Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
Bab 9. Bara Gila


__ADS_3

Hampir saja Nabila menyemburkan lahar panas kepada laki-laki di depannya jika Durian tidak mengatakan maksud dari Bara. "Maaf, Pak. Meskipun begitu saya tidak bisa pindah ke tempat yang sudah Bapak siapkan. Itu terlalu berlebihan!"


"Nabila! ... Nabila! ...."


Tiba-tiba suara lengkingan ibu-ibu memenuhi gendang telinga semua orang. Bara melirik ke arah pintu, begitupun dengan yang lain.


"Bu Beti!" ucap Nabila sambil tersenyum kecil.


"Jangan cengengesan gitu. Mana uang kontrakan yang kamu janjikan? Kamu sudah nunggak tiga bulan Nabila. Kalau gak bisa bayar keluar dari kontrakan saya! Kamu pikir ini rumah nenek kamu. Udah, beresin semua barang-barang kamu! Gak punya duit kok sok-sokan pengen ngontrak!"


Nabila memejamkan mata saat mendengar lengkingan suara ibu kontrakan di depannya. Orang-orang yang ada di sekitar kontrakan memang sudah tidak perduli karena hal seperti ini bukan hanya terjadi satu kali, tetapi, sudah sering dan tidak terhitung. Mata melotot Bu Beti, dan juga suara toa nya sudah tidak menjadi masalah besar untuk Nabila.


"Bu ... saya mohon, anak saya baru keluar dari rumah sakit. Kasih saya waktu satu Minggu lagi, insyaallah saya akan bayar kontrakannya tepat waktu!"


Bara memperhatikan dua wanita yang sedang berbicara dengan tambahan merucu suar. Bersama Ezra yang berbicara di sampingnya. Bocah kecil itu seolah menjadi penerjemah meskipun dia hanya mengucapakan inti dari permasalahan saja.


"Saya akan melunasi tunggakan, istri saya saat ini juga!" ujar Bara membuat dua orang yang tadi sedang berseteru menatapnya dengan wajah melongo. Jika Nabila melongo karena ucapan Bara, sementara Bu Beti, dia begitu terpesona melihat ketampanan Bara. Bak sebuah mesin scanner, Bu Beti memperhatikan Bara dari atas sampai ke bawah, laki-laki di depannya ini benar-benar sangat gagah. Meskipun wajahnya tidak ramah, tetapi semuanya tertutup karena hal lain.


"Apa yang Bapak, katakan!" tanya Nabila melotot ke arah Bara. Laki-laki itu mengangkat kedua bahunya acuh. Dia memanggil Durant kemudian menyuruh asistennya itu untuk mengambil uang.


"Bu Beti!" panggil Ezra menarik-narik baju yang dipakai oleh wanita bertubuh gempal di depan pintu. "Papa akan membayal uang kontlakan lumah. Ibu Beti jangan malahin Mama lagi."


"Papa?" tanya Beti menatap Bara dan Nabila bergantian. Wanita itu mengerutkan kening. Apa mungkin menghilang beberapa hari membuat Nabila mendapatkan laki-laki seperti ini. Ini bukan cerita dongen Mimi peri, tidak mungkin Nabila mendapatkan keberuntungan dalam sekejap mata.


"Dia beneran suami kamu, Bila?" tanya Bu Beti lagi, karena penasaran.


"Iya!" jawab Ezra yang mulutnya langsung dibekap oleh Nabila.

__ADS_1


"Silakan masuk, Bu!" ucap Nabila dengan ramah. Awalnya Bu Beti akan menolak, tetapi, saat melihat Bara masuk ke rumah kontrakan itu, Beti pun ikut masuk hanya karena terlalu penasaran akan sosok Bara.


Setelah Beti masuk. Nabila menarik tangan Ezra dia berjongkok kemudian menatap Ezra dengan tatapan tajam. "Sayang ... Mama udah bilang kalau Om Bara bukan suami mama. Dia juga bukan Papa Ezra, jangan seperti ini lagi ya, Sayang!"


"Maafkan Ezla Mama! Ezla gak nakal lagi!"


Nabila tersenyum, dia mengusap kepala Ezra lembut. Tiba-tiba dia merasa bersalah karena sudah menegur anaknya seperti ini. Namun, jika dibiarkan, Nabila takut Ezra malah akan semakin leluasa dan bisa saja dia berbohong kepada setiap orang yang mereka temui.


"Ini uangnya, Bos!" kata Durant menyodorkan koper hitam kepada Bosnya itu. Bara mengambil kopernya, dia membuka koper tersebut dan mengarahkan koper yang sudah terbuka pada Bu Beti.


"Ambilah berapapun yang kamu mau!" titah Bara. Dia meminta Nabila untuk menerjemahkan apa yang dia katakan dan Nabila pun melakukan itu.


Dengan mata berbinar, Beti mengambil satu gepok uang. Dia benar-benar tidak menyangka jika dia akan melihat uang sebanyak ini. Sungguh luar biasa.


Plak!


Bara meletakan satu gepok uang lagi di atas meja. Dia berbisik di telinga Ezra dan Ezra kembali berbisik di telinga Bu Beti.


Wanita yang memperhatikan aktivitas ketiga orang di depannya mengerutkan kening. Ia merasa seperti ada yang janggal melihat gelagat tidak biasa yang ditunjukan orang-orang itu.


"Silakan pergi dari rumah ini! Saya lupa jika saya sudah menjualnya kepada orang lain."


Nabila melongo, kenapa dia tiba-tiba harus keluar dari kontrakan, bukannya semua hutang dia sudah lunas.


"Silakan keluar! Bu Nabila, maafkan saya, tapi, saya sudah tidak bisa menerima Anda lagi di sini."


Lagi-lagi dia dibuat tercengang. Astaghfirullah ... apa orang kaya memang seperti ini. Tapi melihat Beti yang sedang tersenyum dan tertawa melihat dua gepok uang di tangannya membuat Nabila mengangkat kedua bahunya. Ia bergidik ngeri lantaran Bu Beti yang seperti orang gila setelah menerima uang dari Bara.

__ADS_1


Bara tersenyum meremehkan dia memberikan kode kepada Durant untuk mengambil kembali kopernya kemudian beranjak sembari membawa Ezra ke dalam gendongan. "Jangan bawa barang-barang busuk ini, Nabila!" kata Bara, lalu keluar dari rumah 3 petak itu.


Nabila mengembuskan napas. Tidak mungkin dia tidak membawa apapun dari sana. Ada barang-barang berharga yang dia miliki. Beberapa pakaian dan sesuatu yang mungkin akan dia butuhkan nanti.


"Saya ambil barang saya dulu sebentar, Bu!" kata Nabila. Bu Beti hanya mengibaskan tangan tanpa menoleh, dia masih begitu sibuk menjilat ibu jarinya dan menghitung semua uang pemberian dari lelaki asing yang mengaku sebagai suami Nabila.


....


Bara menggerakkan kepala dan mengulurkan tangannya, mempersilakan Nabila untuk masuk ke apartemen yang sudah dia siapkan. Bukan dia sebenarnya, tapi si Durant. Tapi ya sudahlah, toh sama saja.


"Wuahhhh ... Mah. Lumahnya bagus banget. Keleeennn!"


Ezra langsung berlarian masuk dan memperhatikan seisi apartemen itu. Nabila hanya tersenyum, dia menatap binar kebahagiaan di mata putranya. Baiklah, demi Ezra, dia akan menerima semua ini. Nabila hanya harus menurut kepada Bara dan dia akan mendapatkan kembali semua yang telah diambil laki-laki itu darinya.


"Bagaimana bisa Bapak menyiapkan semua ini?" tanya Nabila menatap Bara penuh tanda tanya. "Rasanya tidak mungkin Bapak berhasil menemukan tempat sebagus ini dalam waktu beberapa hari."


"Itu karena penghuni sebelumnya kami usir, Nyonya!"


Duk!


Durant meringis saat tulang keringnya di tendang Bara perlahan. Memang perlahan. Namun, karena yang menyentuh Durant adalah ujung sepatu, alhasil rasanya menjadi sangat mengigit.


Seulas senyum tersungging di bibir Nabila. Wanita itu benar-benar tidak habis pikir, apa yang membuat Bara sampai melakukan hal seperti ini hanya untuk mendapatkannya? Apa dia pantas? Nabila rasa, masih banyak perempuan cantik di luaran sana yang mau menerima Bara dengan sukarela. Sepertinya diminta gratis pun mau.


"Apa Bapak tidak 'pulang'?" tanya Nabila, dia seperti sedang bertanya, tetapi pada kenyataannya mengusir dengan cara halus.


"Saya akan pulang sekarang, lagipula kita bertetangga," gumam Bara dengan seringai di wajahnya. Dia dan Durant keluar dari apartemen Nabila. Karena sangat penasaran, Nabila pun memperhatikan kedua orang itu dari pintu, matanya sukses terbelak ketika Bara berjalan ke arah apartemen yang hanya berjarak 10 langkah dari apartemennya.

__ADS_1


"Mulai besok akan ada perawat untuk Ezra. Jadi pagi-pagi kau bisa merawat ku!" tegas Bara tanpa bantahan.


"Haaaah...." Lagi-lagi Nabila melongo. Maniak gila ini benar-benar keterlaluan. Nabila harus membiarkan anaknya di urus orang lain, sedangkan dia harus mengurus Bara, begitu?


__ADS_2