Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
15. Wanita Dari Masa Lalu


__ADS_3

Nabila meraih tangan Ezra, dia menarik Ezra ke dalam dekapannya kemudian menelisik keadaan putranya itu tanpa terkecuali. "Kau baik-baik saja, Nak?" tanya Nabila.


Ezra mengangguk, dia tidak apa-apa, hanya sedikit kaget karena teriakan salah satu pelayan di cafe tersebut dan juga dia yang tidak sengaja menyenggol vas keramik kecil.


"Tidak apa-apa, Mama akan membereskan semuanya," kata Nabila. Wanita itu berdiri, dia menghampiri pelayan cafe sembari tersenyum. "Mbak ... maaf, anak saya tidak sengaja, saya akan mengganti kerugiannya."


Pelayan cafe itu mendelik, dia menetap Nabila enggan. "Vas itu mahal, Bu. Ibu mau ganti berapa, jika Ibu memang mau menggantinya, Ibu bisa mentransfer uang 15 juta kepada atasan saya."


Kening Nabila mengkerut, 15 juta, hanya untuk sebuah vas. Ini tidak masuk akal. "Mbak, jangan bercanda. Saya tahu perihal barang-barang seperti ini. Vas yang anak saya jatuhkan itu hanya vas biasa!"


Semua pengunjung cafe tersebut mengalihkan perhatian mereka ke arah Nabila dan juga ke arah karyawan yang sekarang sedang menatap Nabila dengan tatapan menantang. "Kalau Ibu gak bisa bayar, bilang aja, kenapa harus nuduh saya bohong seperti itu. Sudah sangat jelas kalau anak Ibu memang memecahkan barang yang ada di cafe kami. Kenapa malah Ibu yang marah."


Hembusan napas terdengar dari mulut Nabila. Wanita itu benar-benar harus bisa menahan emosinya. Dia berjalan mendekati vas keramik tersebut, berjongkok untuk melihat keasilanya. Namun, kaki pelayan itu seolah sengaja menginjak tangan Nabila sampai jari tangan Nabila tergores pecahan keramik.


Orang-orang tidak melihat apa yang terjadi. Namun, Nabila dan Ezra tahu, jika pelayan ini bukan pelayan sembarangan, dia benar-benar sedang berusaha untuk memojokkan nya. Namun apa alasan yang sesungguhnya. Kenapa harus membuat keributan di tempat umum.


Nabila memejamkan mata, dia mengambil sapu tangan dari dalam tasnya kemudian membungkus jemarinya dengan sapu tangan tersebut.


"Saya akan bayar, tapi tidak 15 juta, ini hanya vas biasa, Mbak."


"Ya sudah, kalau gak mampu bilang aja. Udah kere, di tinggal suami mati, sok-sokan ngurus anak penyakitan," gumam pelayan itu, tetapi masih bisa didengar oleh Nabila. Merasa ada yang aneh, Nabila menyerahkan tangan Ezra pada Purnomo, sementara dia menarik tangan pelayan cafe keluar dan menyingkir dari cafe tersebut.


"Sebenarnya kau siapa? Apa yang kau inginkan?" tanya Nabil menatap pelayan itu lekat.


Sudut bibir sang pelayan terangkat ke atas. Dia tersenyum dengan senyum sinis. "Apa kau lupa siapa aku?" tanya pelayan itu menatap Nabila tajam.


Nabila menautkan alisnya, dia menatap wanita itu dengan seksama, menelisik wajahnya tanpa ada yang terlewat sedikit pun. "Kau ...!" kata Nabila dan langsung mundur satu langkah.

__ADS_1


"Kau sudah ingat rupanya," kata sang pelayan seraya tersenyum menyeringai. "Bagaimana? Nikmat menjadi janda? Setelah merebut suami orang, dan ternyata malah bernasib sama, apa kau benar-benar bahagia sekarang?" teriak wanita itu kencang. Nabila menggelengkan kepala.


"Kau Adel?" tanya Nabila tidak percaya. Setahu dia, Adel dulu mengenakan kerudung dan juga berpakaian syar'i. Kenapa sekarang menjadi seperti ini, bahkan make up nya benar-benar membuat Nabila tidak bisa mengenalinya.


"Jadi bagaimana? Kau sudah mengerti sekarang?" tanya wanita itu lagi.


"Mbak, maaf, saya tidak bisa mengatakan apa pun. Jika memang Mbak mau saya bayar vas bunga itu, saya akan bayar," kata Nabila hendak berlalu. Namun, tangannya kembali dicekal oleh Adel.


"Sok-sokan mau bayar? Mau bayar pakai apa. Ini cafe saya. Kalau memang punya uang, transfer ke rekening saya sekarang. 15 juta, tidak kurang dan tidak lebih." Adel berteriak di depan wajah Nabila. Nabila mengepalkan kedua tangannya, dia hendak berbicara, tetapi ....


"Sayang!" panggil seseorang dari belakang Nabila, wanita itu menoleh, alangkah terkejutnya Nabila saat melihat Bara berjalan ke arahnya diikuti oleh Durant di belakang.


"Pak ...!"


"Shuttt!" titah Bara seraya menaruh jari telunjuknya di atas bibir. "Ada apa? Ezra bilang ada kekacauan di sini!"


Nabila menautkan alis, dia langsung menunduk, mengaduk isi tas selempang nya untuk mencari ponsel yang mungkin menjadi alasan kenapa Bara ada di depannya. Dan benar saja, ponsel itu memang tidak ada. "Ezra ...!" geram Nabila dalam hati.


"Papa!" teriak Ezra menghampiri sang ayah. Dia memberikan ponsel ibunya kepada Bara dan langsung Bara terima.


"Papa," gumam Adel dengan wajah tidak percaya. Bagaimana mungkin. Dia benar-benar tidak bisa berbicara. Keadaan ini terlalu tiba-tiba, siapa laki-laki ini. Kenapa Ezra memangilnya papa. Mungkinkah Nabila sudah menikah lagi? Bagaimana bisa!


"Saya sudah memiliki bukti di sini," ujar Bara mengacungkan ponsel Nabila kemudian memasukan ponsel itu ke dalam saku jas yang dia kenakan. "Durant!" panggil Bara.


"Transfer uang 50 juta pada wanita gila ini. Dan selanjutnya, kau juga tahu ...."


"Apa tidak kita bunuh saja, Tuan?" bisik Durant. Nabila langsung menoleh, dia jelas-jelas mendengar kalimat yang keluar dari mulut laki-laki itu.

__ADS_1


"Akh, iya ... saya mengerti Tuan, hanya membuatnya bangkrut. Silakan Tuan!" Durant mengulurkan tangan, meminta Bara untuk kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Ayo!" kata Bara menarik tangan Nabila.


"Tunggu. Paman Purnomo!" kata Nabila melihat ke arah cafe.


"Durant sudah melunasi semua hutang kamu!"


"What?"


Bukannya Bara yang merespon, malah Ezra tersenyum, dia menarik salah satu tangan Bara agar mereka bisa segera meninggalkan tempat tersebut. Bara menggerakan kepalanya seolah mengatakan jika Nabila memang harus pergi sekarang. Mau tidak mau Nabila mengikuti Bara, dia melirik ke arah Purnomo kemudian membungkuk, Purnomo pun tersenyum seraya melambaikan tangan. Dan saat Durant akan menutup pintu mobil, Nabila masih bisa melihat Adelia yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung. Habislah wanita itu, Nabila sangat yakin, jika setelah ini, karir Adelia benar-benar akan hancur. Sama seperti apa yang dia alami 5 tahun yang lalu.


Keadaan di dalam mobil menjadi sangat hening ketika pintu mobil itu sudah tertutup.


"Kotak P3K, Durant!" kata Bara.


Durant mengangguk, dia menyodorkan kotak P3K itu tanpa mengeluarkan suara.


"Ulurkan tangan mu!" titah Bara pada Nabila. Melihat situasi yang kurang menyenangkan, Ezra yang duduk di tengah berdiri dan pindah ke jok depan.


"Ezla mau bobo bental!" kata bocah itu. Nabila hanya mengembuskan napas kasar.


"Biar saya saja, Pak!" kata Nabila ingin mengambil kotak P3K dari tangan Bara, tetapi Bara menolaknya.


"Saya tidak sedang mengambil kesempatan, Nabila. Ulurkan saja tangan mu!" titah Bara dengan suara pelan tetapi penuh ketegasan.


Wanita itu akhirnya luluh, dia menyodorkan tangan kanannya agar Bara bisa langsung mengobati tangan itu. Dengan gerakan yang sangat pelan, Bara membuka sapu tangan yang membelit jemari tangan Nabila. Dia melihat luka goresan di jari itu dengan seksama, takut-takut jika ada sesuatu yang tertinggal.

__ADS_1


"Tahan sedikit," kata Bara saat dia ingin membasuh luka itu dengan alkohol. Nabila hanya bisa menarik napas, dan mengembuskan nya perlahan.


"Sebenarnya, siapa wanita gila itu, Nabila?" tanya Bara seraya menatap mata Nabila lekat.


__ADS_2