
"Maksud Bapak apa? Saya punya rambut, kenapa Bapak nuduh saya botak?" tanya Nabila tidak terima dengan perkataan suaminya.
"Ya bukan salah saya, kata Ustadz Faisal, kalau kamu sudah jadi istri saya, saya sudah boleh nyentuh kamu, dan kamu sudah mejadi milik saya. Saya boleh melakukan apa yang saya mau, termasuk melihat tubuh kamu. Ya kepala kamu juga, saya pikir kamu malu karena botak dan gak mau memperlihatkan kepala kamu itu sama saya."
Nabila terbengong di tempatnya. Selain kata botak, ada hal lain yang Nabila garis bawahi. "Maaf, Pak. Saya belum siap, tolong beri saya waktu, besok malam, saya janji besok malam saya akan mempersiapkan diri." Wanita itu tidak memiliki pilihan lain, lebih cepat dia memberikan apa yang Bara minta, maka lebih cepat pula dia bisa terlepas dari jeratan laki-laki di sampingnya ini.
"Baiklah, tidak perlu buru-buru."
"Saya masih memiliki banyak waktu," batin Bara berbicara.
Nabila mengangguk, dia kembali berbaring dengan gerakan yang sangat pelan. Namun, kedua tangannya tiba-tiba tersilang di depan dada saat Bara mencondongkan tubuhnya hingga dia bisa menghirup wangi maskulin dari tubuh laki-laki di atasnya itu.
"Saya cuma mau matiin lampu," ujar Bara dengan senyum tipis. Apa dia benar-benar sangat menyeramkan sampai Nabila begitu takutan dia sentuh. "Satu hal lagi, perusahaan sedang membuka lowongan untuk posisi direktur pemasaran. Kau bisa mencoba bekerja di perusahaan saya lagi. Itupun jika kamu mau."
Nabila mendongak, dia menatap mata Bara yang kini ada di atasnya. Benarkah apa yang dia dengar? Dia bisa kembali bekerja seperti dulu, bahkan diberikan kesempatan yang sama seperti dulu? "Pak, Bara ...!"
"Tidurlah! Saya harus bangun pagi."
Nabila tersenyum setelah Bara berbaring di sampingnya. Dia menggenggam selimut sangat kencang. Nabila tidak bisa melepaskan kesempatan seperti ini. Meskipun dia sempat vakum selama 5 tahun, menjadi wanita karir masih menjadi hal yang sangat dia impikan. "Terima kasih, Pak!" gumam Nabila dalam hati.
....
"Sekarang yang akan mengantar Ezra adalah, Papa. Tapi pulang di jemput Mama. Gak papa 'kan?"
Bocah kecil itu mengangguk antusias. Dia tentu tidak mempermasalahkan hal itu. Meskipun Bara sudah membuatnya kecewa satu kali, tapi kalau dia bisa lebih baik, Ezra akan menerimanya. Lagipula Bara sekarang sudah menjadi miliknya, bukan?
"Masuklah!" titah Bara mendorong bahu Ezra untuk menemui teman-temanya yang lain.
Guru di sekolah Ezra itu tidak bisa melepaskan tatapan matanya dari sosok tinggi tegap yang baru saja mengangguk ke arahnya. Langkah kaki Bara sudah seperti model yang berjalan di atas catwalk. Pesona sugar Daddy benar-benar membuat guru tersebut dan para ibu muda di sana terbengong.
"Itu papanya Ezra?" tanya guru wanita pada bocah kecil itu.
"Iya ... itu Papa Bala, papanya Ezla Bu Gulu cantik. Bu Gulu suka sama Papa?"
Guru wanita itu menelan saliva susah payah. Dia menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kikuk. "Ezra main sama temennya ya," titah guru itu.
"Baik Bu Gulu," Ezra mengecup pipi guru itu sekilas kemudian berlari kecil seolah tahu jika dia sudah mencuri sesuatu dari guru wanitanya itu.
__ADS_1
"Eishhhhhhh, dasar bocah!"
....
"Apa kau sudah melakukan apa yang saya minta, Durant?"
"Sudah, Bos. Barangnya akan dikirim sekarang."
Bara mengangguk. Laki-laki itu menatap ke luar kaca mobilnya, senyum simpul tersungging di atas bibir itu. Nabila sudah ada di genggaman, wanita itu akan menjadi miliknya. Bara tidak akan pernah melepaskan wanita itu, sampai kapanpun.
....
"Siapa?" tanya Nabila saat membuka pintu apartemennya.
"Selamat pagi, Nyonya. Saya adalah pegawai di perusahaan Tuan Bara. Beliau meminta saya untuk mengantarkan ini," ucapnya menyodorkan benda kecil yang Nabila tahu jika itu adalah sebuah kunci mobil.
"Untuk saya?" tanya Nabila masih dengan wajah bingungnya.
"Iya, Nyonya. Biar saya antar ke bawah!" kata pegawai itu. Nabila pun mengangguk dan mengikuti laki-laki itu ke basement apartemennya.
"Masyaallah ...!" gumam Nabila dengan kedua tangan menutup mulutnya yang ternganga. "Ini mobilnya?" tanya Nabila lagi.
Nabila menggelengkan kepalanya. Tidak, ini sudah lebih dari cukup, body ramping, dengan kabin yang tidak terlalu luas tapi sangat berkelas ini nilainya saja sudah tidak masuk akal untuk Nabila. Jika ditukar dengan yang baru, Bara pasti akan memberikan yang lebih mahal dari ini. Tangan wanita itu terulur saat ponselnya bergetar.
"Hadiah pernikahan!" satu kalimat yang tidak lebih dari dua kata itu membuat Nabila tersenyum. Ada apa dengan laki-laki gila itu, kenapa dia memberikan hal-hal seperti ini.
"Akh, Pak ... saya boleh bertanya tidak?" ujar Nabila pada laki-laki yang masih berdiri di depannya.
"Kenapa, Nyonya?"
"Apa selain menjual mobil, Tuan Bara kalian juga menjual organ dalam manusia?" tanya Nabila.
Laki-laki di depannya itu melongo, dia berusaha untuk mencerna apa yang Nabila katakan.
"Akh, lupakan saja. Saya hanya asal bertanya," kata Nabila lagi. Bodoh memang, sempat-sempatnya dia berpikir jika Bara akan membunuhnya dan mengambil semua organ dalam yang dia miliki untuk mengganti semua uang yang telah dia berikan.
....
__ADS_1
Orang-orang di ruang rapat menunduk heran saat melihat Bara, laki-laki kutub Utara yang tersesat di belahan dunia lain tersenyum. Untuk pertama kalinya mereka melihat wajah Berbinar yang Bara tunjukan. Selama ini, selain marah dan juga membuat perintah, tidak ada lagi yang lain.
"Permintaan pasar cukup tinggi, Tuan. Bukan hanya tinggi, akan tetapi melampaui apa yang telah kita harapkan sebelumnya."
Bara mengangguk, "Terima kasih untuk kerja keras yang sudah kalian lakukan. Saya akan memberikan kalian base fee selain dari bonus-bonus yang sudah kalian dapatkan!"
Para karyawan dan petinggi di dalam ruang rapat tersebut dibuat heboh, lagi-lagi mereka melihat keanehan dari sosok Bara. Namun, jika ini tentang uang, mereka tidak akan mempermasalahkannya sama sekali.
"Apa kita ada kunjungan lain, Durant?" tanya Bara pada asistennya.
"Kita ada makam malam dengan beberapa klien penting, Bos tidak bisa membatalkannya lagi."
....
Bara melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah jam 11 malam. Makan malam sudah terlewat, Nabila dan juga Ezra pasti sudah tidur, lantas, apa yang akan dia lakukan saat pulang ke rumah. Waktu belajarnya juga sudah terkikis oleh perjamuan makan tidak penting dengan kliennya. Helaan napas terdengar. Bara mengucapakan salam saat masuk ke apartemen sang istri. Laki-laki melihat kanan kiri, lampu sudah redup, berarti orang-orang itu memang sudah tidur.
"Assalamu'alamualikum!" ucap Bara saat membuka pintu kamarnya.
"Wa'alaikumssalam," jawab Nabila dari dalam.
Bara tertegun, dia mematung ketika melihat Nabila berdiri di depan pintu kamarnya tanpa mengenakan jilbab, rambut hitamnya terurai dengan indah. Baju tidur panjang namun agak tipis dan sedikit mengkilap membuat tampilan Nabila benar-benar berbeda. Wanita ini benar-benar terlihat sangat cantik.
Ditatap seperti itu oleh Bara membuat jantung Nabila berdegup sangat kencang. Sejak tadi dia berusaha untuk memikirkan cara bagaimana agar malam ini mereka tidak melakukan hubungan itu. Sekuat apa pun Nabila mencoba untuk ikhlas, Nabila tetap belum bisa menerima laki-laki ini.
Deg!
Sepasang mata wanita itu membola ketika Bara tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di atas rajang, debaran jantung itu semakin kuat saat Bara mulai menunduk mendekatkan wajahnya.
"Maaf, Pak!" ucap Nabila membekap mulut suaminya agar sang suami tidak bisa menciumnya.
"Kenapa?" tanya Bara dengan suara serak menahan libido. Bertahun-tahun tidak mengeluarkan anak kecebongnya, mebuat dia hampir gila saat melihat mangsa didepan mata.
"Saya tidak mau melakukannya sebelum, Bapak membersihkan diri." Alasan klise yang Nabila lontarkan membuat Bara tersenyum.
"Saya akan mandi sekarang!" ujarnya seraya beranjak dari atas tubuh sang istri.
Nabila menggelengkan kepalanya seraya menggeram kecil. "Bukan itu, Pak Bara!" teriaknya yang mana itu membuat Bara kembali menoleh.
__ADS_1
"Maksud saya, saya akan melakukannya jika Bapak sudah di sunat."
"What?"