
"Mama!" pekik Ezra seraya berlari menghampiri sang mama. Nabila tersenyum, dia berusaha untuk berjongkok agar anaknya itu bisa memeluknya.
"Sini, Sayang!" pinta Nabila.
Bara hanya menyaksikan apa yang terjadi, begitu pun dengan Nana dan juga dokter Fathan. Melihat Ezra yang begitu antusias, mereka seperti ikut kembali ke masa-masa kecil mereka. Menunggu kedatangan ibu yang menjemput saat jam sekolah berakhir.
"Ezra awas!" pekik Nana dan Bara. Bocah kecil yang sedang berlari itu membulatkan matanya, tubuhnya sudah melayang dan ....
Brukk!
"Astaghfirullah!" ucap Nabila membatu Ezra untuk segera berdiri dan menjauhkan bocah kecil itu dari atas perutnya. Kepala sang anak tepat mendarat di tengah-tengah perutnya yang besar. Bara juga tidak tinggal diam, dia membantu Nabila untuk berdiri karena terlalu terkejut dan khawatir.
"Kau baik-baik saja? Apa perutmu sakit?" tanya Bara ketakutan.
"Mama! Maafkan Ezla, Ezla gak sengaja!" lirih bocah itu dengan wajah sendu.
"Mama gak papa, Sayang! Kamu jatuh, ini bukan salah kamu, jangan sedih!" Nabila tersenyum. Namun, ketika dia mencoba untuk berjalan, perutnya tiba-tiba teremas dan sakit. Wanita itu meringis mencengkram lengan suaminya. Dengan kuku-kuku yang hampir tertancap. "Mas Bara! Perutku, Mas! Astaghfirullah!" Nabila hampir ambruk jika Bara tidak segera menyangganya. Nabila mulai menitikkan air mata, lututnya lemas karena rematan di perutnya yang semakin menggila.
"Kenapa, benturannya sangat keras 'kah?" tanya dokter Fathan mendekati Nabila dan Bara.
"Dia tidak baik-baik saja, aku akan membawanya ke rumah sakit! Tolong jaga Ezra sebentar!" kata Bara.
Dokter Fathan mengangguk. Dia tidak bisa berbuat apa-apa karena ini sama sekali bukan ranahnya. Jika Nabila yang sakit mungkin dia bisa membantu, tapi ini menyangkut kandungan wanita itu. Terlebih, dua bocah ini tidak mungkin dia ikut sertakan karena bisa saja mereka malah membuat suasana semakin tidak terkendali karena emosi mereka yang tentu saja belum sebaik emosi orang dewasa.
"Mama!" lirih Ezra. Bocah itu kembali menangis. Takut mamanya kenapa-napa juga dia yang masih berpikir jika apa yang terjadi kepada mamanya ini karena ulahnya.
"Enggak papa, Za! Tante Nabila akan baik-baik saja. Ini bukan salah kamu! Kau tidak sengaja." Nana berusaha untuk menenangkan Ezra meskipun sebenarnya dia juga sangat takut. Nana tumbuh dalam didikan yang keras, dia selalu dituntut untuk melihat apa pun dari sisi yang baik. Persis seperti anak yang dipaksa dewasa sebelum waktunya.
__ADS_1
"Tapi, Mama!" ucap Ezra lagi.
"Shutttt! Mama Nabila baik-baik saja. Mungkin ini hanya kontraksi biasa. Ezra ikut Om dulu ke rumah ya!" Dokter Fathan terpaksa memangku Ezra dan memasukan bocah kecil itu ke dalam mobilnya diikuti Nana yang juga masuk ke dalam mobil itu.
"Tarik napas, Sayang! Hembuskan perlahan! Exhale! Inhale!"
Nabila melakukan apa yang suaminya katakan. Sepanjang perjalanan dia terus beristighfar juga menahan sakit yang semakin lama semakin berkurang, sebenarnya tidak sepenuhnya hilang. Rasanya masih sangat menyakitkan meskipun tidak separah sebelumnya.
"Mas!"
"Yes, Honey! Kenapa?"
"Jangan marah sama Ezra! Dia enggak sengaja. Ini hanya kecelakaan. Bila mohon, jangan marahi bocah itu! Bila yang salah, Bila yang yang tidak hati-hati." Nabila terlalu takut Bara akan membenci Ezra karena masalah ini.
Bara mengembuskan napas berat. Dalam kondisi seperti ini saja Nabila masih sangat memperdulikan Ezra. Sebesar apa cinta Nabila pada bocah itu, Ezra bukan anak kandungnya. Kenapa Nabila membuatnya ingin marah.
Nabila menolehkan kepalanya ke sisi jendela. Sakit? Tentu saja, dia pernah mendapatkan bentakan dari suaminya ini, akan tetapi, inilah yang paling menyakitkan untuknya.
"Astaghfirullah!" gumam Bara seraya memukul stir mobil. "Maafkan saya, Baby. Saya tidak sengaja!"
Bara masih berusaha untuk menenangkan istrinya meskipun dia sendiri kepayahan menahan emosi. Jujur, Bara sangat cemburu melihat cinta yang diberikan Nabila untuk Ezra. Tapi dia harus bagaimana, Ezra hanya bocah kecil yang tidak tahu apa-apa. "Apakah kau akan menyayangi anak-anak kita seperti kau menyayangi, Ezra Nabila!" Bara membatin dengan segala pemikiran yang berkecamuk dalam kepalanya.
Semua suster, perawat juga dokter sibuk membantu Nabila masuk ke rumah sakit. Wanita itu sudah sangat lemas, keringat dingin bercucuran di pelipis dan juga di wajahnya. Semua orang sangat panik. Belum lagi wajah Bara yang terlihat sangat menyeramkan. Laki-laki itu seperti akan menelan semua orang hidup-hidup.
"Lakukan apa pun untuk menyelamatkan istri dan anak-anak saya. Jika kalian melakukan kesalahan, saya tidak akan memaafkan kalian!"
"Kami akan memeriksa Nyonya Nabila dulu, Tuan, Insyaallah beliau baik-baik saja!"
__ADS_1
"Mas! Bila minta maaf!" lirih wanita itu dengan tetes air yang keluar dari sudut matanya.
"Kau akan baik-baik saj, Sayang! Kau akan baik-baik saja!"
Tangan yang sejak tadi menggenggam jemari sang istri mulai terlepas ketika orang-orang di rumah sakit tersebut mendorong brangkar masuk ke IGD di rumah sakit tersebut.
Bukan hanya dokter umum, dokter ahli kandungan dan juga dokter anak ikut masuk ke IGD. Setelah itu pun, masih ada beberapa dokter yang berdatangan. Tentu saja atas perintah dari direktur rumah sakit yang mendapatkan instruksi dari Bara si diktator penguasa.
Laki-laki itu bergerak gelisah di koridor rumah sakit, menunggu hasil pemeriksaan dokter. Banyak hal yang sangat dia takuti. Usia kehamilan yang masih jauh dari perkiraan kelahiran membuat jantung Bara kian berdegup tak karuan. Vonis dokter memang mengatakan jika Nabila tidak bisa melahirkan dengan waktu kelahiran layaknya kehamilan pada umumnya. Namun, usia kehamilannya juga baru menginjak 8 bulan.
"Boss!" panggil Durant bersama seorang wanita di sampingnya. Setelah itu, Max dan Marlina pun datang dengan napas naik turun tak beraturan selepas berlari karena khawatir saat mendapatkan kabar dari Bara.
"Kanapa kalian ke sini?" tanya Bara kepada Max dan Marlina. "Saya bilang tolong jaga Ezra! Dia ada di rumah dokter Faisal."
Bara menjambak rambutnya karena terlalu kesal. Kejadian ini membuatnya bingung. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi? Bara tahu jika tadi, kepala Ezra membentur perut istrinya cukup kuat.
"Dokter!" panggil Bara ketika pintu IGD rumah sakit itu dibuka dari dalam. "Bagaimana keadaan istri saya? Dia baik-baik saja 'kan? Bagaimana dengan anak-anak saya?"
"Boss! Tenanglah!" pinta Durant. Dia juga sangat khawatir. Tapi, kasian juga dokter yang ingin berbicara tetapi tertahan karena Bara yang terus mencecarnya dengan rentetan pertanyaan.
"Tenang! Kau menyuruhku tenang Durant?" Bara mendelik tajam menatap Durant dengan mata memerah. "Dokter ini tidak mengatakan apa-apa. Jika kau yang ada di posisiku, apa kau yakin akan bisa tenang, hah!"
"Tuan! Saya ingin berbicara!" kata dokter itu membuat Bara yang sedang menatap Durant kini beralih menatap dokter tersebut.
"Katakan!" titah Bara.
"Setelah melakukan banyak pertimbangan dengan semua dokter, kita bersepakat untuk segera melakukan operasi, Tuan! Istri dan bayi-bayi Anda tidak dalam kondisi yang baik! Apakah Anda akan mengijinkan kami untuk melakukan operasi ini? Kita tidak bisa menunggu lagi. Saya membutuhkan persetujuan Anda sekarang juga."
__ADS_1