Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
73. Perjanjian


__ADS_3

Bara kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket yang dia kenakan. Setelah itu, Durant masuk membawa sebuah tas besar dan meletakkannya di dekat kaki Bi Susi. Bara menggerakkan dagunya. Mengerti akan hal itu, Durant membuka tas besar itu sampai isi dalam tas terlihat oleh semua orang. Tidak ada yang tidak terperangah, termasuk Nabila, dia mendongak menatap suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya. "Untuk apa semua ini, Mas?"


"Berikan berkasnya, Durant!"


"Baik, Boss!"


"Saya berikan semua uang itu untuk Bibi! Tapi tanda tangani surat perjanjian itu!" titah Bara. Nabila menerjemahkan apa yang suaminya katakan meskipun dia masih tidak mengerti akan apa yang ingin suaminya lakukan. "Setelah Bibi menandatangani surat perjanjian ini, baik Bibi atau keluarga Bibi tidak akan bisa menghubungi istri saya. Kata Ustadz Faisal, tidak baik memutus tali silaturahim. Tapi, Bibi sudah keterlaluan. Saya harap Bibi mengerti!" ucap Bara masih menatap istrinya. Begitupun dengan sang istri. Saat kalimat terakhirnya terucap, Nabila tersenyum ke arah suaminya.


"Jangan, Bu!" cegah Paman Purnomo. Istrinya itu malah menepis tangan suaminya dan menandatangani surat perjanjian mereka.


"Pamit pada Paman mu Sayang!" gumam Bara. Nabila mengangguk, dia mendekati Paman Purnomo saat bibinya sibuk dengan uang yang sudah dia dapatkan.


"Maafkan Bila, Paman. Paman harus sehat ya. Jangan sampai sakit lagi!"


Paman Purnomo mengangguk. Dia memeluk Nabila untuk beberapa saat, matanya berkaca-kaca. "Kamu gak perlu minta maaf. Paman yang minta maaf karena sudah menyusahkan kalian. Jaga diri baik-baik, Nak! Semoga Allah selalu melindungi kalian."


Nabila mengangguk. Dia menitikkan air mata saat suaminya menarik bahunya. Bara tersenyum ke arah Paman Purnomo kemudian keluar dari ruangan itu. Hatinya wanita mana yang tidak jika harus kehilangan semua orang. Terlebih ini adalah adik ayahnya. Nabila tahu jika Paman Purnomo adalah orang yang baik, hanya saja dia memang seperti terjaring oleh istrinya. Andai Bi Susi tidak menyayangi Paman Purnomo, mungkin ceritanya tidak akan seperti ini. Hanya saja, Bi Susi ini seperti memiliki benang merah. Sikapnya kepada orang lain terkadang membuat orang geleng-geleng kepala. Tapi memang, dia sangat menyayangi Paman Purnomo, Nabila tidak bisa menyangkal itu.


"Kamu itu keterlaluan!" ketus Purnomo pada istrinya. Bi Susi malah mendelik menatap suaminya tidak suka.


"Yang penting itu uang. Kamu lihat, uang sebanyak ini bisa untuk hidup bertahun-tahun. Buat apa sih ngurusin Nabila, dia itu udah gak punya siapa-siapa. Nanti juga balik lagi sama kita! Suaminya juga kaya, gak mungkin dia hidup kesusahan lagi. Manfaatkan selagi ada, kamu pikir, akan dapat dari mana uang sebanyak ini kalau gak ngepet!"

__ADS_1


....


"Memang, saya tidak akan pernah mengijinkan kamu untuk bertemu dengannya lagi. Jangan menangis. Maaf, tapi saya tidak ingin kamu stres karena masalah ini. Durant dan anak buah saya yang lain sudah menyeting ulang ponselmu. Semuanya aman. Hanya nomor-nomor tertentu yang bisa menghubungi mu."


Nabila meneguk air di dalam gelas sesenggukan. Suaminya ini selalu memiliki alasan untuk mencegahnya ini dan itu. Jangan sampai dia dilarang melakukan hal-hal yang sangat sia sukai.


"Mama kenapa?" tanya Ezra yang baru keluar dari kamarnya. Bocah kecil itu naik ke sofa kemudian menangkup wajah mamanya. "Mama nangis gala-gala Papa?" tanya Ezra menatap Bara. Dia berusaha mati-matian membesarkan kelopak matanya agar terlihat menyeramkan. Namun, tentu saja Nabila dan Bara malah tertawa melihat tingkah absrud anaknya.


"Bukan Papa!" ucap Bara enteng.


"Telus Mama kenapa? Apa gala-gala Ezla? Mama malah sama Ezla? Maaf Mama, Ezla janji, Ezla gak akan ngomong kayak gitu lagi. Ezla mau punya adik bayi. Ezla gak akan nolak lagi. Ma! Mama jangan sedih ya!"


Jemari mungil itu mengusap wajah Nabila dengan usapan yang sagat lembut. Dia juga mengecup mata sang mama satu persatu.


"Enggak apa-apa, Sayang? Mama sayang sama Ezra. Mama gak nangis karena apa-apa. Mama cuma lagi pengen makan es krim!"


"Durant!"


"Iya, Bos!"


"Siapkan berkas-berkas untuk membeli saham di perusahaan eskrim yang ada di Amerika! Saya mau versi halal dan nanti akan kita pasarkan lagi di sini!"

__ADS_1


Nabila dan Ezra saling menatap. Mereka berdua menggelengkan kepalanya mendengar apa yang keluar dari mulut Bara. Mulai sekarang, Nabila harus berhati-hati. Jangan sampai dia mengucapkan sesuatu hal yang sensitif seperti ini di depan suaminya. Bagaimana jika dia ingin berlibur di kapal pesiar, apa suaminya itu akan membelinya juga.


....


"Mas!"


"Hmmm!"


"Mas Bara~~!" rengek Nabila sambil menarik-narik jas yang dikenakan suaminya. Dia terus mondar-mandir mengikuti sang suami yang kala itu sedang mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor.


"Enggak bisa!"


"Mas Bara ikh, ayolah ... Bila janji Bila gak akan terlalu capek, gak ada kunjungan pasar, gak ada jalan-jalan. Bila pengen ikut kerja. Boleh ya!" Wanita itu berjalan memutar hingga kini sudah berada di depan suaminya, mengotak-atik dasi suaminya itu menunjukkan puppy eyes dengan senyum termanis yang dia miliki.


Mata mereka bertemu untuk yang ke sekian kalinya. Tangan besar Bara menarik pinggang sang istri hingga istrinya itu merapat ke arahnya. Satu kali dia mencubit pipi istrinya gemas. Bumil ini sedang bertingkah bukan? Baiklah, Bara akan menurutnya.


"Baiklah, kau boleh ikut ke kantor!"


Binar di mata Nabila tidak bisa wanita itu sembunyikan. "Can I come with you? Are you lying?"


"No Honey. You really can come with me. But there is one condition for you!"

__ADS_1


"Syarat apa, Mas?"


__ADS_2