
"Boss! Sepertinya Nyonya mengikuti, kita!" ujar Durant saat tak sengaja melihat mobil majikannya dari kaca spion depan. Bara menolehkan kepalanya ke belakang.
"Pelankan saja laju mobilnya! Jangan sampai dia kenapa-napa!" ujar Bara. "Nabila sudah harus tahu yang sebenarnya."
"Baik, Boss!" jawab Durant mantap.
"Lori! Istri saya mengikuti saya! Keluarlah dan jaga dia dari belakang!"
"Baik, Boss!" jawab seseorang di sebrang telepon. Bara memang sengaja memulangkan bodyguard di rumahnya saat sang istri sudah tidur. Dia selalu merasa jika ada dirinya, wanita itu akan baik-baik saja. Siapa sangka, wanita itu ternyata sangat nekat sampai berani mengikutinya seperti ini.
Kening Nabila mengkerut ketika mobil suaminya berhenti di depan sebuah bangunan yang terbengkalai. Sepertinya bukan terbengkalai, tapi sengaja dibiarkan seperti itu. Masih banyak lampu yang menyala di sana, hanya saja, suasananya memang mencekam karena cat bangunan yang sudah lusuh. Dia celingukan, menoleh ke kanan dan ke kiri melihat area sekitar. Ini juga bukan tempat yang sepi. Orang masih banyak yang berlalu lalang di sana. Dia turun dengan cepat saat melihat suaminya masuk ke dalam bangunan itu. Meskipun dia agak takut, demi mengetahui apa yang sering suaminya lakukan, Nabila harus bisa melawan rasa takutnya.
"Maafkan mama ya, Nak! Baik-baik di dalam perut mama!" gumam Nabila sambil mengusap pelan perutnya. "Bismillahirrahmanirrahim!" Nabila menguatkan tekadnya saat kaki itu mulai melangkah masuk melewati pintu utama gedung tersebut. Suara - suara aneh mulai terdengar. Derap langkah kaki membuat dia sesekali menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun. Kenapa dia merasa jika dia sudah melakukan kesalahan yang besar karena masuk ke gedung itu tanpa sepengetahuan suaminya.
"Ya Allah, Nak! Kalian anak baik! Mama sayang sama sama kalian!" batin Nabila seraya membekap mulutnya saat dia kembali merasa mual dan ingin muntah. Satu tangannya menjadi tumpuan pada tembok agar dia tidak jatuh terhuyung. Setelah merasa lebih baik, barulah dia melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti.
__ADS_1
Bruk!
"Semuanya sudah tertera dengan sangat jelas di sana!" ujar Bara . lemparkan laptop ke hadapan seseorang. "Kau sengaja masuk ke perusahaan ku hanya untuk melakukan ini? Mencuri semua data tentang produk baru yang ingin aku luncurkan? Jangan kau pikir aku tidak tahu perbuatan busuk mu itu! Aku hanya mencari waktu yang tepat agar kau bisa mendapatkan ganjaran yang setimpal!"
Bara menendang kursi yang diduduki laki-laki dengan kaki dan tangan terikat juga mulut yang disumpal dengan kain. Laki-laki itu hanya bisa meringis tertahan. Dia ingi memberontak, tapi tidak bisa. Hanya suara dari kursi dan juga lantai usang yang terdengar.
"Buka penutup kepalanya!" titah Bara pada Max!.
Laki-laki itu melakukan apa yang diminta oleh Bara. Kain hitam di atas kepala wanita itu dia buka dengan gerakan yang sangat kasar. Keadaan wanita itu? Tak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh laki-laki di sampingnya.
Senyum tipis tersungging di bibir Bara. Dia berbalik dan berjalan mendekati wanita yang kini sedang membungkuk dengan kepala tertunduk dalam. Suara napasnya sangat menyedihkan. Sepertinya dia benar-benar kesulitan untuk mengatur napasnya.
"Kenapa di sini?" tanya Bara yang sudah berjongkok di depan istrinya. Wanita itu refleks mendongak. Hampir saja dia terjungkal karena terlalu terkejut. Bara tersenyum dan berdiri. Menarik bahu istrinya kedalam dekapan.
"Jika saya katakan kalau saya dulu adalah seorang pendosa? Apa kau akan meninggalkan saya?" bisik Bara di samping telinga istrinya. Wanita itu ingin mendorong suaminya tapi Bara tahan. "Saya akan menunjukkan segalanya malam ini. Tapi ingat satu hal, kau sudah tidak bisa lari dari saya. Sekalipun kau sangat ingin, kau tidak akan bisa!" gumam Bara dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Tangannya terulur, mengusap wajah istrinya kemudian mengecup bibir sang istri sekilas.
__ADS_1
"Mas!" gumam Nabila dengan tangan bergetar. Jujur saat dia sangat takut. Ini bukan suaminya. Bara yang seperti ini sama sekali tidak ada dalam bayangannya. Nabila pikir, Bara memang sangat kejam dan menyeramkan. Namun, bukan seperti ini juga, ini diluar batas ekspektasinya. Jika hanya menggertak, mungkin Nabila akan mengerti. Akan tetapi, jika sudah sampai menyekap dan melakukan penyiksaan? Seharusnya ini tidak terjadi.
"Saya bisa melakukan hal lebih gila dari ini. Tapi saya tidak akan melukaimu. Saya juga tidak mengganggu orang-orang yang tidak bersalah. Kau percaya padaku, 'kan?"
"I can't understand. Kenapa kau menyekap mereka, Mas?" tanya Nabila dengan suara yang sangat pelan. Belum sempat Bara berbicara ....
Gelak tawa terdengar dari ujung sana. Wanita itu menatap Nabila dengan tatapan mengejek. Entah dia sudah gila atau bagaimana, dia sama sekali tidak takut saat Max membawa sebuah cambuk dan mengayunkan cambuk itu padanya.
"No! Don't!" pinta Nabila. Dia menghempaskan tangan suaminya dan berlari menuju wanita itu. "Jangan siksa dia lagi. Apa yang kalian lakukan. Siapa kalian hingga kalian bisa menyiksa orang lain seperti ini!" Nabila baru akan melepaskannya ikatan yang membelenggu orang itu, akan tetapi, tiba-tiba sebuah tangan menarik lengannya hingga dia refleks menoleh dan langsung bertemu tatap dengan mata elang pembunuh di depannya.
"***4*** ini adalah orang yang ingin membunuhmu! Kenapa kau repot-repot ingin melepaskannya, hah? Sudah bosan hidup? Mau mati?" geram Bara dengan urat-urat leher yang semakin lama semakin bermuculan. Nabila meringis merasakan cekalan tangan sang suami pada lengannya. Dia berusaha untuk melepaskan tangan itu. Namun, apa yang dia lakukan malah semakin membuat Bara meradang.
"Siksa dia, Max!" titah Bara tak terbantahkan.
"Baik, Boss!"
__ADS_1