Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
67. Tidak Diijinkan


__ADS_3

Jessica menarik rambut wanita yang ada di depan wastafel itu sampai sang wanita mendongak, mempertahankan rambutnya agar tidak tercabut semua. Dia meringis, mendelik menatap Jessica dengan tatapan tajam.


"Wanita gila! Apa yang kau lakukan!" teriak wanita penggosip itu tidak terima, temannya yang lain ingin membantu, akan tetapi dia mendengar bilik toilet terbuka. Seorang wanita cantik yang sejak tadi mereka gosip kan muncul dengan wajah datarnya seolah dia tidak perduli akan perkelahian yang terjadi di depannya. Dengan santai Nabila mencuci tangannya di depan orang-orang itu tanpa suara.


"Bu Nabila!" gumam karyawan wanita itu. Kakinya mundur beberapa langkah, matanya membola dengan wajah pucat pasi. "Bu ... saya!" Karyawan itu tidak melanjutkan kalimatnya karena Jessica tiba-tiba menarik rambutnya setelah menghempaskan wanita lain ke lantai tolilet tersebut.


"Jangan kotori tanganmu, Jess! Kau tidak layak menyentuh hal yang tidak baik!"


Nabila melenggang pergi dari tolilet. Kedua karyawan wanita itu meringis, mereka mengepalkan kedua tangannya. Mereka menjadi sangat takut jika Nabila akan mengatakan ini kepada bos mereka yang akan membuat mereka dipecat dari kantor itu.


"Kau tidak marah?" tanya Jessica tiba-tiba.


Nabila mengembuskan napasnya. "Aku marah, tapi aku tidak bisa melakukan apa yang kau lakukan. Bukan tidak ingin, tapi memang benar-benar tidak bisa. Aku terlalu penakut!" ujarnya dengan senyum tipis. Nabila jujur, dia tidak ingin membiasakan dirinya untuk mudah memukul orang saat terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan. Dia hanya takut itu menjadi kebiasaan.


"Aku akan memberitahu, Tuan Bara!" ujar Jessica langsung melesat pergi meninggalkan Nabila.


"Jess!" panggil wanita itu. Nabila berlari mengikuti Jessica hingga kedua bodyguard di belakangnya pun ikut berlari. "Jess, jangan lakukan itu! Hei!" Nabila berteriak di depan pintu lift sesaat sebelum pintu itu tertutup. "Kita pergi dengan lift lain!" ujar Nabila berjalan ke arah lift yang sering suaminya gunakan. Tangan dan kakinya terus bergerak gelisah, bisa gawat kalau Bara marah dan memecat dua karyawan itu.

__ADS_1


"Astaghfirullah!" gumam Nabila seraya keluar dari lift. Dia kembali berlari i dan hampir terjatuh jika tidak berhasil menyeimbangkan tubuhnya.


"Mas Bara!" teriak Nabila seraya berdiri di depan suaminya. Namun, kali ini dia menempelkan punggungnya ke dada sang suami dan memberikan kode pada Jessica untuk pergi dari ruangan itu.


"Ada apa?" tanya Bara kebingungan. Jessica langsung mengeluarkan ponselnya dan mulai memutar rekaman audio pada ponselnya. Nabila memejamkan mata, sungguh, Jessica ini benar-benar orang yang nekad. Yang paling parah adalah, Jessica menerjemahkan apa yang ada di dalam rekaman audio tersebut. Nabila berbalik kemudian berjinjit, menutup telinga suaminya dengan kedua tangan meskipun dia agak kepayahan. Jessica seperti sedang mengibarkan bendera perang, dia tidak peduli dan semakin meninggikan suaranya.


Habislah Nabila. Bara mulai beraksi. Dia mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di atas meja. Nabila ingin kembali turun, akan tetapi dia urung saat mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.


"Apa itu benar? Siapa yang berani mengatakan hal-hal buruk tentang istri saya?"


"Mereka adalah karyawan di divisi keuangan. Bawahannya Pak, Fino!"


"Baik, Tuan! Terima kasih!" ujar Jessica.


"Tunggu!" kata Bara. "Kirim rekaman audio itu pada Durant!"


"Baik, Tuan!"

__ADS_1


"Mas!" rengek Nabila setelah Jessica keluar dari kantor suaminya. "Jangan seperti ini, hmmm. Mereka hanya asal bicara. Kasih SP aja, hmm?"


Bara tak lantas menjawab, dia mengambil tas Nabila yang jatuh di bawah dan kembali memutari meja kerjanya. "Tetap diam!" titah Bara yang mana membuat Nabila urung untuk turun dari atas meja kerja sang suami.


"Atau enggak, SP 2 deh. Kalau mereka berbuat seperti itu lagi, langsung pecat mereka. Jangan pecat sekarang ya!"


Lagi-lagi Bara tak memberikan jawaban. Dia malah berjongkok di depan istrinya, kemudian membuka heels yang istrinya pakai, juga kaos kaki yang menutupi kaki putih sang istri. Dia mengobati lecet di belakang kaki istrinya kemudian memasangkan plaster dan kembali menutup kaki itu dengan kaos kaki dan heels yang tadi Nabila kenakan.


"Apa yang tadi kau bicarakan?" tanya Bara kemudian. Nabila menarik ujung bibirnya. Dia menggelengkan kepala seraya tersenyum. Tadinya, Nabila memang ingin meminta Bara untuk tidak memecat para karyawan itu. Namun, saat melihat sikap suaminya yang begitu menjaganya seperti ini, Nabila merasa sangat tersanjung. Mungkin inilah cara yang Bara tunjukan untuk melindunginya.


"Mau tetap di sini?" bisik Bara di depan wajah istrinya. Nabila refleks mengangguk. Bara yang melihat itu tersenyum kemudian mengusap kepala sang istri dan mengecup keningnya sekilas. Sadar akan apa yang dia lakukan, Nabila refleks mendongak dan buru-buru turn dari atas meja suaminya.


"Honey!"


"Hah?" cengo Nabila kembali berbalik saat akan membuka pintu. Bara tersenyum seraya memberikan tas sang istri ke tangan istri cantiknya itu.


"Jangan lupa, makan siang di sini!" bisik Bara lagi. Nabila tidak menjawab, dia malah melesat pergi meninggalkan ruangan suaminya. Bara hanya tersenyum melihat kegugupan istri cantiknya itu.

__ADS_1


Seorang wanita yang berdiri di dekat dinding kaca menatap ke arah luar ruangan itu dengan senyum menyeringai. Dia menarik sudut bibirnya semakin tinggi saat melihat dua karyawan wanita keluar seraya membawa kotak kecil yang berisi barang-barangnya.


"Habislah kalian! Mulai sekarang, aku tidak akan tinggal diam. Nabila harus menerima semua konsekuensinya."


__ADS_2