
Nabila menahan senyum ketika melihat Bara merengut saat sedang menidurkan anaknya. Ezra, bocah itu mengatakan jika dia tidak bisa tidur sebelum mendengarkan dongeng kesukaannya. Mbak Marlina sedang izin untuk tidak menginap malam ini, jadi Ezra meminta Bara untuk memeluknya sedangkan Nabila bertugas untuk membacakan dongeng. Nabila tersenyum kembali. Dia mengusap wajah suaminya dengan usapan yang sangat lembut. Bak anak kucing, Bara menikmati setiap sentuhan yang istrinya berikan. Tanpa sadar, Bara mulai memejamkan mata, dan beberapa menit kemudian, Nabila bisa mendengar napas teratur keduanya. Wanita cantik itu menutup buku kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh kedua pangerannya. Dia mengecup pipi Bara juga pipi Ezra bergantian. Setelah mematikan lampu, Nabila keluar dari kamar itu perlahan.
"Ya Allah. Hamba selalu berserah atas segala yang Engkau berikan kepada hamba. Terima kasih untuk segala nikmat yang Engkau berikan. Terima kasih karena sudah memberikan hamba kepahitan sebelum hamba menerima semua ini. Mungkin, dengan ini Engkau mengajarkan hamba untuk senantiasa bersyukur. Jadikanlah hamba istri yang taat. Ibu yang baik dan jangan biarkan hamba memiliki kesombongan walau hanya sedikit. Sehatkan lah suami dan anak hamba. Hamba mohon, mudahkanlah segalanya untuk kami. Aamiin."
Selesai dengan shalatnya, Nabila tidak langsung beranjak. Dia melanjutkan dzikir malamnya sebelum dia kembali terlelap. Kebiasaan yang wanita ini lakukan sebelum tidur. Mungkin tidak setiap malam, akan tetapi, banyak malam yang dia isi dengan hal-hal positif daripada yang lainnya. Nabila bukan tidak mau seperti orang lain, memperbanyak menonton atau berselancar di sosial media. Dia hanya selalu merasa, waktunya sudah banyak tersita untuk urusan dunia, jadi, seandainya dia memang bisa mengambil waktu untuk hal-hal seperti ini, dia akan melakukannya.
"Sudah selesai?" tanya Bara dari belakang istrinya.
Nabila hampir saja terjengkang karena terkejut. Akan tetapi, Bara malah tersenyum melihat wajah kaget istrinya itu.
"Sudah malam. Saya buatkan teh hangat untukmu!" ujarnya seraya memangku Nabila, kemudian mendudukkan istri cantiknya itu di atas ranjang. Dia menatap Nabila dengan mata berbinar. Nabila yang melihat itu malah dibuat tersipu. Pipinya memerah hingga dia menyembunyikan sebagian wajahnya diantara mug dan tangannya.
"Kenapa natap aku kayak gitu, Mas? Ada yang salah?" tanya Nabila cemas.
Bara menggelengkan kepalanya. "Saya heran, kenapa orang-orang sepertimu sangat taat. Saya tahu, kehidupan mu sudah sangat melelahkan. Dan hampir setiap malam saya selalu melihat mu melakukan hal seperti ini. Jam berapapun kamu tidur, kamu selalu bangun lebih pagi. Apa yang kamu cari!"
"Tidak ada!"
"What?"
__ADS_1
Wanita cantik itu meletakan mug-nya di atas nakas kemudian menarik tangan suaminya ke atas pangkuan. "Mas, aku mungkin tidak sepertimu. Dari kecil, aku sudah meyakini apa yang aku yakini saat ini. Aku tidak sepertimu yang memiliki alasan untuk mempercayai semuanya. Jika ada alasan, kenapa aku seperti ini. Mungkin jawabannya hanya satu. 'Kerhidoan-Nya'. Aku selalu merasa tenang saat aku mencurahkan segala keluhanku pada-Nya."
Bara hanya mengangguk, dia menerima mug yang disodorkan Nabila kepadanya kemudian meminum teh yang tadi dia buat.
"Kenapa Mas bangun? Ini sudah malam?"
"Tidak sengaja terbangun!"
"Karena tidak ada saya?"
Uhukkk!
Nabila terkekeh kecil melihat suaminya yang tiba-tiba tersedak. Dia tahu, suaminya gugup ketika dia todong seperti itu. Mengakui dan di tuduh adalah dua hal yang berbeda. Bara terlihat lucu ketika memasang wajah seperti ini. Bak orang yang habis ketahuan saat hendak mengintip sesuatu.
"Apa Nabila jelek Mas Bara? Kanapa gak mau natap Nabila?"
Deg!
Jantung Bara berdegup sangat kencang saat mendengar Nabila menyebutkan namanya sendiri juga namanya. Ada apa dengan hatinya, kenapa dia tidak bisa menormalkan degup jantungnya seperti ini.
__ADS_1
"Mas!" bisik Nabila di samping telinga suaminya, dagunya dia sandarkan di atas bahu sang suami yang mana itu membuat Bara hampir mati. Gila, untuk pertama kalinya Bara selalu merasa terpancing untuk menyentuh istrinya lagi dan lagi. Padahal, dulu tidak seperti ini. Dia hanya akan meniduri wanita satu kali itu pun hanya wanita tertentu.
"Mas!" bisik Nabila lagi. "Akh! Nabila menarik tubuhnya ke belakang, dia meringis seraya memegangi dadanya seperti orang kesakitan.
"Kenapa? Kau sakit?" tanya Bara dengan wajah paniknya. Dia meraba area yang sedang Nabila tekan. Namu, wajah paniknya berubah drastis setelah dia melihat sang istri tertawa kecil.
"Kau mengerjai saya?" gumam Bara dengan tatapan tajamnya.
"Don't be mad, Suamiku!" ucap Nabila memeluk suaminya. "Aku hanya ingin dipeluk seperti ini. Apakah tidak boleh?" tanyanya sambil merapatkan tubuh pada tubuh suaminya. Dia juga menarik tangan sang suami agar Bara mengelus punggungnya. "Aku mencintaimu, Mas Bara! You're mine. Bersiaplah!" ucap Nabila dengan senyum penuh arti.
....
"Ibu ... Ibu marah sama Marlina karena Marlina tidak mau menikah dengan laki-laki itu? Sadar Bu! Juragan Sukamat itu sudah memiliki tiga istri. Marlina tidak ingin menjadi istri keempatnya. Marlina enggak mau."
"Tapi dia kaya, Marlina. Dia punya banyak uang. Dia akan memberikan kamu mahar rumah yang besar. Ini satu-satunya cara agar kita bisa keluar dari kemiskinan. Kasihan adik kamu, Lina!"
Marlina tergelak. "Adik, adik, adik. Selalu saja dia. Kenapa hanya Nisa yang ada di hati Ibu? Kenapa Marlina tidak pernah ibu perhatikan. Marlina itu anak Ibu atau bukan? Kenapa Ibu selalu bersikap seperti ini. Apa Marlina hanya anak pungut? Ibu tidak melahirkan Marlina, kan?"
Plakkk!
__ADS_1
Wanita itu menitikkan air mata saat mendapatkan tamparan yang tiba-tiba. Dia menatap orang didepannya dengan tatapan tidak percaya. Antara kecewa dan sakit hati. Batinnya sakit, lebih sakit dari pipinya yang sudah panas dan mungkin saja sudah bengkak.
Guys, Author ada Dana 20k untuk 3 top fans umum. Stay tune ye ... insyaallah author umumkan akhir bulan. 🤗🤗🤗