
Nabila mundur perlahan ketika suaminya mulai berjalan kembali mendekati ranjang, seringai yang laki-laki itu tunjukan membuat Nabila merinding bukan main, lututnya bergetar saat Bara menarik dasi dan juga membuka 3 kancing-kancing kemeja yang dia kenakan. Bahkan sekarang, tangan besar itu sedang berusaha untuk membuka ikat pinggang.
"Pak, saya sudah bilang kalau Anda tidak bisa melakukan itu. Saya ...."
Brukk!
Wanita itu melotot, dia menatap suaminya dengan mata membulat sempurna, bisa-bisanya Bara menarik kakinya sampai dia kembali berbaring telentang di bawah kungkungan laki-laki itu. Mata Nabila terpejam, dia terus berdoa dan berharap jika dia bisa melewati malam ini tanpa harus melakukan apa pun.
"Apa kau ingin melihatnya?" tanya Bara yang mana kalimat itu sukses membuat mata sang istri terbuka dengan sempurna. "Saya sudah mendengar ini dari ustadz, Faisal. Dan, kau beruntung, aku sudah melakukan itu sejak lama!" bisik Bara membuat Nabila semakin ketakutan.
"Ba ... bagaimana bisa?" tanya Nabila gugup.
"Demi alasan kesehatan, Sayang!" Tangan Bara mulai membelai wajah cantik istrinya. Tubuh wanita itu bergetar, pria ini memang sangat tampan, akan tetapi ukuran tubuhnya, dan juga seringai di wajahnya selalu meluruhkan keyakinan Nabila hingga semua niat yang ada ikut menghilang begitu saja.
"Apa kau takut?" tanya Bara lagi.
Nabila mengangguk. "Bapak juga pasti sangat lelah, kita istirahat saja ya, Pak!"
Bara mengangguk. Laki-laki itu beranjak dari atas ranjang dan berbalik memunggungi Nabila membuat wanita itu menghela napas lega.
"Istirahat, setelah kita sah menjadi suami istri?" gumam Bara dalam hati. Laki-laki itu mengunci pintu kamar dengan senyum evil. Tangan besarnya melepas kemeja putih yang dia kenakan kemudian melemparkannya ke sembarang arah. "Malam ini, kau harus jadi milikku, Nabila!"
Srakkkk!
Nabila yang sudah memejamkan mata tersentak ketika baju tidur yang dia kenakan ditarik seseorang sampai robek menjadi dua bagian.
"Bapak, Anda ... eumhhh!"
Wanita itu mencoba untuk bmemukul dada suaminya, mendorong bahu sang suami yang kini sedang menciumnya ganas dan sedikit brutal, cukup lama Nabila meronta, lelah dengan itu, Nabila pasrah, pada akhirnya kedua tangan itu terkalung di leher kekar sang suami hingga suaminya itu tersenyum dalam dekapan yang dia lakukan.
__ADS_1
"Baca doa dulu, Pak!" ucap Nabila dengan suara terengah-engah. Dia membisikan sesuatu di telinga suaminya dan suaminya pun ikut membacakan apa yang istrinya ucapakan.
"Hentikan saya jika saya menyakitimu," kata Bara tepat didepan wajah istri kecilnya. Wanita itu hanya mengangguk, suara deep sang suami juga sentuhannya membuat dia seperti terbang ke awang-awang. Ini benar-benar diluar ekspektasinya. Nabila pikir, Bara akan menghajarnya sampai mati, akan tetapi dia melakukannya dengan cara yang sangat lembut.
"Are you okay?" tanya Bara saat melihat istrinya menitikkan air mata. Dia menghentikan aktivitasnya sesaat kemudian menunduk dan mengecup mata istrinya itu bergantian. "Aku akan berhenti!"
"No, I'm okay. I'm okay ...!" kata Nabila. Dia menarik tengkuk suaminya hingga malam itupun berakhir dengan permintaan ampun dari sang wanita. Untuk pertama kalinya, tubuh itu terasa hancur berkeping-keping. Nabila menyerah, bahkan saat sang suami menawarkan dia untuk melanjutkan aksinya, Nabila menggeleng dengan yakin. "Aku akan mati jika kau terus melakukan itu," lirihnya dengan mata terpejam. Bara hanya tersenyum, dia menarik selimut, kemudian memeluk istri kecilnya itu dari belakang.
"I'm sorry, Baby!"
"Hmmm!"
....
Bara mengerjepkan mata saat merasakan usapan lembut di wajahnya. Dia menggenggam tangan itu, dan menarik tangan istrinya tanpa permisi.
"Pak, Bapak harus bangun, ini udah waktunya shalat subuh, Bapak mandi dulu, gih!"
"Lalu saya harus panggil apa?"
"Sayang ...!"
Nabila memutar bola mata, daripada memanggil laki-laki ini dengan panggilan itu, lebih baik dia menggunakan panggilan lain saja. "Mas Bara ... sekarang sudah waktunya shalat, bangun yuk, mandi dulu habis itu wudhu dan shalat!"
Seulas senyum tersungging di bibir laki-laki itu, dia melepaskan pelukannya dan beranjak dari tempat tidur. "Apa kau tahu, bagaimana ritual mandi setelah itu? Saya lihat di internet, ada cara khusus untuk mandi ini! Kau tahu kan jampi-jampinya?"
Belum sempat Nabila menjawab, Bara sudah mengangkat tubuhnya membuat Nabila meronta ingin diturunkan. "Apa yang Bapak ... eumm Mas Bara lakukan? Turunkan saya, Mas!"
"Kamu harus membantu saya mandi, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan!"
__ADS_1
Nabila menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, Mas. Jangan lakukan ini, saya sudah mandi. Saya ... Pak Baraaaa!" teriak Nabila ketika pegangannya pada kusen pintu terlepas karena tarikan laki-laki itu.
....
"Makan yang banyak, Sayang!" titah Nabila pada putranya. Dia meringis menahan ngilu yang sangat luar biasa.
"Apa kau membutuhkan bantal lain?" tanya Bara seraya mengusap pinggang istrinya.
Nabila sedikit tersentak mendapatkan perlakuan hangat dari laki-laki itu, dia menggelengkan kepalanya seraya tersenyum agak di paksakan.
"Mama sakit?" tanya Ezra khawatir saat melihat wajah pucat mamanya.
"Mama gak sakit, Sayang. Mama jatuh di kamar mandi, tapi sekarang udah gak papa, kok!"
Marlina yang berada tak jauh dari meja makan tersenyum. Dia jelas tahu apa yang terjadi. Melihat Bara si judes dan bossy itu memperlakukan Nabila lebih baik dari sebelumnya, dia tahu jika tadi malam pasti telah terjadi hal yang menyenangkan.
"Alhamdulillah kalau gitu. Ezla tadi malem dengel suala libut-libut, dari kamar Mama. Mama sama Papa gak belantem 'kan?"
Nabila memukul dadanya saat dia tiba-tiba tersedak. Bara yang tidak tahu apa-apa hanya menyodorkan air minum untuk istrinya.
"Kami hanya bermain bola tadi malam," bohong Bara pada anak mereka.
"Malem-malem? Kok Ezla gak di ajak?" tanya bocah itu membuat Nabila kalang kabut. Dia gelagapan membuat matanya tidak bisa fokus. "Telus, siapa yang menang?"
"Papa, dong. Mama sampai meminta ampun dan tidak bisa melanjutkan permainan karena sudah sangat kelelahan. Nanti, kalau kamu sudah besar, Papa akan ajarkan kamu main bola yang baik, Ezra mau?"
"Pak!" pekik Nabila seraya menggelengkan kepalanya. "Ezra masih kecil, jangan mengotori otaknya seperti itu!"
Bara hanya mengangkat kedua bahunya acuh. "Apa sih, orang kita lagi bahas tentang bola, kenapa kamu marah!"
__ADS_1
Nabila mengembuskan napas panjang. Dia menunduk, berusaha untuk menengkan emosinya yang hampir meledak karena kegesrekan otak sang suami. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu tanpa rasa malu, padahal mereka juga tahu jika pagi itu sudah ada Marlina di apartemen mereka.
"Aku harus segera mengakhiri kontrak dengan laki-laki ini," gumam Nabila dengan mata terpejam.