Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
Bab 18. Jangan Marah


__ADS_3

"Mama ... Mama kenapa belum tidul? Nanti Mama capek kalau beres-beres seperlti ini telus!"


Nabila mengembuskan napas panjang, wanita itu menaruh lap di atas meja kemudian berbalik dan berjongkok di depan anaknya. "Sayang ... mama lagi beres-beres dulu, Nak. Ezra tidur sendiri dulu, Ya. Nanti, mama tidur kalau kerjaan mama sudah selesai."


Ezra memasang wajah sendu, tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Meskipun Ezra masih sangat kecil, tetapi Ezra tahu jika saat ini ibunya sedang marah. "Mama jangan bekelja telalu kelas. Ezla tidul duluan ya, Ma!"


Nabila mengangguk sembari tersenyum, dia memutar tubuh Ezra, mendorong anak kecil itu untuk segara masuk ke kamarnya. Helaan napas kembali terdengar, Nabila sebenarnya merasa sangat bersalah, tetapi jika tidak melupakan emosinya, dia pasti akan merasa kurang nyaman untuk waktu yang lama. "Maafkan mama, Ezra," gumam Nabila. Wanita itu kembali berdiri dan melakukan pekerjaan rumah. Tidak ada yang bisa dia kerajaan sebenarnya karena apartemen itu sudah sangat bersih. Sampai jam 11 malam dia terus mengelap dan juga membersihkan semuanya, wanita itu ambruk di atas sofa. Keringat besar bercucuran dari pelipisnya. Ini sangat melelahkan, tapi kenapa perasaan marah itu susah hilang, padahal biasanya tidak seperti ini.


"Astaghfirullah ... sebenarnya ada apa denganku!"


....


Sudah dua hari sejak kejadian itu, Nabila masih melakukan pekerjaannya seperti biasa, akan tetapi, dia tidak mengeluarkan suara. Hanya ekspresi datar tanpa mau menatap Bara atau menghiraukan laki-laki itu. Bahkan setelah mendengar Bara akan mengajak Ezra jalan-jalan di akhir pekan pun sama sekali tidak membuat Nabila luluh. Rasa kecewanya kepada Bara membuat moodnya hancur.


"Saya akan pulang malam, tidak usah menyiapkan makan malam!" kata Bara. Lagi-lagi wanita itu hanya melengos pergi. Nabila sudah seperti seorang istri yang merajuk karena mengetahui perselingkuhan tak sengaja yang suaminya lakukan.


"Ustad Faisal," gumam Bara. Dia keluar dari apartemennya tanpa mendapat senyuman dari Nabila. Laki-laki itu bergegas menuju tempat yang sangat ingin dia tuju.


"Ke tempat Ustadz Faisal, Durant!" titah Bara.


"Baik, Bos!"


Bara terus memainkan jemarinya dan terkadang mengusap jenggot tipis yang ada di atas dagu. Helaan napas terus terdengar, dia gelisah karena Nabila belum berbicara sama sekali padanya.


"Kita sud ... eishhhhhhh ... sebenarnya ada apa dengan Bos, kenapa dia sangat buru-buru. Padahal aku belum menyelesaikan ucapan ku," Gerutu Durant sembari menggeleng-gelengkan kepala. Dia juga harus bergegas untuk turun agar bosnya itu tidak marah-marah lagi.

__ADS_1


Pintu di lobi perusahaan itu terbuka. Ini bukan perusahaan Bara, perusahaan ini hanya perusahaan kecil yang diyakini oleh mereka adalah perusahaan rintisan milik ustadz Faisal. Para karyawan di ruangan itu langsung membungkuk saat melihat Bara masuk, mereka tentu sangat tahu siapa Bara, terlebih orang hebat ini adalah orang yang dekat dengan bos mereka.


"Apa saya boleh bertemu dengan Ustadz Faisal?" tanya Bara pada karyawan wanita yang ada di kantor itu. Sang karyawan bukannya menjawab malah terbengong, persis seperti manusia yang mendapat kutukan menjadi batu. "Excuse me!" kata Bara lagi. Kali ini dengan suara yang lebih keras, suara maskulin yang sedikit serak tetapi sangat seksi itu membuat karyawan wanita kembali ke habitat aslinya.


"Akh, iya, maaf Pak, saya ...!"


"Assalamu'alaikum!" sapa seseorang.


Bara langsung menoleh, dia menatap Faisal dengan senyum kecil, tanpa menunggu lama, laki-laki bertubuh tinggi itu langsung menyalami Faisal dan menjawab salam Faisal padanya.


"Wuahhh, sudah lebih fasih," gumam wanita tadi. Dia benar-benar akan terkena serangan jantung jika lebih sering melihat Bara datang ke kantor ini.


Durant yang melihat ekspresi itu bergidik negeri. Sekarang dia mengerti, kenapa Bara benar-benar penasaran pada sosok Nabila, sejauh ini, hanya Nabila saja wanita yang tidak terpesona oleh ketampanan bosnya. Hanya Nabila yang menolak Bara secara terang-terangan. Mungkin karena ini, harga diri Bara terasa di jatuhkan.


"Silakan, duduk, Pak Bara!" kata Faisal. Saat ini mereka sedang duduk di ruangan Faisal yang berada di lantai dua. "Jadi, ada perlu apa Pak Bara datang ke tempat saya?"


Faisal tergelak, Bara benar-benar luar biasa. Apakah laki-laki ini memang tidak pernah berurusan dengan wanita. Bahkan istrinya saja, jika marah kuat 3 hari tidak bicara meskipun dia tetap melakukan kewajibannya. Istrinya itu selalu berdalih asal tidak lebih dari 3 hari tidak apa-apa. Mereka ini tidak tahu saja jika hal itu membuat para pria sangat geregetan, mungkin rasa geregetan ini juga yang membawa Bara datang ke tempatnya.


"Begini, Pak Bara. Sepertinya Anda membuat kesalahan, kalau boleh saya tahu, siapa wanita ini? Dia wanita yang Bapak kejar itu?"


Bara awalnya diam, tetapi detik berikutnya dia mengangguk pelan. Sangat pelan sampai Faisal hampir tidak bisa melihat anggukan itu.


"Apa, Pak Bara ada melakukan hal yang tidak dia suka?"


"Saya hanya memeluknya, Ustadz! Saya tidak melakukan hal lebih, hanya itu saja!"

__ADS_1


Faisal mengembuskan napas panjang. Begini, saja. Hari ini, Pak Bara ikut kegiatan saya. Jika bisa, kita akan pergi ke mesjid untuk mengikuti pengajian di sana. Nanti saya akan menjelaskan kenapa 'wanita itu' marah kepada Pak Bara!"


"Baiklah, saya ikut!" kata Bara mantap.


"Tapi, Bos, hari ini kita ada rapat penting." Durant mengingatkan.


"Undur sampai acara saya selesai!"


Durant melongo, maksudnya, acara apa, kapan acara itu selesai. Kenapa bosnya ini selalu melakukan semuanya sesuka hati.


"Jam 1, Pak Durant," sahut Faisal seolah mengerti akan kegelisahan yang dirasakan oleh asisten Bara.


"Baik, Ustad!"


....


Bara terus mengetukkan jarinya di atas meja. Laki-laki itu menatap objek di depannya dengan tatapan kosong, padahal, saat ini dia sedang menghadiri rapat yang sangat penting, berlangsungnya acara lusa tergantung dari rapat hari ini. Namun, Bara benar-benar tidak bisa fokus pada apa yang sedang orang-orangnya bahas.


"Jika Bapak setuju untuk melakukannya dengan cara yang sudah kita tentukan, kita akan menggunakan rincian acara ini untuk acara lusa, Pak!" kata seseorang di depan sana.


Bara terlihat menggelengkan kepala, "Tidak, ini tidak boleh terjadi!" gumamnya membuat semua orang yang ada di ruangan itu melongo. Tak terkecuali Durant. Mereka semua mulai ribut dan saling berbisik, apa acara lusa harus mereka tunda, atau Bara ingin mereka membuat rincian acara dari awal lagi. Mereka sudah hampir mati karena sudah lembur selama satu minggu ini. Jika mereka harus memulai semuanya dari awal lagi, mereka bisa mati sungguhan.


Melihat situasi yang mulai tidak kondusif, Durant berjalan mendekati Bara dan membisikan sesuatu di telinga bosnya itu.


"Akh, sorry ... kalian bisa melakukan semuanya sesuai rencana. Rapat kita akhiri sampai di sini saja!" tegas Bara langsung beranjak dari kursinya.

__ADS_1


"Astaga ... kepalaku hampir pecah," kata seorang petinggi di perusahaan itu. "Aku pikir aku harus lembur lagi."


__ADS_2