Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
26. Keanehan Bara


__ADS_3

Semua karyawan yang ada di perusahaan Cullen Grup dibuat heboh karena mereka yang berpapasan dengan Bara melihat laki-laki itu tersenyum. Sejak kapan Bara menjadi laki-laki yang ramah. Bukankah selama ini dia selalu menunjukkan wajah dingin yang menyeramkan. Mungkinkah akan ada hal besar yang terjadi, tapi apa? Bara tidak mungkin akan melakukan PHK besar-besaran bukan?


"Bos, apa ada yang spesial hari ini?" tanya Durant ikut penasaran karena wajah tuannya itu terlihat berseri-seri. Entah apa yang terjadi, Durant sedikit merinding.


Laki-laki yang sudah duduk di kursi kebesarannya itu tersenyum lagi. Dia menggelengkan kepalanya, dan itu semakin membuat Durant gelisah. "Carikan saya lahan yang bagus, Durant. Harus luas dan tidak terlalu jauh dari perusahaan. Satu lagi, tolong bilang kepada koki di perusahaan untuk membuat makanan enak hari ini!"


"Baik, Bos!" jawab Durant. Meskipun dia masih tidak mengerti ada apa dengan bosnya. Durant hanya bisa menurut.


"Durant!"


"Iya, Bos!"


"Akh tidak jadi, pergilah!"


Durant melongo dengan wajah bodohnya. Sejak kapan Bara bisa salah tingkah seperti ini. Karena terlalu penasaran, Durant tidak benar-benar keluar dari ruangan itu, dia malah mengintip Bara. Mata Durant bisa melihat dengan jelas kalau saat ini Bara sedang tersenyum seperti orang gila. Punggung bosnya itu bosnya sandarkan pada sandaran kursi, sesekali Bara memutar kursinya. Persis seperti anak ABG yang sedang kasmaran.


"Apa jangan-jangan, Bos dan Nyonya Bos?" Durant tersenyum, kini dia tahu, kenapa Bara mendadak gila.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumssalam," jawab Durant spontan.


"Alhamdulillah, Masyaallah. Sedang mengintip siapa, Pak Durant?" tanya seseorang yang mana itu membuat Durant terperanjat. Hampir saja dia terjungkal jika Ustadz Faisal tidak menarik lengannya.


"Ustadz!" gumam Durant. Laki-laki itu mengembuskan napas lega. "Saya pikir hantu, silakan masuk, Ustadz! Bos sedang bahagia. Ustadz mintalah sesuatu, pasti Bos akan memberikan apa pun yang Anda minta!"


Ustad Faisal menggelengkan kepalanya. Dia datang menemui Bara bukan untuk meminta sesuatu, tetapi untuk memberikan sesuatu. Sudah tugas dan kewajibannya untuk terus memberikan ilmu kepada Bara. Terlepas pada apa yang Bara pahami sekarang, masih banyak yang memang belum mereka bahas dan belum mereka pelajari.


....


Nabila tidak bisa hanya diam saja seperti ini. Dia membutuhkan moments yang tepat untuk menarik hati Bara dan membicarakan apa yang akan dia sampaikan. Namun, sepertinya dia harus berusaha lebih keras karena untuk berjalan saja dia masih sangat kesulitan.

__ADS_1


"Mbak, ikut keluar sebentar yuk!" Ajak Nabila pada Marlina. "Saya mau jemput Ezra, sekalian mau mampir ke super market sebentar."


"Baik, Bu!"


....


Ezra tersenyum sumringah ketika dia duduk di atas troli dan Marlina yang bertugas untuk mendorong troli itu. Sementara Nabila, wanita itu bertugas untuk nmengambil beberapa bahan makanan yang memang mereka butuhkan.


"Ezra sama Mbak mau daging merah gak?"


Ezra mengangguk antusias. Sementara Marlina hanya tersenyum, dia tidak berani mengatakan iya atau tidak. Maksudnya, dia cukup tahu diri akan posisinya.


"Ya sudah, kita belanja sekalian buat Mbak Marlina bawa pulang, ya!


"Ekh, gak usah, Bu. Ibu sudah sering kasih saya kayak gini. Uang transportasi, uang jajan, itu aja sudah cukup," kata Marlina mencoba untuk menolak. Dia memang bukan malu-malu kucing, Nabila ini terlalu royal. Marlina kurang nyaman karena takut memberatkan.


"Udah gak papa, kamu adalah keluarga saya juga, saya suka melakukan ini untukmu, Mbak!"


Nabila, Marlina dan Ezra menoleh ke arah seorang wanita yang sedang memilih daging. "Adel!" gumam Nabila saat memastikan orang itu memang orang yang dia kenal.


"Gak usah, Mbak!" cegah Nabila pada Marlina yang hendak mengeluarkan suara.


"Lebih baik kita pergi dari sini, biarkan anjing menggonggong. Toh, kita tidak mengerti apa yang anjing itu katakan!"


Adel tergelak, wanita itu berbalik mengejar Nabila kemudian berdiri tepat di depannya. Tatapan mata mereka bertemu. Dimana sorot mata Nabila yang menunjukkan banyak tanda tanya. Sedangkan Adel menatap Nabila dengan tatapan sinis dan mengejek. Wanita itu berdecih seraya menipiskan bibir dengan tangan tersilang di depan dada.


"Lo itu wanita murahan, Nabila. Lo munafik. Gue pikir lo orang baik, ternyata lo itu gak lebih dari sampah yang menjual diri pada orang-orang berduit."


Nabila semakin kebingungan mendengarkan apa yang Adel katakan, dia meminta Marlina untuk membawa Ezra sedikit menjauh agar dia bisa berbicara leluasa kepada Adel. Marlina dan Ezra hanya menurut, mereka menjauh dan memperhatikan Nabila yang kini sedang menatap Adel dengan tatapan menusuk.


"Urusan kita sudah selesai, Adel. Aku sudah bilang kalau aku gak tahu jika saat itu Mas Ramadhan sudah memiliki istri. Masalah dia yang kembali padaku, bukankah kita berpisah lama setelah dia menceraikan kita? Lalu, apa aku salah jika dia kembali padaku? Aku sudah memberikan banyak waktu agar kau bisa mengambilnya lagi. Tapi kau tidak bisa. Dan sekarang kau malah menuduhku melakukan hal yang tidak-tidak. Apa kau memiliki bukti jika selama ini aku menjual diri pada orang-orang kaya? Jangan asal fitnah orang sembarangan!"

__ADS_1


Adel tersenyum menyeringai. Dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan layar ponsel itu kepada Nabila. "Ini adalah orang yang waktu itu mengatakan jika dia adalah ayah dari anak penyakitan itu, bukan? Emang lo gak tahu kalau setelah lo buat masalah saat itu, pemilik cafe membatalkan kerjasama sama, sama gue karena orang ini!"


"Bicara yang lebih spesifik, Adel!"


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Adel. Dia kembali memasukan ponselnya ke dalam tas. "Laki-laki ini adalah pemilik perusahaan Cullen Grup bukan? Dan lo manfaatin dia buat negelawan gue. Lo tahu, cafe itu terdaftar atas nama lo, Nabila. Gue gak nyangka, lo bisa berbuat sekotor ini. Lo itu sangat menjijikkan!"


Nabila diam, bahkan saat melihat Adel meninggalkannya, Nabila masih mematung. Dia berusaha untuk mencerna apa yang Adel katakan. Kepemilikan cafe. Atas nama dia? Bagaimana mungkin? Bara?


"Mama!" panggil Ezra. "Maaa!" panggilannya lagi karena sang mama tidak menyahut.


"Ekh, iya. Kenapa?" tanya Nabila.


"Mama gak papa?" tanya Ezra lagi.


Nabila mengangguk seraya tersenyum. Dia mengusap kepala Ezra tetapi matanya fokus pada hal lain. "Kita pulang sekarang, ya!" ajak Nabila pada Ezra dan Marlina.


....


Nabila masih mondar mandir di depan pintu apartemennya. Sesekali dia melirik ke arah jam. Sudah jam 5 sore tapi Bara belum pulang, semua masakannya sudah siap, jika laki-laki itu sampai pulang malam lagi, sayang semua makanan itu. Terlebih, Nabila sudah sangat penasaran akan sesuatu.


Klik!


Nabila langsung menghampiri pintu. Belum sempat Bara mengucapkan salam, Nabila sudah menarik tangannya dan membawa Bara masuk ke dalam kamar.


Laki-laki itu tersenyum, dia hanya menurut saat Nabila menddukkannya di atas ranjang. "Apa kau sudah tidak tahan?" tanya Bara menatap Nabila seraya menahan senyum, dia melepaskannya jas yang dia kenakan dan membuka kancing-kancing baju kemejanya.


Wanita itu kembali menghampiri suaminya setelah dia mengunci pintu. Melihat apa yang Nabila lakukan, tentu saja Bara semakin senang. Dia manarik tangan Nabila sampai wanita itu terhempas di atas kasur mereka.


"Apa kita akan melakukannya sekarang?" tanya Bara. Nabila mengerutkan kening mendengar pertanyaan suaminya. Namun, saat dia mengingat sesuatu, Nabila melebarkan mata. Dia menutup mulut suaminya yang sudah akan sampai di atas bibirnya.


"Pak, Anda salah paham. Saya ... saya hanya ingin membahas tentang perjanjian kontrak kita. Bukankah seharusnya kita sudah mengakhiri kontrak yang kita buat?"

__ADS_1


__ADS_2