
Nabila menatap pintu ruangan suaminya dengan mata melotot dan kening berkerut, bisa-bisanya Bara menuduh dia selingkuh hanya karena dia tidak sengaja berpapasan dengan karyawan di kantornya tadi. Lagipula, mereka tidak banyak berbicara, kenapa Bara sampai memiliki pemikiran sejauh itu.
"Astaghfirullah ... sabar Nabila, sabar!" ucapnya seraya mengelus dada dan berlalu dari tempat itu.
"Biar saya antar ke ruangannya, Bu!" ujar Durant.
Lagi-lagi Nabila terlonjak kaget saat mendengar dan melihat Durant secara tiba-tiba. Orang-orang ini benar-benar mampu membuat Nabila hampir terkena serangan jantung.
"Saya sudah tahu ruangan saya di mana. Sebaiknya kamu masuk dan bantu bos kamu itu, Durant!"
"Bos Bara?" tanya Durant.
"Alien!" ketus Nabila.
Durant melongo mendengar apa yang Nabila katakan. "Kenapa Nyonya Bos marah-marah? Apa belum di kasih jatah, atau Bos Bara udah gak perkasa, tapi itu gak mungkin!" gumam Durant seraya menggelengkan kepalanya dan masuk ke ruangan bosnya itu.
"Bos!" panggil Durant keheranan saat melihat meja bosnya berantakan. Tetapi, yang lebih mengherankan adalah, bosnya itu terlihat santai di depan sofa seraya memperhatikan semua barang yang berserakan di atas lantai. "Apa ada gempa bumi?" gumam Durant lagi. "Akan saya bereskan, Bos!"
"No, biarkan seperti ini untuk sementara waktu," ucap Bara dengan senyum di bibirnya. Durant kembali tercengang, untuk pertama kalinya Durant melihat Bara menyukai hal yang berantakan, padahal, biasanya tidak seperti itu. Sebenarnya apa yang terjadi. Pikir Durant lagi.
"Bos, bagaimana dengan perjalanan bisnis Anda ke Bandung? Haruskah kita tunda lagi?"
Bara terlihat berpikir untuk beberapa saat, dia menatap Durant sekilas kemudian menunduk. "Undur saja! Kita berangkat akhir tahun atau awal tahun depan. Saya mau kamu ajak beberapa karyawan yang akan terlibat dalam proses ini."
Durant mengangguk, dia cukup mengerti kemana arah dan tujuan Bara sekarang, dia benar-benar tidak ingin jauh dari istrinya. Baguslah! Jika bos-nya ini sudah menemukan tambatan hati, mungkin Bara akan lebih mudah untuk dijinakkan.
....
Satu minggu setelah Nabila bekerja, dia mulai terbiasa dan mulai menikmati suasana kerjanya. Menjadi lebih sibuk membuatnya sedikit melupakan masalah rumah tangga yang entah mau dibawa kemana. Kali ini, wanita itu terlihat sedang mondar mandir memberikannya lembaran kertas pada orang-orang yang bekerja di bawahnya.
"Coba yang ini lebih diperhatikan. Jangan asal melihat peluang, pikirkan juga kekurangannya!"
__ADS_1
"Baik Bu!"
"Sibuk banget kayaknya," ucap seseorang dari balik punggung Nabila. Wanita itu refleks memutar tubuhnya.
"Pak Fino," gumam Nabila.
"Sudah waktunya makan siang, sebaiknya kita ke kantin kantor sekarang."
Nabila melirik arloji di pergelangan tangannya. Wanita cantik itu berpikir untuk sejenak, dia bingung harus mengatakan apa. Mau menolak, tapi juga tidak enak, kalau ajakannya diterima, dia pasti akan merasa kurang nyaman.
"Kita tidak pergi berdua, ada Jessica, dia akan menemani kita!"
Mendengar hal tersebut, Nabila menghembuskanya napas pelan dan pada akhirnya memenuhi ajakan laki-laki itu, toh Jessica juga sudah ada di belakang Fino.
"Mau pesan apa?" tanya Jessica dengan wajah kurang bersahabat. Sudah beberapa hari ini, dia sering melihat Nabila wara-wiri masuk ke ruangan Bara, padahal dia saja yang notabenenya adalah sekertaris Bara, malah sangat teramat jarang bisa menemui Bara jika bukan saat ada pertemuan dengan beberapa klien saja. Banyak pekerjaan yang seharusnya dia kerjakan malah dipangkas dan di ambil oleh Durant, tangan kanan bosnya itu.
"Biar saya saja yang pesen, Mbak. Mbak mau pesan apa?
"Enggak papa," jawab Nabila.
"Ya sudah, saya mau soto daging sama nasi. Minumnya jus leci aja!"
Nabila mengangguk. "Bapak mau pesan apa? Biar sekalian!"
"Saya nasi Padang pakai daging cincang, minumnya es jeruk selasih!"
Nabila mengangguk mengerti, dia beranjak dari duduknya mendekat ke arah pelayan yang menjaga di bagian kasir untuk membuat pesanan. Setelah kepergian Nabila dua orang itu saling menatap dengan tatapan yang dipenuhi banyak arti.
"Dia cantik 'kan?" tanya Fino tho the point.
Jessica mendengus, "Cantik dari mana, lebih cantikan gue kemana-mana lah! Liat penampilannya aja gak srek. Lagian juga kayaknya dia cewek gatel, masa hampir sehari dua kali dia masuk ke ruangannya Bos Bara. Kalau enggak godain atasan, apalagi coba. Mungkin aja, dia bisa masuk ke perusahaan karena menjual diri pada atasan kita. Jangan percaya dengan pakaian tertutupnya. Banyak wanita di jaman sekarang, yang berhijab sepertinya justru malah lebih brengsek dari cewek-cewek modelan gue kayak gini, Fin!"
__ADS_1
Fino tersenyum kecil, dia melirik Nabila yang sekarang sudah kembali berjalan ke arah mereka. "Gue rasa Nabila bukan orang kayak gitu, kok."
"Cihhhhh, gak percayaan banget lo Fin."
"By the way, gue lebih tua dari lo Jess, kenapa lo gak manggil kakak aja sih?"
"Ogah, mending gak usah temenan kalau peraturannya kayak gitu."
"Kalian memang udah lama saling kenal ya?" tanya Nabila ketika dia mulai duduk kembali. Wanita itu tidak sengaja melihat interaksi yang Jessica dan Fino lakukan tadi.
"Enggak, gue kenal sama dia setahun sebelum masuk ke perusahaan ini," kata Jessica. "Itupun gara-gara ...."
Duk!
"Eishhhhhhh!" Jessica mendengus setelah Fino menendang kakinya dengan tidak beradab. Bagaimana bisa Fino memperlakukannya seperti itu. Apakah Nabila sebegitu berartinya untuk dia.
"Jessica ini orang aneh, sebaiknya tidak usah mendengarkan apa yang dia katakan. Saya kenal sama dia karena gak sengaja nabrak dia. Ya di tambah beberapa bulan yang lalu dia masuk kerja ke sini!"
Nabila hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyum tipis. Sebenarnya tidak penting juga mereka bertemu dimana, tidak ada hubungannya dengan dia. Hanya saja, Nabila merasa canggung jika tidak mengatakan apa-apa.
Mereka bertiga terlihat sagat akrab saat sedang bercengkrama seraya menikmati makan siang mereka. Terlebih Nabila, sebenarnya dia cukup beruntung karena memiliki teman di kantor itu. Tetapi setelah kejadian lima tahun yang lalu, Nabila berhenti untuk berteman dengan sembarang orang. Ada jarak yang harus dia jaga, karena ternyata tidak semua teman akan menolong kita di saat kita susah. Seperti saat ini, dia hanya ikut bergabung karena sopan santun.
Nabila sama sekali belum sadar, jika saat ini, sang suami sedang memperhatikannya dari sudut kantin kantor tersebut. Laki-laki itu tersenyum kecut ketika melihat Nabila tersenyum. Sebegitu bahagianya Nabila bercengkerama dengan orang lain, tapi kenapa saat bersamanya Nabila selalu bersikap ketus, bahkan tidak jarang wanita itu tak memiliki ekspresi. Apakah dia begitu buruk dimatanya.
"Hukuman apa yang pantas aku berikan untuknya, Durant? Haruskah aku menyiksanya sampai dia tidak bisa bekerja lagi?"
Durant terbelalak. Untuk pertama kalinya dia mendengar kalimat itu lagi di mulut bosnya. Namun, kali ini benar-benar sangat tidak baik, Bara marah kepada Nabila bukan?
Nabila kembali tertawa sampai kepalanya terangkat, akan tetapi, saat dia ingin kembali menunduk, Nabila menoleh ke arah samping. Bola mata itu hampir menggelinding, Nabila sampai dia tersedak air liurnya sendiri.
"Minumlah!" titah Fino menyodorkan air minum kepada Nabila. Wanita itu menggelengkan kepala seraya menahan dengan tangan kanannya.
__ADS_1
"Saya harus pergi," ucap Nabila tergesa.