Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
37. Salah Paham


__ADS_3

"Kenapa kau malah menangis? Merasa berat untuk memegang posisi ini? Mau saya berikan posisi ini pada yang lebih pantas? Angkat kepalamu! Apa kau tidak bisa menjawab? Bukankah kau sangat pandai?"


Durant yang juga ada di ruangan itu tidak bisa bergerak. Laki-laki itu bergeming di pojok ruangan. Kepalanya menunduk, sama seperti apa yang Nabila lakukan. Berat rasanya karena harus melihat nyonya bos-nya dibentak seperti ini. Laki-laki saja pasti akan sakit hati, apalagi perempuan.


"Masih diam?" teriak Bara yang membuat Nabila terperanjat kaget. Dia mengangkat kepalanya menaruh laptop dan semua berkasnya di atas meja kemudian menatap bosnya itu meskipun dengan mata berkabut.


"Saya minta maaf, Pak! Saya janji, ini adalah kesalahan pertama dan terakhir yang saya lakukan. Saya tidak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi. Jika Bapak ingin menghukum saya silakan saja! Jika itu masih masuk akal, saya akan menerimanya!"


Bara tergelak pelan. Laki-laki yang sejak tadi sudah berdiri dari duduknya menoleh ke arah Durant, meminta anak buahnya untuk meninggalkannya tempat itu.


"Mau ke mana?" tanya Nabila tanpa suara. Hanya tatapan mata akan tetapi Durant mengerti itu semua. Wanita ini pasti ketakutan ditinggalkan sendirian. Hanya gelengan kepala yang bisa Durant berikan. Dia benar-benar tidak bisa membatu Nabila saat ini. Bosnya yang pemarah itu benar-benar sangat menyeramkan. Kenapa dia harus berteriak di depan istrinya. Sungguh menyebalkan.


"So ... apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanya Bara yang tanpa aba langsung mengangkat Nabila dan mendudukkan wanita itu di atas meja kerjanya. "Bicaralah!"


"Saya sudah bicara!" kata Nabila. Kali ini dia tidak mendongak karena tingginya sudah hampir setara dengan tinggi suaminya.


"No, saya sudah mendengar jawabanmu sebagai seorang karyawan. Sekarang jawab sebagai seorang istri!" ujar Bara. Suara dan mimik wajahnya sudah tidak semenyeramkan tadi. Ada apa dengan laki-laki ini, kenapa dia bisa berubah dalam waktu yang sangat cepat.


"Kenapa kau telat hmmm ... apa yang terjadi? Ini bukan dirimu! Saya tahu kamu orang seperti apa! Mau bercerita kepada saya?"


Nabila menatap mata itu dalam. Mata yang sama tapi kenapa pembawaannya sangat berbeda. Tatapan kali ini sangat teduh hingga membuat Nabila tidak sadar saat menitikkan air mata untuk yang kesekian kalinya.


"Hei ... jangan menangis. Nanti cantik nya hilang!" ucap Bara seraya mengusap pelan wajah sang istri. Nabila bukannya berhenti malah menangis semakin menjadi. Bahunya bergetar hebat dengan tangan kanan yang tidak henti-hentinya memukul dada sang suami.


"Aku pikir kamu marah saat menjadi suamiku, Mas! Kanapa gak bilang dulu! Aku sudah berpikir kemana-mana. Aku pikir ... hiks ... aku pikir Mas Bara sudah benar-benar jahat! Kenapa gak bilang kalau Mas marah sebagai bos saya?" teriaknya tepat di depan wajah Bara.

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum, dia menarik bahu istrinya, memeluk sang istri mencoba untuk menenangkannya akan tetapi Nabila masih dengan tangisannya yang tertahan.


"Shuuut! ... kau sendiri yang bilang kalau kita harus profesional. Wajar jika saya memarahi mu karena kamu memang salah. Tapi itu hanya sebagai bosmu saja! Saya sudah tanya, kamu telat kenapa, kamu juga gak jawab. Apakah jika terjadi pada karyawan lain saya juga harus memberitahu mereka lebih dulu kalau mereka akan saya marahi? Tidak bukan? Sekarang katakan! Kamu dari mana?"


Nabila menatap suaminya dengan tatapan sendu. Dia menceritakan semua yang sudah terjadi. Termasuk Ezra yang mogok makan. "Terlebih, aku sama sekali tidak menerima jadwal rapat hari ini, bukannya rapat seharusnya besok? Mangkanya tadi pagi juga larang Mas Bara buat dateng ke kantor. Untung semua data sudah siap. Kalau tidak bagaimana?"


"Kenapa gak bilang sama Bos kamu? Kenapa gak lawan dia aja?" tanya Bara sedikit heran.


"Aku gak bisa, Mas! Walau bagaimanapun aku harus terima karena ini memang tugasku. Mungkin aku yang tidak teliti, dan aku tidak ingin membuat alasan atas kesalahan yang aku buat, aku ...."


Nabila tidak melanjutkan kalimatnya saat bibir sang suami langsung membungkam bibirnya begitu saja. Kali ini tidak ada perlawanan dari wanita itu. Nabila menikmati setiap sentuhan halus yang suaminya lakukan. Sapuan demi sapuan itu membuat dia merasa terbang ke awang-awang. Terlebih tangan besar suaminya yang terus menekan tengkuk dan meremas punggungnya yang mana itu menimbulkan sensasi yang sangat luar biasa menenangkan. Ciuman kali ini adalah ciuman yang sangat lembut, sangat berbeda dengan ciuman yang sebelumnya sering Bara berikan. Nabila merasakan ketulusan dan juga ketenangan.


"Maaf!" satu kata di tengah penyatuan kening yang mereka lakukan membuat Nabila memejamkan mata, menikmati hembusan napas hangat suaminya di depan bibir. Bau harum suaminya membuat Nabila seperti akan gila. Kenapa dia baru menyadari jika suaminya ini memiliki wangi khusus yang tidak bisa dia baui di tempat lain.


"Bos!" Panggil Durant menerobos begitu saja. "Akh, maafkan saya!" ucapnya seraya berbalik. Dia meruntuki dirinya sendiri yang kebiasaan tidak mengetuk pintu lebih dulu.


"Apa kau pernah melakukan ini pada wanita lain, Mas!" Nabila membatin. Matanya berkaca-kaca, entah kenapa dia merasa sangat sedih. Dulu , saat menikah dengan suami pertamanya, Nabila belum pernah sama sekali diperlakukan seperti ini. Kenapa dia seperti merasa menjadi Sugar Baby suaminya.


"Perwakilan dari Prancis sudah datang, beliau sudah ada di depan perusahaan!"


"Baiklah! Suruh saja semua orang untuk memulai rapat 10 menit lagi!"


"Baik, Bos!"


Tunggu ... Nabila menahan tangan besar suaminya saat merasa ada sesuatu yang janggal.

__ADS_1


"Ada apa? Tunggu dulu, ini masih belum selesai!" kata Bara menahan dua tangan istrinya dengan tangan kirinya.


"Bapak bohongin saya?" tanya Nabila dengan wajah dongkolnya.


"Bohong apa?"


"Kenapa rapatnya belum selesai?"


Bara tersenyum, dia menatap istrinya tanpa mengalihkan perhatian sama sekali. "Memang siapa yang bilang kalau rapatnya sudah di mulai. Rapat di tunda karena orang perwakilan dari perusahaan inti telat datang!"


"What!" Nabila langsung melompat turun dari atas meja.


"Terus, kenapa saya nangis?"


"Lha ... nanya sama saya!" kata Bara dengan wajah datarnya.


"Heiiiii!" Nabila hendak memukul suaminya lagi, tapi Bara menahan pergelangan tangan sang istri dan malah menarikannya ke dalam dekapan.


"Saya suka kamu yang bersikap manja seperti itu, Sayang!" bisik Bara dengan suara deep nya.


Asolole ... Abang ... kau bikin aku senyam-senyum gak jelas. 🤣🤣


....


Next bab .... 🤗🤗🤗

__ADS_1


"Kabari pihak rumah sakit! ... dan ya ... saya ingin dokter terbaik!"


__ADS_2