
"Astaghfirullah!" .... Wanita itu membenamkan wajahnya di atas meja kerja. Kenapa dia tidak bisa melupakan apa yang Bara lakukan. Sikap suaminya itu, dia yang membiarkan wanita lain menyentuhnya. Nabila tidak suka. Baru kemarin siang Bara mengatakan cinta padanya. Apakah semudah itu cinta yang dia miliki menguap. Kenapa harus mengumbar cinta dengan mudah jika dia tidak bisa menjaga perasaan orang lain. Nabila sudah akan mempercayai suaminya itu, dan sekarang dia sudah dikecewakan. Bukan satu dua kali, akan tetapi ....
Tok! Tok! Tok!
Nabila mendongak, menatap orang yang ada di sampingnya dengan bibir mengerucut.
"Kenapa? Ada yang membuatmu marah?" tanya Maurin menepuk punggung Nabila pelan. Wanita yang ditanyai itu menggelengkan kepalanya. Dia duduk tegak kemudian menghembuskan napas berat.
"Semuanya baik-baik saja. Kita mau makan siang 'kan!" kata Nabila seolah mengerti akan kedatangan sahabatnya.
"Hmmm ... aku ingin makan di restoran yang ada di sebrang. Boleh ya!" minta Maurin dengan mata berbinar. Nabila mengangguk pelan, dia mengambil ponsel dan juga tasnya kemudian beranjak.
"Yok! Bentar lagi, Adzan. Mau ke mushola bareng, gak?"
"Hehehe ...!" Maurin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kamu duluan aja kalau gitu, nanti aku nyusul ke mushola!"
Nabila menggelengkan kepala. Dia menepuk lengan Maurin cukup keras, kemudian keluar dari ruangan itu.
....
"Gimana? Enak gak?" tanya Nabila seraya tersenyum. Maurin terlihat sangat menikmati makan siangnya. Padahal, Nabila sangat yakin jika wanita di depannya ini sudah sering makan hidangan yang sangat enak.
"Eummm ... ini benar-benar lezat, Bil. Kamu tahu, aku seperti hidup kembali."
__ADS_1
Nabila terkekeh. Dia ikut menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, mata itu kembali bergerak, melihat ponselnya yang masih belum menunjukan apa pun. Tidak ada pesan yang suaminya kirim. Apakah Bara benar-benar sangat sibuk. Astaghfirullah ... lagi-lagi Nabila sangat ingin mengumpat.
"Wuah ... kalian juga ada di sini! Bolehkah aku ikut duduk," ucap seseorang. Maurin dan laki-laki itu saling menatap saat tidak sahutan apa pun dari Nabila. Wanita itu sepertinya masih sibuk dengan pemikirannya yang sedang berkelana entah ke mana.
"Bila!" panggil Maurin seraya mengguncang tangan sahabatnya.
"Hah? Kenapa?"
"Eishhh ... kenapa malah melamun. Pak Fino, dia mau ikut gabung bareng kita. Boleh enggak?"
"Akh, maaf, tadi saya tidak mendengar, Pak! Silahkan saja!" ucap Nabila. Baru akan menyuapkan kembali makan siangnya. Wanita itu melihat sepasang kecoak masuk melewati pintu kaca restoran tersebut. Nabila bisa melihat semuanya dengan jelas. Senyum di wajah suaminya, juga ekspresi bahagia yang ditunjukkan oleh laki-laki itu.
"Kak ... aku sangat suka membantumu seperti ini, kau tahu, selain kembali bernostalgia, aku bisa liburan, menghilangkan penat untuk sementara waktu!"
Bara mengusap kepala wanita di depannya dengan usapan yang sangat lembut. "Jangan berkelahi terus. Kasihan Karl. Kalian itu seharusnya saling mengalah. Bukankah kalian saling mencintai?" tanya Bara. Dia menatap Eileria dengan tatapan penuh kasih sayang.
Bagai di hantam batu besar, Nabila tercekat saat dia tidak sengaja mendengar kalimat terakhir yang wanita itu katakan. Bisa-bisanya Bara melakukan semua ini setelah dia merenggut semua yang dia miliki, harta, kasih sayang Ezra, kehormatannya.
"Apa itu kekasihnya, Tuan Bara?" tanya Fino seolah mengerti kemana arah pandang wanita yang ada di sampingnya. Nabila hanya tersenyum, sedangkan Maurin, dia berbalik melihat ke arah yang di tatap Nabila.
"Mereka sangat cocok, menurutku. Wanita itu sangat cantik, sepertinya dia juga bukan wanita sembarangan! Tubuhnya, wajahnya, dari cara dia duduk pun, sudah bisa dipastikan kalau dia adalah wanita dari kelas atas!"
Fino mengangguk anggukan kepalanya. "Dia baru datang dari Prancis, katanya sih, sedang membantu krisis di perusahaan. Jika seperti ini, mereka memang pasangan yang cocok karena bisa melengkapi satu sama lain."
__ADS_1
Wanita yang tadi menatap Bara dan wanita itu mulai menunduk, sekuat tenaga dia menahan amarah yang ada dalam hatinya. "Istighfar, Nabila!" Wanita itu membatin.
"Gimana menurutmu, Bil?" tanya Maurin menaikan satu alisnya.
Senyum simpul tersungging di bibir Nabila. Dia mengangguk seraya menyeka bulir bening yang keluar dari sudut matanya. "Hmmm ... mereka pasangan yang sangat cocok. Semua orang pasti akan iri jika melihat mereka berdampingan seperti ini!"
"Termasuk lo!" celetuk Maurin dibarengi tawa. "Emmm ... sorry, aku cuma bercanda, Bil!"
Nabila tergelak kecil, apa yang dikatakan oleh Maurin memang benar, dia iri, sangat iri karena nasibnya tidak semujur nasib wanita itu. Cara Bara bersikap dan memperhatikan wanitanya, benar-benar sangat berbeda dengan saat Bara memperlakukannya.
Kriettt!
Derit meja yang tidak sengaja bergeser karena ulah Nabila membuat hampir semua pelanggan di restoran tersebut menatap ke arahnya. Nabila tersenyum meski dengan senyum yang dipaksakan. Dia membungkuk meminta maaf karena suara ribut yang dia timbulkan.
"Aku harus pergi, Rin. Aku lupa kalau aku harus memberikan laporan, kapan-kapan kita makan bareng lagi, ya! Aku harus pergi sekarang!" Nabila menaruh lembaran uang di atas meja. "Hari ini aku yang traktir!"
"Ekh, Bila!" panggil Maurin. Dia terlambat karena sahabatnya itu sudah berlalu dari sana.
"Dia kenapa?" tanya Fino heran.
Maurin mengangkat kedua bahunya acuh. Dia juga tidak tahu, jadi dia tidak bisa memberikan jawaban.
"Nabila!" gumam Bara saat melihat istrinya berjalan keluar dari restoran. Dia ingin beranjak, namun Eileria menahan tangannya.
__ADS_1
"Aku akan kembali besok pagi. Bisakah tetap bersamaku malam ini?" tanya Eileria dengan wajah sendu. Dia memiliki alasan kenapa dia jauh-jauh datang ke Indonesia meskipun sebenarnya dia bisa membantu Bara dari jarak yang sangat jauh. Dia sedang membutuhkan hiburan sebelum dia kembali ke rumahnya.
"Please ....!" mohon nya lagi.