Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
53. Menghangatkan


__ADS_3

Senyum tipis tersungging di bibir laki-laki itu. Benar-benar tipis hampir tidak terlihat jika bukan orang terdekatnya yang melihat. Bara, dia mendekap tubuh istrinya erat. Bara benar-benar bersyukur karena mungkin, setelah ini mereka tidak akan malu atau sungkan untuk mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. Eileria sudah mengatakan kalau Ezra baik-baik saja. Dia hanya demam karena virus, bukan infeksi dari operasi sebelumnya atau yang lain-lain. Mungkin besok bocah kecil itu sudah bisa pulang. Namun sekarang, mereka harus menginap untuk mengobservasi keadaan putranya itu.


"Kenapa?" tanya Bara ketika merasakan sang istri bergerak gelisah. Dia melirik jam yang ada di dekat ranjang anaknya. Mereka berada di satu ruang rawat yang sama. Hanya saja, ada dua ranjang di ruangan itu. Jadi, ranjang satunya dipakai untuknya juga untuk istrinya. Laki-laki itu beranjak dari tempat tidur, dia mengambil obat dari atas lemari dan menyodorkan obat itu kepada sang istri. "Aku sudah menghitungnya. Reaksi obat pereda nyerinya memang sudah menghilang. Minumlah!" titah Bara. Nabila ingin mengambil obat itu, akan tetapi Bara menolak, dia sendiri yang harus memasukan obat itu ke mulut istrinya dan memberikan air minum. "Tidurlah lagi!" ucap Bara. Nabila hanya mengangguk, dia berbaring menyamping. Menepuk sisi ranjang yang kosong meminta suaminya untuk ikut berbaring.


"Kenapa, Mas Belum tidur?" tanya Nabila setelah Bara merengkuh tubuhnya. Dia mengusap lembut jenggot sang suami. Ada sensasi geli, namun juga menyenangkan saat jemari lentiknya berada pada permukaan rahang suaminya itu.


"Aku baru akan tidur! Kau juga tidurlah! Ini sudah malam!" gumam Bara. Bodoh, di saat seperti ini, dia malah menginginkan istrinya itu. Ingin rasanya Bara meminta Nabila untuk tidak usah mengelusnya seperti itu, tetapi dia takut Nabila tidak akan melakukannya lagi di lain waktu. Bara mengeram, libidonya naik dan dia semakin kesulitan untuk tidur.


"Mas!"


"Hmmm!" gumamnya tertahan.


"Mas Bara sakit?" panik Nabila saat merasakan wajah suaminya yang terasa lebih panas dari sebelumnya. Dia ingin duduk, tetapi Bara malah menariknya lagi hingga dia kembali berbaring dengan wajah menempel di antara leher Bara.


"Shi*!" geram Bara dalam hati. Hembusan napas hangat istrinya malah membuat adik bungsunya menjadi-jadi. Rasanya sangat sesak dan menyakitkan. Apa yang harus dia lakukan.


"Mas mau ke mana?" tanya Nabila ketika melihat suaminya malah turun dari atas ranjang. Dia bisa melihat dengan jelas jika Bara sedang melakukan push up di sisi ranjang itu. "Mas ngapain?" Nabila yang sudah akan tidur malah duduk dan menyaksikan keanehan yang suaminya lakukan.

__ADS_1


"Aku harus merasa lelah dulu agar aku bisa tidur, Honey! Kau tidurlah lebih dulu!" ujar Bara tanpa menoleh ke arah istrinya. Dia masih push up dengan gerakan yang lumayan cepat.


"Mas gak papa 'kan?"


"Hmmm ... cepatlah tidur!"


Pada akhirnya Nabila menuruti apa yang suaminya minta. Dia berbaring meskipun sebenarnya dia merasa kurang nyaman. Jika ini di rumah, mungkin dia bisa membuatkan teh herbal untuk suaminya itu agar dia bisa lebih relaks dan tidur nyenyak.


"Puyuh!" Bara menggulingkan tubuhnya. Dia menatap langit-langit ruang rawat itu dengan tatapan kosong. Syukurlah! Perasaan itu sedikit menghilang meskipun masih terasa sangat tidak nyaman. Bara mengembuskan napas panjang kemudian berdiri. Satu kecupan hangat dia daratkan di kening istrinya. Ingin merengkuh tubuh itu lagi, akan tetapi dia takut sengatan listrik itu kembali muncul. Alhasil, Bara memilih untuk tidur di sofa guna mengamankan kesehatan adik bungsunya.


....


"Suami dan anak ku menungguku di rumah. Kak Nabila kapan-kapan mainlah ke sana. Aku janji, aku akan melakukan perjamuan yang sangat istimewa untuk mu!"


Nabila hanya terkekeh. Syukurlah, wanita ini ternyata memang wanita yang sangat baik. Andai mereka tinggal di negara yang sama, mungkin Nabila tidak akan kesepian.


"Tante cantik!" panggil Ezra dari atas ranjangnya. "Ezla mau beltemu Khall. Ezla boleh main ke sana tidak?"

__ADS_1


Eileria tersenyum, mengusap kepala Ezra layaknya dia yang sedang mengusap kepala anaknya sendiri. "Datanglah kapan pun kau mau, Za. Nanti, tente ajak kalian jalan-jalan."


Ezra mengangguk antusias. Dia memeluk Eileria kemudian mengecup pipi wanita cantik itu sekilas. "Ezla sayang Tante Cantik."


"Sudah ... nanti Tantenya telat. Biar Papa antar Tantenya dulu ya!" ucap Nabila. Ezra hanya mengangguk mengiyakan.


"Aku pergi sebentar, Sayang! Durant akan di sini untuk menjaga kalian!" Bara mengecup kening Nabila sekilas kemudian beralih mengecup Ezra. "Jaga Mamanya ya!" pinta Bara.


"Siap, Bos!" jawab Ezra seraya memberikan hormat kepada Bara.


"Pergilah!" ucap Nabila dengan senyum di bibirnya. Dia tidak mau karena ulahnya dan Ezra, pertemuan Eil dan keluarganya tertunda.


Setelah kepergian Bara, Nabila duduk di tepian ranjang, memeluk anak semata wayangnya seraya mengecup kepala anak kecilnya itu pelan. "Cepet sembuh, Nak! Jangan terlalu lama sakitnya!"


"Aamiin. Mama juga cepet sembuh. Maaf, gala-gala Ezla, kaki Mama jadi sakit!"


Nabila menggelengkan kepalanya. "Kamu gak salah, Sayang. Ini salah mama karena mama terlalu ceroboh!"

__ADS_1


Nabila belum menyelesaikan kalimatnya akan tetapi sudah terputus karena dering ponselnya yang tiba-tiba. Dia mengambil ponsel itu. Keningnya mengkerut saat nomor tidak di kenal menghubunginya.


"Assalamualaikum! ... iya, dengan saya sendiri. Inalilahi, bagaimana bisa? Baiklah ... nanti Bila ke sana, Bi."


__ADS_2