
Jessica membantingkan tas yang dia bawa ke sembarang arah. Wanita cantik itu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan kedua tangan yang dia rentangkan. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Bayangan dimana Durant memegang dadanya membuat Jessica tidak bisa berpikir dengan tenang. Dia mengusap wajahnya dengan usapan kasar. Menggulingkan tubuhnya karena sudah tidak tahan dengan gejolak yang membuatnya ingin marah.
Bruk!
"Akhhh!" ringis Jessica memegangi kening yang beradu dengan lantai. "Bajingaaaaannnn! Kau benar-benar bajingan Durant!" teriak Jessica menggoyahkan kakinya kesal.
....
"Pelan-pelan!" ucapnya mengingatkan. Wanita itu hanya menurut. Dia tidak banyak protes, meskipun suaminya itu terlampau sangat bawel. Ya, bawel dalam hal seperti ini bukan masalah. Yang terpenting Nabila tidak harus menerima bawelan yang tidak berarti.
"Selamat pagi, Pak Boss, Nyonya Boss!" ujar Durant membukakan pintu mobil.
"Aku tidak di sapa!" protes Ezra seraya menyikangkan tangan di depan dada. Dia menatap Durant dengan tatapan tajam. Netra kecilnya dipaksa untuk membesar mengikuti perintah dari tuannya.
"Maaf Boss Kecil! Selamat pagi!"
Nabila tersenyum melihat tingkah bocah kecilnya. Dia menoleh menatap Durant namun hal yang tidak terduga dia lihat di sana.
"Astaghfirullah ... apa kau habis berkelahi?" tanya Nabila. Durant tidak menjawab, dia hanya tersenyum seraya menunduk dalam. Lebam di sudut matanya tidak sebanding dengan apa yang telah dia lakukan. Jessica pantas menghajarnya seperti ini. Seminim apa pun pakaian yang Jessica kenakan, wanita itu tetaplah wanita biasa yang ingin dihormati. Dia memiliki harga diri dan memang Durant tidak boleh mengabaikan itu.
__ADS_1
Gelak tawa terdengar dari jok belakang. Nabila memegangi perutnya yang sakit karena terlalu lama tertawa. "Kau itu kenapa sangat ceroboh!" cibir Nabila. "Pantas saja Jessica menonjok mu! Lain kali berhati-hatilah. Bagaimana Jessica akan luluh jika kau bersikap kurang ajar seperti itu. Yang ada dia malah ilfil," kata Nabila lagi. Durant hanya mengangguk menanggapi apa yang Nabila katakan. "Satu lagi ... saya heran, kenapa kamu bisa terpincut olehnya? Padahal saya sangat tahu jika sejak awal kau tidak menyukainya."
Lagi, untuk kesekian kalinya Durant hanya tersenyum. Ingatannya melayang pada hari dimana dia mulai memperhatikan Jessica. Saat itu, jalanan terlihat sangat ramai. Durant yang sedang berkendara berhenti di sebuah penyebrangan jalan. Namun, satu hal yang aneh terjadi. Ketika lampu untuk pengendara sudah kembali hijau, di tengah-tengah zebra cross masih ada seorang nenek yang memakai tongkat sedang berjalan kesusahan. Tak lama setelah itu, munculah seorang wanita yang juga menyebrang jalan dan melangkah beriringan dengan nenek tersebut sambil memainkan ponselnya. Banyak orang yang marah karena hal tersebut. Namun, Durant malah tersenyum. Dia tahu kalau maksud wanita itu hanya ingin melindungi nenek yang sedang menyebrang jalan alih-alih membuat kegelisahan. Sejak saat itulah Durant mulai percaya kalau Jessica tidak seburuk penampilannya. Wanita itu memiliki hati yang baik dan begitu perduli kepada sesama.
"Selamat pagi, Tuan! Nyonya!" sapa pemilik butik kepada Nabila dan Bara.
Kedua orang itu masuk ke dalam bukit untuk mencoba berbagai pakaian di sana.
"Mas, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Nabila agak kurang nyaman. Mereka hanya ingin melakukan pemotretan. Kenapa sampai harus membeli gaun pernikahan yang harganya selangit. Bara mungkin merasa kurang nyaman karena mereka tidak melakukan pernikahan dengan resepsi yang mewah. Namun, Nabila benar-benar tidak keberatan karena hal tersebut.
"Tidak masalah. Saya hanya ingin melihatmu dalam balutan gaun putih ini sebelum perutmu membesar. Kita juga akan berfoto bertiga dengan Ezra. Ini akan menjadi foto pernikahan kita. Anggaplah seperti itu. Tidak apa-apa bukan?"
Nabila menggelengkan kepalanya. Tentu dia tidak keberatan. Bagaimana mungkin dia keberatan hanya karena hal seperti ini. Nabila sudah pernah menikah satu kali. Dia tidak harus melakukan resepsi pernikahan yang mewah untuk kedua kalinya. Dia merasa itu tidak perlu.
"Papa lebih kelen dali Ezla, tapi Ezla lebih tampan!" ucapnya tanpa beban. Bara hanya tersenyum.
"Baiklah ... Papa mengaku kalah. Ezra memang lebih tampan karena Ezra lebih muda, tapi, saat Papa muda juga, Papa terlihat seperti pangeran."
"Really?"
__ADS_1
"Sure! Mana mungkin papa bohong."
Tepat ketika mereka sedang berbincang, tirai di depan mereka terbuka dengan cepat. Sesosok umat manusia terlihat sangat cantik saat mengenakan gaun pernikahan yang sangat berkilau. Bara sudah memesan ini sejak lama. Namun, tubuh istrinya masih sangat cukup dalam balutan baju itu.
"Masyaallah ... cantik banget, Ma!" ujar Ezra dengan wajah melongo. Dia menoleh ke samping. Melihat papannya yang juga terlihat bodoh karena tidak bisa berkedip. Air liurnya pasti akan menetes jika bibirnya tidak segera terkatup.
Anggaplah gaunnya seperti ini 😍
"Mas mau apa?" tanya Nabila saat suaminya itu menarik pinggangnya di depan para pelayan juga di depan Ezra.
"Saya sangat menyukainya. Kau sangat cantik, Honey!" bisik Bara di samping telinga istrinya. Nabila meremang. Tumbuhnya kaku dengan wajah yang semakin lama semakin memanas. Pipinya bersemu merah menandakan jika dia sangat tersipu dengan apa yang suaminya katakan.
"Mas ikh, ada Ezra!" ucap Nabila lagi.
"Ezla gak liat Mama!" ujar bocah kecil itu menutup matanya kemudian berbalik tidak ingin melihat adegan romantis yang dilakukan Bara dan Nabila.
"Kami permisi!" ucap para pelayan di butik tersebut. Mereka memberikan waktu untuk Bara dan Nabila agar mereka bisa saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Honey!" ucap Bara kemudian mengecup kening sang istri cukup lama. Nabila tidak menjawab, dia hanya mengangguk kemudian memeluk suaminya yang juga sudah memakai tuxedo untuk pemotretan mereka hari ini.
"Apa mereka akan datang?" gumam Nabila dalam dekapan suaminya.