
Nabila menyeret kopernya masuk menuju kamar yang sudah diberikan oleh panitia. Namun, belum sempat dia masuk, seseorang sudah menarik tangannya dan membawanya bersembunyi di balik tembok yang ada di koridor hotel tersebut. Nabila tidak memberontak, dari wangi parfum yang dia cium saja, dia sudah tahu jika itu adalah suaminya.
"Honey! Kau menolak ku!" ujar Bara saat Nabila sengaja membekap mulutnya yang ingin mencium bibir ranum itu.
"Mas. Ini tempat umum."
"Tapi saya kangen sama istri saya. Apa itu sebuah dosa?"
Nabila hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Dia berjinjit kemudian mengecup pipi suami sekilas. "Nanti malam ada acara barbekyu. Kita masih akan bertemu. Jangan melakukan hal yang tidak-tidak. Aku ke kamar dulu, Mas!" ujar Nabila seraya berbalik. Namun, lagi-lagi dia dibuat terkejut lantaran Bara yang tiba-tiba menarik kembali tangannya dan melindungi belakang kepalanya seraya menciumnya dengan ciuman panas tetapi hanya sebentar.
"Aku tidak akan takluk padamu, Nabila!" bisik Bara lalu berbalik meninggalkan Nabila yang saat itu hanya mematung di tempatnya.
"Cih," Nabila tertawa kecil. "Kau itu sudah takluk padaku, Tuan Bara!" gumam Nabila dengan senyumannya.
"Nabila!" panggil seseorang.
Wanita itu langsung berbalik. "Pak Fino!"
"Kau sedang apa di sini? Aku melihat koper mu ada di depan pintu yang itu!" tunjuk Fino ke arah pintu kamar hotel yang memang adalah kamar hotel milik Nabila. "Ini kamar ku, Bil!"
__ADS_1
Nabila mengerutkan kening mendengar nama panggilan yang Fino tunjukkan untuknya. Dia sangat heran, sejak kapan mereka dekat sampai Fino berani memanggilnya dengan panggilan seperti itu. Bukannya Nabila tidak tahu jika selama ini Fino selalu berusaha dekat dengannya. Akan tetapi, Fino ini terlalu berani, dia selalu berusaha untuk menghindar karena dia tidak menyukai itu.
"Ah, maaf kalau aku tidak sopan, karena kita sedang tidak bekerja, tidak masalah bukan kalau aku mengajakmu berbicara dengan bahasa informal?"
Nabila hanya mengangguk kemudian tersenyum. Dia berlalu dari hadapan Fino, tidak ingin terlalu dekat dengan laki-laki ini. Bisa gawat jika Bara tahu kalau dia mengobrol dengan laki-laki lain. Akan terjadi perang dunia kedua yang tidak bisa terelakkan.
"Assalamualaikum!" ucap Nabila ketika masuk ke kamar hotelnya. Ada tiga ranjang di sana, dan satu ranjang lagi pasti milik Maurin dan rekan kerjanya yang lain. Entah itu siapa, Nabila belum tahu.
"Nabila!" pekik Maurin masuk ke kamar itu.
"Wa'alaikumssalam!" jawab Nabila. Maurin hanya terkekeh. Dia berjalan mendekati dinding kaca di kamar hotel tersebut menikmati pemandangan indah yang sangat memukau mata. Nabila menggelengkan kepalanya melihat tingkah Maurin. Jika tidak heboh, bukan Maurin namanya. Nabila mulai membuka kopernya untuk mengambil mukena dan peralatan lain yang dia butuhkan.
"Jadi kita sekamar ya. Males banget gue!" ucap seseorang. Nabila dan Maurin refleks menoleh ke arah pintu. Di sana ada sesosok makhluk ghaib yang berpakaian sangat minim. Jessica, wanita itu masuk ke kamar itu kemudian menggeser tubuh Nabila dengan tubuhnya. Hampir saja Nabila terjengkang jika tidak bisa menyesuaikan keseimbangan tubuhnya.
"Gue mau kasur yang ini. Toh ini juga bukan milik Lo. Emang ada Tuan Bara ngasih hak paten buat lo! Kagak ada. Udah, lo pindah aja."
"Hei, nenek lampir! Enak aja ya lo, main usir-usir temen gue. Lo yang harusnya pindah. Goblok banget jadi orang!"
Jessica mendelik menatap Maurin dengan tatapan tidak sukanya. Dia langsung mendekati Maurin dan menjambak rambut Maurin sangat kencang. Kedua wanita itu benar-benar sangat gila. Nabila yang melihat keributan di depannya hanya bisa mendesah pasrah. Dia mengambil kopernya kemudian pindah ke kasur lain dan bersiap untuk bersih-bersih.
__ADS_1
"Lanjutkan sampai matahari tenggelam!" ujar Nabila seraya berlalu. Bukannya berhenti setelah mendapatkan sindiran dari Nabila, kedua orang itu malah berkelahi semakin heboh.
"Astaghfirullah!" kaget Nabila saat dia telah selesai dengan urusannya. Kedua wanita itu duduk di kasurnya masing-masing dengan rambut yang sudah naik ke atas seperti rambut singa. Yang lebih parah adalah, hidung mereka mengeluarkan darah, juga baju bagian atas mereka yang compang-camping. Untuk beberapa saat Nabila merasa simpati. Namun, detik berikutnya dia malah tertawa, dan itu membuat Jessica dan Maurin mendelik menatap ke arahnya.
"Maaf," ujar Nabila yang berusaha menghentikan tawanya. "Kalian itu ngapain sih, yang diributkan apa? Kok bisa berakhir seperti ini." Nabila kembali tertawa. Namun, sekarang suara tawa itu malah semakin kencang sampai terdengar ngik-ngikan.
"Dasar temen gak ada akhlak. Aku kayak gini gara-gara belain kamu, Bila! Kenapa kamu malah ngetawain aku!"
Nabila menggelengkan kepalanya. "Aku bukan ngetawain kalian, tapi rambut dan penampilan kalian itu memang sangat lucu!"
"Sama aja!" ketus Jessica kemudian berlalu ke kamar mandi.
Nabila baru akan bersuara, akan tetapi dering ponselnya membuat dia urung untuk sementara waktu. "Assalamu'alaikum! ... Iya, Bila lagi di Bali Bi. Bagiamana kabar Paman? Alhamdulillah kalau seperti itu."
"Bibi mau minta tolong lagi, Bil. Uang Bibi udah habis. Bibi minta untuk makan ya! Sama itu, anak bibi yang paling bontot harus bayar SPP sekolah. Kalau bisa, kamu bayarin juga. Gak mahal kok, Bil. Cuma lima juta. Bibi minta tolong ya!"
Nabila mengerutkan kening mendengar penuturan bibinya itu. Istilah dikasih hati minta jantung mungkin cocok di sematkan untuk Bi Susi. Entahlah, Nabila bingung harus menghentikan kegilaan bibinya ini dengan cara seperti apa.
"Nabila cek tabungan Bila dulu ya Bi! ... hmmm. Wa'alaikumssalam!"
__ADS_1
"Yang minjemin duit Bil?" tanya Maurin sambil membersihkan hidungnya. Nabila hanya tersenyum. Dia enggan untuk berbicara dengan orang lain tentang masalah ini.
"Apa Mas Bara tidak akan marah ya?" Nabila membatin. Dia manatap layar ponselnya. "Aku harus membicarakan ini secara langsung!"