Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
56. Tidak Diijinkan


__ADS_3

Nabila menitikkan air mata. Entah kenapa, dia selalu merasa lemah di depan laki-laki ini. Padahal, dia sudah sering menerima kepahitan hidup, akan tetapi dia pantang untuk menitikkan air mata, nyatanya dibentak oleh Bara rasanya lebih menyakitkan. Hatinya sesak, apalagi saat tahu jika dia memang melakukan kesalahan. Dia tidak berhak untuk protes, tapi tidak nyaman saat hanya diam tanpa mengeluhkan apa pun.


Hembusan napas keluar dari mulut, Bara. Dia memalingkan wajah dengan tangan terkepal. Namun, beberapa detik kemudian, dia merengkuh tubuh sang istri yang bahunya semakin bergetar. "Maaf Sayang, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya terlalu kesal karena kamu terluka. Kenapa kau membiarkan orang lain menyakitimu, hmmm! Bahkan jika itu kau sendiri, saya tidak akan senang. Saya tidak akan mengijinkan mu melakukan itu. Maafkan saya!"


"Jangan bentak aku seperti itu lagi!" gumam Nabila dengan suara terisak.


"Saya tidak bisa!"


Satu kalimat itu mampu membuat Nabila menangis semakin menjadi-jadi.


"Shutttt! Saya tidak akan membentak mu. Saya tidak pernah membentak mu!"


"Lalu tadi? Mas bentak aku, di depan mataku. Di depan Durant juga. Apa aku salah dengar?"


Bara menggelengkan kepalanya. Dia melepaskan pelukannya kemudian memangku istrinya dan kembali mendudukkan Nabila di atas sofa. "Yang saya bentak hanya kesalahan kamu. Bukan kamu!" ujar Bara dengan wajah datarnya.


Nabila memutar bola mata. Sungguh, laki-laki ini benar-benar memiliki peraturan hidupnya sendiri. Apa yang menurutnya benar, maka itulah kebenaran. Sesuatu yang tidak mutlak, bisa dia rubah sesuka hatinya. Bara juga cenderung tidak mau memusingkan pendapat orang lain dan terkesan abai. Yang terpenting adalah pendapatnya.


"Minum dulu! Setelah itu makan!" titah Bara seraya mengusap kepala istrinya. Dia mulai membantu Nabila untuk makan sampai makanan itu hampir tandas. Nabila melirik ke arah Durant. Kasihan sekali anak buah suaminya itu. "Mas!"


"Itu hukuman untuknya. Dia pantas mendapatkan itu!"


"Tapi ini bukan salahnya dia, Mas!"


"Kata siapa. Dia yang sudah membuat kesalahan. Dialah yang harus bertanggungjawab."


"Bi Susi yang salah!"

__ADS_1


"Bibi?"


"Iya ... yang membuat tanganku terluka adalah Bi Susi, istrinya Paman Purnomo." Nabila mulai menjelaskan semua yang terjadi. Kecuali masalah bibinya yang memintanya untuk membiayai pengobatan Paman Purnomo. Nabila terlalu takut membebani sang suami. Apalagi saat ini emosi suaminya sedang tidak baik, bisa-bisa laki-laki nekad melakukan sesuatu yang akan merugikan dirinya sendiri.


"Durant!"


"Iya, Bos!"


"Jelaskan!"


"Baik, Bos. Bibinya Nyonya Bos meminta Nyonya Bos untuk membiayai pengobatan Pak Purnomo. Beliau Sepertinya sudah tahu jika Nyonya Bos menikah dengan Anda!"


Bara menatap istrinya dengan senyum sinis. Dia tahu, istrinya ini memang belum bisa terbuka kepadanya. Namun, untuk sekarang Bara memaklumi itu karena hubungan mereka pun masih seumur jagung. Pertanyaan sebelumya dia lontarkan karena dia terlalu emosi. Bara tahu, istrinya mungkin hanya tidak ingin meminta hal seperti ini, darinya.


"Panggilkan semua dokter ahli ke sini!"


"Mas!"


"Apa? Mau menolak? Saya tidak akan mengabaikan luka pada jari tangan kamu itu, Nabila. Menurutlah!"


Nabila tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia sudah pernah mengatakan jika Suaminya ini adalah diktator yang tidak pernah mau dibantah. Dan itu memang benar.


"Satu lagi, saya akan bertemu dengan Bibimu itu. Kita akan bantu mereka."


"Tapi, Mas!"


"Sudahlah! Kau pikir suamimu miskin? Jangan bertingkah seperti orang yang tidak memiliki uang. Untuk apa semua uang yang kita miliki jika bukan untuk kita gunakan?"

__ADS_1


Wait, Nabila harus menggaris bahwahi bagian kita dalam kalimat yang baru saja Bara katakan. Kanapa dia ....


"Kita?"


Bara mengangguk. "Kita, uang yang saya miliki itu adalah uang kamu juga. Berarti, apa pun yang saya miliki, kamu juga berhak memilikinya. Jangan takut! Saya sudah mengalihkan sebagian aset saya atas namamu!"


"Mas tapi ini terlalu berlebihan. Kenapa Mas percaya sama saya. Apa Mas gak takut saya menipu, Mas Bara!"


Tidak ada jawaban dari laki-laki itu. Dia sama sekali tidak berniat untuk membahas masalah berhak atau tidak berhak. Yang Bara tahu, Nabila adalah istrinya dan dia memang harus memiliki apa yang harusnya dia miliki.


....


Sebuah senyum tersungging di bibir Nabila saat dia melihat suaminya sedang berjongkok di depannya dengan tangan yang fokus menggantikan perban sebelumnya. Hari ini mereka sudah diperbolehkan untuk pulang karena kondisi Ezra juga semakin membaik.


Tidak ada yang Nabila katakan. Memiliki Bara, seperti memiliki satu orang dengan banyak kepribadian. Terkadang, laki-laki ini terlihat sangat cuek, dingin, dan menyebalkan. Arogan, bengis, pemarah dan juga tidak sabaran. Namun, sekarang Nabila lebih sering mendapatkan perlakuan hangat dari sang suami. Perhatiannya, keperduliannya. Juga kasih sayang yang Bara tunjukan membuat Nabila bisa menepis keraguan di dalam hatinya sedikit demi sedikit. Yang paling membuat Nabila tidak bisa berpaling adalah sikap Bara yang menunjukkan rasa kepemilikan dengan tindakan. Bukan hanya kata-kata manis dengan bualan, akan tetapi Bara selalu mengedepankan action.


Sett!


Bara kebingungan ketika Nabila tiba-tiba ikut berdiri seraya mengalungkan tangannya pada lehernya. Dia menatap Nabila dengan kening mengkerut.


"Jangan buat seperti ini, kau bisa cepat tua!" ucap Nabila seraya mengusap pelan kening suaminya. Bara tersenyum, dia menarik pinggang sang istri membuat istri cantiknya itu semakin merapat ke arahnya.


"Kau sedang menggodaku, Honey?" bisik Bara. Dia mulai mengusap punggung istrinya dari balik kain sutra yang menutupi tubuh itu. Bau harum rambut istrinya membuat Bara kembali merasakan sengatan listrik yang luar biasa.


"Baby ... my, i? ...."


Nabila mengangguk. Dia mulai memejamkan mata saat Bara semakin menunduk dan ....

__ADS_1


"Papa!" teriak bocah kecil yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mereka.


__ADS_2