Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
41. Keyakinan Fino


__ADS_3

Maurin menatap pantulan laki-laki di balik kemudi dari kaca depan mobil. Saat hari sudah semakin larut, mereka berdua memutuskan untuk pulang. Maurin awalnya menolak saat Fino menawarinya untuk mengantarkannya pulang. Akan tetapi, Fino memaksa dan mau tidak mau Maurin pun menerima tawaran itu.


"Udah, Disni aja!" pinta Maurin. "Kontrakan aku masuk gang. Mobil kamu gak bakal masuk."


"Kabarin aku kalau udah ada kabar dari 'dia!"


"Sip! Bisa diatur!" jawab Maurin tersenyum. Wanita itu melambaikan tangan ke arah mobil Fino, senyum itu hilang sedikit demi sedikit. Akan tetapi, saat helaan napas berat keluar dari mulutnya, Maurin kembali tersenyum lebar. "Kamu beruntung, Nabila. Semoga kamu bisa mendapatkan jodoh yang baik."


....


"Ada apa?" tanya Nabila dengan wajah kesalnya. Ini sudah jam 7 pagi, dia harus segera keluar dari rumah sakit untuk pergi ke kantornya, akan tetapi orang-orang ini malah menghadangnya di koridor rumah sakit. Lalu, bagaimana caranya dia bisa keluar dari bangunan itu.


"Nyonya, Bara. Maafkan kami. Sebaiknya Anda masuk ke kamar Anda lagi. Tuan Bara akan sangat marah jika tahu kalau Anda keluar seperti ini." Para dokter dan perawat berjejer seperti mengerumuni Nabila, membujuk wanita itu agar tidak melakukan hal yang akan membuat Bara marah.


Nabila mengembuskan napas kasar. Saat bangun tidur, dia sudah tidak melihat sosok suaminya. Nabila bingung harus bagaimana. Masalahnya dia sudah tidak sakit, dan dia harus segera pulang untuk berganti pakaian dan bersiap pergi ke kantor. Wanita itu tersenyum kecil, dia yang sudah tidak memakai pakaian rumah sakit itu membungkuk ke arah para dokter dan perawat di depannya kemudian masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya perlahan. Namun, setelah beberapa saat, Nabila menyumbulkan kepalanya dari balik pintu itu. Wajahnya tersenyum sumringah karena orang-orang itu sudah menjauh dari kamarnya. Buru-buru Nabila keluar lagi. Dia berlari dengan kecepatan yang cukup untuk membawanya melewati para dokter itu.

__ADS_1


"Hei! Itu istirnya Tuan Bara!"


"Shhutttt! Jangan berteriak! Orang-orang bisa mendengarmu!" sahut yang lain. "Kejar saja!"


Nabila tersenyum lebar. Kenapa dia malah bernostalgia pada masa kecilnya. Lagipula kenapa dokter dan para perawat itu sangat bodoh sampai mau melakukan hal-hal konyol seperti ini.


Bruk!


"Astaghfirullah!" pekik Nabila. Matanya membulat ketika tubuhnya terpental dan hampir terjengkang karena bertabrakan dengan tiang ... ekh, bukan tiang ... itu adalah ... suaminya.


"Pak, Bara ... saya mau bekerja. Saya sudah sembuh. Saya janji, saya tidak akan sakit lagi. Saya mau pulang. Boleh ya!" mohon Nabila menatap suaminya dengan tatapan sendu. Bara melepaskan rangkulannya kemudian menunduk dan menyentil dahi sang istri.


"Shhhhh!" ringisanya kesakitan. "Kanapa Bapak menyentil dahiku?" ketus Nabila tidak suka.


"Hukuman karena kau sangat nakal. Durant sudah membuatkan permintaan cuti untuk mu. Hari ini dan besok. Kau bisa istirahat di rumah. Dan ya, jangan pulang sebelum dokter mengijinkan!"

__ADS_1


"Tapi, Pak!"


"Paling tidak tunggu sampai nanti siang. Saya ada rapat pagi ini. Nanti siang baru pulang. Durant akan mengurus semuanya!"


Bara memberikan isyarat kepada para suster untuk membawa Nabila pergi ke ruangannya lagi. Dia benar-benar bergeming saat melihat wajah memelas istrinya. Bahkan ketika Nabila memasang puppy eyes andalannya, Bara masih diam di tempat.


"Bos! Bukankah hari ini tidak ada rapat?" tanya Durant kebingungan.


"Bukankah ada orang yang harus kita interogasi, Durant! Tindak kah kau merasa janggal kenapa kemarin lusa Nabila tidak menerima jadwal meeting dengan benar?"


Durant terdiam untuk beberapa saat. Dia mengikuti Bara yang sekarang sudah berjalan keluar dari area rumah sakit. Tadinya, Bara memang ingin melihat kondisi istrinya. Namun, karena sekarang mereka sudah bertemu, jadi Bara sudah merasa cukup untuk itu.


Durant masih terlihat berpikir, dia mengikuti Bara dari belakang dengan semua pemikirannya.


"Wanita itu!" gumam Durant dengan mata membulat sempurna.

__ADS_1


__ADS_2