
Bara membuka matanya perlahan, laki-laki itu menoleh ke samping, keningnya mengkerut saat handuk kecil yang ada di atas keningnya itu jatuh, baru akan beranjak, sebuah tangan menahan punggung tangannya. Bibir itu menyunggingkan senyum, sang istri merawatnya sampai dia ketiduran dengan posisi duduk dan kepala yang bersandar pada pinggiran ranjang. Sudah jam 23: 40 juga, tapi dia belum shalat isya.
Bara memejamkan mata, menahan ngilu di sekujur tubuhnya. Setelah membaringkan sang istri di atas ranjang, barulah dia pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melakukan shalat yang tadi belum sempat dia kerjakan. Kepalanya sudah tidak sepusing tadi meskipun badannya memang belum benar-benar terasa nyaman. Laki-laki itu duduk diam cukup lama, hanya menggumamkan apa yang pernah Ustadz Faisal dan juga istrinya ajarkan. Sebuah senyuman terukir di atas bibirnya. Mungkin, keputusasaannya untuk menikahi Nabila memang keputusan yang benar, terlepas dari apa yang dia rasakan sekarang, wanita pertama yang naik ke atas ranjang pribadinya, dan wanita pertama yang menjadi penghuni kamarnya adalah wanita yang sangat tulus. Nabila adalah wanita yang baik, wanita yang melakukan tanggunawab dengan keyakinannya. Wanita itu tidak pernah ragu untuk melayaninya meskipun mungkin itu melukai dirinya sendiri.
" Saya tidak pernah menganggap mu sebagai pemuas nafsu saya, Nabila!" gumamnya. Laki-laki itu kembali membaringkan tubuhnya di saping sang istri. Baru akan memejamkan mata, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di atas perutnya, di susul dengan tubuh wanita itu yang semakin lama semakin merapat ke arahnya bahkan menjadikan dadanya sebagai bantalan. Bukannya marah atau merasa tidak nyaman, Bara malah tersenyum, dia membalas pelukan istrinya dan kembali terlelap dalam keadaan saling memeluk satu sama lain.
....
Pagi ini Bara sudah bersiap seperti biasanya. Dia tidak berniat untuk libur sama sekali, malah, Bara terlihat berseri-seri. Entahlah apa yang laki-laki itu pikirkan, akan tetapi, Bara tidak bisa jika harus berdiam diri di rumah tanpa melakukan apa-apa. Ezra sudah berangkat bersama dengan Nabila, dia sudah tidak harus kemanapun selain ke kantornya.
"Bos! Nyonya Bos sudah mengatakan kalau Bos tidak boleh kemana-mana sekarang, bukannya Bos sedang sakit?"
Bara mendelik menatap tangan kanannya itu dengan tatapan membunuh. Durant refleks menunduk, tatapan Bara yang seperti ini membuatnya tidak bisa berkutik, bulu kuduknya merinding seketika.
"Kita ke kantor, sekarang, Durant!"
"Baik, Bos!"
Durant melajukan mobilnya seperti biasa. Namun, kali ini seperti ada yang berbeda dengan bosnya itu. Ada binar di mata Bara, entah apa yang sudah terjadi dengan kehidupan bos galak nan kejam di belakangnya. "Bos, sepertinya Anda banyak berubah setelah bertemu dengan Nyonya Bos!"
"Saya?" tanya Bara menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, Bos. Saya masih sangat hapal kenapa Anda berhenti dari dunia gelap. Non Eileria sudah lama bahagia, sekarang giliran Anda yang harus bahagia!"
Bara tidak menjawab, dia hanya menatap jalanan yang mereka lewati dengan tatapan kosong. Eileria? Wanita yang dulu sangat dia cintai, wanita yang telah menariknya keluar dari dunia lamanya. Benarkah dia mencintai wanita cantik itu? Perawakan Eileria yang mungil membuatnya teringat bagaimana ganas dan kejamnya wanita itu. Namun, dibalik apa sifat kejam Eileria, wanita itu sama saja dengan wanita lain, dia membutuhkan cinta dan kasih sayang.
"Apa yang sedang kau lakukan, El?" gumam Bara, dia mengambil ponsel dari saku jas yang dia kenakan kemudian melakukan panggilan video pada wanita yang dulu sempat singgah dihatinya. Tunggu? Sempat? Kenapa ada kata seperti itu? Bahkan sampai sekarang saja Bara masih sangat menyayanginya.
__ADS_1
"Halo, Honey!"
"Hei ... kemana saja kau! Kenapa sangat jarang menelpon? Kau punya selingkuhan di sana? Ck, awas saja! Aku pasti akan membunuhmu, Bara!"
Bara terkekeh melihat wajah merenggut wanita yang ada pada layar ponselnya. Dia terus berbincang sampai pada akhirnya dia sampai di perusahaan.
"Sudah dulu! Aku harus bekerja!"
"Hmmm ... baik-baik di sana! Jangan lupa untuk pulang!"
"Hmmm ... aku pasti akan pulang cantik. Pergilah!"
"Cih, kau mengusir ku? Awas saja, kalau kau menelpon ku lagi, aku tidak akan mengangkatnya!"
Tut!
Bara menggelengkan kepalanya. Dia sudah sangat hapal bagaimana sikap wanita itu. Rada gila dan ya ... sebenarnya dia juga sangat manja. Tetapi Bara tidak pernah keberatan untuk itu.
"Bulan ini sudah penuh, Bos!"
"Ya sudah, bulan depan saja!"
"Biak, Bos!"
Bara masuk ke dalam perusahaan, akan tetapi Durant masih tinggal di tempatnya. Dia menjadi sangat bingung saat melihat Bara yang seperti ini, kenapa dia terlihat sangat bahagia saat berdekatan dengan dua wanita? Siapa yang benar-benar Bara sukai.
"Eishhhhhhh ... aku bisa gila karena memikirkan masalah percintaan bosku."
__ADS_1
....
Seorang wanita tersenyum ketika sedang memberikan arahan kepada karyawan divisi yang dia pimpin. Saat sedang asyik menjelaskan semuanya, kening itu mengkerut. Seseorang sedang menatap ke arahnya seraya berpangku tangan. Sebisa mungkin Nabila tetap melanjutkan rapat tersebut meskipun matanya terus menoleh ke arah lain. Ruang rapat yang dindingnya terbuat dari kaca itu membuatnya bisa dengan leluasa melihat apa yang ada di luar ruangan itu.
"Baiklah ... ada yang ingin kalian tanyakan?"
Semua orang yang ada di sana diam. Tidak ada yang tidak mereka mengerti karena Nabila menjelaskan semuanya dengan cukup baik.
"Ya sudah, kalau tidak ada yang ingin kalian tanyakan, rapat kita akhiri, di sini saja!"
"Baik, Bu!" jawab semuanya.
Helaan napas keluar dari mulut Nabila, wanita itu mengembuskan napas panjang secara perlahan. Dia benar-benar harus menguatkan hatinya saat bertemu dengan laki-laki itu. "Jangan jatuh cinta, Nabila. Jangan jatuh cinta."
"Siapa yang tidak boleh jatuh cinta?" bisik Bara tiba-tiba.
Wanita itu tersentak kaget. Dia yang sejak tadi dilanda kegelisahan lupa kalau saat ini dia sedang berjalan menuju sebuah lift yang akan membawa ke lantai dimana kantornya berada.
"Lift Anda ada di sebelah sana, Tuan!" tunjuk Nabila ke arah lift khusus untuk CEO dan para petinggi di perusahaan tersebut.
"Saya ingin menggunakan lift yang ini. Apa tidak boleh?" tanya Bara dengan wajah datarnya.
Nabila menggelengkan kepala. Dia hendak memencet tombol di lift tersebut, akan tetapi Bara malah memencetnya lebih dulu.
"Astaghfirullah ...!" gumam Nabila. Tidak ingin terlalu larut dalam masalah itu, dia langsung masuk ke dalam lift. Maksud hati ingin meninggalkan Bara, akan tetapi kaki laki-laki itu menahan pintu lift dengan kakinya yang mana itu membuat Nabila yang saat itu sudah sangat senang malah kembali merengut.
"Kenapa Bapak malah bekerja? Bukankah saya sudah bilang kalau Bapak sebaiknya istirahat di rumah?"
__ADS_1
Senyum simpul tersungging di bibir laki-laki jangkung di samping Nabila. Seringai di wajahnya membuat Nabila yang saat itu melihat pantulan Bara pada dinding lift refleks menjauhi laki-laki itu .
Brukk! "Akh! ... apa yang Bapak lakukan? Lepaskan saya! Ini di kantor, Pak!" protes Nabila tidak terima saat Bara malah memojonkannya ke dinding lift tersebut.