi untuk ukuran tinggi orang Indonesia, tetapi untuk Bara, Nabila masih terlalu mungil. Dia yang memiliki tinggi badan hampir 190cm agak kesulitan untuk menyesuaikan diri.
"Lagi apa, kenapa sudah sibuk subuh-subuh begini!" tanya Bara masih enggan untuk melepaskan pelukannya. Dia mengikuti Nabila, kemanapun istrinya itu bergerak.
"Hari ini aku mau kerja lagi. Nyiapin sarapan agak pagi biar gak keteteran!"
Bara yang mendengar itu langsung melepaskan pelukannya. Dia mematikan kompor kemudian melihat tangan sang istri yang masih terluka. "Ini ... saya hampir lupa kalau kamu masih terluka. Kenapa sudah mau bekerja? Apa uang yang saya berikan tidak cukup?"
__ADS_1
Nabila mengerutkan kening. Uang? Uang apa yang suaminya ini maksud.
"Saya sudah membuatkan rekening khusus untukmu. Ada di dalam laci. Apa kau tidak melihatnya?" tanya Bara ringan. Dia mengambil sepatula dari tangan kiri Nabila dan membiarkan istri cantiknya itu masuk ke kamar mereka. Bara kembali teringat akan hafalan yang Nabila berikan padanya. Juga apa-apa yang Ustadz Faisal katakan tentang beberapa hal yang harus dia pelajari.
Brakkk!
Nabila menaruh beberapa buku rekening dan juga kartu kredit di sana. Mulai dari black card, gold, silver, hampir semuanya ada. Apa yang sedang suaminya lakukan.
"Ini apa, Mas Bara?" tanya Nabila seraya berdecak pinggang. Bukannya terganggu, Bara malah menyunggingkan senyum ketika melihat bando kelinci yang ada di atas kepala istrinya. "Mas ikh, jawab dong!"
"Terus, yang satu lagi buat apa?" tanya Nabila seolah penasaran tapi sebenarnya dia hanya ingin memojokkan suaminya.
"Untuk bayar tagihan, biaya pemeliharaan dan yang lain. Masalah pajak mobil dan yang lain-lain akan Durant urus!"
Nabila terbengong mendengar apa yang suaminya katakan. Oh sungguh, ini tidak bisa dia abaikan. Bara keterlaluan. "Mas, kenapa tidak untuk kau investasikan aja uangnya?"
__ADS_1
"Saya juga sedang berinvestasi!"
"What?"
Bara mengangguk. Dia mematikan kompor yang tadi dia hidupkan lagi, kemudian berjalan mengitari meja dan menuntun istrinya untuk duduk di sofa. Tidak, hanya dia yang duduk di sofa, sedangkan Nabila dia dudukan di atas pangkuannya.
"Kata Ustadz Faisal, memberikan uang, dan merawat istri adalah bentuk investasi terbaik. Beliau mengatakan, jika kamu adalah orang yang akan selalu ada di sisi saya. Di setiap saya bangun tidur, pulang bekerja, saat saya lelah, cuma kamu yang akan ada untuk saya!" ujar Bara seraya mengelus wajah istrinya. "Ustad Faisal punl bilang, saya harus bisa merawat istri saya dengan baik. Membuat mu selalu tersenyum dan merasa jadi wanita paling dicintai. Suksesnya seorang laki-laki tidak hanya dilihat dari materi. Jika istri saya tidak bahagia, maka saya termasuk laki-laki yang gagal!" ucap Bara ditutup dengan mengecup bibir istrinya sekilas.
"Mas Bara!" gumam Nabila dengan mata berkaca-kaca. Dia memeluk leher suaminya. Mendekap suaminya itu dengan pelukan yang sangat erat. Bara bergeming. Dia ingin mengusap punggung Nabila karena perasaan itu kembali muncul.
"Sayang!" gumam Bara dengan suara seraknnya. Dia menggeser tubuhnya kemudian mendorong tubuh Nabila sampai wanita itu terbaring dengan kepala di atas sofa. "Kau tidak mengenakannya!" tanya Bara melirik ke amarah bawah. Sepasang mata Nabila membulat dengan sempurna. Dia menyikangkan kedua tangannya di depan dada.
"Sebenarnya, aku gak nyaman kalau harus pakai itu, Mas!" ucapnya malu. Baru hari ini Nabila berani berkeliaran di dalam rumah tanpa mengenakan 'itu'. Nabila meringis ketika melihat jakun suaminya naik turun untuk beberapa kali. Apa dia sudah membangunkan singa tidur? Tapi kenapa? Apa karena dia tidak memakai kaca mata kuda.
"Nabila kau ...!" geram Bara dengan suara tertahan. Laki-laki itu beranjak dengan wajah kacau. Kenapa akhir-akhir ini Nabila sering menyiksanya. Apa salah dia. "Saya yang akan membuka pintu!" ketus Bara sambil berlalu. "Bajingan mana yang mengganggu orang subuh-subuh begini. Apa orang ini bosan hidup!" ketus Bara. Dia terus menggerutu dengan helaan napas yang tak ada hentinya.
__ADS_1