
Deg!
Nabila tertegun saat melihat wajah suaminya seketika berubah. Jantungnya berdegup sangat kencang. Senyum dan keramahan wajah suaminya tidak ada. Wajah itu menjadi sangat dingin. Tatapannya berubah. Ada amarah dan juga kekecewaan di sana.
"Kau ingin lari dari tanggungjawabmu, Nabila?" gumam Bara dengan suara serak. Wajah tanpa ekspresi itu membuat Nabila semakin gugup, belum lagi sentuhan dan napas hangat suaminya yang menerpa wajahnya. Lidahnya kelu, dia benar-benar seperti tersihir dan tidak bisa mengatakan apa pun.
Bara tersenyum menyeringai, dia beranjak dari atas tubuh sang istri. Berbalik seraya melepaskan kemeja yang melekat pada tubuhnya. "Kamu pikir mudah untuk lepas dari genggaman saya, Nabila. Itu tidak mungkin!" ucapnya seraya berjalan menuju kamar mandi.
Wanita yang masih terlentang di atas tempat tidur itu terkesiap. Dia langsung berdiri dan melompat dari atas ranjang. Tangan mungilnya itu menarik tangan Bara membuat laki-laki itu menoleh seketika. "Bapak bilang, Bapak hanya akan meniduri saya satu malam? Bukankah apa yang Bapak inginkan sudah Bapak dapatkan? Kenapa Bapak mengingkari janji? Saya sudah memberikan apa yang Bapak mau, kewajiban saya sudah selesai Bapak seharusnya ...."
Sepasang mata itu membola ketika Bara menyentuh belakang kepalanya dan mendorongnya sampai merapat ke dinding. Laki-laki itu kembali mendaratkan ciuman, Nabila memberontak, wanita itu memukul dada polos suaminya berharap jika apa yang dia lakukan bisa menghentikan ciuman brutal yang suaminya lakukan.
Bara melepaskan ciuman itu, dia mengusap darah pada sudut bibirnya akibat dari gigitan wanitanya. Bukannya marah, Bara malah tersenyum. Laki-laki itu menunduk menatap Nabila yang kini sedang menatapnya dengan kilatan amarah luar bisa. Dada wanita itu naik turun tak beraturan, Bara bisa melihat kedua tangan istrinya yang terkepal pertanda jika istri cantiknya itu sedang marah besar.
"Dengar Nabila, saya tidak pernah mengatakan kita akan bercerai setelah menikah, saya mengatakan jika saya ingin menidurimu untuk satu malam. Kau yang membuat pemikiran jika aku akan melepaskan mu setelah malam itu terjadi. Tapi ... satu hal yang harus kau ingat, sampai kapan pun, saya tidak akan pernah melepaskan mu!" bisiknya dengan suara berat, seperti seorang diktator yang tidak bisa dibantah.
Dia mengecup bibir Nabila sekilas dan berlalu dari hadapan wanita itu. Melihat istrinya mematung tidak bisa berkutik, Bara tersenyum, dia menyugar rambut basahnya di bawah guyuran air shower, kepalanya tertunduk, kedua tangannya menempel pada dinding yang ada di depannya. "Kau pikir saya akan melepaskan buruan saya dengan mudah? Tidak akan Nabila. Kau sudah ada dalam genggaman saya!"
....
"Papa kenapa?" tanya Ezra saat melihat bibir bawah Bara yang terluka
Laki-laki itu tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, Papa tadi di gigit kucing ngamuk, Sayang!"
__ADS_1
Nabila yang ada di samping suaminya memutar bola mata. Okelah, kucing masih tidak maslah. "Makan yang banyak, Za!"
"Hmm ... Mama juga, Mama halus makan yang banyak bial bisa lawan macam itu. Mama gak boleh kalah sama tente gila itu, Ma."
Nabila gelagapan saat melihat Bara menoleh ke arahnya. Laki-laki itu menatap Nabila dengan kening berkerut, dia ingin menanyakan sesuatu, akan tetapi tidak jadi. Dia yakin kalau kemarahan Nabila hari ini ada sangkut pautnya dengan apa yang Ezra katakan.
....
"Pak!" panggil Nabila, wanita itu masuk ke ruang baca dengan kotak P3K di tangannya.
"Ada apa?" tanya Bara tanpa menolehkan kepalanya sama sekali. Dia masih sibuk dengan segala pekerjaannya.
Nabila memutari meja itu, dia berdiri di samping suaminya dengan perasaan tak menentu. Luka yang dia timbulkan cukup dalam, dia hanya merasa bersalah dan merasa jika dia harus bertanggungjawab. "Biarkan saya mengobati luka, Bapak!"
"Tidak usah!" jawabnya dingin.
"Saya bilang tidak usah, saya tahu apa yang harus saya lakukan!"
"Eishhhhhhh." Nabila menaruh kotak P3K di atas meja, dia memutar kursi suaminya yang mana itu membuat Bara mau tidak mau mendongak menatap wajah sang istri. Laki-laki ini heran, baru kali ini dia melihat orang yang sangat berani membantah ucapannya.
"Ini hanya sebentar, kenapa susah sekali!" Nabila mulai mengoleskan salep pada bibir suaminya sedikit demi sedikit. Dia yang fokus pada bibir itu tidak sadar, jika saat ini Bara sedang menatapnya tanpa berkedip. Bara yang terluka tapi Nabila yang meringis.
"Untuk apa kau membuat luka ini jika kau sendiri khawatir!" tanya Bara.
__ADS_1
Nabila menghentikan aktivitasnya sesaat, dan ketika dia yang menunduk mengalihkan perhatiannya, mata mereka bertemu. Lagi-lagi Nabila tertegun, namun, sebisa mungkin dia bersikap bisa dan menyembunyikan kegugupannya. "Saya tidak sengaja. Anda terlalu menyebalkan!" ungkap Nabila. Dia kembali berdiri tegap, tangannya menutup kotak P3K itu kembali kemudian berbalik. Baru akan melangkah, tiba-tiba Bara menarik tangannya hingga dia terduduk di atas pangkuan sang suami.
Tatapan mereka kembali bertemu. Cukup lama mereka saling menatap, Nabila menggelengkan kepalanya. Dia berniat untuk beranjak akan tetapi Bara menahannya semakin erat.
"Apa yang Bapak lakukan? Saya harus kembali ke luar!"
"Apa yang kau sembunyikan? Haruskah saya mencari tahu sendiri apa yang terjadi hari ini? Haruskah saya melibatkan orang lain?" tanya Bara menatap Nabila dengan tatapan menelisik.
Wanita itu memalingkan wajahnya. Namun, tangan besar Bara kembali menolehkan wajahnya. "Bapak tahu wanita yang waktu itu bertengkar dengan saya?" tanya Nabila. Bara hanya mengangguk. "Hari ini, dia mengatakan jika cafe yang dia sewa sudah berpindah kepemilikan. Dia bilang cafe itu terdaftar batas nama saya. Apa Bapak yang melakukan ini?"
Bara kembali mengangguk. Dia tidak bisa menyembunyikan apa-apa lagi jika memang Nabila sudah tahu.
"Kenapa? Kenapa Bapak melakukan hal-hal seperti ini? Dan apa alasan Bapak membeli cafe tersebut atas nama saya, Bapak tidak berhak melakukan semua itu, Bapak ...!"
"Karena kamu istri saya!"
Jawaban singkat itu membuat Nabila yang tadi masih ingin mengoceh mendadak diam. Nabila termangu. Dia melongo dengan wajah bodoh. Entah kenapa, dia seperti merasakan desiran aneh dalam tubuhnya. Bibir itu seolah meminta Nabila untuk tersenyum.
"Karena saya suami kamu, saya harus melindungi mu. Apa itu salah?"
Wanita yang masih terkejut itu langsung beranjak dari duduknya. Dia mundur beberapa langkah dan langsung keluar dari ruang baca suaminya. Dia salah karena mengikuti Bara ke apartemen suaminya. Langkah tergesa Nabila membawa wanita itu masuk kembali ke apartemennya. Dia menempelkan punggungnya pada pintu. Tangannya terangkat menangkup pipinya yang terasa sangat panas. "Astaghfirullah ... ada apa dengan ku?" tanya Nabila pada dirinya sendiri.
"Jangan! Jangan bunuh dia. Buatkan jadwal agar saya bisa bertemu dengannya, Durant! Wanita tidak tahu diri itu harus tahu dia sedang berhadapan dengan siapa!"
__ADS_1
Bara menutup telponnya. Dia menatap rekaman CCTV supermarket yang tadi siang didatangi istrinya dengan senyum menyeringai.
"Saya tidak akan membiarkan siapa pun mengusik apa yang saya miliki!"