
Laki-laki itu berjalan mendekati ranjangnya, menyelipkan tangannya di bawah bantal kemudian menarik sesuatu dari sana. Masih tidak ada ekspresi. Wajah kelam dengan sorot mata iblisnya membuat laki-laki itu terlihat sangat berbeda dari biasanya. Semua batasan itu hilang, Bara yang mulai berubah menjadi lebih hangat, kini terlihat kembali seperti Bara di masa lalu.
"Keluar!" titah Bara dengan suara khasnya. "Keluar atau aku pecahkan kepalamu sekarang juga." Selongsong pistol itu bara elus layaknya dia yang sedang mengelus sekor anak kucing. Bibirnya tersenyum menyeringai ketika melihat langkah kaki yang mulai mendekat ke arahnya. Derap langkah yang semakin lama semakin mendekat tak lantas membuat Bara gugup.
Suite room yang awalnya terlihat biasa saja kini terasa semakin mencekam. Dua orang yang saling menodongkan pistol pada kening satu sama lain membuat atmosfer di sekitar orang-orang itu terasa begitu mencekam. Tatapan mata keduanya seolah mengisyaratkan kebencian. Ada dendam dan juga kemarahan di sana. Namun, Bara masih tidak bisa melihat wajah orang ini karena dia menggunakan topeng yang hanya memperlihatkan setengah wajah dan bola matanya saja.
"Siapa yang mengutus mu!" geram Bara melangkahkan kakinya, dia mulai berputar hingga, laki-laki yang ada di depannya pun melakukan hal yang sama. "Apa kau tidak ingin menjawab!" Bara tersenyum menyeringai. Dia menarik pelatuknya perlahan, terlihat dengan sangat jelas jika netra di depannya mulai memutar melihat ke sudut lain.
Dor!
Dor!
Satu tembakan Bara berikan di bahu orang yang tadi bersembunyi di balik tirai kamar itu, dan satu lagi dia tembakkan di bahu orang yang ada di depannya hingga senjata yang orang itu pegang, jatuh ke lantai.
Bughhhhh!
__ADS_1
Pukulan yang Bara berikan menggunakan punggung pistolnya menciptakan luka di kening orang tersebut. Namun, saat Bara menghajar orang itu membabi-buta, orang itu hanya diam. Kembali, Bara menarik dirinya dengan senyum sinis. "Tuan mu sengaja mengiri mu agar aku membunuhmu, bukan?" tanya Bara. Detik berikutnya dia tergelak, dia paham apa yang orang ini inginkan darinya. Para amatiran ini ingin Bara mengotori tangannya dan mereka ingin membuatnya terlihat buruk di depan banyak orang.
Tanpa Bara sadari, satu orang yang tadi mendapatkan tembakan darinya kembali meraih pistol dari atas lantai dan mengarahkan pistol itu ke belakang punggung sebelah kiri Bara. Senyum yang laki-laki itu tunjukan benar-benar senyum iblis.
"Mati saja kau, bajingan!"
Dor!
Suara tembakan itu terdengar lebih nyaring. Ini berbeda dengan suara pistol yang sebelumnya. Darah mulai mengalir, membanjiri lantai mengkilap di kamar tersebut. Bau anyir dan warna merah menyala itu meninggalkan kesan yang amat luar biasa menyedihkan.
...----------------...
Wanita cantik itu terengah-engah setelah seseorang mengguyur wajahnya dengan satu ember air es. Tubuhnya menggigil, belum lagi dia ruangan itu sepertinya suhu ruangan sengaja diturunkan cukup ekstrim untuk menyiksa Nabila. Jantungnya berdegup sangat kencang ketika seseorang muncul dari kegelapan. Orang dengan perawakan tinggi besar itu mendekat ke arah Nabila dan langsung mencengkeram rahangnya dengan kuat.
"Siapa kau!" sarkas Nabila menatap orang di depannya dengan tatapan menelisik. Topeng yang dikenakan orang ini membuat Nabila tidak bisa melihatnya dengan jelas. Hanya bola mata dan postur tubuh yang bisa dia lihat. "Dengar, kau mungkin salah orang. Aku tidak memiliki masalah dengan siapa pun!" ucap Nabila susah payah. Cengkraman di rahangnya itu semakin kuat, mungkin jika bisa, orang ini ingin menghancurkan rahangnya dalam satu kali remasan.
__ADS_1
"Kesalahanmu?" tanya orang itu dengan suara tawa yang sangat kencang. Dia tergelak seraya menepis wajah Nabila dengan tidak beradab. "Kesalahanmu hanya satu. Kau!" tunjuk orang itu didepan wajah Nabila. "Kau adalah wanitanya laki-laki brengsek itu!" geramnya dengan suara tawa yang semakin menghilang.
"Bara?" ulang Nabila seolah mengerti kemana arah pembicaraan mereka.
"Hmmm ... kau ternyata sangat cerdas!" puji orang tersebut. Nabila tersenyum kecut. Siapa bajingan gila yang sudah berani melakukan hal-hal seperti ini, apa dia tidak takut pada hukum? Bibir Nabila bergetar, suhu tubuhnya semakin dingin dan kakinya mulai mati rasa.
"Kau kedinginan, Jalan*!" ujarnya tersenyum menyeringai. Dia mulai mendekat ke arah Nabila dan ....
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi wanita cantik itu. "Ini akan membuatmu merasa lebih hangat!" ujarnya tergelak. "Tapi aku rasa itu belum cukup!"
Plak!
Nabila meringis, merasakan sakit dan perih di saat bersamaan. Sudut bibirnya mulai mengeluarkan darah, pipinya berdenyut dengan jantung yang berdegup sangat kencang. Wanita itu berusaha menahan diri untuk tidak menangis meskipun dia sangat ingin. Kening Nabila mengkerut saat mendengar orang di depannya tertawa semakin kencang. Bak orang gila yang kesetanan, dia kembali menampar wajahnya sampai dia tidak bisa menahan sakit itu lagi hingga Nabila memejamkan mata dengan tubuh yang terkulai lemas, hanya ikatan di tubuhnya yang menyangga tubuh itu hingga tubuhnya tidak jatuh dari atas kursi tersebut.
__ADS_1
"Mas ... semoga kau baik-baik saja!" batin Nabila berbicara sebelum dia benar-benar kehilangan kesadarannya.
"Masukan dia ke dalam air itu!" ucap laki-laki bertopeng pada orang-orang suruhannya. Mereka mengangkat Nabila yang masih terikat di kursinya kemudian memasukkannya ke dalam sebuah kotak kaca besar yang mereka isi dengan air. Perlahan, kotak kaca itu mulai tergenang, air itu semakin naik, semakin lama kaki Nabila semakin tenggelam dan mungkin dalam beberapa menit, seluruh tubuh wanita ini akan ada di dalam air.